Senin, 29 April 2013

DARAH PENDEKAR 12

DARAH PENDEKAR
Karya : Asmaraman S. Kho Ping Hoo
Bab 12
"Dukkk!!" Akibat benturan kedua lengan itu membuat Cui-beng Kui-ong terbelalak, bah-kan tiga orang datuk lainnya juga menjadi bengong. Mereka bertiga itu maklum akan maksud Cui-beng Kui-ong dengan tangkisan itu. Akan tetapi akibatnya, pemuda itu sama sekali tidak terlempar, apa lagi patah tulang lengannya, bahkan Cui- beng Kui-ong merasa betapa pemuda itu memiliki tenaga sinkang yang amat kuat, setidaknya mampu menandingi tenaganya tadi! Tentu saja dia merasa kecelik, terkejut dan juga penasaran dan cepat datuk ini membalas serangan dengan dahsyat dan bertubi-tubi. Akan tetapi kembali dia terkejut setengah mati karena dengan gerakan- gerakan aneh akan tetapi teratur dan cepat sekali, pemuda itu dapat menghindarkan semua serangannya dengan baik, bahkan membalas setiap serangan secara kontan dan berantai ! Karena Cui-beng Kui-ong memandang rendah, hal yang tidak aneh karena memang selama ini dia tidak pernah menemukan tanding, nyaris dalam serangan jurus ke tigabelas kepalan tangan pemuda itu mengenai lehernya. Untung dia masih dapat melempar tubuh ke belakang sehingga terhindar dari pada malu terkena pukulan lawan. Akan tetapi pemuda itu terus mendesaknya dengan pukulan - pukulan yang mantap sekali.
"Anakku, sudahlah sudahlah, Cong Bu .... jangan berkelahi!" Sasterawan tua itu meratap-ratap. Akan tetapi anak angkatnya yang berangas-an dan yang sudah marah dan sakit hati sekali itu mana mau mendengarkan permintaannya ? Pemuda itu menerjang terus dan terjadilah perkelahian yang seru dan yang amat mengherankan hati tiga orang datuk lainnya, juga membuat semakin pe-nasaran hati Cui-beng Kui-ong. Dia merasa malu sekali karena tadi memandang rendah dan ternyata pemuda ini sedemikian lihainya se-hingga dapat melayaninya sampai hampir ti-apuluh jurus. Marahlah Cui-beng Kui-ong an diapun mulai memainkan ilmunya yang paling baru, yaitu Ilmu Pukulan Penghisap Darah! Bu kan main hebatnya pukulan ini dan sekali ini pe-muda itu terdesak hebat. Memang harus diakui bahwa bagaimanapun juga, tingkat kepandaian pe-muda ini walaupun memiliki bakat yang amat kuat, namun masih belum matang dan masih kalah se-tingkat dibandingkan dengan Cui - beng Kui - ong. Dia terdesak mundur, akan tetapi dasar wataknya keras dan berangasan, dia masih nekat terus mela-kukan perlawanan.
Akhirnya, sebuah pukulan dahsyat dengan Tenaga Sakti Asap Hio mengenai dada sebelah kanan pemuda itu yang roboh terjengkang dan tak sadarkan diri!
"Cong Bu ah, Cong Bu, mengapa engkau tidak mentaati kata-kataku tadi ?" Sasterawan tua itu menubruk dan menangisi anak angkatnya, mengeluh panjang pendek. Diambilnya sehelai koyo (obat tempel) dan ditempelkan pada dada anaknya yang terluka parah itu. Baju bagian dada itu berlu-bang seperti terbakar dan kulitnya juga matang ha-ngus terkena pukulan itu dan masih mengepulkan uap! Melihat ini Raja Tabib Sakti lalu mendekat dan sekali lihat saja tahulah dia bahwa pemuda itu terkena pukulan Tenaga Sakti Uap Hio, maka dia-pun cepat - cepat mengeluarkan obat cair dalam botol. Dia percaya bahwa pemuda itu tidak teran-cam nyawanya karena tadi sudah dilihatnya bahwa pemuda itu memiliki sinkang yang cukup kuat, akan tetapi kalau tidak cepat diberi obat yang tepat, ha-wa beracun dari pukulan itu bisa merusak jalan darah.
"Sobat, tuangkan obat ini pada luka di dadanya dan paksa dia minum sebagian sisanya," katanya halus. Tanpa berkata apa-apa, sasterawan itu menerima botol dan membukanya, lalu menyiram luka itu dengan sebagian dari obat cair itu. Kemu-dian, dia membuka mulut anaknya dan menuang-kan sisa obat ke dalam mulutnya. Kalau dia tidak memiliki kepercayaan sepenuhnya kepada datuk
yang berjuluk Raja Tabib Sakti itu, tentu dia me-ragu mendengar bahwa obat luar bisa diperguna-kan untuk obat dalam itu. Dan memang hebat se-kali obat dari Raja Tabib Sakti itu. Begitu diobati, pemuda itu siuman kembali dan mengeluh lirih.
"Nah, apa kataku tadi, Cong Bu, janganlah kau-lanjutkan sifatmu yang berangasan itu, hanya men-datangkan malapetaka saja bagimu. Untung engkau tidak mati dan menerima pertolongan dari Bu-eng Sin-yok-ong !" kakek sasterawan itu menegur anaknya.
"Akan tetapi... akan tetapi mereka menghina ayah! Hemm, kelak aku akan membalas penghina-an ini, setelah aku menyempurnakan pelajaran ilmu yang ayah berikan. Sungguh kurang ajar sekali! Aduhh... huh-huh... kepandaiannya cuma seperti itu sudah berani menyombongkan di depan ayah! Huh, lihat saja dua tahun lagi, aku tentu akan menghajar raja iblis itu !"
Sasterawan tua itu cepat membungkam mulut anaknya yang marah-marah dan penasaran itu, sambil dengan muka was - was melirik kepada em-pat orang datuk yang sudah hendak pergi itu.
Dan memang sesungguhnyalah apa yang dikhawatirkannya. Cui-beng Kui-ong marah bukan main mendengar ocehan pemuda yang telah dirobohkannya itu. Sambil menggeram dia melangkah ke depan, sekali mengulur tangan dia telah mencengkeram leher sasterawan tua itu dan melempar-kannya ke tengah telaga. Tubuh yang kurus kecil itu terlempar bagaikan layang-layang putus talinya. Cui - beng Kui - ong yang marah - marah itu me-lanjutkan gerakannya, menjambak rambut pemuda itu untuk dijotos. Melihat ini, Bu - eng Sin - yok-ong hendak mencegah akan tetapi tiba - tiba me-reka semua dikejutkan oleh hal yang sama sekali tidak pernah mereka duga !
Tubuh sasterawan tua itu tadi terlempar ke arah telaga seperti layang-layang putus talinya, dan tak dapat diragukan lagi bahwa tubuhnya yang ringan itu tentu akan terjatuh ke air telaga. Akan tetapi, ketika sasterawan tua itu melihat be-tapa anaknya dijambak rambutnya dan terancam nyawanya, tiba-tiba dia mengeluarkan suara me-lengking tinggi halus sekali seperti suara nyamuk terdengar di dekat telinga dan tubuhnya yang tadi-nya meluncur itu, mendadak menggeliat di udara dan dapat menukik kembali ke darat dengan kece-patan seperti seekor burung walet terbang saja. Bu - eng Sin - yok - ong adalah seorang ahli gin-kang yang tiada keduanya di dunia persilatan, akan tetapi menyaksikan ginkang yang diperlihat-kan oleh kakek sasterawan itu, dia sampai melongo dan bengong keheranan. Kemudian, sekali kedua tangan kakek sasterawan itu bergerak, tahu-tahu pemuda yang tadinya dijambak rambutnya oleh Cui - beng Kui - ong itu telah berpindah tangan dan dipondong oleh kakek sasterawan kecil kurus itu !
Sasterawan itu memangku anaknya di atas ta-nah dan sambil mengelus - elus kepala puteranya, dia berkata dengan suara gemetar, "Agaknya cu-wi memiliki hati yang demikian angkuhnya sehingga selalu mau menang sendiri. Agaknya untuk memo-hon agar cu - wi suka pergi, haruslah lebih dulu menundukkan keangkuhan itu. Nah, sekali lagi, ha-rap cu - wi suka meninggalkan tempat ini sebelum cu - wi kehilangan keangkuhan itu."
