Jumat, 26 April 2013

DARAH PENDEKAR 10

DARAH PENDEKAR
Karya : Asmaraman S. Kho Ping Hoo

Bab 10

"Menteri Kang, sekali lagi kuharapkan engkau suka memegang lagi jabatanmu dan mengurungkan niatmu untuk mengundurkan diri. Hal ini telah diputuskan oleh para penasihat istana dalam rapat terakhir dengan sri baginda kaisar sendiri. Akulah yang ditugaskan datang ke sini untuk menyampai-kannya kepadamu."

Wakil Perdana Menteri Kang mengangguk-angguk dan menarik napas panjang.

"Kalau hamba menolak, tentu paduka telah mendapat wewenang dari sri baginda untuk memenggal kepala hamba sekeluarga, bukan ? Begini, tuan puteri. Hamba siap untuk kembali, akan tetapi hamba juga siap untuk membiarkan kepalaku dipenggal sekarang juga oleh paduka."

Nenek itu mengerutkan alisnya dan sinar mata-nya mencorong menatap wajah pembesar itu.

"Hem, apa maksudmu, Menteri Kang ?"

"Hamba siap untuk bertugas kembali, apa bila syaratnya dipenuhi. Hamba mohon agar para menteri jujur dan setia yang dipecat dan dipensiunkan agar diampuni dan ditarik kembali karena tenaga mereka amat dibutuhkan negara, termasuk sahabat hamba Menteri Ho. Menteri Ho hendaknya diam-puni dari hukuman mati, keluarganya dibebaskan dan agar dia menduduki lagi jabatannya. Demikianlah, tuan puteri. Kalau permohonan hamba itu tidak dipenuhi, maka lebih baik hamba menerima untuk di..."

"Nanti dulu, Menteri Kang!" nenek itu menyela. "Mana mungkin aku dapat memutuskan hal itu sekarang! Bukan wewenangku. Akan tetapi aku akan berusaha untuk menyampaikan permohonanmu kepada sri baginda dan akan berusaha agar beliau mengabulkannya. Aku mendengar bahwa sri baginda telah menghentikan empat orang menteri, bahkan menjatuhkan hukuman mati kepada seorang di antaranya yang kini sedang hendak menjalankan pelaksanaan hukuman matinya. Menteri itu adalah sahabat karibmu"

Nenek itu menghela napas. Ia tidak tahu betapa jantung Pek Lian berdebar penuh ketegangan dan keharuan. Betapa tidak akan tergetar rasa hati gadis ini mendengar orang membicarakan ayahnya. Akan tetapi ia menguasai hatinya dan hanya menundukkan muka sambil terus mendengarkan dengan penuh perhatian.

"Maaf, tuan puteri. Soalnya bukan semata-mata karena Menteri Ho adalah sahabat karib hamba. Andaikata hamba tidak mengenal dia sekalipun, tetap dia akan hamba bela karena hamba tahu bahwa dia adalah satu di antara para pembantu sri baginda yang terbaik, paling jujur dan setia sampai ke tulang - tulang sumsumnya."

"Tapi dia berani menentang kebijaksanaan sri baginda !" kata nenek itu penasaran.

"Tidak, tuan puteri. Bukan menentang sri ba-ginda, melainkan mengingatkan beliau bahwa ke-putusan yang diambil beliau itu kurang tepat dan pada akbarnya hanya akan merugikan negara sen-diri. Hanya menteri-menteri- jujur sajalah yang berani mengeritik, sebagai tanda bahwa dia benar-benar setia, bukan sebangsa pejabat yang pandai-nya hanya menjilat - jilat, menyenangkan hati sri baginda karena pamrih untuk mencari kedudukan dan pengaruh, pejabat macam ini sesungguhnya adalah pengkhianat, musuh dalam selimut yang amat berbahaya. Kenapa justeru menteri yang ju-jur dan setia yang harus ditangkap dan dihukum ?"

"Sudahlah, aku mengerti apa yang kaumaksud-kan. Aku akan menghadap sri baginda dan tunggu-lah selama satu minggu. Aku akan datang lagi, Pek-ji, Ang-ji, mari kita pulang. Bawa nona itu sebagai kawan."

Biarpun nenek itu menyebut "kawan" namun dua orang muridnya tentu saja maklum bahwa guru mereka mencurigai nona ini yang harus dibawa sebagai seorang tawanan.

Pek Lian tidak membantah. Ia dan dua orang murid Siang Houw Nio - nio itu diberi pinjaman pakaian oleh keluarga Wakil Perdana Menteri Kang untuk mengganti pakaian mereka yang tadi basah ketika mereka berkelahi melawan Im - kan Siang - nio. Setelah berpamit, rombongan puteri tua itu meninggalkan Lak-yang untuk kembali ke kota raja.

Pengawal yang tadi-nya berjumlah empatbelas orang itu masih utuh biarpun mereka telah menderita luka - luka berat yang kemudian dapat disembuhkan kembali. Ten-tu saja mereka masih nampak loyo. Akan tetapi, sesungguhnya tugas mereka itu lebih banyak se-bagai tanda kebesaran saja dari pada benar - benar mengawal puteri tua yang amat lihai dan yang ten-tu saja sama sekali tidak membutuhkan pengawal-an orang - orang seperti mereka. Pek Lian menung-gang kuda di belakang kereta, diapit oleh Pek In dan Ang In. Dua orang gadis ini bersikap manis kepadanya, sama sekali tidak bersikap seperti orang yang menawannya. Pek Lian mengakui namanya, hanya she Ho itu digantinya dengan she palsu, yaitu she Sie.

