Kamis, 25 April 2013

DARAH PENDEKAR 6

DARAH PENDEKAR
Karya : Asmaraman S. Kho Ping Hoo
Bab 6
Orang pertama dari Sam-ok ini berjuluk Tung-hai-tiauw (Rajawali Laut Timur), seorang bajak laut yang lihai sekali, raja dari sekalian bajak laut dan mempunyai banyak anak buah. Dia sangat kaya raya, dan kapalnya mempunyai bendera ber-gambar burung rajawali pada dasar hitam. Adapun orang ke dua adalah Sin-go Mo Kai Ci itulah, se-orang bajak sungai yang kadang-kadang suka me-langgar wilayah Si Rajawali Lautan Timur, akan tetapi karena dia merupakan bajak tunggal, maka pelanggaran itu tidaklah terlalu menyolok. Orang ke tiga adalah San - hek - houw (Harimau Gunung Hitam), yang dianggapnya sebagai raja perampok yang malang melintang di seluruh daratan, ditakuti oleh kawanan perampok, maling, begal dan copet. Bahkan juga si Maling Cantik dan Tiat-ciang Ciong Lek perampok selatan itu tidak berani menentang San-hek-houw yang dianggap rajanya semua penjahat di daratan. Pendeknya, Sam - ok adalah tiga orang "raja" yang menguasai daerah masing-masing, yaitu seorang di lautan, orang ke dua di sungai-sungai dan orang ke tiga di daratan.

Itulah sebabnya mengapa Pek-pi Siauw-kwi atau si Maling Cantik yang biasanya amat kejam dan memandang rendah lawan, kini tidak berani banyak lagak ketika ditegur oleh orang ke dua dari Sam-ok. Ia sendiri termasuk orang yang berada dalam "lindungan" San-hek-houw, dan kini ia hanya melirik sana-sini, dengan pandang matanya mencari-cari untuk melihat apakah pelindungnya itu berada di situ. Kalau di situ terdapat San-hek-houw, tentu ia berani menentang Sin-go Mo Kai Ci, karena kalau si jahat penguasa sungai-sungai itu berani mengganggunya, tentu pelindungnya itu akan turun tangan membantunya. Hatinya kecewa karena tidak melihat bayangan San-hek-houw. Tidak mungkin kalau rajanya penjahat daratan itu sampai tidak menerima undangan, sedangkan golongan yang lebih rendah tingkatnya saja menerimanya.

Mereka yang berada di dalam kuil, kini merasa tegang dan diam-diam juga merasa gelisah sekali. Tak disangkanya bahwa di tempat ini mereka tidak bertemu dengan para anak buah Lembah Yang - ce, bahkan melihat pertemuan antara golongan - go-longan kaum sesat. Tentu saja mereka merasa ge-lisah melihat hadirnya begitu banyak orang pandai dari golongan hitam itu, apa lagi hadirnya seorang di antara Sam - ok yang memiliki ilmu kepandaian tinggi sekali. Bagaimanakah para penjahat itu kini berani terang - terangan mengadakan pertemuan, seolah - olah mereka itu "mendapat angin" dan menjadi berani ? Dan siapakah yang mengundang mereka semua, yang katanya hendak menjadi pemimpin mereka, semacam "bengcu" di antara golongan sesat, menjadi raja dari dunia hitam ? Dahulu, puluhan tahun yang lalu, memang terdapat raja dunia hitam, yaitu Bit - bo - ong si Raja Kelelawar, dan setelah raja itu meninggal dunia, semua golongan menjadi terpecah - pecah kembali, terutama yang sifat pekerjaan mereka berlainan. Mereka hidup sendiri - sendiri di daerah masing - masing dan tidak saling mengacuhkan, bahkan tidak jarang terjadi bentrokan di antara mereka. Hal ini tentu saja melemahkan dunia hitam sehingga mereka tidak mampu lagi menahan tentangan para pendekar atau pihak pemerintah. Inilah sebabnya maka muncul tokoh - tokoh yang berkuasa di dalam bidang dan daerah masing - masing, seperti halnya ketiga Sam-ok itu.

Dan kini, pada pagi hari ini, di depan kuil kuno di puncak Bukit Merak Putih itu berkumpul penjahat dari semua golongan, mengadakan pertemuan kembali untuk bersatu padu seperti ketika mereka mempunyai raja dunia hitam, yaitu Raja Kelelawar dahulu. Mereka semua datang berkumpul karena diundang oleh seseorang yang mengaku menjadi keturunan Raja Kelelawar yang hendak memimpin mereka kembali. Benarkah demikian? Kalau memang benar, alangkah akan gegernya dunia kang-ouw dan hal ini merupakan peristiwa yang amat hebat dan mengancam, baik terhadap para pendekar maupun terhadap rakyat jelata dan juga pemerintah.

Kwee Tiong Li yang biarpun masih muda akan tetapi telah menjadi kokcu atau ketua lembah, dan sebagai murid seorang yang terkenal sebagai seo-rang bengcu, pemimpin para pendekar patriot, telah mempunyai pengetahuan luas sekali tentang keadaan di dunia kang - ouw. Maka, ketika dia dalam pengintaiannya itu melihat keadaan para tokoh sesat yang mengadakan pertemuan di situ, sejak tadi dia mengerutkan alisnya dan hatinya merasa terguncang dan gelisah sekali. Bukan gelisah memikirkan nasib dia dan semua kawannya yang pada saat itu berada di dalam kuil sedang di luar kuil berkumpul demikian banyak tokoh sesat yang pandai, melainkan prihatin memikirkan keadaan dunia kalau semua orang jahat itu benar-benar bersatu. Tentu akan terjadi kemelut di dunia persilatan, pikirnya dan teringatlah dia akan penuturan gurunya. Menurut gurunya, di waktu dahulu pada jamannya Raja Kelelawar menjadi datuk atau raja kaum sesat, para pendekar merasa gelisah sekali dan juga berduka mendengar akan kejahatan yang merajalela di dunia tanpa dapat berbuat sesuatu. Sukarlah dicari pendekar yang mampu menandingi Raja Kelelawar !

Hanya ada empat orang saja di dunia pada waktu itu yang mampu menandingi Raja Kelelawar. Mereka berempat itu adalah kedua orang datuk, yaitu Bu-eng Sin - yok - ong datuk selatan dan Sin-kun Bu-tek datuk utara, dan dua orang datuk sesat yaitu Cui - beng Kui - ong pendiri Tai-bong-pai dan Kim-mo Sai - ong pendiri Soa - hu - pai. Akan tetapi, dua orang datuk putih dan dua orang datuk hitam ini sudah terlampau tinggi kedudukan mereka sehingga mereka tidak pernah mencampuri urusan dunia dengan turun tangan sendiri. Atau lebih tepat lagi, dua orang datuk golongan putih itu tidak mau mencampuri urusan dunia ramai sedangkan dua orang datuk golongan hitam tidak mengambil pusing dan tidak mau mencampuri urusan Raja Kelelawar walaupun hal ini bukan berarti mereka tidak berani. Sebaliknya, biarpun merajalela di dunia dengan congkaknya, namun Raja Kelelawar selalu menghindarkan bentrokan dengan pihak empat orang datuk itu. Tentu saja karena empat orang datuk itu tidak mau mencampuri urusannya, Raja Kelelawar malang melintang di dunia kang-ouw dengan leluasa.

Akan tetapi pada suatu hari, Raja Kelelawar melakukan suatu kesalahan besar sekali. Tanpa disengaja dia bentrok dengan seorang pemuda perkasa dan Raja Kelelawar membunuhnya. Barulah dia menyesal dan terkejut setengah mati ketika mendengar bahwa pemuda itu bukan lain orang adalah putera dari Sin-kun Bu-tek, datuk golongan putih dari utara itu. Sin-kun Bu-tek mendengar akan kematian puteranya, langsung keluar dari tempat pertapaannya, mencari Raja Kelelawar. Setelah keduanya saling jumpa, tidak dapat dicegah lagi terjadilah perkelahian yang amat hebat, sampai berlangsung semalam suntuk dan akhirnya, hanya karena selisih sedikit saja tingkat kepandaian mereka, Raja Kelelawar terluka parah dan beberapa bulan kemudian dia meninggal dunia dalam keadaan sengsara, tanpa ada seorangpun yang menjaganya.