Sebelum yang lain menjawab, Cui-beng Kui-ong sudah menjadi marah sekali dan dia maju menghampiri kakek sasterawan itu. "Tua bangka sombong ! Inilah aku, Cui - beng Kui ong yang telah memukul anakmu karena anakmu lancang mulut. Kau hendak menundukkan keangkuhan ka-mi ? Hemmu, majulah, siapa takut kepadamu ? A-kan tetapi ingat, kalau engkau mampus di tangan-ku, anakmu inipun akan kubunuh agar engkau tidak mati sendiri !" Ucapan datuk ini bukan sekali - kali karena kekejamannya, melainkan karena kecerdikan-nya. Kalau kakek itu tewas, tentu kelak anaknya yang berangasan itu hanya akan mendatangkan ke-sulitan saja baginya, maka harus dibunuh sekali untuk menghilangkan balas dendam.
Dengan perlahan kakek sasterawan itu bangkit berdiri dan mengangguk. "Sesukamulah, akan tetapi dengan kepandaianmu yang jauh dari pada bersih itu, dengan banyak kelemahan dan kekurangannya di sana-sini, bagaimana engkau akan dapat memastikan kemenanganmu? Pertama-tama, engkau harus merobah watakmu yang bukan saja kejam, akan tetapi juga sombong dan. tekebur itu, ini merupakan pelajaran pertama bagimu, Cui-beng Kui-ong !" Kini ucapan sasterawan itu tidak lemah seperti tadi, melainkan penuh wibawa dan mengandung kekuatan yang menggetarkan jantung.
TENTU saja Cui-beng Kui-ong menjadi semakin marah. Sambil menghardik, diapun sudah menerjang maju. Karena dia tahu bahwa sebagai ayah pemuda itu, tentu kakek ini memiliki ilmu ke-pandaian tinggi, maka begitu menerjang, dia sudah mengeluarkan ilmu andalannya, yaitu dia memukul dengan Tenaga Sakti Asap Hio yang mengeluarkan bau harum aneh itu. Biasanya, ilmu ini akan me-ngeluarkan bau yang membuat lawan menjadi pu-sing dan bisa roboh sendiri tanpa dipukul. Dan dari kedua tangannya keluar asap tipis putih ber-bau, harum yang melengkung ke ayah lawannya. Akan tetapi, dengan tenang saja kakek sasterawan ini menghadapi semua pukulannya sambil mene-rangkan kelemahan - kelemahan jurus yang di-mainkan Cui-beng Kui-ong.
"Lihat, bukankah lambung kirimu terbuka ? Ka-lau kumasukkan kakiku ke situ, engkau sudah roboh ! Nah, penutupan lambung itu membuka lehermu sebelah kiri, dan pukulanku dengan tangan miring pada leher itu tentu sukar kauhindarkan lagi !" Dan setiap gerakan Cui-beng Kui-ong di-sambutnya dengan uraian tentang kelemahan- kelemahannya. Lebih hebat lagi, asap tipis putih berbau hio yang tadinya melengkung ke arah kakek sasterawan itu, kini membalik dan dari kedua le-ngan Cui-beng Kui-ong bukan melengkung ke depan, melainkan membalik ke belakang!
Cui-beng Kui-ong merasa terkejut bukan main. Memang semua yang dinyatakan kakek itu tentang kelemahan semua jurusnya itu tepat dan bahkan baru sekarang dia melihatnya! Dia merasa penasaran sekali dan cepat diapun mainkan pukulan Pehisap Darah yang amat hebat itu. Akan tetapi, kembali pukulan keji ini sama sekali tidak mempengaruhi si kakek sasterawan. Tidak ada setetespun darah sasterawan itu terpecik keluar seperti yang biasa terjadi pada lawan-lawan iblis itu kalau mempergunakan Ilmu Penghisap Darah, pa-dahal berkali- kali sasterawan itu mengadu lengan dengan si raja iblis. Bahkan dalam jurus-jurus ilmu inipun si sasterawan menunjukkan kelemahan - kelemahannya.
"Yang paling berbahaya adalah ilmu-ilmu hitam seperti ini, Kui-ong. Kalau engkau tidak merobah sifat dan watakmu, maka ilmu-ilmu seperti ini bahkan akan menjadi kutukan bagimu. Lihat, kalau kulawan begini, bukankah engkau yang akan celaka sendiri ?" Kakek itu menggerakkan kedua lengannya yang kecil dan angin yang menyambar amat dahsyatnya, kemudian Cui-beng Kui-ong terpekik kaget melihat betapa ada darah keluar dari pori-pori kedua lengannya, tanda bahwa dia sendiri telah menjadi korban ilmunya sendiri, seperti senjata makan tuan! Maka tahulah dia bahwa kakek sasterawan ini benar-benar maha sakti dan diapun bukan orang bodoh, melainkan seorang datuk sehingga dia tahu saat kekalahan-nya. Diapun meloncat ke belakang.
"Hari ini Cui-beng Kui-ong mengaku kalah!" katanya dengan menahan geram lalu mengatur pernapasannya untuk mengobati luka-lukanya sendiri akibat ilmu yang membalik tadi.
Tentu saja tiga orang datuk lainnya hampir tidak percaya akan apa yang mereka saksikan tadi. Di samping keheranan dan kekagetan, juga mereka merasa penasaran. Mungkinkah kepandaian mereka yang menggemparkan dunia persilatan itu harus kalah oleh seorang sasterawan tua renta yang sa-ma sekali tidak terkenal! Kim - mo Sai - ong me-loncat maju dan menjura kepada kakek itu. Dia tahu bahwa kakek itu seorang sakti, maka diapun tidak sembrono.
"Sobat, aku mohon petunjukmu !" Dan tanpa menanti jawaban, Kim-mo Sai-ong sudah menerjang dengan dahsyatnya dan begitu turun tangan diapun sudah mempergunakan ilmunya yang paling hebat, yaitu Pukulan Pusaran Pasir Maut dan dimainkannya ilmu silatnya yang, dinamakan Soa - hu - lian (Teratai Danau Pasir). Hawa dingin yang menggigilkan terpancar dengan daya tolak hebat dari tubuhnya. Kuda-kudanya kokoh kuat, lengannya yang panjang itu mencuat ke sana ke mari mencari lowongan, dengan jari - jari tangan terkembang siap untuk mencengkeram lawan. Se-luruh tubuhnya melambangkan setangkai bunga teratai, nampak sangat indah dipandang. Kalau kedua kakinya yang kokoh kuat itu bergerak lam-ban dan kuat seperti menjadi akar - akar teratai, maka kedua tangannya bergerak cepat dari atas, melambai-lambai seperti tangkai-tangkai bunga teratai tertiup angin.
"Bagus, Kim - mo Sai - ong, akan tetapi ilmumu ini terlalu mengandalkan kekuatan kaki belaka, dan ingat, orang bisa roboh karena kelemahan bagian atasnya, walaupun kakinya tidak roboh akan tetapi kalau bagian atas terluka, apa artinya ? Lihat, aku membuat tangkai-tangkai terataimu tidak berda-ya !" Dan benar saja, dengan totokan - totokan satu jari yang mengeluarkan hawa panas, kakek sas-terawan itu membuat kedua lengan Kim-mo Sai-ong tidak berdaya karena sebelum mendekati tu-buh lawan telah bertemu dengan hawa - hawa yang menotok ke arah jalan darah di seluruh kedua le-ngannya.
Kim - mo Sai - ong yang telah mencapai tingkat ke tigabelas, tingkat terakhir dari Soa - hu - pai ini mengerahkan seluruh tenaganya sampai daya tolak nya membuat batu - batu besar bergoyang - goyang dan pohon-pohon di sekitar tempat itu seperti tertolak angin badai. Akan tetapi kakek sastera-wan itu tenang saja menghadapi daya tolak Tenaga Sakti Pusaran Pasir Maut, seolah-olah tonggak besi kecil namun kokoh kuat yang tidak goyang sedikitpun juga dilanda angin. Karena kedua le-ngannya selalu menjadi sasaran totokan yang me-nyambut semua serangannya, akhirnya Kim - mo Sai - ong kewalahan dan mati kutu. Ilmu yang di-andalkannya itu seperti api bertemu air, tidak ber-daya sama sekali dan akhirnya, karena terlalu ba-nyak mengeluarkan tenaga sia - sia, dengan tere-ngah-engah diapun meloncat ke belakang. "Teri-ma kasih, aku Kim-mo Sai-ong mengaku kalah !"