                                                                     ***

Hujan telah berhenti sama sekali sehingga para pengawal, juga Pek In, Ang In dan Pek Lian yang berada di luar kereta tidak lagi basah oleh air hujan. Nenek bangsawan itu sengaja membuka tirai kereta sehingga dari belakang, sambil naik kuda yang disediakan oleh keluarga Menteri Kang, Pek Lian dapat melihat wajah nenek itu yang duduk termenung seperti patung. Diam - diam, seperti tidak sengaja, Pek Lian memperhatikan wajah itu. Seorang wanita yang sudah tua, usianya tentu ada enampuluh lima tahun, akan tetapi masih jelas membayang bekas kecantikannya.

Wajah itu masih putih lembut biarpun di sana - sini, terutama di kanan kiri mulut dan di antara kedua mata, terda-pat keriput. Alisnya diperindah dengan hiasan hi-tam seperti sudah lajimnya dilakukan oleh para wanita bangsawan. Mulut itu dahulu tentu indah dan penuh gairah, masih nampak jelas garis - garis lengkungnya, akan tetapi kini membayangkan se-suatu yang menyeramkan, menimbulkan sifat di-ngin dan juga keras. Pek Lian teringat akan cerita ayahnya tentang wanita ini, seorang bibi dalam dari kaisar dan juga menjadi pelindung kaisar.

Biasanya wanita ini selalu berada di dalam istana, menjadi semacam pelindung tersembunyi dari kaisar, di samping adanya pengawal - pengawal pribadi kaisar yang dipimpin oleh Pek-lui-kong Tong Ciak si pendek cebol tokoh Soa-hu-pai itu. Karena nenek ini tidak pernah mencampuri urusan pemerintahan, maka perkenalannya dengan Menteri Ho juga hanya sepintas lalu saja, bahkan Pek Lian sendiri hanya baru mendengar namanya saja dan belum pernah berkenalan secara langsung, hanya melihatnya dari jauh.

Tidak demikian dengan Wa-kil Perdana Menteri Kang yang menjadi sahabat baik ayahnya. Ia pernah bertemu, bahkan berke-nalan dengan pembesar ini, walaupun hanya meru-pakan pertemuan sambil lalu. Karena itulah maka pembesar itu meragu dan tidak mengenalnya tadi.

Kereta itu dengan tenangnya meluncur keluar dari pintu gerbang benteng sebelah utara. Para penjaga yang mengenal kereta dengan tanda - tan-da pangkatnya ini, cepat berdiri tegak memberi hormat dan kereta itu lewat dengan cepatnya, Pada saat itu, Ang In mendekati jendela kereta dan berkata kepada nenek Siang Houw Nio - nio.

"Subo, di depan terdapat empat orang dari per-kumpulan Thian - kiam - pang. Mereka juga keluar dari pintu gerbang dan juga membawa sebuah kereta."

Nenek itu mengerutkan alisnya yang kecil panjang dan hitam karena alis itu buatan dengan alat penghitam. "Biarkan saja, kenapa ribut-ribut ? Jangan perdulikan bocah-bocah ingusan itu. Pura-pura tidak melihat saja!" Jelas bahwa dalam kata-kata nenek itu terdapat kemarahan atau ke-mengkalan hati yang tidak senang.

"Tapi tapi, subo di sana terdapat Yap-suko ! Teecu... teecu..." gadis baju merah itu tergagap. Juga nona Pek In nampak gugup seperti adik seperguruannya.

Melihat semua ini, Pek Lian memandang heran. Ada apakah ? Ia juga melihat kereta di depan dengan beberapa orang pemuda perkasa yang mirip dengan rom-bongan pria yang pernah dilihatnya ketika ia masih bersama kedua orang suhunya. Orang - orang Thian-kiam-pang ! Pria gagah perkasa, berbaju putih-putih membawa pedang pasangan yang panjang, sikap merekapun gagah dan jelas menunjukkan bahwa mereka adalah golongan pendekar-pendekar perkasa.

"Huh, kalau ada bocah itu, kenapa sih ? Apa-kah kalian takut padanya?" nenek itu bertanya dan nampaknya semakin penasaran. "Lihat, apa yang dapat mereka lakukan kalau ada aku di sini !"

Ho Pek Lian menjadi semakin heran. Ada apa-kah antara nenek dan dua orang muridnya itu de-ngan orang-orang dari Thian - kiam - pang, sehing-ga dua orang gadis lihai itu nampak seperti gentar dan kehilangan keberanian mereka ? Apakah orang-orang Thian - kiam - pang itu musuh-musuh mere-ka dan apakah mereka itu demikan lihainya se-hingga dua orang gadis itu kelihatan gentar? Ka-rena tertarik, Pek Lian agak menjauhkan kudanya dari kereta untuk dapat melihat lebih jelas ke arah orang - orang Thian - kiam - pang yang berada di depan itu.

Kereta di depan itu agaknya berjalan lambat-lambat sehingga hampir tersusul oleh kereta yang ditumpangi Siang Houw Nio-nio. Kini Pek Lian dapat melihat lebih jelas. Orang - orang dari Per-kumpulan Pedang Langit itu rata - rata berusia antara tigapuluh lima sampai empatpuluh tahun, kelihatan tegap dan gesit, rata - rata bersikap ga-gah dan membayangkan kepandaian silat yang tinggi.

