Jumat, 26 April 2013

DARAH PENDEKAR 11

DARAH PENDEKAR
Karya : Asmaraman S. Kho Ping Hoo
Bab 11

"Benar ! Cepat kau pergi ke belakang, di sana terdengar banyak orang bertempur. Aku akan membangunkan semua saudara kita !"

Sute ke tiga dari Kiong Lee itu meloncat lenyap dan Kiong Lee lalu mengerahkan ilmunya yang hebat, membung-kuk dan mencengkeram ke arah tembok pagar itu sehingga tembok itu hancur di dalam genggaman tangannya, kemudian dia menggunakan tenaga-nya untuk menyambit ke arah genta besar di atas menara yang berada tinggi dan agak jauh di sudut pekarangan. Biarpun jaraknya jauh dan yang di-pakai menyambit hanyalah hancuran tembok, akan tetapi segera terdengar suara genta nyaring berbu-nyi berkali-kali seperti ditabuh bertalu-talu oleh tangan yang kuat. Tentu saja suara itu mengejutkan semua penghuni rumah perkumpulan atau perguruan Thian-kiam-pang itu dan semua terbangun dari tidur dan bergegas keluar. Keadaan menjadi gempar akan tetapi kini semua murid te-lah berlarian keluar dengan pedang di tangan. Akan tetapi mereka itu hanyalah murid- murid tingkat rendahan yang juga menjadi anak buah Thian-kiam-pang, sedangkan di antara tujuh orang murid utamanya, kini yang berada di situ hanya Yap Kiong Lee, ji-sutenya dan sam - sutenya saja, sedangkan yang lain- lain masih ketinggalan karena sedang berpencar dan mencari-cari ke mana perginya orang yang menculik Yap Kim.

Kiong Lee sudah cepat meloncat ke arah sam-ping bangunan di mana dia melihat ji-sutenya sedang bertanding melawan seorang wanita cantik. Melihat betapa Kwan Tek, yaitu adik seperguruan-nya yang ke dua itu tidak bersepatu, tahulah Kiong Lee bahwa Kwan Tek tentu terbangun dari tidur dan tidak sempat mengenakan sepatu. Kiong Lee berdiri memperhatikan perkelahian itu. Dengan sepasang pedangnya, Kwan Tek sebetulnya dapat mendesak lawannya, karena selain serangannya le-bih mantap, juga ia memiliki tenaga yang lebih besar sehingga lawannya kewalahan menghadapi serangan - serangan sepasang pedangnya. Akan te-tapi wanita baju hitam itu memiliki kegesitan yang luar biasa dan jelaslah bahwa ginkangnya memang hebat sehingga sebegitu jauh ji-sutenya itu belum juga dapat mengalahkannya. Kiong Lee segera mengenal wanita cantik itu yang bukan lain ada-lah Pek - pi Siauw - kwi (Iblis Cantik Tangan Seratus) atau juga terkenal dengan sebutan Si Maling Cantik yang amat terkenal namanya sebagai maling tunggal di daerah selatan. Maling Cantik itu juga memegang sepasang senjata, yang kiri se-batang pedang pendek dan yang kanan sehelai sa-buk sutera. Kiong Lee maklum bahwa sutenya itu tidak perlu dibantu, maka diapun cepat meloncat ke belakang dan terkejutlah dia melihat betapa tempat itu telah didatangi oleh banyak penjahat yang rata - rata memiliki kepandaian tinggi. Ba-ngunan sebelah kiri sudah terbakar dan dia meli-hat adik seperguruannya yang ke tiga sibuk meng-hadapi serbuan para penjahat, dibantu oleh para anggauta Thian-kiam-pang. Dia teringat akan suhunya yang masih berada di dalam tempat per-tapaannya, yaitu di sebuah bangunan yang berada di atas pulau kecil di tengah telaga kecil.

Cepat dia berlari ke tempat itu dan di depan bangunan itupun terdapat orang bertempur. Ketika Kiong Lee melihat bahwa yang berkelahi itu adalah nenek Siang Houw Nio - nio, dia terkejut bukan main. Lawan subonya itu adalah seorang laki - laki tinggi bermantel hitam, memiliki gerakan yang luar bia-sa sekali, cepat dan aneh sehingga subonya sendiri nampak terdesak !

Sejenak Kiong Lee berdiri tertegun. Subonya bukanlah tokoh silat sembarangan. Ia merupakan pengawal pribadi kaisar yang berilmu tinggi. Dia tahu betul betapa saktinya subonya itu, mungkin tidak banyak selisihnya dengan kesaktian gurunya. Akan tetapi sekarang, menghadapi lawan berjubah hitam ini, subonya jelas terdesak. Orang berpakaian hitam itu bergerak luar biasa cepatnya, seperti setan saja. Jantungnya berdebar tegang. Dia sudah mendengar laporan tentang Raja Kelelawar. Inikah orangnya ?

Kiong Lee mengamati gerakan orang itu dengan penuh perhatian. Memang luar biasa sekali gerakan orang itu. Kiranya mantel hitam itu-lah yang menjadi semacam perisai, atau tempat berlindung, juga tempat di mana dia bersembunyi dan dari situ melakukan serangan - serangan dah-syat. Mantel hitam itu kadang - kadang kaku ka-dang-kadang lemas dan dapat menyembunyikan ge-rakan - gerakannya dari mata lawan karena pihak lawan hanya dapat melihat ujung kepala, kaki dan tangan saja. Semua serangan lawan banyak diga-galkan oleh adanya mantel yang menjadi perisai itu dan setiap kali ada lowongan, tentu iblis itu me-nyerang dari balik mantel dengan dahsyat. Bebe-rapa kali dilihatnya betapa subonya kewalahan dan nyaris terpukul. Melihat ilmu silat aneh ini, Kiong Lee teringat akan cerita gurunya tentang ilmu andalan Si Raja Kelelawar yang amat hebat, yaitu yang disebut Ilmu Silat Gerhana Bulan. Man-tel itu seolah - olah menjadi awan tebal yang me-nyelimuti atau menyembunyikan bulan. Inikah il-mu aneh itu ? Kiong Lee tidak tega melihat subo nya terdesak dan terancam bahaya, maka diapun cepat terjun ke dalam medan perkelahian dan membantu, subonya.

Begitu terjun, Kiong Lee menyerangnya dari belakang. Dia berpendapat bahwa kalau orang itu dikeroyok dari depan dan belakang, tentu tidak akan mampu berlindung di balik mantelnya lagi. Akan tetapi ternyata pendapatnya ini tidak benar. Secara aneh sekali, mantel yang hitam lebar itu dapat bergerak aneh dan cepat, menggulung dan berkibaran mengelilingi tubuh Si Raja Kelelawar sehingga menyembunyikannya dari semua jurusan, juga dari belakang ! Seperti juga subonya, Kiong Lee tidak dapat melihat tubuh lawan dengan jelas dan tidak melihat pula gerakan lawan di balik mantel hitam itu.

Dan semua hantamannya selalu bertemu dengan mantel yang seperti perisai. Kalau dia mempergunakan tenaga sinkang, maka pukul-annya tiba di permukaan mantel yang lunak dan yang menyerap semua tenaga pukulannya, dan kadang-kadang mantel itupun menjadi keras seperti perisai baja yang kuat. Sungguh merupakan ilmu yang aneh dan, berbahaya. Mantel itu bisa sa-ja tiba-tiba terbuka untuk memberi jalan keluar serangan dahsyat dari Raja Kelelawar itu ! Dan gerakan orang itu cepat bukan main, berkelebatan.-seolah - olah dia mempergunakan ilmu terbang sa-ja. Kiong Lee sudah mencabut sepasang pedang-nya dan menyerang dengan sungguh - sungguh, na-mun semua serangannya gagal dan dia sendiripun kini terdesak. Mengeroyok dua bersama subonya yang sakti masih terdesak, padahal tingkat kepan-daiannya di saat itu sudah maju pesat, tidak ber-selisih banyak dengan tingkat subonya. Sungguh membuat mereka berdua merasa penasaran sekali.