Giliran Sin-kun Bu-tek yang maju. Datuk ini terkenal memiliki ilmu silat yang luar biasa am-puhnya sehingga dijuluki Sin-kun Bu-tek (Tangan Sakti Tanpa Tanding). Sebagai seorang datuk golongan bersih, walaupun wataknya lebih keras di-bandingkan dengan Bu-eng Sin-yok-ong, namun datuk ini tidaklah sekasar dua orang datuk pertama. Dia menjura dengan hormat dan berkata, "Kiranya mata kami seperti buta tidak mengenal Gunung Thai-san menjulang di depan mata ! Sahabat yang sakti, saya Sin-kun Bu-tek mohon petunjuk !"
Kakek sasterawan iba telah mengalahkan dua orang datuk, akan tetapi dia kelihatan masih tenang saja, seolah-olah dia mengalahkan mereka tadi tanpa pengerahan tenaga sama sekali. Sikapnya masih biasa, tenang dan merendah. "Sin-kun Bu-tek, julukanmu saja menandakan bahwa ilmu silatmu adalah ilmu pilihan. Belum tentu aku akan dapat mengalahkanmu, akan tetapi aku ingin engkau mengalahkan dan menundukkan keangkuhanmu sendiri. Nah, majulah !"
Sin-kun Bu-tek menerjang dengan ilmu silat andalannya, yaitu Ilmu Silat Angin Puyuh dengan tenaga sakti Thian-hui-gong-ciang (Tangan Kosong Halilintar). Hebat bukan main datuk ini me-mang dan tingkatnya hanya kalah sedikit saja di-bandingkan dengan Bu - eng Sin - yok - ong. Gerakan kaki tangannya amat cepat sehingga tubuhnya lenyap berobah bentuknya menjadi bayangan yang berkelebatan dan gerakan ini mendatangkan angin yang berputar - putar membuat semua pohon ber-goyang-goyang di sekeliling tempat itu. Dan yang hebat sekali adalah kedua tangan yang melancarkan pukulan Thian-hui-gong- ciang itu. Kadang-kadang terdengar ledakan dan nampak asap mengepul ketika kedua tangan itu memukul dan saling bersentuhan, seolah-olah kedua tangan itu me-ngandung aliran listrik atau aliran kilat yang dapat menghanguskan tubuh lawan yang terkena pukulannya.
Namun, kakek sasterawan itu bersikap tenang saja dan seperti juga tadi, kini diapun memberi petunjuk kepada Sin-kun Bu-tek tentang kele-mahan - kelemahan dari ilmu silatnya, mengeritik dengan petunjuk dan bukti-bukti sehingga kalau dia mau, tentu dia akan dapat merobohkan Sin - kun Bu - tek dengan ilmunya yang dipakai untuk meng-hadapi ilmu datuk utara itu. Sebelum lewat lima-puluh jurus, Sin-kun Bu-tek yang selalu ditunjuk kelemahan - kelemahan ilmunya, merasa takluk dan diapun meloncat ke belakang dan mengaku kalah!
Kini tinggallah Bu - eng Sin - yok - ong seorang. Datuk ini berbeda dari yang lain. Dia sudah mencapai tingkat tinggi dalam ilmu silat, ilmu pengobatan dan ilmu kebatinan sehingga dia tidak bersikap kasar dan tidak pula penasaran. Kini dia-pun tahu bahwa dia berhadapan dengan seorang maha sakti yang sengaja menyembunyikan diri dan diam - diam dia merasa malu bahwa dia menerima sebutan datuk, padahal ada orang yang lebih lihai tidak dikenal sama sekali! Betapapun juga, setelah tiga orang sahabatnya diberi petunjuk, kalau dia tidak maju, berarti dia akan membikin malu tiga orang sahabatnya itu. Di samping itu, sebagai se-orang ahli silat tinggi, diapun suka sekali akan ilmu silat dan tiada salahnya kalau kini setelah mendapat kesempatan bertemu orang sesakti ini, diapun mencoba - coba ilmunya.
"Seorang locianpwe tinggal di sini tanpa nama, sungguh membuat kami merasa malu kepada diri sendiri. Harap sahabat yang mulia sudi memberi petunjuk kepadaku," katanya sambil mengibaskan lengan bajunya yang lebar.
Kakek sasterawan itu tersenyum pahit. "Siancai... nama besar Bu-eng Sin-yok-ong bukan sembarangan. Aku jauh lebih kagum akan ilmu pengobatanmu dari pada ilmu silat. Ilmu pengo-batanmu itulah ilmu yang amat berguna dan baik, tidak seperti ilmu silat yang selalu disalahgunakan untuk menindas katun lemah. Marilah, Yok-ong, mari kita main-main sebentar, siapa tahu ada gunanya bagi kita berdua."
"Maafkan kelancanganku !" Sin - yok - ong berseru dan setelah memberi hormat diapun langsung mengeluarkan ilmu simpanannya yang merupakan gabungan dari Ilmu Silat Kim - hong - kun (Silat Burung Hong Emas) digerakkan dengan ginkang Pek - in (Awan Putih) dan dengan tenaga sakti Pai-hud-ciang (Tangan Sakti Penyembah Buddha). Sukar diceritakan betapa hebatnya gerakan kakek yang berjuluk Bu-eng (Tanpa Bayangan) ini. Gin-angnya memang hebat luar biasa sehingga tubuh-nya kadang - kadang lenyap menghilang, dan ilmu silatnya juga amat indah dan halus, menyambar-nyambar dari atas dan bawah sedangkan tenaganya adalah tenaga sinkang yang sudah mencapai ting-kat tertinggi, begitu halus dan mengandung getar-an yang hampir tidak terasa, akan tetapi tenaga ge-taran ini manipu menghancurkan batu karang dari jarak jauh!
"Siancai bukan main hebatnya !" kata kakek sasterawan itu sambil menandingi lawannya. Dan biarpun agak lama, akhirnya dia dapat juga menemukan beberapa kekurangan dan kelemahan dalam ilmu silat Bu-eng Sin-yok-ong sehingga kalau dia menghendaki, dalam waktu kurang dari seratus jurus dia tentu akan dapat mengalahkan Raja Tabib Sakti itu! Akhirnya, kakek sakti inipun meloncat ke belakang, terlongong sejenak kemudian menjura sambil berkata dengan hati penuh rasa kagum.
"Kami sungguh tak tahu diri..., dan benarlah bahwa kami amat angkuh dan terlalu membanggakan diri sendiri. Mulai sekarang, aku tabib tua yang bodoh tidak berani lagi menjual lagak di dunia luar !" Setelah berkata demikian, Sin - yok - ong lalu pergi dari situ, diikuti oleh tiga orang datuk lainnya. Dan memang benar, sejak saat itu, empat orang datuk itu tidak pernah lagi muncul, lebih banyak mengasingkan diri dan diam - diam mem-perdalam ilmu masing-masing.
Demikianlah cerita yang amat menarik, yang diceritakan oleh Yap - lojin ketua Thian-kiam-pang kepada para pendengarnya,, yaitu nenek Siang Houw Nio - nio, Ouwyang Kwan Ek, Yap Kiong Lee, Pek In, Ang In, dan juga Ho Pek Lian. Semua orang mendengarkan dengan penuh perhatian dan hati tertarik sekali. Siang Houw Nio-nio yang juga menjadi murid dari Sin-kun Bu-tek, belum pernah mendengar cerita ini dari suhunya, bahkan Ouw-yang Kwan Ek, murid ke dua dari Si Raja Tabib Saktipun tidak pernah diceritakan oleh gurunya. Agaknya, empat orang datuk itu sungguh merasa terpukul dan tidak pernah bercerita kepada mere-ka, kecuali Sin - kun Bu - tek yang menceritakan-nya kepada muridnya yang tersayang, yaitu Yap Cu Kiat atau Yap - lojin, sambil menyerahkan gam-bar - gambar itu.
Yap - lojin melanjutkan ceritanya. "Lihat, gambar- gambar ini adalah petunjuk - petunjuk dari sasterawan tua itu. Di sini diperlihatkan betapa dengan mudahnya beliau memunahkan setiap ilmu khas dari empat orang datuk. Empat gambar ini memperlihatkan jelas, dan dilukis oleh mendiang suhu sebagai peringatan dan juga untuk memper-dalam ilmunya dengan meneliti kelemahan - kele-mahan seperti yang ditunjukkan oleh sasterawan itu. Dan memang, semenjak kekalahan yang mutlak itu, empat orang datuk tekun memperbaiki ilmu masing-masing dan karena mereka sudah tidak tekebur lagi, mereka dapat menciptakan ilmu yang jauh lebih baik dan matang."