Setelah kereta yang berada di belakang itu menyusul dekat, pria - pria gagah perkasa yang rata - rata berpakaian serba putih itu serentak me-nengok ke belakang dan kesemuanya nampak ter-kejut sekali dan kikuk, persis seperti sikap Pek In dan Ang In ketika melihat mereka ! Jadi ada sema-cam rasa tidak enak, segan dan takut antara kedua rombongan itu. Kini Pek Lian teringat betapa wanita-wanita berpakaian sutera hitam yang me-makai tusuk konde batu giok itupun nampaknya kikuk ketika pria - pria gagah itu bertemu dengan pimpinan wanita bertusuk konde batu giok. Empat orang pria itu meringis, senyum yang masam dan kikuk, dan mereka hampir berbareng menegur kepada dua orang gadis itu. "Adik Pek! Adik Ang!"

Teguran yang dilakukan dalam keadaan cang-gung itu membuat dua orang gadis itu kelihatan makin serba salah, keduanya hanya tersenyum masam sambil sedikit mengangguk ketika mende-ngar sebutan itu. Padahal, melihat nada suara se-butan itu, mudah diduga bahwa hubungan antara mereka itu sesungguhnya amat dekat. Kini dua orang gadis itu hanya mengerling tajam dengan sikap takut-takut ke arah jendela kereta. Mereka merasa lebih gugup ketika melihat betapa kereta itu, kereta para pria itu, berhenti dan pemuda yang tadi duduk di bangku kusir kini meloncat turun dan menghampiri mereka !

Pemuda ini nampaknya paling muda di antara mereka berempat, akan te-tapi melihat caranya memberi isyarat kepada yang lain untuk berhenti dan yang lain mengangguk taat, dapat diduga pula bahwa kedudukannya adalah yang paling tinggi.

Tentu saja Pek In dan Ang In tahu siapa pe-muda ini. Namanya Yap Kiong Lee dan biarpun usianya termuda di antara yang lain, yaitu baru ti-gapuluh satu atau dua tahun, akan tetapi dia ada-lah murid tertua atau paling lama sehingga meru-pakan toa - suheng dari yang lain dan tingkat ilmu silatnya juga paling tinggi. Melihat dua orang ga-dis itu, murid Thian - kiam - pang yang paling lihai ini tersenyum girang dan dengan langkah lebar menghampiri sambil menegur.

"Hei, kiranya Pek-siauwmoi dan Ang-siauwmoi ! Apa kabar, adik-adik yang manja ? Dari manakah" tiba-tiba dia terdiam ketika dua orang gadis itu kelihatan ketakutan dan kebingung-an, memandang ke arah jendela kereta di belakang itu.

Cepat dia menghentikan langkahnya dan me-mandang ke arah jendela kereta pula, wajahnya agak berobah dan sikapnya menjadi gugup pula, Tiba - tiba terdengar suara nenek bangsawan dari dalam kereta, suaranya agak ketus, "Hayo, Pek-ji dan Ang-ji! Jangan layani bocah - bocah itu!"

Pek In dan Ang In menjadi semakin ketakutan.

"Yap-suheng... aku... aku..." Pek In tak dapat melanjutkan kata-katanya dan menjalankan kudanya maju menjauhi pemuda itu, disusul oleh Ang In. Yap Kiong Lee juga kelihatan jerih, sambil mennura ke arah kereta, diapun berkata, "Subo...!"

Dan saudara-saudara seperguruannya juga menjura dengan hormatnya. Akan tetapi, nenek di dalam kereta itu sama sekali tidak menjawab dan kereta-nya lewat dengan cepat mendahului kereta Thian-kiam - pang itu dan Pek Lian juga mengikuti kereta sambil melirik dengan penuh keheranan
.
Betapa anehnya semua orang ini, pikirnya. Jelaslah bahwa mereka itu saling mengenal dengan amat baiknya, apa lagi pemuda she Yap itu sudah jelas memiliki hubungan yang amat akrab dengan dua orang gadis itu. Akan tetapi mengapa mereka itu bersikap seolah - olah mereka bermusuhan atau merasa takut untuk memperlihatkan keakraban ? Pek Lian melirik ke belakang ketika mereka me-lalui kereta orang-orang Thian - kiam - pang itu, dan ia melihat kereta itupun bergerak dengan ce-patnya, melalui jalan kecil di sebelah kiri dan agak-nya memang hendak mengambil jalan lain agar tidak sejalan dengan nenek bangsawan. Sebentar saja kereta mereka itu lenyap, meninggalkan debu mengepul tinggi.

Sementara itu, kereta nenek bang-sawan jalan seenaknya seperti yang diperintahkan oleh nenek itu kepada kusirnya.

Ketika kereta Siang Houw Nio - nio memasuki kota kecil di sebelah timur kota raja, hari telah senja. Jarak antara kota kecil Bin - an dengan Kota Raja Tiang - an tinggal perjalanan setengah hari saja. Akan tetapi karena nenek bangsawan itu tidak ingin melakukan perjalanan di malam hari, ia me-merintahkan agar mereka bermalam di kota kecil Bin - an. Dan biarpun ia seorang yang berkeduduk-an tinggi di istana, namun karena ia tidak terma-suk orang pemerintahan dan tidak begitu menge-nal para pejabat, iapun tidak mau merepotkan pe-jabat kota itu dan memerintahkan dua orang mu-: ridnya untuk mencari penginapan, tentu saja hotel yang paling baik dan besar di kota itu. Hotel itu selain besar dan mempunyai banyak kamar, juga menyediakan sebuah rumah makan yang mewah.