Tiba - tiba subonya mengeluh karena paha kiri-nya kena tendangan iblis itu yang mencuat dari balik mantel hitamnya. Tendangan itu datangnya sama sekali tidak tersangka-sangka dan sedemikian cepatnya karena gerakan iblis itu memang luar bi-asa cepatnya, dilakukan ketika tubuh iblis itu baru saja meloncat dan mengelak dari sambaran pedang Kiong Lee sehingga datangnya tidak tersangka-sangka dan tendangan itu luar biasa kerasnya sam-pai tubuh Siang Houw Nio - nio terlempar dan me-nabrak pintu bangunan sampai jebol! Tentu saja Kiong Lee terkejut sekali dan cepat menolong subonya yang bangkit lagi. Sepasang pedangnya diputar dengan pengerahan sinkang sekuatnya se-hingga membentuk gulungan sinar yang lebar dan tidak memungkinkan Raja Kelelawar untuk men-desak nenek yang sudah terkena tendangannya itu dan terpaksa harus menghadapi pemuda perkasa itu. Akan tetapi setelah kini dia harus menghadapi iblis itu sendirian saja sedangkan subonya agaknya belum pulih kembali dan belum terjun membantu-nya, Kiong Lee merasakan betapa hebatnya ke-pandaian iblis itu. Setelah kini dia harus meng-hadapinya sendirian, baru terasa olehnya kehebat-annya. Terutama sekali kecepatan gerakan itulah yang membuatnya benar - benar bingung dan ke-walahan karena dia merasa seperti menghadapi banyak lawan. Iblis itu bergerak sedemikian cepat-nya sehingga sukar untuk dapat diikutinya dengan pandang mata, sebentar di depan, tahu-tahu sudah menyerang dari kanan, dari kiri, bahkan tahu - tahu menerjang dari belakangnya ! Dia sudah mengerahkan kepandaiannya, memainkan langkah - langkah ajaib, akan tetapi semua itu sia - sia saja karena ke-cepatan gerak Si Raja Kelelawar itu sungguh tak dapat dipecahkan oleh langkah - langkah ajaib. Iblis itu seolah - olah dapat terbang atau menghilang, dan juga dalam hal tenaga sinkang, Kiong Lee ha-rus mengakui keunggulan lawan. Dia memang kalah segala - galanya, pendeknya tingkatnya masih kalah jauh. Maka, setelah terdesak hebat, akhir-nya pundak kirinya terkena sambaran jari tangan lawan. Kelihatan perlahan saja, akan tetapi cukup membuat lengannya terasa ngilu dan seperti sete-ngah lumpuh, lengan kirinya tergantung lemas dan terpaksa dia melompat mundur.

Pada saat itu nampak bayangan di luar pintu. Nenek Siang Houw Nio - nio yang maklum bahwa pemuda itu terluka pula, khawatir melihat bayang-an ini. Kalau ada musuh lagi datang, tentu mereka berdua takkan berdaya lagi.

"Lee - ji, cepat buka pintu rahasia bawah tanah! Cepat!"

Kiong Lee tercengang dan meragu.

"Tapi... tapi suhu sedang bertapa di dalam... teecu takut mengganggu, tanpa ijin beliau tak seorangpun boleh membukanya... aughh... !"

Sebuah tendangan iblis itu mengenai punggungnya dan Kiong Lee terlempar, muntah darah !

"Persetan dengan tua bangka itu ! Cepat sebe-lum kita mati penasaran ! Lihat, lawan kita ber- tambah !"

Sambil berkata demikian, nenek itu menyebar jarum-jarum halus ke arah iblis itu, Ba-gaimanapun juga, nenek itu adalah seorang yang berilmu tinggi dan hal ini diketahui oleh si iblis yang tidak berani sembarangan dan cepat melin-dungi tubuhnya dari jarum - jarum halus itu dengan mantelnya. Juga dia maklum bahwa pemuda itu-pun amat lihai, maka biarpun keduanya telah ter-luka, dia tidak berani sembarangan mendekat dan menanti kesempatan baik untuk menurunkan tangan mautnya. Dan kini, khawatir kalau mereka lolos, iblis itu bergerak cepat mengelilingi mereka, tidak membiarkan mereka melarikan diri melalui pintu rahasia yang belum diketahuinya di mana letaknya. Siang Houw Nio - nio dan Kiong Lee berdiri beradu punggung melindungi diri yang sudah terluka.

Tiba - tiba berkelebat bayangan orang memasuki ruangan bangunan kecil itu. Semua orang melirik dan kiranya yang masuk adalah Ho Pek Lian, no-na tawanan itu. Di belakangnya nampak Pek Lian dan Ang In. Ketika Pek Lian melihat Raja Kelela-war yang pernah menawannya, dan melihat betapa pemuda perkasa itu luka, ia menjadi marah sekali dan langsung saja, dengan nekat iapun menerjang maju dan menyerangnya dengan pukulan tangan kanan. Akan tetapi, Raja Kelelawar itu menangkis dan akibatnya, tubuh Pek Lian terlempar mena-brak sebuah pot bunga yang berada di sudut ru-angan. Pot bunga kuningan itu tidak roboh ter-langgar tubuh Pek Lian, melainkan tergeser ke samping. Terdengar bunyi berkerotokan dan tiba - tiba saja separuh lantai ruangan itu terbuka dan tanpa dapat dicegah lagi, tubuh nenek Siang Houw Nio - nio dan Kiong Lee, juga tubuh Pek Lian terjerumus ke dalam lubang. Melihat ini, Pek In dan Ang In berteriak khawatir, akan tetapi me-rekapun meloncat menyusul ke dalam lubang itu karena mereka maklum bahwa lubang itu tentulah merupakan rahasia yang baru dibuat oleh Thian-kiam-pang.

Melihat ini, Raja Kelelawar menjadi marah, hen-dak mengejar, akan tetapi dia meragu, takut kalau-kalau dia akan terjebak. Kembali terdengar suara berkerotokan dan tahu - tahu lantai telah menutup kembali. Barulah Raja Kelelawar sadar bahwa me-reka itu telah meloloskan diri melalui pintu rahasia, yaitu lubang tadi. Dia menjadi geram. Dihampiri-nya pot bunga kuningan itu dan digeser - gesernya ke kanan kiri untuk membuka lantai. Namun dia tidak berhasil. Agaknya lubang itu telah tertutup dan dikunci dari bawah. Dia memukul - mukul pot bunga sampai hancur dan memukul - mukul lantai, menendang - nendang. Akhirnya dia mengerahkan anak buahnya untuk membakar bangunan di tengah pulau kecil itu, lalu diapun keluar dan bersama anak buahnya dia melakukan pembantaian besar-besaran di gedung induk Perguruan Pedang Langit (Thian - kiam - pang). Semua anggauta dan murid dibunuhnya dengan kejam, dan seluruh bangunannya dibakar sampai habis. Agaknya, Raja Kelela-war ini amat membenci Thian - kiam - pang, seperti orang melampiaskan dendam yang hebat!

                                                                 * * *

Mereka yang terjeblos ke dalam lubang itu ter-jatuh ke dalam ruangan bawah tanah dan biarpun lantai di atas telah menutup kembali, namun kea-daan di situ cukup terang dengan adanya lampu-lampu yang menempel di dinding batu. Nenek Siang Houw Nio - nio yang terluka pahanya itu, terpincang - pincang menuruni lorong kecil. Di be-lakangnya, Pek In dan Ang In memapah Kiong Lee yang terluka parah di pundak dan punggung. Pa-ling belakang adalah Ho Pek Lian. Lorong itu panjang sekali, berbelak - belok naik turun dan akhirnya mereka tiba di depan sebuah pintu tertu-tup yang bertuliskan RUANGAN SAMADHI.

Agaknya langkah kaki mereka sudah diketahui orang karena dari balik pintu terdengar suara te-guran halus, "Siapa di luar itu ? Lee-jikah itu ?"

Sebelum Kiong Lee dapat menjawab, nenek itu mendahuluinya menjawab lantang, "Akulah yang datang!"

Terdengar seruan tertahan dari dalam dan tiba-tiba daun pintu terbuka. Di balik pintu itu berdiri seorang kakek berambut panjang. Kiong Lee, Pek In dan Ang In cepat menjatuhkan diri berlutut dan berkata, "Suhu !"