Demikianlah yang didengar oleh Kwee Tiong Li dari suhunya, oleh karena itu, melihat betapa kini ada orang mengundang semua tokoh penjahat dari tiga daerah kekuasaan itu, darat, sungai dan lautan itu berkumpul di situ dan orang itu mengaku sebagai keturunan Raja Kelelawar, tentu saja hati pendekar ini merasa gelisah sekali. Apa lagi peristiwa ini muncul pada saat pemerintah dipimpin oleh seorang kaisar yang lalim seperti Kaisar Cin Si Hong - te !

Sementara itu, keadaan di luar kuil itu menjadi semakin menegangkan. Jai - hwa Toat - beng - kwi dan Pek-pi Siauw-kwi tidak berani membantah ketika Sin - go Mo Kai Ci menegur mereka dan me-lihat betapa si Maling Cantik itu kelihatan jerih kepadanya, Sin - go Mo Kai Ci yang merasa unggul itu menjadi bangga dan diapun tertawa menyeringai lalu berkata,

"Maling cilik, apakah engkau ingin mengadu kepada rajamu, si Harimau Hitam Ompong itu ? Ha - ha - ha !"

Tentu saja ucapan ini sifatnya amat mengejek. Maling Cantik disebut Maling Cilik, dan San - hek - houw si Harimau Gunung Hitam dinamakan Harimau Hitam Ompong.

Biarpun jerih terhadap si gendut pendek itu, namun Pek - pi Siauw - kwi bukanlah orang penakut. Penghinaan itu, yang didengarkan oleh banyak orang, apa lagi penghinaan terhadap pelin-dungnya, si Harimau Gunung, membuat mukanya yang cantik menjadi merah sekali. Ia mengeluarkan suara mendengus, lalu kembali ia melengking nyaring dan tubuhnya berkelebat cepat. Melihat gelagat ini, orang - orang lain sudah surut ke belakang. Wanita cantik itu lalu meloncat cepat dan tangan kanannya menampar ke arah kepala Sin - go Mo Kai Ci si Buaya Sakti. Akan tetapi sambil menyeringai dan memanggul senjata penggadanya yang berat di atas pundak kanan, si Buaya Sakti mengangkat tangan kirinya dan dengan tangan terbuka didorongkan tangan kirinya ke arah tubuh wanita yang sedang menerjangnya dari atas itu.

"Ihhh......!" Maling Cantik menjerit, rambut dan bajunya berkibar tersambar angin pukulan itu dan ia sendiri terpaksa harus berjungkir balik tiga kali ke samping untuk menghindarkan diri dari pukulan jarak jauh yang amat kuat tadi. Semua orang berseru kagum akan kelihaian tenaga sin-kang dari Buaya Sakti dan kelincahan tubuh Maling Cantik itu.

Akan tetapi, segebrakan itu saja sudah cukup untuk dimengerti orang bahwa Maling Cantik akan kalah. Melihat ini, terpaksa Tiat - ciang Ciong Lek dan Jai - hwa Toat - beng - kwi serentak melompat ke depan. Tak mungkin mereka berdiam diri melihat Maling Cantik diancam oleh Buaya Sakti. Boleh jadi mereka berdua kadang-kadang saling gempur sendiri, namun betapapun juga, mereka adalah segolongan, yaitu golongan penjahat daratan. Kini melihat rekannya terancam oleh raja bajak sungai tentu saja mereka tidak tinggal diam. Tiga orang tokoh sesat golongan darat ini sudah siap sedia untuk mengeroyok Buaya Sakti yang masih nampak tenang sambil tersenyum mengejek itu.

"Ciiiittt... cuiitttt... plak-plak-plakk..." Suara ini terdengar secara tiba - tiba di angkasa. Semua orang terkejut sekali ketika berdongak dan melihat ke angkasa. Seekor kelelawar raksasa hi-tam, dengan panjang sayapnya tidak kurang dari satu setengah meter, beterbangan di atas, berpu-tar-putar di atas kuil!

Semua orang yang hadir, baik yang berada di luar maupun yang bersembunyi di dalam kuil, belum pernah ada yang bertemu dengan Raja Kelelawar. Akan tetapi mereka semua sudah mendengar akan ciri-ciri kebesaran datuk junjungan dunia sesat itu. Menurut keterangan yang mereka peroleh, dahulu Raja Kelelawar selalu berpakaian serba hitam dengan jubah kebesaran yang berwarna hitam pula, jubah hitam yang kabarnya dapat menahan segala macam senjata.

Di pinggangnya terselip dua batang pisau panjang yang gagangnya berbentuk kepala kelelawar. Pisaunya berwarna kuning keemasan dan gagangnya dihias berpuluh permata berlian sehingga di dalam gelap atau terang, gagang itu gemerlapan dan berpijar - pijar. Sepasang pisau panjang itu kabarnya mengandung racun yang tak dapat disembuhkan dengan sembarang obat, kecuali obat dari Kelelawar Hitam itu sendiri atau mungkin juga hanya Si Tabib Sakti sajalah yang tahu akan obat penawarnya.

Dan ada kabar pula bahwa ke manapun Raja Kelelawar itu pergi, selalu ada seekor kelelawar raksasa yang mengikutinya dari atas. Tentu saja berita itu ham-pir merupakan dongeng dan mereka hanya percaya setengahnya saja. Akan tetapi, setelah kini muncul kelelawar raksasa itu, semua orang saling pandang dan bergidik, bulu roma mereka serentak meremang dan mulailah mereka menduga - duga dengan harap - harap cemas bahwa pengundang mereka itu benar - benar ada hubungannya dengan mendiang Raja Kelelawar Hitam !

Hati semua tokoh dunia sesat yang berada di situ mengikuti gerakan kelelawar yang beterbangan di atas itu. Bermacam perasaan mengaduk di hati mereka. Ada rasa gembira karena kalau betul-betul ada keturunan Raja Kelelawar yang hebat seperti Raja Kelelawar itu sendiri, maka berarti derajat mereka akan terangkat tinggi dan dunia hitam akan memperoleh kejayaannya lagi. Akan tetapi juga ada semacam rasa takut, karena mereka mendengar bahwa Raja Kelelawar berperangai aneh dan kejamnya tidak lumrah manusia lagi, melainkan seperti setan-setan penjaga neraka!

Sin-go Mo Kai Ci, si Buaya Sakti, raja dari sekalian orang jahat yang beroperasi di sungai - sungai, merasa betapa jantungnya berdebar kencang dan tubuhnya gemetar. Teringat dia akan penga-lamannya sebulan yang lalu. Dia sedang berperahu di waktu malam, di Sungai Huang-ho. Kemudian, muncul sesosok tubuh manusia yang hanya nampak sebagai bayangan hitam di tepi sungai. Bayangan itu mengeluarkan kata - kata yang terdengar seperti bisikan di dekat telinganya bahwa dia adalah keturunan Raja Kelelawar! Kemudian orang itu melemparkan sesuatu yang ternyata adalah sehelai gulungan surat undangan. Lemparan dilakukan dari tepi sungai dan yang dilemparkan hanya benda yang ringan saja. Akan tetapi surat itu dapat meluncur sedemikian cepatnya, merobek layar perahu dan menempel di tiang perahu! Ke pandaian seperti itu amatlah luar biasa, maka Bua-ya Sakti ini merasa yakin dan diapun datang ke puncak Merak Putih, memenuhi undangan. Dan kini, benar saja ada seekor kelelawar raksasa be-terbangan di tempat itu.

Semua mata mengikuti gerakan kelelawar itu, Biasanya, kelelawar tidak muncul di pagi hari se-telah matahari bersinar terang, karena kabarnya binatang itu tidak dapat melihat di waktu siang. Akan tetapi kelelawar itu beterbangan mengitari tempat itu sambil matanya yang mencorong ditujukan ke bawah, kepada orang-orang yang me-mandang ketakutan itu. Kemudian binatang itu menukik ke bawah dan memasuki kelebatan daun siong yang berdiri di ujung depan kuil, lalu mencengkeram dahan dan bergantung di tempat itu. Dahan itu melengkung bergoyang - goyang saking beratnya kelelawar raksasa itu, telinganya yang panjang bergerak - gerak, juga kepalanya bergerak menoleh ke kanan kiri dan kadang-kadang moncongnya memperdengarkan suara bercicitan nyaring.