Kakek berjubah naga mengangguk-angguk. "Sejak dahulu aku menduga bahwa ada rahasia se-suatu yang membuat suhu selalu marah kalau ada muridnya yang tekebur. Mungkin saja rahasia itu diceritakannya kepada twa-suheng Bu Cian yang sayang agaknya juga menyimpan rahasia itu sam-pai matinya."
Yap - lojin berkata, "Berdasarkan cerita itu ma-ka aku percaya bahwa biarpun kita orang - orang tua tidak mampu menghadapi Raja Kelelawar yang amat hebat itu, nanti pasti akan muncul seseorang yang akan mampu menundukkannya."
"Mudah-mudahan begitulah," kata isterinya. "Menurut pengamatanku, biarpun si pendek Pek-lui-kong Tok Ciak cucu murid Kim-mo Sai-ong itupun agaknya masih jauh untuk dapat menan-dingi Raja Kelelawar."
Setelah menceritakan rahasia itu dan memperlihatkan gambar - gambar, kakek Yap mengajak mereka semua untuk keluar lagi dari terowongan di bawah tanah. Dalam perjalanan ini. Yap Kiong Lee merasa penasaran bukan main mendengar dongeng gurunya itu. Selama ini, gurunya tidak pernah bercerita tentang rahasia itu. Dia merasa penasar-an karena selama ini, dia merasa bahwa ilmu raha-sia perguruan mereka yang hanya diturunkan kepa-danya oleh gurunya dianggap sebagai tidak ada cacat celanya.
Mereka tiba di luar terowongan, di tepi telaga yang kini sunyi melengang dan menyeramkan itu karena semua bangunannya telah runtuh. "Suhu, setelah peristiwa itu, lalu apa saja yang dikerjakan oleh kakek guru dan para locianpwe yang lain ?" Kiong Lee tidak dapat menahan diri dan mengaju-kan pertanyaan itu kepada suhunya.
Yap-lojin menoleh dan tersenyum melihat keinginan tahu murid kesayangannya ini. "Kakek gurumu lalu menyepi di dalam kamar rahasia itu dan berusaha menyempurnakan ilmunya. Gambar-gambar tadi adalah peninggalan beliau. Selama bertahun-tahun empat orang datuk mengasingkan diri, tidak pernah keluar, dan masing-masing me-nyempurnakan ilmu - ilmu mereka. Dan pada wak-tu itu, hanya Kim - mo Sai - ong saja yang telah menerima murid."
"Apakah para locianpwe itu tidak lagi berkun-jung ke telaga Hoa - san, setelah mereka memper-baiki ilmu masing-masing untuk mencari saste-rawan itu ?" Kiong Lee mendesak.
"Baru sepuluh tahun kemudian, setelah kakek gurumu merasa bahwa ilmunya sudah maju, be-liau berkunjung ke sana. Akan tetapi sasterawan tua dan anaknya itu sudah tidak lagi berada di sana. Kakek gurumu lalu berkelana mencarinya, akan tetapi usahanya gagal, tidak pernah ketemu. Akhirnya suhu menjadi bosan, pulang ke sini dan menerima murid, yaitu aku dan subomu ini," katanya sambil melirik kepada isterinya, yaitu nenek Siang Houw Nio - nio.
Ouwyang Kwan Ek menarik napas panjang. "Sekarang aku tahu mengapa guruku, menurut ce-rita twa - suheng, pernah pula mengasingkan diri untuk menyempurnakan ilmu. Belasan tahun kemu-dian baru suhu keluar dan merantau dan barulah beliau menerima murid-muridnya."
Kiong Lee merasa penasaran. "Jadi kalau begi-tu, agaknya sampai para locianpwe itu meninggal dunia, mereka tidak pernah dapat menemukan sas-terawan tua yang maha sakti itu, suhu ?"
Yap-lojin mengangguk. "Agaknya begitulah. Dan selama mereka berempat itu mengembara un-tuk mencari si sasterawan, mereka telah membuat nama besar sehingga tersohor di seluruh dunia persilatan. Mereka berempat dipuja-puja sebagai tokoh sakti yang tak terkalahkan, tokoh-tokoh yang memiliki ilmu silat sempurna. Tak ada yang mengetahui bahwa empat datuk yang mereka puja-puja itu di dalam hatinya masih merasa gentar ter-hadap seseorang."
"Ahh, siapakah gerangan sasterawan itu dan di mana beliau sekarang, atau keturunannya ?" tiba - tiba Ho Pek Liari tidak dapat menahan hati-nya untuk bertanya. Sebetulnya hatinya yang ber-suara dan tanpa disadarinya mulutnya ikut pula bicara. Akan tetapi tidak ada yang merasa heran karena pertanyaan itu memang berkecamuk di da-lam hati mereka semua.
"Sebetulnya dari perguruan - perguruan kita sendiri saja, kalau ilmu dari perguruan kita terpu-sat dan terkumpul, tidak terpecah-pecah antara para murid, kiranya kita masih mampu mengha-dapi dan mengatasi Raja Kelelawar !" kata kakek berjubah naga Ouwyang Kwan Ek dengan suara menyesal. Mendengar ini, diam - diam Pek Lian memandang tajam kepada kakek ini. Bukankah kakek ini telah mengirim murid - murid dan anak buahnya untuk merampas kitab - kitab pusaka per-guruannya sendiri dan bahkan telah dengan kejam membasmi semua keluarga Bu ? Hemm, pikirnya dengan penasaran. Kalau caramu mengumpulkan ilmu perguruan sendiri secara demikian kejam, membunuh saudara seperguruan sendiri, maka eng-kau tidaklah lebih baik dari pada Si Raja Kelelawar! Akan tetapi, tentu saja ia tidak berani mengeluarkan bisikan hatinya ini.
Tiba-tiba semua orang menoleh ke arah ba-yangan empat orang yang berlari mendatangi tem-pat itu. Setelah dekat, mereka itu ternyata adalah murid-murid Thian - kiam - pang, yaitu para sute dari Yap Kiong Lee yang diperintahkan oleh pemu-da ini untuk mencari jejak penculik yang melarikan Yap Kim.
Tentu saja mereka berempat terkejut bukan main melihat betapa bangunan perguruan mereka sudah rusak binasa habis terbakar, dan mereka tak dapat menahan tangis mereka ketika mendengar malapetaka yang menimpa perguruan mereka dan tewasnya dua orang suheng dan para anak buah Thian - kiam - pang.
"Sudah, jangan menangis seperti anak-anak cengeng!" Akhirnya Siang Houw Nio-nio membentak mereka. "Lekas ceritakan bagaimana dengan hasil penyelidikan kalian!"
Empat orang murid itu sambil berlutut lalu bercerita. Mereka dapat menemukan jejak orang yang melarikan Yap Kian dan ternyata bahwa yang melarikan itu memang seorang gemuk pendek yang kemungkinan besar adalah Ceng-ya-kang (Si Kelabang Hijau), seorang tokoh dari Ban-kwi-to.
"Kim-sute dibawa dengan perahu yang berlayar di Sungai Huang-ho. Kami tidak berani melakukan pengejaran karena selain kami tidak mem-punyai perahu, juga kami ingin cepat melapor ke-pada suhu, subo dan suheng."
"Celaka ! Kalau Kim - ji berada di tangan ka-wanan iblis dari Ban - kwi - to, tentu akan celaka ! Semua ini adalah kesalahanmu, orang tua yang ti-dak becus mengurus anak sendiri! Engkau mem-biarkan anak tunggalmu sendiri untuk bergaul dengan segala macam iblis dari Ban - kwi - to. Huh, di mana pertanggungan jawabmu ? Bagaimana caramu mendidik anak?"
Yap - lojin yang dimaki - maki di depan orang banyak, terutama di depan Ouwyang Kwan Ek yang menjadi tamunya, memandang dengan muka merah, dan mata mengeluarkan sinar marah. Kakek inipun pada hakekatnya mempunyai watak yang keras, tidak kalah kerasnya dengan watak isterinya.
"Hemm, kalau orang tuanya retak, mana mung-kin anaknya dapat memperoleh pendidikan yang baik ? Keretakan orang tuanya sudah merupakan contoh, yang amat buruk, yang dapat menghancur-kan perasaan anak. Dan kalau seorang isteri me-ninggalkan suami dan anaknya sehingga kehidupan suami dan anak itu menjadi hancur, si anak tidak memperoleh pendidikan yang baik, salah siapakah itu?"