Untuk beberapa lamanya, nenek dan kakek itu berdiri saling pandang penuh selidik dan ada ke-haruan menyelinap dalam pandang mata mereka. Mereka adalah suami isteri yang telah saling ber-pisah selama limabelas tahun walaupun keduanya sama - sama tinggal di daerah kota raja.

"Sumoi... !" Kakek itu akhirnya menegur dengan suara lirih. Semenjak berpisah, nenek itu tidak mau lagi diakui sebagai isteri, maka terpaksa kakek itupun menyebutnya dengan sebutan semula sebelum mereka menjadi suami isteri, yaitu sumoi karena memang isterinya ini adalah sumoinya sendiri.

Akan tetapi, panggilan yang mengandung keha-ruan dan kelembutan ini tidak diacuhkan oleh si nenek yang marah. Ia bahkan tidak memperdu-likan pahanya yang amat nyeri rasanya, akan tetapi langsung saja ia menyerang kakek itu dengan kata-kata ketus.

"Di mana anakku, Kim - ji ? Hayo katakan di mana dia ? Engkau membiarkan dia dihina orang, ya ? Engkau membiarkan dia bergaul dengan se-gala macam manusia sesat, ya ? Hayo kaukembali-kan anakku kepadaku, kalau tidak ...... !" Nenek itu terengah - engah dan kedua matanya tiba-tiba menjadi basah !

Kakek itu menjadi bengong. Matanya meman-dang berganti-ganti kepada isterinya dan murid-murid itu, karena dia sungguh tidak mengerti apa yang dimaksudkan oleh isterinya yang marah-marah. Juga dia merasa heran melihat mereka masuk seperti itu, bahkan isterinya dan juga murid utamanya menderita luka yang cukup parah.

Melihat keadaan suhunya, Kiong Lee merasa kasihan dan diapun berkata, "Suhu... adik Kim... dia telah dilukai orang... lalu diculik "

Sejenak kakek itu terbelalak, akan tetapi seben-tar saja dia sudah mampu menguasai hatinya lagi dan dengan sikap tenang diapun berkata, "Marilah kita semua masuk ke dalam, jangan ribut-ribut di sini. Aku mempunyai seorang tamu di sebelah dalam. Mari, sumoi, silahkan masuk dan kalian samua, anak - anak, masuklah."

Biarpun masih cemberut, nenek Siang Houw Nio - nio melangkah masuk terpincang - pincang, diikuti semua murid dan juga Pek Lian tidak ke-tinggalan memasuki ruangan itu dengan hati te-gang dan heran.

Ternyata ruangan itu sangat luas dan nyaman sejuk. Pada dinding - dindingnya ber-gantungan lukisan - lukisan orang dalam posisi ber-silat. Di dalam kamar itu telah berdiri seorang kakek tua yang nampaknya masih sehat dan berse-mangat, menyambut sambil tersenyum membung-kuk terhadap Siang Houw Nio-nio. Melihat pa-kaian kakek itu, diam - diam Pek Lian menjadi ter-kejut bukan main. Kakek tamu ini berjubah hitam yang ada lukisannya seekor naga di bagian dada-nya, menutupi tabuhnya yang tinggi besar. Pek Lian teringat akan orang - orang dari Liong-i-pang, yaitu Perkumpulan Jubah Naga yang berambut riap - riapan dan yang pernah menyerang keluarga Bu itu. Inikah ketua dari Liong - i - pang yang mempunyai anak buah yang kasar dan kejam itu ? Akan tetapi karena maklum bahwa ia berada di antara orang - orang sakti, maka Pek Lian berlagak tidak tahu dan bersikap tenang saja walaupun ha-tinya terguncang hebat.

"Isteriku, inilah dia saudara Ouwyang Kwan Ek" Kakek itu memperkenalkan.

Nenek itu memandang dan nampaknya tertarik. "Ah, murid ke dua dari mendiang Sin - yok - ong ?" tanyanya.

Kakek tinggi besar berkulit hitam itu tersenyum dan menjura. "Sudah lama mendengar nama besar Siang Houw Nio - nio, sungguh beruntung hari ini dapat bertemu. Toanio, kakimu terluka dan me-ngandung racun, kalau boleh saya berlancang, si-lahkan toanio menelan obat ini, tentu segera sem-buh kembali," kata si tinggi besar sambil menye-rahkan sebutir pel merah. Nenek itu maklum bah-wa ia berhadapan dengan murid seorang tokoh besar raja obat, maka iapun tidak mau sungkan lagi, menerima pel itu dan menelannya. Rasa pa-nas menjalar dari perutnya dan dengan sinkangnya ia menekan hawa panas itu ke arah pahanya yang terluka dan sungguh ajaib, ia merasa betapa rasa nyeri di pahanya perlahan - lahan lenyap. Cepat ia menghaturkan terima kasih.

"Ouwyang - toyu, jangan pelit, sekalian berilah obat kepada muridku yang terluka," kata kakek itu.

"Lee - ji, majulah agar diobati oleh Ouwyang-locianpwe."

Kiong Lee maju dan berlutut di depan kakek itu. Ouwyang Kwan Ek adalah murid ke dua dari Si Raja Tabib dan sebenarnya dia tidak mewarisi ilmu pengobatan karena yang mewarisi adalah mendiang Bu Cian murid pertama Si Raja Tabib. Akan tetapi sebagai murid Raja Tabib, tentu saja dia tidak buta dengan ilmu pengobatan dan kalau tidak terlalu hebat saja, dia mempunyai obat - obat untuk bermacam luka parah. Setelah meraba punggung dan pundak Kiong Lee, kakek itu me-narik napas panjang.

"Siancai... ! Luka - luka ini diakibatkan pukulan- pukulan sakti yang hebat. Untung muridmu ini telah memiliki sinkang yang amat kuat, kalau tidak, tentu aku akan sukar mengobatinya, Yap-lojin !" katanya kepada tuan rumah.

Kakek ketua Thian - kiam - pang itu bernama Yap Cu Kiat atau di antara kenalan - kenalannya lebih terkenal disebut Yap - lojin (orang tua Yap). Setelah menotok pundak dan punggung Kiong Lee, kakek itu lalu memberi obat bubuk berwarna kuning untuk diminum dengan air. Dan memang obat itu mustajab sekali karena Kiong Lee merasa betapa luka-luka di dalam tubuhnya tidak terasa nyeri lagi dan hanya membutuhkan pengobatan dengan pengerahan sinkang sendiri. Diapun cepat menghaturkan terima kasih.

"Kiong Lee, apakah yang terjadi ? Kenapa engkau sampai terluka dan juga subomu..."

"Hemm, enak - enak saja bersenang sendiri di sini, tidak tahu di luar dibanjiri musuh yang dipim-pin oleh Raja Kelelawar. Anak sendiri dilarikan orangpun tidak tahu!" Nenek itu masih marah.

Mendengar ini, terkejutlah Yap-lojin. "Raja Kelelawar menyerbu ke sini ? Ah, aku harus keluar melihatnya !"

"Aku akan menemanimu, lojin !" kata Ouwyang Kwan Ek yang segera mengikuti tuan rumah. Me-reka cepat keluar dari terowongan itu dan mencari keluar. Akan tetapi, setelah mereka tiba di luar, pertempuran telah berhenti dan pihak musuh telah tidak nampak lagi bayangannya. Yang ada hanya mayat-mayat para anggauta Thian - kiam - pang, termasuk murid-muridnya yang ke dua, yaitu Kwan Tek, dan murid ke tiga, di antara bangunan yang terbakar habis! Tentu saja Ouwyang Kwan Ek merasa terkejut dan kasihan kepada sahabatnya yang berdiri bengong dengan muka pucat. Dia la-lu membantu tuan ramah untuk mengangkut ma-yat - mayat itu melalui terowongan.

Melihat kedua adik seperguruannya tewas, Kiong Lee memekikinya sambil menangis. Juga Pek In dan Ang In ikut menangis sedih. Bahkan nenek Siang Houw Nio - nio sendiri tak dapat menahan runtuhnya beberapa butir air matanya dan nenek ini mengepal tinju.

"Raja Kelelawar, aku akan menghadapimu kelak untuk membuat perhitungan !"