Tiba - tiba terdengar auman suara harimau ! Se-mua orang terkejut mendengar auman nyaring yang tiba - tiba ini, apa lagi karena baru saja hati mereka terguncang penuh kengerian oleh munculnya kele-lawar raksasa. Akan tetapi Sin - go Mo Kai Ci Buaya Sakti lalu tersenyum sendiri. Kenapa dia begitu bodoh ? Dia tahu bahwa itu adalah pertan-da munculnya tokoh saingannya yang berat, yaitu San - hek - houw, raja dunia hitam di darat. Di tidak perlu merasa takut karena dia maklum bahwa tingkat kepandaiannya seimbang dengan tingkat si Harimau Gunung itu. Apa lagi, baru saja dia mematangkan ilmunya dengan jalan bertapa sampai tiga bulan lamanya. Dia berdiri tenang dan meng ambil sikap seenaknya, seolah - olah dia memandang rendah dan bersiap menghadapi segala kemungkinan.

Tak lama kemudian semua orang yang sudah menoleh ke arah datangnya suara auman harimau tadi melihat munculnya bayangan seorang pria yang tinggi besar, mendaki puncak menuju ke arah kuil. Di belakang orang tinggi besar ini nampak sepasang harimau kumbang berlari - lari mengikuti, jinak seperti dua ekor anjing saja, padahal dua ekor binatang itu besar dan nampak kuat sekali. Bulunya yang berwarna hitam itu mengkilap karena peluh. Sebentar saja, orang tinggi besar itu telah berada di tengah - tengah halaman kuil.

Orang - orang agak menjauh melihat dua ekor harimau itu yang melangkah tenang di kanan kiri majikannya, sepasang mata mereka mencorong dan kadang - kadang terdengar geraman lirih dari kerongkongan mereka diikuti bibir yang ditarik naik sehingga nampak taring yang meruncing. Dua ekor binatang itu nampak ganas dan buas, juga kuat sekali. San - hek - houw yang usianya kurang lebih limapuluh tahun dan nampak gagah perkasa itu gelangkah mendekati Maling Cantik, Penjahat Ca-bul dan Si Tangan Besi yang tadi sudah siap mengeroyok Buaya Sakti itu. Mereka bertiga kelihatan pucat dan merasa ngeri berhadapan dengan raja kaum penjahat di daratan ini, karena merekapun tahu betapa galaknya raja mereka itu.

Tiba-tiba kakek tinggi besar ini menggerakkan lengan kirinya, cepat sekali gerakannya dan tahu-tahu terdengar suara "plakk!!" dan pipi Maling Cantik telah ditamparnya sampai tubuh wanita itu terhuyung dan hampir terpelanting.

Pek Lian yang mengintai dari dalam, hampir saja berteriak marah menyaksikan kebiadaban si tinggi besar ini, yang tanpa alasan tahu-tahu menampar pipi seorang wanita di depan banyak orang. Sungguh tidak sopan dan keji sekali. Akan tetapi setelah ia teringat bahwa mereka semua itu adalah orang - orang dari dunia hitam yang tidak beradab, maka iapun menahan kemarahannya dan ha-nya mengintai dengan penuh perhatian.

"Kau tadi berkata apa ? Berani engkau bicara yang bukan-bukan tentang beliau ? Apa lagi engkau, sedangkan aku sendiri saja tidak berani melawannya dan semua orang di sini tidak ada yang dapat dibandingkan dengan beliau. Kepandaian kita semua tidak ada sekuku hitamnya. Engkau berani memamerkan ginkangmu ? Huh... tidak ada sepersepuluh kepandaian beliau !"

Si Maling Cantik tentu saja merasa malu dan marah sekali, akan tetapi dimarahi oleh "rajanya* tentu saja ia tidak berani melawan, apalagi mende-ngar betapa rajanya ini memuji-muji pengundang mereka yang mengaku keturunan Raja Kelelawar itu setinggi langit.

Si Buaya Sakti, sebagai raja dari golongan yang beroperasi di sungai-sungai dan merasa menjadi saingan berat dari San-hek-houw, diam - diam merasa girang dan juga untuk mengejek saingannya, diapun mencela,

 "Sudahlah, kaya anak kecil saja ribut-ribut untuk urusan sepele !"

Si Harimau Gunung merasa tersinggung, matanya mendelik marah ketika dia memutar tubuhnya memandang kepada saingannya.

"Kau bilang apa ? Coba katakan sekali lagi!" Dia menantang sambil melangkah maju menghampiri.

Ditantang di depan orang banyak oleh saingan-nya, tentu saja Si Buaya Sakti menjadi marah juga. Dia memanggul penggadanya, kakinya memasang kuda-kuda dan diapun mengejek,

"Aku bilang bahwa engkau bukan harimau melainkan kucing! Nah, kau mau apa ?"

Tentu saja San-hek-houw marah sekali dan semua orang yang hadir memandang dengan jantung berdebar dan hati penuh ketegangan. Tentu akan hebat sekali kalau dua "raja" ini berkelahi! Tiba - tiba San - hek - houw mengeluarkan suara mengaum dari mulutnya, diikuti pula oleh dua ekor harimau kumbangnya itu. Tangan kanannya bergerak dan dari balik jubahnya yang terbuat dari Pada kulit harimau itu nampak keluar dan dipegang oleh tangannya sebatang rantai panjang yang ujungnya diberi mata tombak yang ada kaitannya di kedua ujungnya, seperti jangkar kecil.

Sin - go Mo Kai Ci si Buaya Sakti juga siap sia-ga dengan senjata tongkat pendek besar itu tetap dipanggul di atas pundaknya, pandang matanya bersinar dan mulutnya mengejek. Dia tidak merasa gentar menghadapi musuh bebuyutan ini. Semua orang sudah memandang dengan hati tegang gem-bira, mengharapkan untuk dapat menyaksikan perkelahian yang bermutu dan seru. Akan tetapi, tiba - tiba saja terdengar suara melengking tinggi seperti suara wanita menjerit, mencicit menyakitkan gendang telinga, disambung teriakan penuh wibawa,

"Tahan ! !"

Kedua orang tokoh jahat itu terkejut dan jantung mereka berdebar karena mereka mengenal suara itu sebagai ciri khas dari suara si Raja Kelelawar seperti dikabarkan orang dalam dongeng tentang datuk dunia hitam itu. Di dunia kang - ouw terda-pat kepercayaan bahwa suara si Raja Kelelawar itu menjadi kecil tinggi dan tajam seperti suara cicitan seekor kelelawar karena ilmunya.

Selagi semua orang, juga kedua jagoan yang sudah berhadapan itu memandang ke sana-sini untuk mencari suara tadi, terdengarlah suara itu melanjutkan kata- katanya yang melengking tinggi dan penuh wibawa,

"Aku menghendaki agar kalian semua menjadi satu lagi seperti pada jaman kakekku dahulu, kenapa sekarang belum apa-apa sudah mau saling berhantam sendiri ?"

Suara mencicit ini terdengar marah dan aneh, menggetarkan jantung dan mendirikan bulu roma kedua orang tokoh Sam - ok itu. Dan semua orang juga merasa gentar dan bingung, karena suara itu seolah - olah datang dari segala penjuru dan sukar untuk menentukan dari jurusan mana datangnya. Inipun merupakan satu di antara ciri khas ilmu ajaib dari si Raja Kelelawar di jaman dahulu, yaitu ilmu sinkang tingkat tinggi yang disebut Pat - hong Sin - ciang (Tenaga Sakti Delapan Penjuru). Menurut dongeng tentang si Raja Kelelawar, Ilmu Pat - hong Sin - ciang ini amat ditakuti oleh orang-orang di dunia persilatan, karena ilmu ini mengandung semacam tenaga sihir yang mujijat. Seorang lawan yang tidak memiliki sinkang yang amat kuat akan merasa terhimpit oleh suatu tenaga sakti yang datang dari delapan penjuru sehingga membuatnya sukar untuk dapat bergerak. Apa lagi bertemu pandang dengan sinar mata si Raja Kele-lawar yang mencorong seperti mata burung hantu di waktu malam itu, membuat semua anggauta tubuh terasa lemas dan kehilangan tenaga dan tentu saja lawan yang berada dalam keadaan seperti ini akan amat mudah dirobohkan.

Ho Pek Lian dan kedua orang gurunya, juga Kwee Tiong Li dan ketiga Yang - ce Sam - lo, saling pandang dan bergidik mendengar suara itu.

Sebagai orang - orang yang memiliki tingkat kepandaian tinggi, mereka maklum betapa hebatnya tenaga khikang yang mendorong suara itu. Suara itu seolah - olah dikeluarkan oleh mulut orang yang berada dekat sekali dengan mereka, akan tetapi entah di depan, di belakang, atau di samping me-reka. Selagi semua orang, baik yang bersembunyi di dalam kuil maupun yang hadir di luar kuil, me-nengok ke sana - sini dan mencari - cari dengan pandang mata mereka untuk menemukan orang yang bersuara tadi, terdengar lagi suara yang bernada tinggi itu, yang ditujukan kepada si Buaya Sakti dan si Harimau Gunung.