Diserang oleh ucapan begini, nenek Siang Houw Nio-nio menjadi marah bukan main. Mukanya berobah merah sekali dan matanya berkilat - kilat. Ia membanting kakinya ke atas tanah dan mem-bentak marah.
"Yap Cu Kiat !" Telunjuk kanannya menuding ke arah Indung suaminya itu yang biasanya disebut-nya suheng. "Enak saja engkau bicara ! Sudah ber-ulang kali aku membujuk, menyembah-nyembahmu, agar keluarga kita pindah ke kota raja. Aku adalah keluarga kaisar, dan sudah sepatutnya kalau aku menyumbangkan tenagaku pada saat terakhir hidupku untuk kerajaan keluargaku ! Akan tetapi, engkau berkeras kepala dan tidak sudi, bahkan engkau berkukuh untuk tidak membolehkan Kim-ji kubawa ke istana! Dan engkau mendidiknya sendiri, sekarang apa jadinya ?"
"Wah, kaukira kalau kaubawa dia menjadi orang istana dia akan menjadi lebih baik, ya ? Paling-paling dia akan menjadi seorang pemuda bangsa-wan yang sombong, angkuh dan manja !"
"Jelas tidak serusak sekarang ini !"
"Siapa bilang rusak? Harus diselidiki dulu mengapa dia sampai berdekatan dengan orang Ban-kwi-to dan mengapa pula dia sampai dicu-lik." Kakek itu mencoba untuk menahan kemarah-annya. "Jangan sembarangan menuduh yang bukan-bukan!"'
"Tidak perduli ! Pokoknya, kalau engkau tidak bisa mencarinya dan menemukannya, membawanya kembali kepada aku ibunya dalam keadaan utuh, aku bersumpah akan mengadu nyawa denganmu !*
Melihat keadaan yang meruncing antara suheng dan sumoi yang telah menjadi suami isteri akan tetapi kemudian saling berpisah karena masing-masing mempertahankan pendirian sendiri itu, Ouw-yang Kwan Ek yang menjadi tamu merasa tidak enak sekali. Dia lalu maju dan menjura kepada dua orang itu.
"Lojin ! Nio-nio ! Harap maafkan aku, bukan maksudku mencampuri, akan tetapi sebagai sahabat, kiranya aku berkewajiban untuk mengingatkan kalian bahwa dalam keadaan seperti ini, cekcok saja tidak akan dapat mengembalikan putera kalian. Aku akan suka membantu mencarinya."
Suami dan isteri yang sudah tua itu saling pandang dengan sinar mata berkilat, kemudian mereka lalu membuang muka dengan muka masih merah. Memang mereka saling berpisah karena masing-masing mempertahankan pendirian dengan hati keras. Siang Houw Nio - nio ingin untuk menyum-bangkan tenaganya kepada kerajaan, dan iapun sudah minta kepada suaminya untuk membantunya dan hidup di kota raja, untuk mengangkat derajat putera tunggal dan putera angkat mereka, yaitu Kiong Lee yang sudah mereka anggap sebagai anak sendiri. Akan tetapi, Yap Cu Kiat merasa tidak suka akan sepak terjang kaisar dan diapun berkeras tidak mau sehingga timbullah percekcokkan anta-ra mereka yang mengakibatkan Siang Houw Nio-nio meninggalkan suami dan puteranya, dan pergi sendirian ke kota raja di mana ia lalu menjadi pengawal pribadi dari kaisar.
Pendidikan anak merupakan kewajiban mutlak dan utama bagi orang tua, di samping tentu saja memelihara dan membesarkannya.. Dan pendidik an yang tepat adalah pencurahan kasih sayang yang murni, bukan sekedar pendidikan melalui nasihat-nasihat dari mulut. Seorang anak membutuhkan pencurahan cinta kasih dari ayah bundanya. Ge-taran cinta kasih akan terasa oleh anak itu dan orang tua yang benar-benar mencinta anaknya, sudah pasti akan selalu mendidik diri sendiri terlebih da-hulu agar si anak dapat melihat dan mengerti, tan-pa dibujuk melalui mulut. Apa artinya orang tua melarang anaknya agar jangan berjudi kalau si orang tua sendiri tukang judi ? Apa artinya orang tua melarang anaknya agar jangan memaki kalau si orang tua sendiri tukang maki ? Kerukunan ayah dan ibu merupakan pendidikan yang paling baik bagi anak mereka. Sebaliknya percekcokan antara ayah dan ibu merupakan racun - racun dan benih-benih buruk pertama yang merusak watak si anak. Pujian - pujian tidak akan menjadikan anak baik, karena hal itu bahkan akan membuat si anak men-jadi seorang yang selalu haus akan pujian dan ke-baikannya itupun hanya palsu karena dilakukan ha-nya untuk memancing agar memperoleh pujian be-laka. Memanjakannya secara berlebihan akan mem-buat si anak menjadi seorang yang lemah tergan-tung kepada orang tua, tidak berani dan lemah menghadapi halangan dan kesukaran hidup. Akan tetapi, mendidik dengan kekerasan akan membuat si anak berwatak keras, juga dapat membuatnya men-jadi rendah diri. Anak yang menurut kepada orang tuanya karena pendidikan keras, hanya menurut karena takut saja, akan tetapi di dalam hatinya dia memberontak dan kalau sekali waktu dia me-rasa kuat, dia akan memberontak secara berterang, bahkan mungkin akan sengaja memberontak untuk membalas dendam yang sudah lama disimpan di dalam hatinya.
Ucapan Ouwyang Kwan Ek menyadarkan suami isteri itu bahwa mereka telah dikuasai perasaan sehingga melupakan nasib putera mereka yang ber-ada di tangan orang Ban - kwi - to dan masih belum diketahui bagaimana keadaannya itu. Akan tetapi, Siang Houw Nio nio masih bersungut - sungut ketika berkata, "Pendeknya engkau harus cepat mencari dan menemukan kembali anakku !" Ucapan ini ditujukan kepada suaminya.
"Baliklah, sumoi baiklah, aku akan turun gunung mencarinya," jawab Yap-lojin dengan suara duka.
Siang Houw Nio - nio lalu mendengus, memba-likkan tubuhnya dan memberi isyarat kepada dua orang muridnya untuk pergi bersamanya, kemudian, hanya dengan anggukan kecil pada Ouwyang Kwan Ek, iapun lalu pergi meninggalkan tempat itu.
Pek In dan Ang In berlutut kepada Yap - lojin untuk berpamit. Kakek itu menggerakkan tangan kanan menyuruh mereka bangkit. "Pergilah dan jaga baik-baik subo kalian." Dua orang gadis itu mengangguk dan menahan air mata mereka. Mere-ka masih diliputi kedukaan melihat apa yang me-nimpa Thian - kiam - pang dan Pek In mengerling ke arah Yap Kiong Lee dengan pandang mata sa-yu. Kemudian merekapun pergi sambil mengajak Pek Lian.
Setelah isterinya dan tiga orang gadis itu pergi, Yap - lojin menghela napas panjang. "Sungguh aku tidak mengerti, apa maksudnya orang Ban - kwi - to menculik puteraku. Aku harus menyusul ke pulau itu Sekarang juga."
"Memang sebaiknya begitu, suhu, dan aku akan menemani suhu untuk mendapatkan kembali Kim-sute," kata Kiong Lee. Pemuda ini memang diang-kat anak oleh keluarga Yap, bahkan dia sendiripun memakai she Yap, akan tetapi terhadap ayah dan ibu angkatnya itu, dia selalu menyebut mereka su-hu dan subo, seperti murid - murid yang lain. Dan agaknya Yap - lojin dan isterinya itupun tidak me-naruh keberatan, apa lagi setelah mereka sendiri juga mempunyai anak, yaitu Yap Kim.
"Jangan khawatir, lojin, biar akupun akan mem-bantumu menghadapi orang - orang Ban - kwi - to," tiba-tiba Ouwyang Kwan Ek juga berkata.
"Ah, mana aku berani merepotkanmu, sahabat Ouwyang ?"
"Aku kebetulan berada di sini ketika tempatmu diserbu orang dan aku mendengar akan musibah yang menimpa keluargamu. Hal ini berarti aku berjodoh untuk terlibat dalam urusanmu. Selain itu, akupun ingin sekali melihat sampai di mana kehebatan nama besar Pulau Selaksa Setan itu."