Pek Lian yang melihat semua ini menjadi ikut terharu dan ikut menangis. Tak disangkanya bahwa keluarga yang sakti ini tertimpa malapetaka de-mikian hebat dan kembali matanya seperti dibuka oleh kenyataan bahwa semakin tinggi kepandaian orang, semakin besar pula bahayanya karena tentu orang itu mempunyai musuh-musuh yang lihai pula. Dengan penuh duka cita mereda semua lalu mengubur mayat-mayat dengan upacara se-derhana saja. Mayat-mayat itu dikubur di belakang bangunan yang sudah menjadi abu dan malam hari itu terpaksa mereka kembali memasuki terowongan karena semua tempat telah terbakar sehingga sisa tempat yang ada hanyalah ruangan di bawah tanah.

Mereka duduk berkumpul dalam suasana duka dan masing-masing merasakan suatu keakraban. Bahkan Pek Lian sendiri yang tadinya adalah seorang tawanan, pada saat itu merasa seolah-olah ia menjadi anggauta keluarga itu. Juga Ouwyang Kwan Ek memperlihatkan simpatinya. Suami isteri yang tadinya seperti mengambil sikap bertentangan itupun kini seperti melupakan perselisihan me-reka yang sudah berlangsung belasan tahun itu.

"Ilmu silat Raja Kelelawar dengan jubahnya itu memang hebat luar biasa. Semua setanganku kan-das, bahkan jarum - jarumku tidak ada gunanya. Mengeroyoknya bersama Kiong Leepun masih terdesak dan terluka."

Suaminya menarik napas panjang. "Itu baru Il-mu Gerhana Bulan, belum yang lain - lain. Ah, sungguh tidak kusangka setelah berpuluh tahun ti-dak ada jago silat yang menonjol dan berbakat, kini muncul keturunan raja kaum hitam yang penuh bakat dan menyamai kesaktian leluhurnya, Si Raja Kelelawar yang sakti."

"Memang kenyataan yang pahit sekali!" kata Ouwyang Kwan Ek, kakek tinggi besar hitam berju-bah naga itu.

"Padahal, di pihak kaum bersih, sam-pai kini tidak ada seorangpun jago berbakat yang muncul. Dari perguruan kamdpun tidak ada seo-rang yang berbakat seperti mendiang suhu Raja Tabib Sakti. Aku sendiri cuma mewarisi sebagian saja dari ilmu - ilmunya, seperti halnya saudara seperguruanku yang lain."

"Demikian pula pada perguruan kami," Yap-lojin berkata penuh sesal.

"Sebenarnya Kiong Lee ini sangat berbakat, akan tetapi akulah yang bodoh tak mampu membimbingnya. Sayang, guruku, Sin-kun Bu-tek, telah tiada. Kalau masih ada, tentu beliau akan dapat membimbing Lee-ji ini dan akan ada seorang penggantinya yang boleh diandalkan !"

Mendengar percakapan mereka, diam - diam Pek Lian mengalami kejutan lain. Tahulah ia se-karang bahwa ketua Perguruan Pedang Langit ini adalah keturunan dari Sin-kun Bu - tek, datuk da-ri utara, pendekar sakti terbesar seabad yang lalu, yang pernah didengarnya ketika ia masih bersama dua orang gurunya. Sin-kun Bu-tek yang sejajar namanya dengan si datuk selatan, yaitu Raja Tabib Sakti.

Keduanya merupakan datuk-datuk kaum bersih yang merupakan saingan terbesar dari da-tuk - datuk kaum sesat seperti pendiri Tai - bong-pai, pendiri Soa - hu - pai, dan juga tentu saja men-jadi musuh yang ditakuti dari Bit - bo - ong Si Raja Kelelawar. Mengertilah ia kini mengapa Raja Ke-lelawar memusuhi Thian - kiam - pang. Kiranya iblis itu ingin membalas dendam leluhurnya yang kabarnya tewas di tangan Sin - kun Bu - tek. Pan-tas saja sarang Thian - kiam - pang itu dibasminya, semua penghuninya yang ada ditewaskan dan ba-ngunan - bangunannya dibakar habis.

Nenek Siang Houw Nio-nio juga hanyut dalam percakapan itu dan ia menarik napas panjang lalu berkata, "Yahh... padahal asal salah seorang dari murid-murid kita bisa mendalami pelajaran perguruan masing-masing secara sempurna seperti halnya iblis itu mempelajari ilmu leluhurnya yaitu Raja Kelelawar, aku berani bertaruh bahwa iblis itu pasti akan bisa ditaklukkan. Seperti juga di jaman dahulu Si Raja Kelelawar tidak berkutik ketika melawan guru-guru kita, baik melawan guru kami Raja Tabib Sakti maupun melawan Sin-kun Bu-tek."

Ouwyang Kwan Ek mengangguk-angguk mem-benarkan ucapan ini. Memang patut disayangkan bahwa tidak ada murid dari para datuk itu yang dapat mewarisi seluruh ilmu gurunya sampai men-capai tingkat setinggi mereka.

Akan tetapi dia ti-ba - tiba teringat akan sesuatu, lalu diapun ber-kata, "Kim - mo Sai - ong pendiri Soa - hu-pai yang bersama dengan iblis pendiri Tai - bong-pai merupakan juga datuk - datuk persilatan yang setingkat dengan guru - guru kita seabad yang lalu? Nah, aku mendengar bahwa ada cucu murid dari Kim - mou Sai - ong ini yang sangat berbakat, dan kabarnya kini telah mencapai tingkat ke tigabelas ilmu - ilmu Soa - hu - pai, yaitu tingkat terakhir dari Soa-hu-pai yang hebat itu. Dan kabarnya orang itu kini mengabdi kepada kaisar."

Berkata demiki-an, Ouwyang Kwan Ek memandang kepada nenek Siang Houw Nio - nio yang juga mengabdikan diri-nya kepada kaisar karena masih terhitung keluar-ga dekat kaisar.

Nenek itu mengangguk - angguk. "Memang be-nar, akan tetapi orang itu menjadi komandan pe-ngawal istana dan kurasa diapun masih belum se-tinggi Raja Kelelawar tingkatnya. Dan seperti juga dahulu, alirannya tidak mau berurusan dengan iblis itu. Seperti, juga guru - gurunya tidak pernah acuh terhadap Raja Kelelawar."

"Selama ini aku tidak pernah mendengar ten-tang orang-orang Tai - bong - pai. Setelah ketu-runan Raja Kelelawar keluar, apakah keturunan-nya juga tidak memperlihatkan diri ? Ataukah Tai - bong - pai sudah mati dan tidak mempunyai keturunan?" Yap-lojin bertanya karena percakap-an itu membongkar hal - hal lama, mengingatkan mereka akan golongan - golongan jaman dahulu yang pernah menggemparkan dunia persilatan.

Mendengar pertanyaan ini, hampir saja Pek Lian membuka mulut menjawab. Ia teringat akan orang - orang yang membawa gadis cantik dalam keranjang yang terluka parah dan lumpuh itu. Untung bahwa ia masih dapat menahan hatinya, karena kalau ia membuka mulut, akhirnya tentu ia akan terpaksa membuka rahasianya bahwa ia ada-lah puteri Menteri Ho dan hal ini dapat berbahaya bagi dirinya. Maka iapun diam saja dan menun-dukkan muka, hanya memasang telinga mende-ngarkan percakapan yang amat menarik hatinya itu.

"Entahlah, tidak ada berita tentang mereka ...." kata kakek berjubah naga.

Tiba - tiba Yap-lojin berseru, "Ahh... !

Pek Lian terkejut dan mengangkat muka meman-dang kepada kakek itu yang agaknya teringat akan sesuatu. "Lupakah kalian akan sasterawan itu ? Dia yang yang mengalahkan keempat datuk sakti dahulu, leluhur kita itu ?"

Kakek berjubah naga terkejut. "Maksudmu ?"

"Mari kita memasuki ruang samadhiku." Kakek itu mendahului mereka semua memasuki pintu ra-hasia dan berkumpul di ruangan bawah tanah yang luas. Yap - lojin membawa mereka semua kepada beberapa buah gambar. Gambar - gambar yang melukiskan bermacam gerakan menyerang, gambar searang sasterawan terhadap lawan - lawannya. Dalam tiap gambar, sasterawan tua itu mengha-dapi seorang lawan berbeda.