"Hayo kalian berdua simpan kembali senjata-senjata kalian itu ! Ataukah kalian ingin aku mem-buangnya ?"

Sin-go Mo Kai Ci dan San-hek-houw adalah dua di antara Sam - ok yang pada waktu itu menganggap diri mereka bertiga sebagai raja - raja dari para tokoh sesat di dunia hitam. Kini, di depan sekian banyaknya orang, ada suara yang memerintah mereka, tentu saja kalau mereka mentaati begitu saja, hal ini sungguh membuat mereka kehilangan muka. Akan tetapi, hati merekapun sudah merasa jerih akan nama Raja Kelelawar yang walaupun belum pernah mereka lihat, namun sudah mereka kenal tanda - tanda dan ciri - ciri khasnya. Maka, keduanya merasa ragu-ragu, tangan memegang senjata masing - masing dengan kuat dan mata mereka jelilatan mencari - cari orang yang berani mengeluarkan perintah dan memandang rendah mereka itu.

Dan tiba - tiba saja kedua orang tokoh sesat ini terbelalak memandang ke depan, sinar mata me-reka tertumbuk dengan sinar mata dingin menye-ramkan dari sesosok tubuh yang tiba - tiba saja sudah berdiri di samping si Maling Cantik Pek - pi Siauw - kwi! Saking kagetnya, hampir saja senjata di tangan mereka itu terlepas karena tangan mereka tiba - tiba gemetar keras. Yang memiliki mata dingin menyeramkan itu bertubuh tinggi kurus dengan jubah dan pakaian hitam mengkilat dari sutera halus. Inilah gambar si Raja Kelelawar se-perti yang pernah mereka dengar dari dongeng !

Pek - pi Siauw - kwi sendiri menjadi kaget setengah mati. Ia terkenal memiliki ginkang yang hebat, akan tetapi kini ia sama sekali tidak mengetahui akan kedatangan iblis ini, yang tahu - tahu berada di sampingnya, seolah - olah kemunculannya itu menggunakan ilmu iblis dan pandai menghilang saja. Iblis berpakaian hitam ini berdiri dekat sekali di sampingnya, antara ia dan Jai-hwa Toat-beng-kwi si cabul pesolek. Tadi ia mengira bahwa yang berdiri dekat sekali dengannya itu adalah si cabul, demikian pula dengan Jai - hwa - cat itu, yang mengira bahwa yang berdiri di dekatnya adalah si Maling Cantik. Maka, setelah kini keduanya mengetahui bahwa si iblis itu yang datang dan berada dekat dengan mereka, keduanya mundur ketakutan dan cepat-cepat menjauh dengan jantung berdebar dan muka pucat.

Dari dalam kuil, tujuh orang pendekar itu me-mandang dengan penuh perhatian dan mereka se-mua merasa betapa darah mereka berjalan ken-cang, jantung mereka berdebar keras. Dari tempat mereka bersembunyi, mereka dapat melihat jelas. Iblis itu memang mirip gambaran tentang si raja iblis itu, pergi datang tanpa suara seperti pandai menghilang, saking tinggi ginkangnya. Mereka bertujuh sejak tadi selalu memperhatikan keadaan di luar kuil, namun merekapun tidak melihat da-tangnya Raja Kelelawar itu, tahu - tahu tokoh itu sudah muncul di situ.

Sementara itu, melihat ke kiri, ke arah Pek-pi Siauw-kwi yang mundur-mundur ketakutan, iblis berpakaian hitam itu tertawa. Suara ketawanya juga bernada tinggi, seperti suara ketawa wanita lalu terdengar suaranya yang berwibawa, memerintah,

"Anak manis, ke sinilah engkau!" Tangan-nya menggapai ke arah maling wanita yang me-mang berwajah cantik manis itu.

Pek - pi Siauw - kwi adalah seorang wanita to-koh kaum sesat yang sudah lama malang melintang di dunia kejahatan sebagai maling tunggal dan ia tidak pernah takut terhadap siapapun juga. Akan tetapi sekali ini, seperti seorang anak kecil melihat sesuatu yang menakutkan, ia mundur-mundur dan menggeleng - geleng kepala sebagai tanda bahwa ia tidak mau mendekati iblis itu, matanya terbelalak dan mukanya agak pucat.

Menghadapi penolakan si Maling Cantik, iblis itu mengerutkan alis dan sinar matanya berkilat, lalu dia menggerakkan lengannya ke arah wanita itu dan biarpun kakinya tidak kelihatan melangkah, tahu - tahu dia telah berada dekat wanita itu. Pek-pi Siauw - kwi mencoba untuk mengelak dan me-. loncat untuk menghindarkan diri. Akan tetapi, tiba - tiba saja ia merasa ada tenaga aneh meng-himpitnya dari semua penjuru, yang membuatnya sukar untuk bergerak. Ketika matanya yang keta-kutan itu memandang dan bentrok dengan sinar mata iblis itu, tenaganya mendadak menjadi lemas dan tubuhnya terkulai. Di lain saat tubuhnya sudah dirangkul oleh si iblis yang menggunakan jari - jari tangannya untuk menggerayangi tubuh yang gempal padat itu tanpa si Maling Cantik dapat mencegah sama sekali. Ia hanya menangis ketakutan setengah mati.

"Ha - ha, engkau boleh juga..., engkau tidak merusak tubuhmu.... hemm, manis!" Si iblis mencium kulit yang putih itu dan si Maling Cantik menggigil, seluruh bulu tubuhnya meremang.

Tiat-ciang Ciong Lek, perampok tunggal yang tubuhnya kekar dan tidak berbaju itu merasa panas isi perutnya melihat betapa rekannya dihina seperti itu. Tadinya dia sendiripun merasa takut dan jerih terhadap si iblis, akan tetapi melihat betapa rekannya mengalami penghinaan, hatinya terbakar dan sesaat dia lupa akan rasa takutnya. Dia mengeluarkan suara menggeram dan bagaikan seekor singa menerkam, dia sudah menggerakkan golok besarnya dan meloncat terus membacokkan golok besarnya itu ke arah punggung iblis yang masih menggerayangi dan menciumi si Maling Cantik itu. Si iblis itu diam saja dan agaknya tidak melihat serangan ini, sedikitpun tidak mengelak atau menangkis, masih menciumi kulit leher yang lunak itu. Semua orang yang melihat serangan ini menahan napas.

"Singgg...... dukkk !!"

BACOKAN golok yang berdesing itu tepat mengenai punggung yang tertutup mantel hitam, membacok dengan kuat sekali, akan tetapi golok itu mental dan mantel itu sedikitpun tidak robek, apa lagi punggungnya. Agaknya terasapun tidak oleh si iblis itu. Tentu saja semua orang, termasuk mereka yang bersembunyi di dalam kuil, terkejut, kagum dan gentar sekali menyaksikan kehebatan iblis itu. Kiranya, iblis inipun menggunakan mantel pusaka yang menurut dongeng memang kebal terhadap segala macam senjata. Kembali terbukti ciri khas dari si Raja Kelelawar !

Setelah bacokan itu mental, barulah iblis itu menoleh dan melepaskan tubuh Maling Cantik yang tadi dipeluknya. Wanita cantik itu terhuyung dan kedua kakinya masih terasa lemas, akan tetapi semangatnya pulih kembali setelah ia dilepaskan dan ia hanya dapat memandang jerih. Kini Tiat-ciang Ciong Lek yang berdiri seperti terpesona memandang iblis itu dan dia bergidik melihat be-tapa sepasang mata yang mencorong itu dingin sekali terasa menusuk jantungnya. Biarpun iblis itu tidak membuka mulutnya, akan tetapi terdengar ada suara siulan dari bibirnya. Siulan ini dijawab oleh suara mencicit dan kelepak sayap. Ternyata binatang kelelawar raksasa yang tadi bergantung di dahan pohon, sudah terbang ke atas lalu menu-kik ke bawah, ke arah si perampok tunggal Ciong Lek!

Perampok ini tentu saja cepat menggerak-kan goloknya untuk melakukan perlawanan, akan tetapi tiba - tiba saja dia tidak mampu bergerak goloknya masih diangkatnya tinggi - tinggi dan tu-buhnya seperti mendadak menjadi kaku. Kelela-war raksasa itu meluncur dan menyambar.