Yap Cu Kiat tidak dapat menolak lagi dan dia-pun lalu memerintahkan empat orang muridnya untuk mencari tenaga bantuan dan membangun kembali sedapatnya rumah mereka yang terbakar itu. Kemudian, bersama Ouwyang Kwan Ek dan Kiong Lee, diapun meninggalkan sarang Thian-kiam - pang yang telah rusak terbakar itu.
* * *
"Seharusnya kita membantu Yap-locianpwe untuk menyusul dan mencari puteranya itu ke sarang Ban-kwi-to !"
Ucapan Pek Lian ini mengejutkan Pek In dan Ang In. Dua orang ini sendiri tidak akan berani mengeluarkan ucapan itu di depan subo mereka, apa lagi ucapan itu dikeluarkan dengan nada su-ara kaku dan mencela!
Benar saja kekhawatiran dua orang gadis ini. Tiba-tiba kereta dihentikan dan kepala nenek itu keluar dari tirai jendela kereta, sepasang matanya mencorong menatap wajah Pek Lian yang juga menghentikan kudanya di dekat kereta.
"Mengapa kau berkata demikian ?" bentak ne-nek itu, matanya agak terpejam dan mulutnya cem-berut.
"Melihat orang lain tertimpa bencana, sudah sepatutnya kalau kita turun tangan membantu. Ka-lau tidak demikian, apa perlunya kita belajar ilmu sejak kecil ? Apa lagi kalau yang tertimpa malape-taka itu masih keluarga sendiri, sudah menjadi kewajiban kita untuk membantu. Pula, harus dii-ngat bahwa Ban-kwi-to kabarnya merupakan tempat yang berbahaya, dihuni oleh tokoh-tokoh sesat yang lihai, maka sudah selayaknyalah kalau kita ikut membantu Yap - locianpwe menghadapi mereka." Pek Lian melihat betapa dua orang gadis murid-murid Siang Houw Nio-nio itu berkedip kedip memberi isyarat kepadanya agar ia menghen-tikan ucapannya, akan tetapi ia tidak perduli O-rang - orang lain boleh takut setengah mati kepada nenek bangsawan ini, akan tetapi ia tidak! Ia menganggap bahwa nenek ini terlalu angkuh, ter-lalu tinggi hati dan kejam sehingga mendengar putera kandungnya diculik orang dan terluka pa-rah., agaknya bersikap tidak perduli saja. Hal ini sudah membuat hati Pek Lian memberontak dan marah.
"Bocah lancang mulut! Berani engkau mencam-puri urusan kami ?"
Akan tetapi, dengan pandang mata yang bera-ni dan jujur Pek Lian menghadapi nenek itu. "Bi-arpun saya menjadi tawanan dan orang yang dicu-rigai, akan tetapi selama ini locianpwe dan teruta-ma kedua orang cici bersikap baik kepada saya sehingga saya sama sekali tidak merasa menjadi ta-wanan. Sebaliknya, saya merasa sebagai sahabat atau tamu yang diperlakukan dengan baik. Setelah mengalami suka-duka, bahkan sudah sama- sama menghadapi lawan tangguh, bagaimana mungkin saya bersikap tidak perduli dengan malapetaka yang menimpa keluarga locianpwe ? Sedapat mungkin, saya tentu akan menyumbangkan tenaga saya yang tidak seberapa ini untuk membantu."
Sejenak dua orang wanita itu saling berpandangan. Akhirnya nenek itu menarik kembali kepalanya ke dalam kereta dan terdengar ia menarik napas panjang, lalu terdengar suaranya, "Hemm, engkaupun seorang yang keras hati dan keras kepala. Akan tetapi engkau memiliki keberanian dan kejujuran." Dan tiba-tiba kereta itupun bergerak lagi.
Pek In menyentuh lengan Pek Lian. "Adik Lian, engkau sungguh membuat kami menahan napas. Kami tidak mengira engkau masih dapat hidup setelah berani bersikap seperti itu."
Pek Lian tersenyum. "Kenapa, eici Pek? Aku merasa benar, dan matipun bukan apa - apa kalau berada dalam kebenaran."
Biarpun ia dapat mengerti akan kata - kata ini, namun di dalam hatinya Pek In harus mengakui bahwa ia tidak mempunyai keberanian yang sede-mikian besarnya seperti gadis ini.
Kereta nenek itu berhenti di depan pintu ger-bang kota raja. Para penjaga pintu gerbang ber-baris rapi di kanan kiri, dengan tombak di tangan kanan dan perisai di tangan kiri. Pakaian seragam mereka mengkilap tertimpa sinar matahari dan mata tombak mereka juga berkilauan karena setiap hari digosok. Seorang komandan jaga yang pakaiannya lebih mentereng lagi, nampak berlutut dengan kaki kiri di tengah jalan dan inilah yang membuat nenek itu menghentikan kereta. Sambil membawa tong-katnya nenek Siang Houw Nio - nio turun dari atas keretanya. Pek In dan Ang In juga meloncat turun dari atas kuda mereka dan menyerahkan kendali kuda kepada Pek Lian. Dua orang gadis ini cepat mendampingi subo mereka memasuki pintu gerbang.
Para penjaga bersikap hormat melihat nenek ini. Siang Houw Nio - nio sendiri melangkah de-ngan tenang, tangan larinya membawa tongkat ke-pala naga dan dua orang muridnya berjalan di kanan kirinya.
Komandan jaga yang setengah berlutut itu mem-beri hormat. "Hamba menerima perintah dari istana untuk melapor kepada paduka tuan puteri."
"Perintah apa yang datang dari istana ? Lekas laporkan kepadaku," jawab Siang Houw Nio - nio. Komandan itu adalah perwira penjaga yang ber-tugas di luar istana, dan hal ini dikenalnya dari pakaian seragamnya.
"Sri baginda kaisar menanyakan apakah padu-ka sudah tiba kembali. Dan baru saja beliau mengutus Hek-tai- ciangkun untuk menyusul paduka ke istana Wakil Perdana Menteri Kang."
Nenek itu mengerutkan dahinya dan mengang-kat tangan kanan ke depan. "Baiklah, kau pergi danlaporkan ke dalam istana bahwa aku akan segera menghadap sri baginda."
Komandan jaga itu memberi hormat, lalu bang-kit dan dengan sigapnya meninggalkan pintu ger-bang untuk membuat laporan ke istana. Derap kaki kuda terdengar lantang dan gagah.
Siang Houw Nio-nio diikuti oleh dua orang muridnya kembali ke kereta. "Pek - ji dan Ang - ji, kita terus saja ke istana. Ajak sekalian nona itu dan beri pinjam pakaianmu. Agaknya ada perkem-bangan baru di istana. Mari !"
Pek Lian diberi pinjam pakaian dan mereka ber-tiga lalu berganti pakaian sebagai dayang atau pe-layan puteri bangsawan itu. Nenek itu sendiripun berganti pakaian, karena biarpun ia masih bibi dari kaisar sendiri, kalau menghadap kaisar, ia tidak dapat meninggalkan peraturan - peraturan yang sudah ditentukan. Setelah selesai berdandan, mereka berempat lalu menuju ke istana.
Ho Pek Lian merasa girang sekali dan jantung-nya berdebar keras. Ia merasa girang karena tahu bahwa nenek bangsawan itu agaknya sudah mulai menaruh kepercayaan kepadanya, bahkan merasa suka seperti juga kedua orang muridnya itu. Kalau tidak demikian tak mungkin ia diajak, masuk ke istana sebagai dayang sang puteri tua. Tidak akan sukar bagi nenek itu untuk menyerahkannya kepa-da pasukan untuk dijebloskan ke dalam tahanan !
Suasana menegangkan yang membayangkan bahwa ada apa - apa di istana nampak dari pintu gerbang istana yang paling depan. Penjagaan amat ketat dan ada belasan orang perajurit jaga di situ, padahal biasanya hanya ada enam orang saja. Dan di balai perajurit yang luas itu, nampak banyak sekali pengawal-pengawal resmi para menteri sedang duduk beristirahat. Hal ini menandakan bahwa para menteri sedang berada di istana, menghadap sri baginda kaisar. Siang Houw Nio - nio tahu akan hal ini dan diam - diam iapun menduga-duga apa gerangan yang terjadi maka kaisar me-ngumpulkan semua menteri negara.