Nenek Siang Houw Nio-nio segera memasuki kamar yang disediakan untuknya dan memesan kepada Pek In dan Ang In agar untuk makan malamnya, diantar saja ke dalam kamar karena ia enggan keluar.

"Kalian boleh makan di luar dan jalan-jalan, akan tetapi jaga jangan sampai gadis itu lolos," katanya.

Dua orang gadis itu menyanggupi lalu mereka mengajak Pek Lian keluar dan memasuki rumah makan itu. Sikap keduanya gembira dan terhadap Pek Lian mereka menganggap seperti se-mang sahabat sendiri.

"Adik Pek Lian, engkau tahu bahwa demi tugas, kami harus mengawasimu karena engkau dicurigai, akan tetapi percayalah bahwa kami suka kepadamu dan sedikitpun kami tidak mempunyai hati benci atau memusuhimu," demikian mereka pernah ber-kata sehingga di dalam hatinya, Pek Lian juga su-ka kepada dua orang gadis yang berilmu tinggi ini.

Ketika mereka memasuki rumah makan, tempat itu penuh dengan tamu - tamu yang makan minum. Ada sebuah meja kosong di sudut dan tiga orang gadis itu duduk menghadapi meja ini, tidak jauh dari meja di mana terdapat empat orang laki - laki yang menarik perhatian mereka. Di pinggang me-reka ini terselip golok. Padahal, waktu itu sudah ada larangan membawa senjata. Jelaslah bahwa empat orang ini termasuk jagoan - jagoan dan dua orang di antara mereka mempunyai lengan yang dibalut, tanda bahwa mereka telah mengalami luka. Sikap mereka kasar - kasar dan diam - diam Pek Lian melirik penuh perhatian karena ia merasa seperti pernah melihat wajah - wajah kasar ini.

Empat orang kasar itu kini menjadi semakin kasar karena mereka telah agak kebanyakan minum arak keras. Ketika mereka minta tambah arak dan pelayan datang agak terlambat, seorang di antara mereka bangkit berdiri dan menampar pelayan itu. Pelayan yang sial itu roboh terguling dengan pipi bengkak dan pingsan. Tentu saja keadaan menjadi gempar. Banyak di antara para tamu merasa tidak enak dengan adanya peristiwa ini dan mereka su-dah bangkit berdiri, bermaksud meninggalkan tem-pat itu. Akan tetapi, empat orang kasar itu bangkit berdiri, mencabut golok mereka dan mengacung-acungkannya ke atas.

"Jangan ribut! Teruskan kalian makan, siapa berani pergi akan kami bunuh !"

Tentu saja para tamu menjadi semakin ketakut-an. Mereka tidak jadi pergi, akan tetapi tentu saja napsu makan sudah lama terbang meninggalkan hati mereka. Para pelayan lain dengan ketakutan segera menggotong pelayan sial yang pingsan itu.

"Harap nona suka hati-hati," bisik seorang di antara para pelayan ketika mereka lewat dekat me-ja tiga orang gadis itu.

Ketika ada beberapa orang petugas keamanan kota memasuki rumah makan, para tamu meman-dang dengan penuh harapan. Tentu mereka akan menangkap empat orang yang jelas merupakan penjahat-penjahat kasar itu. Akan tetapi, empat orang itu sama sekali tidak kelihatan takut, bahkan seorang di antara meieka mengangkat kakinya ke atas meja secara menantang sekali. Dan anehnya, para petugas keamanan itu nampak ragu - ragu!

Hal ini tentu saja amat mengherankan hati Pek Lian. Kota kecil ini tidak terlalu jauh dari kota raja, akan tetapi mengapa para penjahat ini begitu beraninya, seolah - olah menantang petugas keaman-an ? Melihat sikap mereka, Ang In hampir tidak dapat menahan hatinya, akan tetapi sucinya berkedip kepadanya dan mencegahnya turun tangan karena Pek In ingin melihat perkembangannya.

Empat orang yang mabok - mabokan itu agaknya tidak memperdulikan kanan kiri dan kesem-patan ini dipergunakan oleh Pek Lian untuk meng-gapai pelayan yang tadi membisikkan peringatan kepada mereka bertiga. Pelayan itu datang ke meja mereka dan sambil berpura - pura memesan makanan, Pek Lian berbisik dan bertanya kepada pelayan itu tentang empat orang kasar tadi. Sam-bil berbisik pula, dengan singkat pelayan itu lalu bercerita.

Kiranya memang sudah kurang lebih sepekan ini kota kecil itu didatangi oleh penjahat - penjahat yang beraksi di sekitar kota raja, termasuk di kota kecil itu. Ketika para petugas keamanan turun tangan bertindak, para penjahat melawan dan be-berapa orang petugas tewas dalam perkelahian. Hal ini membuat para komandan marah dan diadakanlah pembersihan terhadap para penjahat. Akan tetapi, ketika diadakan pembersihan pada siang harinya, maka pada malam harinya, terjadilah pembunuhan-pembunuhan gelap terhadap para komandan yang memimpin pembersihan. Dan di setiap tempat di mana perwira itu dibunuh, terda-pat sebuah bendera kecil berdasar hitam dengan gambar harimau berwarna kuning. Di pinggang harimau itu melilit sebuah rantai yang kedua ujung nya bermata tombak.