"Plokk !" Kelelawar itu menerkam ke arah leher si perampok tunggal, mencengkeram leher itu se-bentar dan ketika binatang ini terbang lagi, nampak darah menyembur keluar dari urat nadi leher yang putus tergigit dan terhisap oleh kelelawar itu !

Si perampok tunggal Tiat - ciang Ciong Lek terbela-lak, lalu terdengar lehernya mengeluarkan pekik mengerikan dan tubuhnya terguling dan roboh atas tanah, berkelojotan sebentar lalu terdiam ka-rena darahnya habis, sebagian terhisap kelelawar itu dan sebagian lagi membanjir keluar. Semua orang memandang dengan mata terbelalak dan muka pucat.

Kembali si iblis mengeluarkan suara ketawa yang menyeramkan, ketawanya mencicit seperti bunyi kelelawar atau bunyi tikus - tikus bercanda.

"Masih ada lagi yang meragukan kemampuanku dan ingin melawanku ?" terdengar dia bertanya sambil memandang ke sekeliling.

Tidak ada yang berani menjawab biarpun yang hadir adalah tokoh-tokoh dunia hitam yang biasanya sewenang-wenang dan tidak mengenal takut. Agaknya, nama Raja Kelelawar sudah sedemikian besar pengaruhnya, ditambah kekejaman iblis ini yang mengaku sebagai keturunan Raja Kelelawar, juga kelihaiannya membuat semua orang maklum bahwa mereka berhadapan dengan orang yang pandai sekali.

Sin - go Mo Kai Ci si Buaya Sakti dan San - hek-houw si Harimau Gunung adalah dua di antara Sam - ok yang dianggap merajai para anggauta liok - lim di bidang masing - masing. Selama ini, mereka bertigalah yang berdaulat penuh dan dita-kuti semua penjahat, balikan kalau di antara penjahat timbul pertikaian, mereka inilah yang dianggap berhak untuk mengadili dan menjatuhkan keputus-an. Kini muncul si iblis yang mengerikan, dan tentu saja kalau iblis ini hendak mengangkat diri sendiri menjadi datuk kaum sesat, hal ini sama dengan merendahkan nama Sam-ok sebagai raja-raja kaum sesat. Akan tetapi, mereka berdua adalah orang - orang yang berilmu tinggi dan yang dapat melihat bahwa iblis yang baru muncul ini memang hebat bukan main. Si Buaya Sakti dan si Harimau Gunung yang tadi hampir saja berhantam sendiri kini saling pandang dan dari pandang mata ini mereka sudah bersepakat untuk bersama - sama menghadapi pendatang baru yang mengancam ke-dudukan mereka ini.

San-hek-houw lalu melangkah maju dan ran-tai yang ujungnya bertombak itu telah diiilitkan-nya di pinggang. Dia membungkuk sebagai tanda penghormatan, lalu berkata, suaranya lantang agar terdengar oleh semua tokoh yang hadir.

"Kami semua tentu saja mengenal nama mendiang yang mulia Bit - bo - ong dan menganggap beliau sebagai datuk atau raja kami yang kami muliakan. Akan tetapi, terus terang saja, kami semua belum pernah mendengar akan adanya murid atau keturunan beliau, dan bukan sekali - kali kami berani menentang keturunan beliau. Hanya kami mohon petunjuk apakah benar bahwa locianpwe adalah keturunan beliau. Kalau memang benar demikian dan kalau memang benar bahwa di antara kami semua tidak ada yang dapat mengatasi kepandaian locianpwe, tentu saja kami semua akan tunduk dan dengan suka hati mengangkat locianpwe sebagai keturunan beliau dan menjadi raja baru kami."

Semua orang mengeluarkan suara menggumam menyatakan persetujuan mereka. Si iblis hitam ter-tawa. Wajah yang nampak angker itu tidak bergerak kulitnya, tanda bahwa di luar kulit muka itu dia memakai topeng tipis sehingga mudah diduga bahwa wajah yang menyeramkan ini bukanlah wajah yang sesungguhnya yang berada di balik topeng tipis.

"Ha - ha - ha, omonganmu memang benar, San-hek - houw. Dan untung engkau berpendapat demikian, karena kalau tidak, tentu ketiga Sam - ok akan kubunuh lebih dulu. Aku tahu bahwa Tung-hai-tiauw si Rajawali, Sin - go Mo Kai Ci si Bua-ya Sakti, dan engkau sendiri San - hek - houw si Harimau Gunung, merupakan Sam - ok, tiga se-rangkai yang merajai bidang masing-masing di Pegunungan, sungai - sungai, dan lautan. Karena kalian memandang kepadaku maka akupun suka mengangkat kalian meniadi pembantu - pembantu-ku Dan untuk membuktikan bahwa aku adalah keturunan dari Bit-bo-ong, biarlah kalian berdua maju menandingiku. Dengar baik-baik. Kalau dalam sepuluh jurus aku tidak mampu mengalahkan kalian berdua, biarlah aku menarik kembali omonganku dan aku tidak akan mencampuri dunia kalian. Akan tetapi kalau aku menang, siapapun yang berani membantah akan kubunuh. Mengerti ? Nah, kalian majulah ! Jangan takut, aku tidak akan Membunuh calon pembantu - pembantuku !"

Ucapan ini sungguh tekebur bukan main. Sam-ok terkenal memiliki ilmu kepandaian tinggi, dan sekarang, dua orang di antara mereka ditantang oleh si iblis untuk dikalahkannya dalam waktu sepuluh jurus saja! Si Buaya Sakti dan si Harimau Gunung juga saling pandang dan muka mereka menjadi merah karena merasa marah dan penasar-an sekali. Iblis ini sungguh sombong, dan lebih dari itu, kalau sampai mereka berdua yang menge-royok seorang sampai kalah dalam sepuluh jurus sungguh hal ini akan membuat mereka merasa ma-lu sekali.

"Baiklah, locianpwe. Kami mohon petunjuk un-tuk meyakinkan hati kami semua!" kata si Hari-mau Gunung yang sudah melolos rantai dari ping-gangnya sedangkan si Buaya Sakti juga sudah me-langkah maju dengan melintangkan senjata tong-kat bajanya di depan dada.

"Bagus, majulah. Aku akan memberi kesempat-an kepada kalian untuk masing - masing menyerang-ku selama lima jurus, baru kemudian aku mem-balas, dan kalau kalian dapat bertahan sampai tiga jurus saja sudah boleh dibilang bagus!" kata si iblis itu dan ini menambah kesombongannya.

"Lihat serangan !" Si Buaya Sakti berteriak marah.

Biasanya, dalam dunia hitam tidak berlaku segala macam aturan sopan santun, bahkan biasa-nya mereka itu melakukan serangan secara meng-gelap, maka bentakan si Buaya Sakti ini merupa-kan suatu keanehan. Hal ini menunjukkan bahwa biarpun dia marah, pada hakekatnya si Buaya Sakti ini merasa jerih sekali maka dia mengeluarkan se-ruan yang di kalangan persilatan, terutama di kalangan para pendekar, sudah menjadi lajim, yaitu sebelum menyerang, memberi peringatan lebih dulu kepada yang diserang, sebagai tanda kegagahan.

Senjata tongkat pendek besar dari baja putih itu amat berat dan kini digerakkan dengan cepat sekali, membuktikan besarnya tenaga si Buaya Sakti itu. Tongkatnya menjadi sinar putih yang besar menyambar ke arah kepala si iblis berpakaian hi-tam, dan tangan kiri si Buaya Sakti masih menyu-sulkan cengkeraman ke arah pusar. Serangan pertama ini sungguh merupakan serangan dahsyat sekali dan dapat mendatangkan maut.

San-hek-houw si Harimau Gunung lebih cerdik. Melihat rekannya sudah menyerang, dia menggunakan kesempatan ini untuk menggerakkan rantainya dan nampak sinar bergulung - gulung ketika rantainya itu membuat serangan dari kanan ke kiri, dari bawah menyerang kaki lalu terus membubung ke atas, merupakan serangan sinar berpusing yang berbahaya dan sukar sekali dielakkan lawan !

"Satu jurus !"