Setelah tiba di serambi istana, nampak bahwa penjagaan dilakukan oleh para pengawal yang di-sebut pasukan pengawal Gin - i - wi (Pengawal Pa-kaian Perak). Mereka itu rata - rata bersikap gagah, bertubuh kuat dan pakaian mereka yang berlapis pe-rak itu nampak gemerlapan. Komandan mereka juga berpakaian serba mengkilap berlapis perak, dan nampaknya keren berwibawa sekali. Ketika dia melihat datangnya Siang Houw Nio - nio yang dii-kuti oleh tiga orang dayang cantik, segera maju memberi hormat.
"Paduka tuan puteri telah dinanti - nanti oleh yang mulia sri baginda kaisar. Silahkan !" Koman-dan itu dengan sikap hormat lalu mengantar nenek bangsawan dan tiga orang dayangnya itu sampai ke pintu induk. Di sini, tugasnya diambil alih oleh komandan pasukan Kim-i-wi (Pengawal Pakaian Emas). Pasukan Kim-i-wi nampak tidak kalah gagahnya dibandingkan pasukan Gin-i-wi, bah-kan pakaiannya yang berlapis emas itu amat me-gah dan mewah. Pasukan Kim-i-wi ini bertugas menjaga di bagian dalam istana, sedangkan pasukan Gin-i-wi bertugas di bagian luar istana. Akan tetapi keduanya adalah pasukan- pasukan pengawal istana yang terkenal dan mereka dipim-pin oleh komandan masing - masing yang merupa-kan pembantu-pembantu dari Pek-lui-kong Tong Ciak, itu jagoan terkenal yang bertubuh pendek dari istana!
Di dekat pinta gerbang induk ini, terdapat ba-ngunan samping di mana nampak beberapa belas orang - orang yang sikapnya aneh-aneh dan membayangkan kepandaian tinggi. Mereka ini adalah pengawal-pengawal pribadi para menteri yang tentu saja hanya diperbolehkan mengawal sampai di situ dan tidak diperkenankan ikut masuk menghadap kaisar. Di sekitar tempat itu nampak pengawal-pengawal Kim-i-wi berjalan hilir-mudik dengan tombak di tangan, sedangkan di bagian luar pintu gerbang nampak pengawal-pengawal Gin-i-wi yang juga berjaga- jaga. Nampak angker dan gagah. Juga nampak pengawal- pengawal dari kedua pasukan ini berjaga-jaga di gardu- gardu ronda, di atas dinding dan di menara-menara. Mereka semua sjap siaga dengan ketat.
Siang Houw Nio-nio dengan sikap tenang dan agung, diiringkan oleh tiga orang gadis dan dida-hului oleh komandan pasukan Kim-i-wi sebagai penunjuk jalan atau penjemput, berjalan di sepanjang ruangan-ruangan yang amat luas itu. Ho Pek Lian berjalan di belakangnya bersama Pek In den Ang In. Pek Lian adalah puteri seorang bekas menteri. Gedung ayahnya sendiri sangat indah dan gadis ini sejak kecil sudah terbiasa dengan keme-wahan dan keindahan. Akan tetapi baru pertama kali ini ia memperoleh kesempatan memasuki istana dan melihat segala kemewahan yang terham-par di depannya, ia merasa dirinya kecil dan merasa seperti seorang miskin yang baru pertama kali me-lihat kekayaan berlimpah. Ia merasa seolah - olah keindahan yang luas itu amat besar, seperti hendak menelan dirinya.
Setelah mereka tiba di depan sebuah pintu be-sar yang berkilauan dan dilapis emas, komandan Kim - i - wi itu berhenti. Agaknya kedatangan me-reka sudah nampak dari dalam karena tirai sutera merah yang menutupi pintu itu terbuka dan mun-cullah dua orang yang nampak gagah perkasa. Yang seorang bertubuh tinggi tegap, mukanya brewok dan dia memakai pakaian panglima yang berlapis perak. Orang ke dua bertubuh tinggi kurus dan dia ini memakai pakaian panglima yang berlapis emas. Melihat mereka, komandan Kim - i - wi sege-ra memberi hormat, lalu membalikkan tubuh me-ninggalkan tempat itu. Agaknya tugasnya mengawal Siang Houw Nio - nio telah selesai dan kini kedua orang panglima itulah yang menggantikan-nya, menyambut kedatangan nenek bangsawan itu. Dua orang panglima itu memberi hormat lalu mem-persalahkan nenek bangsawan itu melanjutkan per-jalanan melalui pintu emas.
Ang In yang berjalan di samping Pek Lian, ber-bisik di dekat telinga nona ini,
"Mereka itu berilmu tinggi, memiliki tenaga berlawanan. Kim - i - ciangkun (Panglima Baju E-mas) itu memiliki pukulan telapak tangan panas yang dapat membakar pakaian lawan dan Gin - i-ciangkun (Panglima Baju Perak) itu memiliki pukul-an tangan dingin yang membuat darah lawan mem-beku."
Pek Lian memandang ke depan dan mengang-guk. Ia tidak merasa heran mendengar ini karena ia sudah sering mendengar bahwa di istana kaisar terkumpul jagoan - jagoan yang amat lihai.
"Akan tetapi semua itu tidak ada artinya kalau dibandingkan dengan atasan mereka, yaitu Tong-tai - ciangkun yang berjuluk Pek - lui - kong," bisik Pek In.
Pek Lian merasa betapa jantungnya berdebar kencang dan kedua kakinya agak gemetar. Kira-nya dua orang panglima, ini adalah tangan kanan si pendek itu. Bagaimana kalau si pendek itu ber-ada di situ pula dan mengenalnya ? Akan tetapi Pek Lian meneliti pakaiannya dan hatinya lega.
Tidak mungkin si cebol yang lihai itu akan menge-nalnya. Mereka baru saling berjumpa satu kali saja, yaitu ketika ia menghadang bersama empat orang suhunya untuk membebaskan ayahnya. Ketika itu, ia berpakaian sebagai seorang gadis kang - ouw, tidak seperti pakaian puteri atau dayang istana se-perti sekarang ini. Pula, kalau ia datang sebagai dayang nenek bangsawan yang menjadi bibi kaisar ini, siapa yang berani mencurigai dan mengganggunya ?
Memang kedudukan Siang Houw Nio - nio di istana amat tinggi. Orang lain, betapapun tinggi kedudukannya, tidak boleh menghadap kaisar mem-bawa pengawal atau pengikut. Akan tetapi nenek ini masuk diiringkan tiga orang dayangnya dan tidak ada orang berani menentangnya. Bagaikan bayangan saja, Pek Lian mengikuti gerak - gerik dua orang gadis itu dan ketika mereka semua me-masuki ruangan pertemuan di mana duduk kaisar dihadap oleh para menterinya, Pek Lian juga ikut pula menjatahkan diri berlutut di belakang Ang In. Ketika ia mengerling, jantungnya berdebar tegang melihat ada dua orang berdiri di belakang kaisar. Dua orang itu bukan lain adalah Pek-lui-kong Tong Ciak si cebol yang lihai itu dan yang ke dua adalah Jenderal Beng Tian yang tidak kalah lihai-nya ! Tentu saja Pek Lian diam-diam mengeluarkan keringat dingin ketika melihat "singa dan harimau", dua jagoan pengawal kaisar yang amat terkenal itu. Pernah ia bertemu, bahkan bentrok de-ngan mereka berdua! Kini, mereka berdua itu berdiri di belakang kaisar, berdampingan dan mata mereka itu menyapu ruangan dengan sinar mata yang mencorong tajam dan menyeramkan. Pek Lian cepat - cepat menundukkan mukanya dan ini tidak menarik perhatian karena memang sikap pa-ra dayang harus begitu, takut - takut dan malu-malu ! Penyamaran ini menguntungkan Pek Lian karena selain ia diperbolehkan selalu menyembu-nyikan muka tanpa dicurigai, juga siapakah yang akan memperhatikan seorang dayang ? Dua orang lihai itupun tentu tidak akan memandang sebelah mata kepada seorang dayang!
Di kanan kiri, berderet - deret duduk para men-teri menghadapi meja masing-masing. Nenek Siang Houw Nio- nio yang memasuki ruangan itu, dengan sikap angkuh dan kesadaran bahwa kedu-dukannya lebih tinggi dari pada para menteri itu, mengangguk ke kanan kiri membalas penghormat-an para menteri yang hadir. Wanita tua ini sadar akan harga dirinya. Ia adalah pengawal pribadi, juga kepercayaan, juga bibi sendiri dari kaisar! Ke-mudian, dengan sikap tenang nenek itu berlutut menghormati kaisar yang masih keponakannya sendiri itu.