Mendengar penuturan itu, Pek Lian menahan kagetnya. Bukankah gambar yang dilukiskan itu merupakan tanda dari San - hek - houw (Harimau Gunung Hitam), raja kaum perampok dan begal, copet dan maling, yang merupakan seorang di an-tara Sam - ok (Tiga Jahat) ?

"Hemm, mengherankan sekali," kata Ang In. "Apakah tidak ada pasukan penjaga keamanan dari kota raja ?" tanyanya kemudian.

Pelayan itu sambil berbisik melanjutkan cerita-nya. Agaknya dia termasuk orang yang suka de-ngan kabar angin, dan suka bercerita pula, agaknya bangga karena dia dapat menceritakan semua itu.

Menurut kabar, oleh penguasa kota telah dila-porkan ke kota raja, akan tetapi sampai hari itu belum ada hasilnya. Para penjahat itu nampaknya semakin berani. Beberapa kali terjadi perkelahian antara para penjahat dan para penjaga yang diban-tu oleh pendekar - pendekar yang kebetulan lewat di situ dan yang membela rakyat dari ancaman para penjahat. Hampir setiap hari. terjadi pembu-nuhan. Baru, kemarin terjadi pertempuran sengit antara para penjahat dengan beberapa orang pen-dekar dari Kun - lun - pai. Para penjahat melari-kan diri sambil membawa teman - teman mereka yang terluka karena lima orang pendekar Kun - lun-pai itu lihai sekali. Akan tetapi, kemudian muncul seorang laki - laki tinggi besar yang berjubah kulit harimau. Laki - laki tinggi besar ini selalu diikuti oleh dua ekor harimau kumbang dan lima orang pendekar Kun - lun - pai itu tewas semua di tangan raja penjahat ini!

"Dan mereka itu..." kata si pelayan sambil melirik ke arah empat orang yang duduk di meja sambil tertawa- tawa itu.

" adalah sebagian dari penjahat-penjahat yang melarikan diri karena kalah oleh pendekar-pendekar Kun-lun-pai"

Mendengar penuturan itu, Pek Lian mengepal tangannya di bawah meja dan tanpa disadarinya lagi iapun berkata gemas, "Hemm, orang-orang si Raja Kelelawar sudah mulai merajalela !"

Setelah mengeluarkan kata-kata itu dan melihat betapa dua orang gadis itu memandangnya dengan aneh, barulah Pek Lian terkejut sendiri.

"Adik Pek Lian sudah mengenal Raja Kelelawar dan pengikut - pengikutnya ?" tanya Pek In sambil memandang tajam.

"Ah, tidak..." kata Pek Lian yang sudah menyadari bahwa ia tadi terdorong oleh perasaan-nya dan kelepasan bicara.

"Aku hanya mendengar berita angin saja bahwa kini kaum hitam telah bersatu dan dipimpin oleh seorang raja penjahat besar yang bernama Raja Kelelawar. Raja ini kabarnya dibantu oleh dua orang pimpinan penjahat yang berjuluk Si Harimau Gunung dan Si Buaya Sakti."

Gadis baju merah mengangguk-angguk.

"Me-mang berita itu benar. Anak buah yang kami kirim ke tempat pertemuan itu juga melaporkan demikian. Kiranya engkaupun sudah mendengar akan berita menghebohkan itu."

Ang In tidak melanjutkan kata-katanya karena pada saat itu terdengar suara berisik derap kaki kuda di luar restoran.

Pelayan yang datang mengantar hidangan ke meja tiga orang gadis itu, menjadi pucat ketika menaruh mangkok-mangkok di atas meja. "Celaka... mereka... mereka datang lagi ......!"

Dan setelah menaruh masakan-masakan panas di atas meja, pelayan itu bergegas pergi meninggalkan ruangan dan bersembunyi di bagian belakang res-toran bersama teman-temannya.

Empat orang kasar itu kini semakin mabok dan semakin ugal-ugalan. Kata-kata mereka kasar dan juga jorok dan cabul, apa lagi setelah kini me-reka melihat adanya tiga orang wanita cantik tidak jauh dari meja mereka. Kata-kata mereka mulai menyindir dan mengenai tiga orang wanita itu se-hingga wajah ketiga orang gadis itu menjadi merah karena marahnya.

"Ha - ha - ha, A - tung, gadis - gadis di sini memang berani - berani. Lihat saja, banyaknya gadis yang datang mendekati kita ke manapun kita berada. Ha - ha - ha 1"

"Memang rejeki kita sedang besar. Tapi, kita berempat sedangkan yang ada hanya tiga, harus diundi !"

"Aku ingin yang paling muda!"

"Kalau aku yang lebih tua, karena tentu lebih berpengalaman dan lebih menyenangkan."

Ang In sudah meraba gagang pedangnya, akan tetapi lengannya disentuh oleh sucinya yang mela-rangnya untuk menanggapi orang - orang kasar itu. Pek In lebih hati - hati dari pada sumoinya, ia sela-lu ingat bahwa mereka berada dalam tugas dan me-reka tidak sepatutnya kalau melibatkan diri dengan urusan pribadi. Mereka hanya akan bergerak kalau ada perintah dari subo yang juga menjadi majikan mereka. Kalau mereka menimbulkan keributan karena urusan pribadi, tentu mereka akan meneri-ma teguran dari subo mereka.