Terdengar suara melengking dari si iblis hitam, akan tetapi hanya suaranya saja yang terdengar oleh dua orang lawan dan oleh semua orang itu, karena dua orang lawan itu telah kehi-langan orangnya! Kiranya, dengan menggunakan ginkang yang sukar dapat diikuti oleh mata saking cepatnya, begitu serangan menyambar, tubuh si iblis itu telah mencelat ke atas sehingga serangan rantai itu tidak mengenai sasaran bahkan kehilang-an sasaran dan tahu - tahu kaki si iblis itu telah berada di ujung tongkat baja putih yang tadi dipergunakan oleh Buaya Sakti untuk menghantam kepa-lanya ! Memang sukar dapat dipercaya kalau tidak dilihat sendiri betapa orang yang kepalanya dise-rang, tahu - tahu sudah berada di atas dan berdiri di atas tongkat yang tadi menghantam ke arah kepala itu. Ketika si Buaya Sakti hendak menggerakkan tongkatnya, tiba - tiba saja tongkat yang diinjak kaki iblis itu menjadi berat dan hampir saja dia tidak kuat menahan lagi. Akan tetapi ti-ba-tiba iblis hitam itu telah meloncat turun lagi sambil tersenyum.

Dua orang itu merasa penasaran sekali dan me-reka lalu menubruk maju lagi dengan serangan berganda yang lebih dahsyat lagi. Kini rantai itu mengeluarkan suara meledak - ledak dan menghan-tam dari atas dengan lecutan yang membuat ujung-nya berbentuk tombak berkait itu menyambar-nyambar ke arah kepala si iblis hitam, sementara itu, tongkat pendek yang berat itupun sudah me-nyodok ke arah perut.

"Dua jurus !" kembali terdengar si iblis hitam berseru dan sekali ini dia tidak mendemonstrasikan kelincahan gerakannya melainkan ketangkasan ke-dua tangannya.

Tangan kirinya bergerak ke atas dan tangan kanan bergerak ke bawah dan dengan tepat sekali kedua tangan terbuka itu telah menangkis dua senjata itu.

"Plakk! Plaakkk!"

Dua orang raja para penjahat itu berseru kaget karena mereka merasa betapa tangan mereka menjadi panas dan nyeri sekali, sedangkan sebelah lengan yang memegang senjata terasa seperti lumpuh. Akan tetapi hal ini hanya sebentar saja dan lenyap setelah si iblis itu menarik kembali tangannya sambil tertawa dan dia sudah siap lagi menghadapi serangan kedua orang itu.

Dua orang itu kini menggunakan kecepatan, memutar-mutar senjata mereka menjadi bentuk sinar bergulung - gulung lalu keduanya menyerang dengan cepat. Dan kembali si iblis memperlihatkan bahwa gerakannya jauh lebih cepat dari pada kedua senjata itu, tubuhnya lenyap berkelebatan seolah - olah dia dapat menyusup di antara gulungan sinar kedua senjata itu sambil terus menghitung jurus - jurus penyerangan lawan sampai lima kali dan kedua senjata itu tidak pernah dapat menyentuh ujung bajunya sekalipun!

Setelah lewat lima jurus, tiba - tiba iblis hitam itu tertawa melengking disambung suaranya yang terwibawa, "Awas terhadap seranganku!"

Dan tiba - tiba saja dua orang raja penjahat itu menjadi bingung dan silau karena tubuh hitam itu berkelebat sedemikian cepatnya sehingga mereka tidak tahu ke mana arah penyerangan lawan aneh ini.

"Jurus pertama!" kata raja iblis itu dan dua orang lawannya menggerakkan senjata mereka untuk menangkis dan melindungi diri.

Akan tetapi tiba - tiba saja tangan yang memegang senjata terasa lumpuh dan mereka melihat sepasang mata, yang mencorong penuh wibawa, membuat mereka menjadi lemas seketika dan iblis hitam itu hanya sekali menggerakkan kaki, akan tetapi kaki itu su-dah dua kali menendang dan tubuh kedua orang itu terlempar sampai tiga tombak ke belakang dan terbanting keras!

Untung bahwa si iblis tidak mempergunakan tenaga sinkang ketika menendang sehingga dua orang itu tidak terluka parah, hanya babak bundas saja karena terbanting tadi. Mereka bangkit berdiri, hampir tidak percaya kalau tidak mengalami sendiri. Mereka telah dirobohkan dalam satu jurus saja ! Akan tetapi mereka bukanlah orang-orang bodoh dan mereka sudah yakin kini bahwa orang berpakaian hitam di depan mereka itu memang memiliki ilmu kepandaian, yang muji-jat sekali dan sudah selayaknya kalau menjadi raja mereka semua.

Maka mereka berdua lalu menjatuhkan diri berlutut, menghadap iblis hitam itu! Melihat perbuatan dua orang yang selama ini me-reka anggap sebagai raja, tentu saja para tokoh liok-hm yang hadir di situ terkejut bukan main dan satu demi satu merekapun lalu menjatuhkan diri berlutut, termasuk si Maling Cantik Pek-pi Siauw-kwi dan si penjahat cabul Jai-hwa Toat-beng-kwi !

"Ha-ha-ha-ha ! Bagus sekali kalau kalian sudah mengakui aku sebagai raja kalian ! Jangan khawatir, seperti yang telah dilakukan oleh kakek-ku dahulu, aku akan memimpin kalian dan dunia hitam kita akan menjadi jaya kembali!"

Mendengar ini, semua penjahat yang berkumpul di situ bersorak gembira. Iblis hitam itu mengangkat le-ngan kanannya ke atas dan suara berisik mereka itu tiba - tiba sirap dan berhenti sama. sekali.

"Dan aku tetap melanjutkan julukan kakekku, yaitu Bit-bo - ong dan kalian semua harus menyebut ong - ya kepadaku!"

Kembali mereka bersorak dan ketika ada yang berteriak, "Hidup ong-ya...!" maka mereka semua juga ikut berteriak-teriak.

Akan tetapi kembali Raja Kelelawar itu mengangkat tangan kanannya ke atas dan semua orang terdiam kembali. Dengan muka kelihatan marah Raja Kelelawar atau Bit - bo - ong itu menoleh ke arah kuil dan terdengar suaranya yang melengking tinggi.

"Siapa berani tidak berlutut kepadaku? Kalian yang berada di dalam kuil, tidak lekas keluar ?"

Raja Kelelawar lalu menggerakkan tangannya sambil melangkah mendekati kuil, kedua tangannya mendorong dan terdengar suara keras ketika sebagian dari dinding kuil tua itu ambruk menge-luarkan suara gemuruh dan debu mengebul ke atas! Tentu saja Pek kian dan enam orang lainnya ter-kejut bukan main. Kiranya iblis itu telah mengeta-hui bahwa di dalam kuil ada orangnya dan kalau tadi iblis itu tidak turun tangan adalah karena mengira bahwa mereka juga anggauta dunia hitam. Setelah semua orang berlutut dan hanya mereka yang bersembunyi itu saja yang tidak, agaknya barulah iblis itu tahu dan menegur.

Tentu saja tujuh orang yang bersembunyi di dalam menjadi terkejut dan karena mereka tahu bahwa tempat persembunyian mereka telah diketahui orang, maka terpaksa mereka lalu keluar dari pintu kuil, apa lagi karena sebagian tembok dan atap telah ambruk dan tadi terpaksa mereka harus berloncatan menghindar dan kini mereka semua keluar.

Kwee Tiong Li yang biarpun masih lemah dari belum pulih kembali tenaganya, merasa bahwa dialah yang menjadi pemimpin dan bertanggung jawab, cepat maju dan memberi hormat kepada Bit - bo - ong atau Raja Kelelawar.

"Harap locian-pwe sudi memafkan kami yang tidak sengaja hendak mengintai. Kami hanya kebetulan berada di dalam kuil, lama sebelum locianpwe dan para saudara datang berkumpul di luar kuil."

Sepasang mata Raja Kelelawar yang mencorong itu menyapu tujuh orang yang keluar dari dalam kuil, alisnya berkerut dan jelas bahwa dia merasa tidak senang hatinya.

"Kenapa kalian bersembunyi dan tidak keluar ?" bentaknya.

"Maaf, locianpwe, kami merasa sebagai orang luar maka kami tidak berani mengganggu"

"Siapakah kalian ?"

"Kami...... kami hanya pelancong-pelancong yang kemalaman di sini " Pemuda itu tidak mau memperkenalkan diri mereka.

"Dia itu Kim - suipoa !" Tiba-tiba berteriak seorang, di antara para penjahat yang mengenal pendekar tua itu.

"Dan itu dia Pek-bin-houw !" teriak seorang lain.

Mendengar disebutnya dua nama ini, tiba - tiba Raja Kelelawar tertawa bergelak.

"Ha-ha-ha, kiranya hanya kaum pemberontak hina ? Kalian sudah mengintai kami, harus mampus semua!"