"Lihat gambar-gambar ini dilukis untuk mengabadikan pengalaman yang amat langka itu, yaitu kalahnya para datuk sakti terhadap si sasterawan tua dan lukisan- lukisan ini adalah jurus-jurus terampuh yang dipergunakan para datuk, akan tetapi selalu si sasterawan yang menang," kata Yap-lojin.
"Ah, betapa hebat dan menariknya. Harap suhu sudi menceritakan karena teecu amat tertarik mendengarnya."

Kakek ita menarik napas panjang. "Hal ini sebenarnya merupakan rahasia para datuk yang di-anggap amat memalukan, bahkan subomu sendiri-pun tidak tahu akan cerita ini. Akan tetapi setelah kini Raja Kelelawar seperti menjelma lagi dan me-ngacaukan dunia, kita memang boleh mengharapkan munculnya tokoh keturunan sasterawan ini yang akan menundukkannya. Nah, kalian dengar-lah ceritaku."

Kakek itupun lalu menceriterakan peristiwa hebat yang terjadi puluhan tahun yang lalu.

Seabad yang lalu, dunia persilatan mengenal nama empat orang datuk yang dianggap sebagai tokoh - tokoh yang memiliki kepandaian silat paling tinggi di dunia persilatan. Mereka itu adalah dua orang tokoh golongan putih, yaitu Bu-eng Sin-yok-ong (Raja Tabib Sakti Tanpa Bayangan) yang merupakan datuk putih daerah selatan, dan Sin-kun Bu - tek (Kepalan Sakti Tanpa Tanding) yang menjadi datuk putih di utara. Kemudian dua orang datuk golongan hitam, yaitu Cui-beng Kui-ong (Raja Iblis Pengejar Arwah) pendiri dari Tai-bong-pai dan Kim-mo Sai-ong (Raja Singa Berbulu E-mas) pendiri dari Soa- hu-pai. Empat orang tokoh inilah yang dianggap amat sakti dan paling tinggi ilmunya sehingga seorang seperti Bit-bo-ong (Raja Kelelawar) yang dianggap rajanya kaum penjahat sekalipun tidak pernah berani bertingkah terhadap mereka dan dianggap masih lebih rendah dari pada mereka berempat.

Biarpun di antara dua golongan itu ada go-longan putih dan golongan hitam, akan tetapi me-reka itu dapat mengikat persahabatan dan tidak pernah saling bermusuhan. Memang aneh, akan tetapi memang kehidupan para datuk ini tidak lumrah manusia biasa. Biarpun Cui- beng Kui-ong dan Kim-mo Sai-ong itu merupakan dua orang datuk hitam, akan tetapi mereka sendiri tidak pernah melakukan kejahatan, hanya dianggap datuk dan didewa- dewakan oleh kaum sesat. Mereka itu balikan memiliki kegagahan yang mengagum-kan, walaupun pandangan mereka kadang-kadang sesat dan tidak mengenal arti kesopanan atau hukum-hukum yang ada. Mungkin karena saling segan oleh ilmu masing-masing yang amat tinggi, dan saling menyayang kepandaian masing - masing kawan, maka mereka itu dapat bersahabat.

Anehnya, setiap empat tahun sekali, empat orang datuk itu selalu mengadakan pertemuan untuk membicarakan ilmu silat, bahkan mereka itu masing- masing memperlihatkan kemajuan - kemajuan yang mereka peroleh selama empat tahun terakhir, untuk dikagumi oleh yang lain, juga diakui! Akan tetapi baiknya, belum pernah di antara mereka itu terjadi persaingan atau cekcok, apa lagi lalu saling serang sampai bunuh - membunuh. Mereka agak-nya maklum bahwa sekali bentrok, berarti mereka akan membiarkan dirinya terancam maut, karena sekali berkelahi, tentu kematian mengancam mereka. Bukan tidak mungkin, mengingat bahwa tingkat mereka seimbang, mereka akan sampyuh dan mati semua. Kadang-kadang mereka mengadakan pertemuan di tepi pantai, kadang-kadang di puncak gunung atau di tempat- tempat yang sunyi dan yang tak pernah didatangi orang lain.

Pada suatu hari, kembali mereka mengadakan pertemuan setelah selama empat tahun mereka tidak pernah saling bertemu. Sekali ini, mereka memilih tempat di lembah Gunung Hoa-san yang indah dan amat sunyi. Dan di lembah itu terdapat sebuah telaga yang indah sekali, dengan airnya yang dalam dan kehijauan, bening seperti kaca. Sunyi sekali di situ sehingga ketika empat orang datuk itu datang secara beruntun, mereka merasa suka sekali dan memuji tempat itu sebagai tempat pertemuan yang amat menyenangkan.

"Ha - ha - ha, kamu tukang obat memang pandai memilih tempat yang bagus !" Cui - beng Kui - ong pendiri Tai-bong-pai memuji karena memang tempat itu adalah pilihan Bu-eng Sin-yok-ong.

Mereka lalu duduk mengelilingi sebuah perapian sambil bercakap-cakap, membicarakan tentang ilmu silat dan tentang hasil - hasil mereka selama empat tahun ini. Bu - eng Sin - yok - ong mengatakan bahwa diapun hanya mendengar saja tentang keindahan telaga ini dan baru sekarang dia datang ke tempat itu.

"Yok-ong, selama empat tahun ini ilmu apa sajakah yang berhasil kauciptakan ?" Kita - mo Sai - ong bertanya.

Di antara mereka berempat, memang boleh dibilang tingkat Bu-eng Sin-yok-ong yang paling tinggi sehingga tiga orang yang lain menganggap dia seperti saudara tua. Menurut tingkat mereka, walaupun mereka tidak pernah saling gempur, orang pertama adalah Bu - eng Sin-yok - ong, ke dua adalah Sin - kun Bu - tek dan Cui-,beng Kui - ong yang (memiliki tingkat seimbang, dan yang sedikit lebih "rendah adalah Kim - mo Sai - ong. Akan tetapi, perbedaan tingkat ini tidak pernah mereka, nyatakan dengan mulut, hanya masing-masing mencatatnya di dalam hati, mengukur dari kepandaian mereka ketika saling mendemonstrasikan ilrnu masing - masing.

Ditanya oleh Kim - mo Sai - ong secara terbuka itu, Bu - eng Sin - yok - ong tersenyum sambil mengelus jenggotnya.

"Ah, sudah tua seperti aku ini, perlu apa memperdalam ilmu membunuh orang lain ? Tidak, :elama ini aku tidak mau menambah ciptaan ilmu (membunuh. Sudah terlalu banyak ilmu membunuh diciptakan orang-orang pandai seperti kalian bertiga ini, maka aku lalu tekun di dalam guha untuk mencfcri rahasia ilmu menghidupkan yang menjadi kebalikan dari ilmu membu-nuh."

"Lo - heng, engkau adalah seorang Raja Tabib yang merupakan dewa pengobatan di dunia ini, apakah engkau maksudkan selama ini engkau memperdalam ilmu pengobatan yang sudah hebat itu ? Hampir tidak ada penyakit yang tak dapat kausembuhkan dengan ilmumu," tanya Sin-kun Bu-tek yang merasa seperti saudara sendiri dengan datuk selatan itu sehingga menyebutnya lo-heng.

"Bukan hanya ilmu pengobatan, lo-te, melainkan ilmu menghidupkan," jawab yang ditanya.

"Ha-ha-ha, tukang obat !" Cui-beng Kui-ong yang suka ugal-ugalan dan tidak pernah mau memakai peraturan, juga dalam hal memanggil nama itu, tertawa.

"Yang dihidupkan itu hanyalah orang mati, apakah kau mau katakan bahwa engkau dapat menghidupkan orang mati ?"

Pertanyaan ini seperti kelakar, akan tetapi diam-diam yang bertanya merasa tegang dan juga dua orang lainnya memandang wajah Bu-eng Sin-yok-ong dengan mata terbelalak penuh perhatian.