Akan tetapi, empat orang kasar itu agaknya tidak tahu gelagat dan mereka itu makin menjadi-jadi kurang ajarnya. Apa lagi ketika Pek Lian yang merasa marah karena dirinya dibicarakan secara jorok itu, melirik dengan sinar mata berapi. Seorang di antara mereka, yang berkumis tebal, bangkit dan dengan langkah sempoyongan menghampiri meja tiga orang gadis yang sedang mulai makan itu.

"Ha-ha-ha, nona manis, jangan jual mahal. Mari makan bersama kami" Dan diapun mengulurkan tangannya hendak meraba dada Pek Lian. Gadis itu tidak dapat lagi mengendalikan, kemarahan hatinya. Disambarnya mangkok kuah bakso panas dan "sekali ia menggerakkan tangan "byuurrr" kuah panas itu menyiram muka yang berkumis tebal itu.

"Aduuhhh... auphh... panas, panas... !"

Dia menjerit - jerit, kulit mukanya terbakar, matanya kemasukan kuah yang banyak mericanya, terasa pedas dan perih. Tiga orang kawannya terkejut dan marah sekali, meloncat sambil, mencabut golok me-reka. Suasana menjadi panik karena para tamu sudah menjadi ketakutan.

Akan tetapi, sebelum empat orang kasar itu sempat turun tangan, terdengar bentakan yang amat nyaring, "Tahan ! Jangan mengganggu wanita !!"

Kiranya yang membentak dan yang kini telah berdiri di situ adalah Yap Kiong Lee, murid kepala dari ketua Thian - kiam - pang itu. Tiga orang sutenya dengan sikap tenang berdiri di belakangnya. Kiranya derap kaki kuda tadi adalah kuda dan kereta mereka.

Empat orang kasar itu adalah penjahat - penjahat yang terlalu mengandalkan kepandaian sendiri. Apa lagi sekarang, sepeiti diceritakan oleh pelayan tadi dan diketahui pula oleh tiga orang gadis, me-reka sedang berbesar hati karena banyak kawan mereka merajalela di situ, dan mereka merasa di-lindungi oleh raja mereka, Si Harimau Gunung ! Mengandalkan semua ini, tentu saja mereka tidak merasa gentar menghadapi empat orang pria muda ini.

"Keparat jahanam ! Berani engkau hendak men-campuri urusan kami ?" bentak pimpinan gerom-bolan empat orang penjahat itu yang kepalanya botak kelimis sambil menudingkan goloknya ke arah muka Yap Kiong Lee. Pemuda ini tersenyum tenang saja.

"Mengganggu wanita di tempat umum bukan-lah urusan pribadi, melainkan urusan umum karena kalian telah mengacaukan orang lain di tempat umum, Sebaliknya kalian berempat pergi saja dari sini dan jangan membuat gaduh."

"Keparat!" Si botak itu dengan marahnya mem-bacok dengan goloknya ke arah leher pemuda she Yap.

Namun, dengan amat mudahnya, pemuda she Yap ini miringkan kepala dan golok itu lewat di dekat lehernya tanpa menyentuhnya sedikitpun juga. Hanya seorang ahli silat tinggi sajalah yang dapat mengelak seperti itu, sedikit saja dan membiar-kan senjata lawan lewat dekat. Karena gerakan yang sedikit inilah yang memungkinkan dia dapat cepat pula melakukan serangan balasan. Akan tetapi agaknya pemuda itu sabar sekali dan tahu bahwa -dia hanya menghadapi orang - orang kasar. Dia tidak membalas dan pada saat itu, dua orang sute-nya sudah maju.

"Toa - suheng, biarkan kami yang maju menghajar bajingan - bajingan kecil ini!"

Dua orang sutenya itu lebih tua beberapa tahun dari pada Kiong Lee, akan tetapi mereka menyebut suheng, bahkan toa - suheng atau kakak seperguruan terbe-sar karena memang pemuda inilah yang pertama kali menjadi murid ketua Thian - kiam - pang. Yap Kiong Lee segera mundur dan dua orang sutenya maju. Empat orang kasar itu tidak perduli dan mereka sudah menerjang dengan golok mereka. Akan tetapi, dua orang murid Thian - kiam - pang yang maju ini adalah murid-murid kepala, murid-murid pilihan yang sudah mempunyai ilmu kepan-daian tinggi. Dengan kedua tangan kosong saja mereka menghadapi empat orang bergolok itu dan membagi - bagi pukulan dengan enaknya, membuat empat orang kasar itu jatuh bangun dan akhirnya mereka memperlihatkan warna aselinya, yaitu pe-ngecut - pengecut yang beraninya hanya main keroyok, menindas yang lemah dan kalau bertemu tanding yang lebih kuat, mereka itu berlumba me-larikan diri!

Yap Kiong Lee melirik ke kanan kiri untuk me-lihat apakah guru dari dua orang gadis yang dike-nalnya itu berada di situ. Setelah merasa yakin bahwa nenek yang ditakutinya itu tidak berada di situ, wajahnya menjadi cerah dan diapun bersama tiga orang sutenya cepat menghampiri meja Pek In dan Ang In.

"Suheng, apa kabar ? Subo berada di kamarnya. Marilah!" Pek In mempersilahkan pemuda itu dan mereka berempat lalu mengambil tempat duduk dan bercakap-cakap dengan amat akrabnya dengan Pek In dan Ang In.