Dan diapun lalu mendorongkan tangannya yang sakti ke arah Kwee Tiong Li! Pemuda ini terkejut. Dia masih belum memperoleh kembali tenaganya dan sedapat mungkin dia meloncat ke kiri untuk menghindarkan diri. Akan tetapi tetap saja angin pukulan itu menyambar dan diapun terguling dan jatuh terduduk di bawah pohon depan kuil. Sambil tertawa Raja Kelelawar melangkah dan hendak memukul, akan tetapi pada saat itu, Yang - ce Sam - lo tentu saja sudah meloncat ke depan dan menyerangnya untuk menolong ketua rnereka.

"Dessss... !!" Raja Kelelawar mengibaskan tangannya menyambut mereka dan tiga orang Yang - ce Sam - lo yang lihai itupun terlempar dan terbanting jatuh semua !

"Manusia iblis!" Tiba - tiba Pek Lian sudah menerjang dengan pedangnya.

"Cringg......!" Pedang itu disampok oleh tangan Raja Kelelawar dan terlepas dari pegangan Pek Lian, dan sebelum Pek Lian mampu mengelak, pergelangan tangan kanannya telah dipegang oleh tangan kanan Raja Kelelawar !

Melihat ini, Kim-suipoa dan Pek - bin - houw segera menerjang ma-ju untuk menolong, akan tetapi Raja Kelelawar menggerakkan kakinya dan dua orang itupun terlempar dan terbanting jauh !

"Heh-heh-heh, ternyata engkau cantik sekali lebih cantik dan manis dibandingkan Maling Cantik. Ha-ha-ha, dan engkau masih perawan. Bagus... !"

Pek Lian yang dipegang pergelangan tangan kanannya meronta dan hendak memukul dengan tangan kirinya, akan tetapi ketika dia bertemu pan-dang dengan iblis itu, tiba - tiba kepalanya terasa pening dan tenaganya menjadi lemas dan habislah semangat melawannya. Iblis itu menariknya dan agaknya hendak mencium, akan tetapi pada saat itu terdengar suara ketawa perlahan dan lembut dari dalam kuil. Mendengar suara ketawa halus yang mengandung getaran sampai terasa oleh jan-tungnya itu, Raja Kelelawar terkejut dan mengangkat muka memandang. Tiba-tiba dari dalam kuil muncul seorang kakek berjenggot putih yang memegang sebatang tongkat butut. Orang tua ini mengangkat tangan kirinya ke atas dan berkata kepada Raja Kelelawar,

"Heh - heh - heh, nama Raja Kelelawar terlalu besar dan gagah untuk dirusak oleh perlakuan ren-dah terhadap seorang nona muda. Raja Kelelawar, kalau memang engkau gagah, lepaskan nona muda itu !"

Raja Kelelawar sejenak meragu dan dia me-mandang penuh perhatian. Seorang kakek tua yang sederhana saja, dengan jubah seperti pertapa dan tubuhnya agak kecil, akan tetapi ketika bertemu pandang mata dengan kakek itu, Bit - bo - ong baru ini terkejut melihat sepasang mata tua itu berkilat - kilat sebagai pertanda bahwa kakek itu bukan orang sembarangan. Dan kakek itu memang cerdik, menantangnya untuk melepaskan gadis itu sebagai orang gagah sehingga kalau tidak dilepas-kannya, sama saja mengakui bahwa dia bukan orang gagah! Maka didorongnya Pek Lian sehingga gadis itu terjengkang, hampir menimpa tubuh Tiong Li yang masih rebah di atas tanah.

Kakek itu lalu berkata kepada Pek Lian, "Nona, lekas bantu dia dan menjauhlah dari sini "

Pek Lian, dibantu oleh Yang-ce Sam-lo dan juga oleh dua orang gurunya yang sudah datang Mendekat, lalu memapah Tiong Li menjauhi Raja Kelelawar yang kini sama sekali tidak lagi memperdulikan mereka, melainkan menghadapi kakek bertongkat itu dengan sinar mata tajam. Dia tahu bahwa kakek ini adalah orang yang pandai sekali dan dia dapat menduga bahwa sekali ini dia akan menghadapi lawan yang amat tangguh. Dia sama sekali tidak merasa gentar. Tidak ada apapun di dunia ini yang dapat membuatnya merasa takut. Akan tetapi, di depan semua tokoh sesat di mana baru saja dia diangkat sebagai raja - di - raja, dia harus dapat cepat menundukkan orang ini yang dianggap sebagai musuh pertama yang melintang di jalan. Kalau tidak, hal itu tentu akan menurunkan martabatnya yang telah terangkat tinggi sejak kemunculannya tadi.

"Orang tua, dengarlah baik - baik. Kalau engkau bisa menandingi ilmuku, maka tujuh orang itu akan kubebaskan. Kalau engkau tidak mampu, mereka semua dan engkau juga akan kubunuh di sini!" Suara yang melengking tinggi itu terdengar mengerikan sekali.

Mendengar ini, Tiong Li, Pek Lian dan lima orang tua terkejut bukan main. Mereka kini dapat menduga bahwa suara batuk - batuk yang pernah mereka dengar tanpa melihat orangnya, tentulah kakek bertongkat ini yang melakukannya, untuk memberi peringatan kepada mereka akan bahaya yang mengancam dari para orang sesat yang berkumpul di luar kuil.

Akan tetapi kakek itu nampak tenang - teƱan saja bahkan lalu terkekeh, kelihatan girang sekali

"Heh - heh, benarkah begitu ? Ah, terima kasih terima kasih ! Akan tetapi, kalau engkau meman benar keturunan Raja Kelelawar, ilmu yang mana kah yang harus kutandingi ? Sejak muda suda' kudengar bahwa Raja Kelelawar memiliki beberap ilmu simpanan yang diandalkan, yaitu antara lain Ilmu Bu - eng Hwee - teng (Loncat Terbang Tanp Bayangan) yang merupakan ginkang yang ama hebat, Ilmu Kim - liong Sin - kun (Silat Sakti Nag Emas) yang merupakan ilmu silat yang amat tinggi mutunya, dan Ilmu Pat - hong Sin - ciang (Ta ngan Sakti Delapan Penjuru) yang merupakan gabungan sinkang dan sihir! Yang manakah di anta ranya yang harus kuhadapi ? Kalau harus mengha dapi semuanya, wah, wah, terus terang saja ak yang tua ini tidak akan mampu menandinginya !"

Mendengar ucapan itu, Raja Kelelawar meras bangga dan girang sekali karena ucapan itu mengandung pujian- pujian terhadap ilmu - ilmunya yang didengarkan oleh sekian banyaknya oran sehingga derajatnya makin menaik. Akan tetapi diapun sadar bahwa kakek bertongkat yang tela mengenal ilmu - ilmu simpanan dari perguruannya ini jelas adalah seorang yang amat lihai. Dia harus berhati - hati. Orang selihai ini tidak boleh dihadapi! dengan sembrono.

"Hemmm kalau aku harus melayani ilmumu Pat-hong Sin-ciang, tentu saja aku akan kalah karena aku sudah tua dan sudah puluhan tahun tak pernah berkelahi. Kalau melawan Kim-liong Sin-kun, biarpun aku tidak akan kalah akan tetapi akupun sukar untuk bisa menang. Maka biarlah aku akan mencoba ilmu kesaktian Raja Kelelawar yang pertama tadi, yaitu Bu-eng Hwee-teng yang kabarnya hebat sekali itu."

Semua orang, terutama sekali Tiong Li dan ka-wan- kawannya, terkejut bukan main mendengar ucapan kakek itu. Bahkan di antara para tokoh sesat yang hadir di situ, ada yang tertawa cekikikan.

"Kek-kek-kek ! Tua bangka ini sudah bosan hidup !" Jai-hwa Toat-beng-kwi terkekeh dan mengejek.

"Hi-hik, biar melawankupun takkan menang apa lagi mengadu ginkang melawan ong-ya," kata Pek-pi Siauw-kwi si Maling Cantik.

Kaum sesat adalah orang - orang yang tidak memperdulikan kesopanan dan tidak menghirau-kan peraturan, maka biarpun mereka itu amat ta-kut dan takluk terhadap Bit - bo - ong si Raja Kelelawar, namun tetap saja mereka itu bersikap sembarangan dan tidak memakai aturan. Dan Pek-pi Siauw - kwi si Maling Cantik sudah menyebut-nya ong - ya, sebutan untuk raja, pangeran atau juga biasanya untuk menyebut "raja" di antara mereka. Sebutan yang sifatnya menjilat, bukan penghormatan dan penjilatan mengandung rasa takut.