Sin - yok - ong menarik napas panjang. "Siancai... aku hanya manusia biasa, mana mungkin dapat membuka rahasia antara mati dan hidup ? Akan tetapi, sebagai ahli pengobatan, aku tertarik untuk menyelidiki sebab-sebab mengapa ada kematian dalam hidup ini. Manusia ini hidup karena adanya tenaga yang menggerakkan segala sesuati dalam tubuh kita, baik selagi terjaga maupun sedang tertidur, menggerakkan jantung, pernapasan dan seluruh urat syaraf dalam tubuh, sampai yang terha-lus sekalipun. Kematian disebabkan karena tenaga penggerak ini tidak dapat menembus bag;an tubuh yang rusak, baik oleh kuman maurmn oleh kekeras-an dari luar. Nah, aku melakukan penyelidikan bagaimana untuk menembus bagian tertutup itu sehingga tenaga penggerak itu mampu menembus ke bagian-bagian yang terpenting sehingga semua anggauta tubuh dapat bekerja dengan baik walau-pun ada bagian yang cacat dan hidup dapat diper-tahankan."

Tiga orang datuk lainnya mendengarkan de-ngan mata terbelalak.

"Wah, wah, bukan main hebatnya! Kalau benar engkau telah berhasil mengatasi kematian, maka segala ilmu di dunia ini tidak ada artinya lagi. Selamat, Yok-ong!" kata Kim-mo Sai-ong akan tetapi Sin-yok-ong mengangkat tangannya.

"Jangan tergesa - gesa memberi selamat, Sai-ong. Aku baru dalam taraf penyelidikan dan per-cobaan saja dan ternyata di balik itu tersembunyi rahasia - rahasia yang amat pelik dan gawat. Sudah-lah, lebih baik kalian menceritakan dan memperli-hatkan ilmu - ilmu baru yang kalian berhasil cipta-kan selama ini."

Kim - mo Sai - ong lalu mendemonstrasikan ilmu-nya yang paling hebat, yaitu ilmu tenaga sakti Rawa Pasir. Ketika dia mainkan ilmu ini yang diberi nama Pukulan Pusaran Pasir Maut, di sekitar tu-buhnya terasa ada tenaga hebat yang berdaya tolak luar biasa kuatnya, mengandung hawa dingin yang menggigilkan, terasa oleh tiga orang datuk lainnya yang dapat mengerti bahwa lawan yang kurang kuat tidak akan dapat bertahan mengha-dapi datuk ini dalam jarak tiga langkah saja. Dan kaki tangan Kim - mo Sai - ong mainkan ilmu silat yang dinamakannya Soa-hu-lian (Teratai Danau Pasir). Tiga orang datuk itu memuji ilmu-ilmu baru ini.

Tiba giliran Cui-beng Kui-ong yang mendemonstrasikan ilmunya yang mutakhir, yaitu Ilmu Pukulan Penghisap Darah! Bukan main hebatnya pukulan ini. Terasa oleh tiga orang datuk lainnya betapa dalam angin pukulan itu terkandung hawa beracun yang menyedot ke arah lawan dan se-tiap pertemuan anggauta badan dengan lawan, seperti kalau lawan menangkis dan sebagainya, lawan yang kalah kuat sedikit saja tenaganya tentu akan terkena akibat hawa pukulan ini yang akan menyedot keluar darah dari balik kulit mereka sehingga lawan seolah-olah akan berkeringat da-rah ! Sebelum ilmu yang mengerikan ini, Cui - beng Kui - ong sudah pula memiliki Ilmu Tenaga Sakti Asap Hio yang membuat keringatnya berbau seper-ti hio (dupa biting) yang harum - harum aneh.

Diam-diam Sin-yok-ong dan Sin-kun Bu-tek merasa khawatir dan ngeri. Kalau ilmu kedua orang datuk kaum sesat itu dipergunakan oleh mu-rid-murid mereka yang berahlak bobrok, tentu akan mendatangkan malapetaka di dunia ini. Akan tetapi mereka berdua merasa yakin bahwa biarpun dua orang datuk sakti itu dianggap sebagai datuk sesat, namun mereka amat keras terhadap muridmurid mereka dan tidak sembarangan menurunkan ilmu mereka kepada murid mereka.

Tiba giliran Sin-kun Bu-tek yang memperli-hatkan ilmu pukulan terbarunya. Ilmu itu dina-makan Ilmu Silat Angin Puyuh dan dimainkan dengan pengerahan tenaga sakti yang dinamakan-nya tenaga Thian - hui - gong - ciang (Tangan Ko-song Halilintar). Ketika orang sakti ini memainkan ilmunya, maka terasa oleh tiga orang datuk lain-nya betapa ada hawa menyambar - nyambar panas dan disertai angin puyuh yang mengamuk hebat. Debu mengepul tinggi dan berpusing seperti ter-bawa angin puyuh dan pohon-pohon di sekeliling tempat- itu bergoyang - goyang, daun - daun rontok beterbangan terbawa berpusing pula.

"Hebat, hebat... , lo-te. Ilmu pukulan ini hebat sekali"

Bu-eng Sin-yok-ong memuji, demikian pula dua orang datuk sesat juga merasa kagum dan merasa bahwa bagaimanapun juga, ke-majuan ilmu mereka masih kalah dibandingkan dengan Sin - kun Bu - tek ini.

"Nah, sekarang tiba giliranmu, lo-heng. Biar-pun engkau mengaku belum berhasil, akan tetapi selama empat tahun ini tentu telah ada kemajuan. Siapa tahu engkau telah dapat menghidupkan orang mati ! Wah, kalau benar demikian, kami bertiga akan berlutut dan takluk!" kata Sin - kun Bu - tek yang dibenarkan oleh dua orang datuk lainnya. Kalau benar Tabib Sakti itu dapat menghidupkan orang mati, apa artinya semua kemajuan yang mereka peroleh ? Kecil sekali dibandingkan dengan ilmu yang dapat menghidupkan orang mati !

Bu - eng Sin - yok - ong tersenyum dan mengge-leng kepala.

"Jangan kalian melebih - lebihkan. Sudah kukatakan, aku baru membuat penyelidikan dan percobaan, dan di balik kehidupan ini terdapat hal - hal yang tidak dapat dijangkau oleh kekuatan otak belaka. Akan tetapi, memang selama empat tahun ini aku sudah membuat percobaan - percoba-an. Nah, Sai - ong, engkau yang paling gesit, coba-lah engkau mencari seekor kelinci."

"Baik!" Begitu menjawab, tubuhnya sudah melesat lenyap dan sebentar saja iblis pendiri Soa-bu - pai ini telah datang kembali membawa seekor kelinci.

"Bunuhlah tanpa merusak kepalanya !" kata pula Bu-eng Sin-yok-ong.

Kim - mo Sai - ong tertawa dan sekali tangan kirinya bergerak, jari telunjuknya telah memukul punggung kelinci itu. "Ngekk!" dan kelinci itupun tewaslah, hanya berkelojotan sekali dua kali saja.

"Periksalah oleh kalian apa benar - benar binatang, ini sudah mati," kata pula Bu - eng Sin - yok-ong dengan tenang. Tiga orang datuk itu dengan bergantian memeriksa dan mendapat kenyataan bahwa kelinci itu memang sudah mati, darahnya sudah terhenti sama sekali dan napasnya tidak ja-lan walaupun tubuhnya masih hangat.

Bu - eng Sin - yok - ong sudah mengeluarkan se-rangkaian jarum - jarum emas dan perak. Lalu dia mengambil bangkai kelinci itu dan mulai menggu-nakan jarum - jarumnya untuk menusuk sana - sini.
Belum sampai duabelas kali dia menusuk... eh, binatang itu dapat bergerak kembali dan ketika jarum - jarum itu diambil dan kelinci dilepaskan, binatang itu berlari cepat memasuki semak-semak!

Tiga orang datuk itu terbelalak dan seperti telah mereka janjikan tadi, mereka menjatuhkan diri ber-lutut. Akan tetapi Bu - eng Sin - yok - ong juga ber-lutut membalas mereka dan berkata, "Sudah, su-dah, jangan main - main. Mari kita duduk kembali. Aku hanya menghidupkan seekor kelinci yang mati-nya dalam keadaan utuh. Kalau manusia yang mati dan rusak alat tubuhnya yang penting, sung-guh aku tidak berani memastikan apakah aku akan dapat menghidupkannya."

Biarpun kakek itu merendah, namun tiga orang datuk itu semakin kagum dan hormat kepadanya.