"Sebetulnya, Yap-suheng dari manakah ? Kelihatan tergesa-gesa sekali. Dan bagaimana kabarnya dengan Kim-suheng ? Kenapa dia tidak kelihatan bersamamu ? Biasanya, Kim-suheng yang bandel itu tidak pernah berpisah denganmu," kata Pek In dan ketika ia menyebutkan "Kim-suheng", ia melirik kepada sumoinya, Ang In.

Mendengar pertanyaan Pek In ini, mendadak sikap empat orang gagali itu berobah dan mereka kelihatan berduka dan menundukkan mukanya. Terutama sekali Yap Kiong Lee, pemuda ini menundukkan muka dan matanya menjadi basah.

Teringatlah pemuda itu akan semua keadaan-nya yang membuatnya berduka sekali pada saat itu, setelah mendengar pertanyaan Pek In tentang adiknya. Ya, Yap Kim adalah adiknya. Dia sendiri adalah seorang anak yatim piatu yang sejak kecil telah diambil murid, kemudian bahkan diangkat anak oleh gurunya sendiri, yaitu seorang pendekar terkenal yang memiliki ilmu kepandaian hebat dan kemudian menjadi ketua Thian - kiam - pang.

Gurunya itu she Yap dan biasanya orang hanya me-ngenal sebagai Yap - taihiap saja, dan setelah tua dikenal sebagai Yap - lojin yang disegani orang. Nama lengkapnya adalah Yap Cu Kiat. Karena su-hunya itu tadinya tidak mempunyai keturunan ma-ka diapun diangkat anak oleh Yap Cu Kiat. Dua tahun kemudian, ketika dia berusia delapan tahun, isteri suhunya melahirkan seorang anak laki - laki yang diberi nama Yap Kim karena ketika isterinya mengandung, suhunya pernah bermimpi isterinya melahirkan sebuah boneka emas ! Yap Kiong Lee sendiri amat sayang kepada adiknya ini. Dialah yang menggendongnya, dialah yang mengajaknya bermain-main sejak Yap Kim kecil dan setelah adiknya itu dewasa, mereka menjadi akrab dan rukun sekali, saling menyayang.

Takkan ada orang yang menyangka bahwa mereka itu sesungguhnya hanyalah saudara angkat saja. Kiong Lee sangat menyayang adiknya itu dan memang Kim - ji, de-mikian sebutannya, amat dimanjakan oleh semua orang sehingga sejak kecil anak itu menjadi ban-del dan nakal bukan main. Dan kini, diingatkan oleh pertanyaan Pek In, hati Kiong Lee seperti di-tusuk karena dia teringat kepada adiknya.

"Ahh... dia... Kim-te terluka parah"

Akhirnya dia dapat mengeluarkan kata-kata yang penuh kegelisahan.

"Terluka parah...... ??" Ang In bertanya dan mukanya berobah pucat. "Apa yang terjadi dengan dia ?"

"Dia dilukai oleh Si Raja Kelelawar! Lukanya parah sekali... entah bisa sembuh atau tidak..."

Suara Kiong Lee gemetar penuh kegelisahan.

"Apanya yang terluka ? Dan... di manakah dia sekarang ?"

Kembali nona Ang In bertanya, hampir menangis. Melihat semua ini, Pek Lian dapat menduga bahwa nona Ang yang gagah ini agaknya ada hati terhadap pemuda bernama Yap Kim yang terluka parah itu.

Akan tetapi karena ada larangan dari suhu, maka akupun tidak mau, Tidak kusangka sama sekali bahwa dengan nekat adik Kim pergi sendiri ! Mendengar bahwa Kim-te pergi seorang diri, suhu lalu memanggilku dan me-nyuruhku mencari dan mengajaknya pulang.

Aku mengajak beberapa orang suteku untuk menyusul Kim - te, akan tetapi setibanya di tempat pertemuan itu, ternyata sudah terlambat. Orang - orang sudah bubaran dan pertemuan itu telah lewat. Kami ber-pencar untuk mencari Kim - te. Kalian tentu sudah tahu bahwa biarpun Kim - te sangat berbakat dalam ilmu silat, namun watak nakalnya sukar untuk dirobah. Apa lagi setelah subo pergi meninggalkan suhu, anak itu makin sukar diurus." Yap Kiong Lee menarik napas panjang, nampak berduka seka-li.

"Akan tetapi bukankah dia amat penurut kepa-damu, Yap-suheng ?"

"Memang dia amat patuh kepadaku karena se-jak kecil akulah yang mengasuhnya, melindungi dan mengajarnya ilmu silat yang diberikan oleh suhu dan subo."

"Yap - suheng memang sangat berbudi, aku dan adik Ang juga sejak kecil selalu menyusahkanmu," kata Pek In lirih.

"Hemm, adik Pek, engkau tahu apa ? Sejak ke-cil aku sudah yatim piatu. Suhu memungut dan memeliharaku, bahkan mengangkatku sebagai anak. Setelah aku berusia delapan tahun, baru adik Kim terlahir. Budi suhu dan subo yang dilimpahkan kepadaku, sampai matipun takkan dapat kubalas, maka apa artinya membimbing kalian yang menjadi murid-murid tersayang dari subo ?"

"Lalu bagaimana dengan Kim-suheng ?" tanya Ang In.

"Baiklah, kulanjutkan ceritaku. Dari seorang pengunjung pertemuan itu, kami mendengar bahwa ada seorang pemuda yang berpakaian putih dan bersenjata siang - kiam (pedang pasangan) tam-pak bersama seorang gemuk pendek berkelahi me-lawan kelompok orang berjubah naga di lereng bu-kit sebelah selatan. Kami segera mengejar ke sana.