Memang pilihan kakek itu amat menggelikan di samping mengejutkan. Hanya orang yang miring otaknya sajalah yang untuk mengadu ilmu mela-wan Raja Kelelawar memilih adu ilmu ginkang. Sama saja dengan bunuh diri, seperti ular mencari penggebuk. Seluruh dunia sudah mendengar bahwa di antara sekian banyak ilmunya yang mujijat, il-mu meringankan tubuh inilah justeru yang sangat diandalkan dan dibanggakan oleh mendiang Raja Kelelawar tua dahulu dan ilmu itu telah meng-angkat namanya setinggi langit.

Dunia kang - ouw menganggap bahwa sukar dicari orang yang akan mampu menandingi Bu - eng Hwee - teng, ilmu "terbang" dari raja datuk kaum sesat itu. Sebaliknya, ilmunya yang lain, ilmu silatnya dan ilmu sinkangnya, masih dapat ditandingi oleh para tokoh kang-ouw yang sakti. Dan sekarang, kakek itu memilih ilmu yang hebat itu untuk menandinginya. Gilakah kakek ini ? Ataukah memang disengaja untuk menguji kebenaran pengakuan iblis hitam itu bahwa dia benar - benar keturunan mendiang manusia iblis Raja Kelelawar ?

Si iblis itu sendiri juga merasa amat heran dan terkejut. Dia memandang bimbang. Benarkah ka-kek ini ingin menghadapi ilmu ginkangnya yang tak pernah bertemu tanding itu ? Semenjak dia mempelajari ilmu warisan dari Baja Kelelawar, justeru ilmu itulah yang dipelajarinya secara sem-purna karena dia tahu bahwa ilmu ginkang Bu-eng Hwee - teng itu sukar dicari bandingannya di dunia persilatan. Apakah kakek ini sudah putus asa ataukah gila, ataukah justeru orang ini malah merasa yakin akan dapat mengatasi ilmu itu ? Sia-pakah orang ini ?

Dia harus waspada karena pilihan yang aneh ini menimbulkan kecurigaan dan mungkin saja mengandung sesuatu di dalamnya. Bagaimanapun juga, dia amat percaya akan kemampuannya sendiri dalam hal ginkang dan selama ini belum pernah ada orang yang mampu menandingi ilmunya.

Kakek itu sendiri, seorang kakek sederhana saja, agaknya maklum bahwa lawannya merasa bimbang atau memandang rendah dan semua orang men-tertawakan dirinya, maka diapun tertawa sambil mengangkat muka memandang ke langit.

"Ha - ha - ha - ha ! Kenapa kalian semua heran! mendengar aku ingin menghadapi Bu - eng Hwee-teng, ilmu yang amat tersohor dari mendiang Raja Kelelawar... eh, yang lama itu ? Dengarlah kalian semua, aku sejak kecil pertama kali mempelajari ilmu silat adalah tentang ginkang ini. Sebelum belajar silat yang lain aku lebih dulu belajar ilmu meringankan tubuh! Ini penting sekali, karena aku dapat berlari cepat dan kalau kalah berkelahi, aku dapat mengandalkan ginkang ini untuk melari-kan diri dan aman ! Ha - ha - ha !"

Semua orang tertawa, mentertawakan kakek pikun yang mereka anggap sudah t;dak waras otak-nya ini. Melihat suasana yang tadinya begitu ter-pengaruh oleh kehadirannya sehingga semua orang nampak serius dan takut kini menjadi hambar oleh suara ketawa mereka karena ulah kakek ini, Raja Kelelawar menjadi marah.

Dengan angkuh dia berkata, "Kakek pikun, menghadapi ilmuku Bu-eng Hwee - teng, engkau tidak usah memenangkan, asal dapat melayaninya saja cukuplah sudah. Kalau dapat menandingi saja, engkau boleh membawa pergi tujuh orang itu."

"Heh - heh, benarkah itu ? Heii, dengarlah se-mua saudara golongan hitam! Pemimpin baru kalian sudah berjanji dan biarpun golongan hitam, janji seorang pemimpin selalu harus dipegang teguh sebagai lambang kekuasaannya, karena hanya anjing rendah sajalah yang menjilat ludahnya sendiri yang sudah dikeluarkan. Terima kasih, marilah kita mulai. Eh, bagaimana aku harus menandingi ginkang Bu - eng Hwee - teng yang amat hebat itu ?"

Dengan suara yang tetap bernada tinggi, iblis berpakaian serba hitamitu berkata, "Ginkang mem-punyai dua manfaat, yaitu untuk berlari cepat dan untuk bergerak cepat dalam perkelahian. Nah, kita pertandingkan keduanya. Pertama - tama, kita berlumba menaruh dua buah batu ini ke atas puncak bukit di depan sana. Siapa yang kembali ke sini lebih dulu, dia menang."

"Batu - batu ini ?"

Kakek itu menudingkan tongkatnya kepada dua buah batu sebesar perut kerbau yang berada di dekat tempat itu, di depan kuil.

"Wah, tentu berat sekali."

"Orang yang berani menandingi Bu - eng Hwee-teng tentu tidak sukar membawa batu itu!" Tiba-tiba terdengar suara seorang di antara para tokoh kaum sesat itu.

Kakek itu mengangguk - angguk.

"Biarlah, biar kucoba tenaga tubuhku yang sudah rapuh ini. Baik, aku setuju. Dan bagaimana dengan pertandingan ke dua ? Ingat, aku tidak menantangmu untuk berkelahi!"

"Tidak perlu berkelahi. Untuk pertandingan ke dua, kita masing-masing memakai sebatang daun pada lubang kancing baju dan kita saling berlumba mengambil daun itu dari tubuh lawan. Siapa yang kalah dulu dia kalah."

"Heh-heh-heh, bagus sekali permainan itu. Aku setuju ! Hayo kita mulai saja sekarang!" kata kakek bertongkat butut itu sambil mengangguk-angguk setuju.

Tanpa banyak cakap lagi iblis hitam itu lalu menghampiri dua buah batu. dan sengaja dia memilih batu yang lebih besar dan sekali kaki kirinya bergerak menendang, batu sebesar perut kerbau itu seperti sebuah bola karet yang ringan saja me-lambung ke atas dan diterima oleh tangan kirinya yang menyangganya di atas pundak kiri. Begitu mudahnya!

"Bersiaplah membawa batumu !" katanya kepada kakek itu di bawah tepuk sorak para tokoh kaum sesat yang memuji kehebatan tenaga si iblis hitam itu, walaupun banyak di antara mereka yang akan sanggup melakukan hal seperti itu.

Kakek itu memandang dengan mata terbelalak, seperti orang terkejut.

"Wah, aku yang tua mana sanggup menggunakan tanganku yang sudah lemah ini untuk mengangkat batu sebesar itu ? Biar kuminta tolong tongkatku. Hei, tongkat tua, tolonglah aku sekali ini!"

Dan tongkatnya itu lalu ditusukkan ke arah batu yang sebuah lagi dan "crokkk !" seperti sumpit menusuk ta-hu saja, tongkat itu amblas memasuki batu itu dan ketika diangkatnya, maka kini kakek itu memanggul tongkat yang ujungnya sudah menusuk batu! Tentu saja semua orang melongo menyaksikan ini dan diam - diam si iblis hitam juga terkejut. Kiranya kakek ini memiliki tenaga dalam yang demikian kuatnya sehingga disalurkan melalui tongkat, dapat membuat tongkat itu menusuk batu seperti menusuk benda lunak saja. Karena tidak mau kalah membuat kesan, diapun mengeluarkan suara mendengus dari hidungnya, lalu tiba - tiba saja batu yang disangga tangan kiri itu dilontarkannya ke atas dan ketika batu itu meluncur turun ke arah kepalanya, iblis hitam ini menggunakan tangan kiri yang jari - jarinya diluruskan dan dibuka.

"Crokkk!" Tangan itu amblas memasuki batu sampai dekat siku ! Tentu saja semua orang ber-sorak memuji. Kalau kakek itu menusuk batu dengan tongkat, sekarang si iblis hitam yang menjadi pemimpin mereka itu menusuk batu dengan tangan Degitu saja seolah - olah tangan itu telah berobah menjadi golok tajam runcing dan batu itu berobah lunak sekali!


Bersambung

Darah Pendekar 5                                                                 Darah Pendekar 7