 Mereka lalu bercakap - cakap dan mula - mula yang membangkitkan kebanggaan di hati mereka adalah Kim - mo Sai - ong yang berkata, "Setelah kita ber-empat mencapai tingkat seperti sekarang ini, siapa-kah di dunia ini yang sanggup mengatasi kita ?"

"Ha-ha-ha, omonganmu sungguh aneh, Sai-ong !"

Sin - kun Bu - tek batuk - batuk untuk menekan rasa bangga ini, kemudian dia berkata, "Uhh, tua bangka - tua bang-ka seperti kita ini menghabiskan waktu puluhan tahun untuk menciptakan ilmu - ilmu silat yang tinggi. Kalau sudah mencapai tingkat tertinggi, lalu untuk apa ?"

Biarpun demikian, dalam ucap-annya ini mengakui bahwa mereka telah mencapai tingkat tertinggi!

"Siancai... , sungguh beruntung bahwa kita berempat dapat bersahabat seperti ini. Kalau ilmu-ilmu kita ini dipergunakan untuk saling hantam, bukankah dunia akan menjadi kacau dan kiamat ?" Bu-eng Sin-yok-ong juga berkata dan dalam kata-katanya juga terbayang rasa bangga akan kepandaian mereka berempat yang mereka anggap sudah tidak ada bandingnya lagi di seluruh dunia ini.

Tiba - tiba mereka dikejutkan oleh suara nyanyian halus yang datangnya dari seberang telaga! Suara itu halus sekali seperti berbisik, akan tetapi mereka dapat mendengar dengan jelas, seperti suara anak - anak yang dibawa angin lalu.

"Langit biru tinggi nian
apa gerangan yang berada di atasmu ?
Telaga biru betapa dalam
apa gerangan yang berada di bawahmu ?
Adakah yang tertinggi?
Adakah yang paling dalam ?
Aku tak tahu... !"

Empat orang tua itu saling pandang dan dalam pandang mata itu mereka tahu babwa nyanyian itu seolah - olah mengejek dan menusuk jantung mere-ka, seolah - olah mencela rasa bangga dan angkuh yang tadi mencekam hati mereka. Di samping rasa penasaran, juga mereka merasa malu bahwa mere-ka yang telah berada di tempat itu selama hampir setengah hari, tidak tahu bahwa di dekat telaga itu ada orangnya!

Orang itu adalah seorang sasterawan, atau seorang kakek yang memakai pakaian sederhana seper-ti sasterawan, sudah tua sekali, dengan kumis dan jenggot panjang berwarna putih, tubuhnya kurus kering seperti orang kurang makan, namun wajah-nya membayangkan kelembutan yang mengharu-kan. Kakek ini sejak pagi buta telah duduk di tepi telaga, terlindung oleh semak-semak dan pohon-pohon, dan karena dia sama sekali tidak mengeluarkan suara sedikitpun, seperti gerakan bayangan pohon saja, maka empat orang datuk sakti itu sama sekali tidak tahu akan kehadirannya. Sasterawan itupun tidak memperdulikan mereka berempat, tenggelam dalam kesibukannya sendiri.

Dia sedang melukis keindahan telaga dengan gunung-gunung yang mengelilinginya. Di dekatnya terda-pat tangkai pancing yang ditancapkan, ada bebera-pa buah berderet - deret di tepi telaga. Akan teta-pi sasterawan itupun tidak memperdulikan pan-cing - pancing ini, melainkan asyik melukis. Hanya setelah empat orang datuk itu berbincang-bincang dengan penuh kebanggaan dan keangkuhan tentang kepandaian mereka, kakek tua ini secara langsung menyanyikan sajak tadi, sama sekali bukan bermak-sud untuk mengejek atau menyindir, melainkan karena ucapan - ucapan empat orang yang mengan-dung keangkuhan itu membuat dia termenung dan bertanya-tanya dalam hati tentang apakah ada yang tertinggi dan terdalam.

Pertanyaan ini tim-bul karena dia melukis langit dan danau, dan ter-dorong oleh percakapan yang mengandung nada angkuh dan bangga akan diri sendiri itu.

Empat orang datuk itu dengan kepandaian me-reka yang hebat, dalam beberapa detik saja sudah berada di tepi telaga, berhadapan dengan kakek sasterawan yang asyik melukis itu. Kakek itu hanya menengok dan memandang dengan sinar mata lembut dan mulutnya yang kempot tak bergigi itu tersenyum tenang.

Akan tetapi Cui - beng Kui - ong, si iblis peng-isap darah dari Tai - bong - pai yang berangasan itu sudah tak dapat menahan kemarahannya lagi. Dia melangkah maju dan memandang kepada ka-kek sasterawan itu dengan sinar mata berapi dari sepasang matanya yang lebar terbelalak, lalu dia menudingkan telunjuknya ke arah muka kakek itu.

"Heh, orang tua yang sombong ! Engkau telah lan-cang mengintai kami, ya ? Sungguh kurang ajar sekali perbuatan itu, melanggar peraturan dan ke-biasaan orang - orang gagah ! Bukan jantan kalau suka mengintai orang lain!"

Sasterawan tua itu nampak terkejut dengan se-rangan kata - kata yang kasar ini. Dia bangkit ber-diri dengan gerakan lemah, meninggalkan lukisan-nya yang terbentang di atas tanah, akan tetapi dia tidak melepaskan tempat tinta bak yang dipegang dengan tangan kiri dan pena bulu yang dipegang dengan tangan kanan, yaitu alat - alatnya untuk me-lukis tadi.

"Maaf, maaf harap cu - wi yang gagah perkasa tidak salah sangka dan menuduh aku melakukan hal yang bukan - bukan. Sejak pagi buta aku telah berada di sini seperti yang kulakukan setiap hari, memancing dan melukis atau menulis sajak. Rumahkupun tidak jauh dari sini, itu di lereng sebelah sana, nampak dari sini. Siapa yang mengintai ? Salahkah aku kalau aku sudah berada di sini ketika cu-wi datang ?"

Ucapan itu halus dan cukup beralasan, akan tetapi karena Cui - beng Kul - ong merasa penasar-an dan menduga bahwa orang ini tentu telah me-nyaksikan ilmu-ilmu baru yang mereka keluarkan, tadi, dia menjadi naik darah. Apa lagi, sejak tadi dia memang merasa kurang puas, karena dia mera-sa bahwa ilmu barunya tadi masih kalah hebat dibandingkan dengan ilmu bara dari Sin-kun Bu-tek, dan hal ini berarti bahwa dalam empat tahun ini kemajuan ilmunya masih kurang dibandingkan dengan kemajuan tiga orang datuk lainnya.

"Mancing ? Alasan ! Beginikah caranya orang mancing?"

Dan diapun menggunakan. tangannya bergerak ke depan dan batang-batang pancing itu tercabut semuanya dan ternyata di mata kail-nya tidak ada seekorpun cacing !

" Inikah namanya mancing ?" Dia melempar - lemparkan semua batang pancing ke atas tanah.

Akan tetapi, kakek sasterawan itu ternyata sabar sekali. Dia sama sekali tidak marah, bahkan dia lalu mengangkat muka memandang ke atas dan bersajak lagi.

"Memancing tanpa umpan
karena tidak butuh ikan
hanya memancing ketenangan
untuk menikmati kebahagiaan.
Apa artinya pintar  
kalau hanya untuk menipu ? 
Apa artinya kuat 
kalau hanya untuk menindas ? 
Lebih baik bodoh lebih baik lemah!"

Cui-beng Kui-ong menjadi semakin marah karena dia merasa diejek dan disindir.

"Keparat, berani engkau memaki orang ?" katanya dan dia-pun merenggut lukisan dari atas tanah dan mero-bek - robek lukisan itu !

Datuk yang bertubuh ting-gi besar dengan kumis dan jenggot kasar pendek ini kelihatan menyeramkan sekali. Lukisan itu hancur lebur ketika dirobeknya. Padahal, sastera-wan tua itu bersusah payah dengan lukisan itu selama berhari-hari dan lukisan itu telah mendapatkan bentuknya.