"Selamat datang, bibi!" kata kaisar dengan ra-mah dan dengan tangannya mempersilahkan ne-nek itu untuk bangkit dan mengambil tempat duduk di kursi yang telah disediakan untuknya. Bi-arpun para dayang pengikut nenek ini diperboleh-kan ikut masuk, akan tetapi tentu saja mereka ti-dak boleh mengganggu persidangan dan Pek In lalu mengajak adiknya dan Pek Lian untuk ber-kumpul di pinggir, bersama dengan para dayang istana, di mana mereka duduk berkelompok dan tidak berani mengeluarkan suara, seperti sekelom-pok bunga di taman yang ringkih dan takut terlanda angin.
Setelah Siang Houw Nio-nio tiba, maka per-sidangan dilanjutkan dan nenek itu kini mengerti bahwa sri baginda memang mengadakan sidang darurat, memanggil semua menteri untuk mem-bicarakan keadaan yang membuat sri baginda kaisar merasa khawatir. Kaisar Cin Si Hong-te mengerti bahwa beberapa tindakannya telah menimbulkan heboh dan kegemparan di seluruh ne-geri.
Kaisar merasa marah sekali. Menurut hemat-nya, semua tindakan yang dilakukannya ada-lah benar dan tepat, dan demi kebaikan pemerin-tahnya. Pembakaran kitab-kitab Guru Besar Khong Cu dianggap amat tepat karena pelajaran dalam kitab-kitab itu dianggap menghasut rakyat untuk tidak tunduk dan setia kepada rajanya. Banyak isi pelajaran yang dianggap memburuk-burukkan kaisar, merendahkan kaisar merendahkan martabat kaisar sebagai Wakil atau Utusan Tuhan !
Dan tindakan ini ditentang oleh para sasterawan lemah itu, bahkan beberapa orang menteri ikut menentangnya. Tentu saja mereka yang menentang itu harus dibasmi habis ! Kalau tidak demikian, ke-wibawaan kaisar akan merosot, demikian pendapat orang - orang kepercayaan kaisar seperti kepala thaikam Chao Kao dan Perdana Menteri Li Su, yang dibenarkan oleh kaisar.
Selain itu, juga pembangunan tembok besar di utara banyak ditentang oleh menteri dan orang-orang yang menamakan dirinya pendekar. Katanya usaha itu menyiksa rakyat! Padahal, pembangunan itu adalah untuk keselamatan negara, untuk kesela-matan rakyat pula, untuk membendung datangnya orang-orang dari utara yang akan menyerbu ke selatan. Soal pembangunan tembok besar inipun menimbulkan geger dan pemberontakan.
Untuk melihat reaksi yang sesungguhnya dari rakyat jelata, kaisar sudah mengutus dua orang jagoan istana itu, Pek - lui - kong Tong Ciak dan Jenderal Beng Tian, sekalian untuk menumpas pi-hak pemberontak yang menentang kekuasaan pe-merintah. Ketika kedua orang utusan itu tiba kem-bali dan membuat laporan mereka, kaisar menjadi terkejut, marah dan segera mengumpulkan para menteri untuk diajak bermusyawarah. Menurut pelaporan dua orang jagoan itu, rakyat memang sedang bergolak dan nampak tanda-tanda bahwa rakyat akan bergerak menentang pemerintah, dipanaskan oleh gerakan para pendekar. Pelopor utama adalah seorang jago pedang yang terkenal bernama Liu Pang yang oleh rakyat jelata diangkat menjadi semacam bengcu (pemimpin rakyat) dan yang bermarkas di Puncak Awan Biru di Pegunungan Fu-niu- san. Selain Liu Pang ini, juga masih ada seorang lagi keturunan Jenderal Chu yang pernah menjadi musuh besar kaisar ketika masih menjadi Raja Chin, yaitu yang bernama Chu Siang Yu yang bermarkas di sepanjang Lembah Yang-ce. Anak buah Chu Siang Yu telah banyak dihancurkan oleh dua orang jagoan istana ini di sepanjang Sungai Yang-ce, akan tetapi itu hanya merupakan sebagian saja dari pada kekuatan para pemberontak yang masih berkeliaran. Menurut penyelidikan dua orang jagoan istana itu, Liu - twako, demikian sebutan umum untuk Liu Pang, memiliki pengaruh yang amat besar di kalangan rakyat dan para pendekar. Anak buahnya banyak sekali. Juga dia memiliki hubungan yang amat luas di dunia kang- ouw.
Di atas istana-istana mereka kadang-kadang nampak bayangan dua orang yang berkeliaran dan yang berilmu amat tinggi. Para pengawal tidak ada yang mampu mengejar mereka sehingga mereka itu tidak diketahui benar bagaimana macamnya. Bahkan dua bayangan orang itu pernah muncul di atas istana kaisar ! Peristiwa ini terjadi ketika dua orang jagoan itu sedang melaksanakan perintah kaisar sehingga tidak berada di istana. Juga Siang Houw Nio - nio tidak berada di istana karena diutus membujuk Wakil Perdana Menteri Kang yang ikut-ikut menentang pemerintah dan hendak mengun-durkan diri itu.
Demikianlah, para menteri, juga Siang Houw Nio-nio, mendengarkan penuturan ini dengan hati ikut gelisah melihat perkembangan keadaan yang tidak menguntungkan itu. Bagaimanapun juga, tentu saja kaisar dan juga mereka tidak ingin melihat rakyat memberontak.
"Semua ini adalah kesalahan para menteri yang tidak setia !" Tiba - tiba terdengar Perdana Menteri Li Su berkata setelah memberi hormat kepada kai-sar. "Para menteri dan pejabat yang menentang kebijaksanaan sri baginda, itulah yang menyebar-kan hasutan kepada rakyat, memberi contoh keti-daksetiaan yang besar. Dosa mereka itu amat hebat dan mereka sepatutnya dihukum berat beserta seluruh keluarga mereka. Kalau tidak demikian, ka-lau pemerintah hanya menghukum orangnya saja, tentu sanak keluarganya akan mendendam dan menghasut rakyat untuk memberontak!"
Ucapan Perdana Menteri Li Su ini memancing datangnya pendapat-pendapat yang berbeda anta-ra para menteri dan pejabat tinggi yang hadir se-hingga keadaan menjadi ramai dengan suara mere-ka, seperti sarang tawon yang diganggu. Melihat ini kaisar mengerutkan alisnya dan memberi isya-rat kepada Pek - lui - kong Tong Ciak. Si cebol ini mengangkat kedua tangan ke atas dan terdengar suaranya yang bergema dan melengking nyaring, mengandung getaran kuat karena dikeluarkan de-ngan dorongan tenaga khikang.
"Cu-wi harap tenang dan dengarkan amanat sri baginda !"
Mendengar suara yang amat berpengaruh ini, suasana menjadi sunyi sekali dan semua orang me-mandang ke arah kaisar, walaupun mereka segera menundukkan muka kembali karena menentang wajah kaisar lama - lama merupakan dosa besar !
Kaisar menarik napas panjang. Dalam keadaan seperti itu, terasa benar olehnya betapa para pem-bantunya itu hanya merupakan sekelompok orang-orang tolol yang pandainya hanya menjilat - jilat saja. Maka diapun lalu memandang kepada Siang Houw Nio-nio dan berkata, "Bibi yang baik, ba-gaimanakah hasil pertemuan bibi dengan Menteri Kang ? Maukah dia kembali dan memangku jabatannya sebagai wakil perdana menteri ?"
Pertanyaan ini menimbulkan ketegangan dan semua mata memandang kepada nenek itu. Memang harus mereka akui bahwa di antara semua menteri, maka Wakil Perdana Menteri Kang adalah orang yang paling berani bertindak tegas, bahkan paling berani menentang kebijaksanaan kaisar. Menteri Kang adalah seorang yang memiliki wiba-wa besar sekali, dan juga amat bijaksana dan cer-dik pandai. Setelah menteri itu meletakkan jabat-annya, keadaan menjadi semakin kacau dan ba-nyak pejabat tinggi seperti kehilangan pegangan. Andaikata menteri itu masih ada, tentu dia akan dapat bertindak dengan tegas dan cepat mengha-dapi pergolakan yang sedang terjadi. Semua orang tahu bahwa seperti juga Menteri Kebudayaan Ho, maka wakil perdana menteri itupun seorang yang amat disegani, bahkan dihormat dan dikagumi oleh para pendekar di dunia kang - ouw.

Bersambung

Darah Pendekar 11                                                                 Darah Pendekar 13