Sebuah lukisan yang amat in-dahnya. Matahari pagi dilukisan itu seolah-olah menyinarkan cahaya begitu hidup, cahaya keemas-an yang gilang - gemilang dan yang membentuk cahaya panjang di permukaan danau. Padahal, lukisan itu hanya hitam putih saja, namun orang yang menatap lukisan itu seolah-olah melihat ke indahan warna-warna aselinya.

Bu-eng Sin-yok-ong dan Sin-kun Bu-tek mengerutkan alisnya dan merasa bahwa tindakan Cui - beng Kui - ong itu agak keterlaluan walaupunmereka berduapun merasa tidak senang kalau mengingat bahwa kakek sasterawan ini tadi telah mendengarkan semua percakapan mereka berem-pat, bahkan mungkin sekali telah melihat demons-trasi kepandaian mereka yang amat dirahasiakan itu.

Sasterawan tua itu ternyata tidak marah, hanya dengan muka sedih sekali dia melihat betapa lu-kisan kesayangannya dirobek - robek orang. Ke-dua lengan yang memegang mouw - pit dan tem-pat bak itu tergantung lemas dan wajahnya yang tua keriputan nampak amat berduka.

Lalu dia berlutut di dekat robekan - robekan lukisan, menaruh pena bulu dan tempat tinta di atas tanah, memunguti robekan lukisan, melihatnya dengan air mata berlinang, kemudian dia berkata dengan lirih, nadanya penuh keprihatinan, "Kuharap dengan sangat agar tuan - tuan suka cepat berlalu dari tempat ini sebelum anak angkatku yang pemarah itu datang ke sini dan melihat malapetakka ini."

Tentu saja ucapan yang mengandung peringatan ini membuat empat orang datuk itu mau tidak mau tertawa, bahkan Bu - eng Sin - yok - ong sendiripun sempat tersenyum dan mengelus jenggot-nya. Mereka adalah empat orang datuk terbesar di seluruh dunia persilatan, merasa tanpa tandingan dan tentu saja menghadapi siapapun mereka tidak merasa takut, apa lagi harus berhadapan dengari anak angkat kakek itu yang berangasan saja, bahkan dengan kaisar dan bala tentaranya sekalipun mere-ka tidak akan gentar menghadapinya. Bahkan Sin-kun Bu - tek yang berjiwa pendekar juga merasa tersinggung diperingatkan seperti itu, seolah - olah mereka berempat akan merasa takut terhadap an-caman seorang bocah, karena betapapun juga, anak angkat kakek itu tentu masih muda. Maka diapun bertanya dengan suara mengandung kemarahan.

"Sobat yang pandai melukis dan bersajak, tahukah engkau siapa adanya kami berempat ?"

Dengan sikap tenang sasterawan itu menjawab, "Sejak cu-wi datang, sebenarnya aku tidak tahu sama sekali siapa cu-wi dan akupun tidak perduli. Akan tetapi aku tahu bahwa cu-wi saling bersa-habat dan ingin menguji ilmu masing-masing, Baru setelah cu-wi selesai saling menguji ilmu dan bercakap-cakap serta saling memanggil nama ma-sing - masing, aku tahu bahwa cu-wi adalah empat orang datuk dunia persilatan yang tersohor itu. Benarkah demikian ? Menilik dari kesaktian-kesaktian yang telah cu-wi perlihatkan tadi, tentu perkiraanku benar."

Jawaban ini tentu saja mengejutkan dan mencengangkan. Kalau sasterawan ini sudah dapat mengenal ilmu kesaktian mereka, berarti kakek ini tidak asing dengan ilmu silat tinggi. Kim-mo Sai-ong yang sejak tadi diam saja kini berkata dengan suara mengejek, "Meskipun telah dapat menduga siapa kami, engkau masih berani menakut-nakuti kami dengan anak angkatmu itu ? Apakah anak angkatmu itu bisa mengalahkan kami ?"

"Justeru itulah yang kutakutkan. Biarpun berangasan, aku sangat mengasihinya, dan aku tidak ingin melihat orang menyakitinya. Kalau dia datang dan melihat lukisanku dirobek - robek orang, tentu dia akan marah dan mengamuk. Padahal, pada waktu ini, ilmunya belum mencapai tingkat setinggi tingkat cu-wi. Akibatnya tentu dia akan dihajar habis-habisan. Bukankah aku akan merasa sedih sekali kalau begitu ?"

"Sudahlah mari kita pergi saja!" Bu-eng Sin-yok-ong membujuk tiga orang temannya karena dia merasa kasihan terhadap sasterawan tua itu.

 Tiga orang datuk lainnya juga merasa enggan untuk mengganggu seorang kakek lemah seperti itu. Tidak pantaslah kalau datuk-datuk sakti seperti mereka harus melayani seorang sasterawan tua lemah. Merendahkan martabat saja dan membuang-buang tenaga sia-sia. Mereka bertiga mengangguk dan sudah hendak pergi bersama Bu-eng Sin-yok-ong.

Tiba-tiba nampak bayangan orang berkelebat dan muncullah seorang pemuda tinggi tegap dari balik tebing gunung. Begitu datang, pemuda ini melihat lukisan yang robek - robek dan ayah angkatnya yang berdiri dengan muka berduka, berhadapan dengan empat orang kakek yang agaknya hendak meninggalkan tempat itu.

"Tahan !!" Pemuda itu berteriak dan karena teriakannya mengandung tenaga khikang yang cukup dahsyat, maka empat orang datuk itu terkejut dan tertarik, lalu tidak jadi pergi dan memandang kepada pemuda itu. Inikah anak angkat kakek sasterawan yang berangasan itu ?

"Siapakah yang berani merobek-robek lukisan ayahku ? Hayo, siapa berani melakukan perbuatan biadab ini ? iblis sekalipun tidak akan tega mengganggu ayah, apa lagi merobek lukisannya yang dibuatnya dengan penuh kecintaan dan ketekunan selama berhari-hari. Hayo kalian mengaku, siapa di antara kalian yang merobek- robeknya ?"

"Anakku ....... sudahlah !" Sasterawan tua itu membujuk, suaranya gemetar.

"Biar, ayah. Aku tidak akan mau sudah sebelum yang merobeknya berlutut minta-minta ampun kepadamu dan bersumpah lain kali tidak akan berani berbuat sewenang- wenang lagi!"

Tentu saja sejak tadi Cui-beng Kui-ong sudah marah bukan main.

 "Heh, bocah gila, akulah yang telah merobek-robek gambar busuk itu! Habis, kau mau apa ?" Sambil berkata demikian, datuk ini melangkah maju dan membusungkan dadanya yang bidang dan kokoh kuat.

Pemuda itu memandang kepada datuk tinggi besar itu dengan mata berapi-api.

"Engkau, ya ? Siapakah engkau begitu berani menghina ayahku ?"

Cui-beng Kui-ong masih merasa malu kalau harus melayani seorang pemuda seperti ini, maka dia menahan kemarahannya dan tertawa.

 "Ha-ha-ha, ketahuilah, pemuda tolol. Aku adalah Cui-beng Kui-ong!" Dikiranya bahwa pemuda itu tentu akan ketakutan setengah mati mendengar namanya.

Di seluruh dunia ini, baik pendekar maupun penjahat, gemetar ketakutan mendengar namanya, apalagi seorang pemuda tak terkenal seperti ini. Akan tetapi sikap pemuda itu sungguh mengejutkan empat orang datuk itu.

"Heran, engkau baru seorang Kui-ong (Raja Iblis) sudah berani mengganggu ayahku. Sedangkan seorang Sian- ong (Raja Dewa) sekalipun tidak akan berani. Iblis seperti ini memang patut dihajar !"

Dan pemuda itu langsung saja memukul dengan kepalan lurus ke arah dada Cui-beng Kui-ong! Hampir saja raja iblis ini tertawa bergelak melihat pemuda itu berani menyerangnya dengan kepalan biasa seperti itu. Tentu saja dengan mudah dia akan dapat mengelak, akan tetapi karena dia ingin segebrakan saja membuat pemuda itu "tahu rasa", maka diapun tidak mengelak, melainkan menangkis sambil mengerahkan sinkang biasa yang cukup kuat untuk mematahkan tulang lengan pemuda itu dan sekaligus membuatnya terlempar.

Bersambung

Darah Pendekar 10                                                                Darah Pendekar 12