Akan tetapi terlambat. Perkelahian telah selesai dan kedua pihak sama - sama terluka dan kedua pihak telah pergi. Yang membuat kami khawatir adalah ketika kami melihat dari bekas-bekas pertempuran bahwa kawan Kim-sute yang pendek itu adalah seorang tokoh pulau terlarang atau Pulau Ban-kwi-to. Kalau benar seperti kata orang yang menyaksikan itu, orang yang gemuk pendek itu tentulah Ceng-ya-kang (Kelabang Hijau) to-koh penting dari Ban-kwi-to."

"Lalu bagaimana ?" Ang In mendesak, khawatir sekali.

"Kami mengikuti jejaknya. Di sebuah dusun kami menemukan Kim-sute terluka parah di rumah seorang petani, dirawat oleh seorang pendekar tua yang tidak mau menyebutkan namanya. Menurut pengakuannya, adik Kim telah berkelahi melawan penjahat-penjahat yang dipimpin oleh raja bajak, kemudian datanglah Raja Kelelawar dan Kim-sute dilukainya. Untung ada pendekar tua itu yang lewat dan menolongnya."

"Lalu ke mana perginya si Kelabang Hijau itu ?" tanya Pek In.

"Entahlah, Kim-sute sendiripun tidak tahu karena setelah terpukul, dia pingsan."

"Di mana adanya Kim-suheng sekarang?" Ang In bertanya, wajahnya membayangkan kekhawatiran hebat.

"Di dalam kereta, dijaga oleh Ngo-sute."

"Aku ingin menengok Kim-suheng !" Ang In cepat bangkit berdiri dan semua orangpun bangkit hendak mengikutinya. Akan tetapi, sebelum mereka meninggalkan meja itu, tiba-tiba terdengar suara halus.

"Hemm kalian mau ke mana ?"

Semua orang terkejut karena mengenal suara ini dan ketika mereka membalikkan tubuh, ternyata Siang Houw Nio - nio telah berdiri di situ !

Yap Kiong Lee terkejut dan jerih, cepat - cepat dia dan ketiga orang sutenya menjatuhkan diri berlutut sambil berkata takut - takut, "Subo... !"

Akan tetapi wanita bangsawan itu tidak mengacuhkan mereka melainkan memandang kepada kedua orang muridnya yang nampak ketakutan, dan wanita tua itu nampak marah.

"Kenapa kalian tetap bergaul dengan murid-murid tua bangka itu ? Apakah engkau ingin mengikuti mereka dan memusuhi aku ?"

Di dalam ucapan ini terkandung kepahitan yang amat mendalam sehingga dua orang gadis itu menjadi bingung dan tidak mampu menjawab.

Melihat ini, Yap Kiong Lee mengangkat muka dan berkata, "Subo... teeculah yang..."

"Diam kau !" bentak wanita bangsawan itu dengan suara keras, membuat Pek In menjadi semakin pucat.

Peristiwa ini diam - diam sejak tadi diikuti oleh Ho Pek Lian. Jiwa pendekarnya bergolak. Ia me-lihat ketidak adilan dan merasa tidak senang dengan sikap nenek bangsawan itu yang dianggapnya terlalu menekan kepada orang - orang muda yang dikaguminya itu. Tanpa dapat menahan gelora hatinya, Pek Lian sudah melangkah ke depan dan de-ngan jari telunjuk menuding kepada nenek bangsa-wan itu, ia berkata marah, "Haii, apa - apaan ini ? Main gertak main kasar! Lihat dulu masalahnya baru marah - marah, itu baru adil namanya !"

"Anak kecil, engkau tahu apa !" bentak nenek itu dan tangannya melayang, menampar ke arah pipi Pek Lian.

Tentu saja nona ini tidak membiar-kan pipinya ditampar dan iapun sudah cepat me-loncat ke belakang dan baiknya nenek itu agaknya-pun bukan menyerang dengan sungguh - sungguh hanya untuk melampiaskan kemengkalan hatinya saja sehingga tidak melanjutkan serangannya. Dan pada saat itu, terdengarlah suara ribut - ribut di luar.

Yap Kiong Lee melihat empat orang laki-laki jahat yang tadi dihajar oleh dua orang sutenya, maka diapun cepat meloncat keluar. Hampir saja dia bertabrakan dengan seorang tinggi besar ber-mantel kulit harimau yang melangkah masuk. Laki-laki tinggi besar ini tidak menghindar atau mihggir, akan tetapi malah memasang kuda-kuda dan menggerakkan sikunya ke depan, menyerang ke arah tulang rusuk pemuda baju putih itu.

Mereka sudah berada dalam jarak dekat sekali dan serangan itu dilakukan secara tiba - tiba dan tidak terduga-duga, akan tetapi ternyata pemuda she Yap ini amat lihai, tenang dan tidak kehilangan akal. Dia maklum bahwa kalau dia mengadu tena-ga, dia akan kalah posisi dan kalau orang itu ber-tenaga besar seperti nampaknya, dia akan menderita rugi. Dan pintu itu terlalu sempit untuk dapat me-nerobos keluar, apa lagi karena lubang pintu telah dijaga oleh sepasang lengan yang panjang dan kuat dari orang itu, di samping adanya dua ekor harimau hitam yang berdiri di kanan kiri orang itu, dengan rantai leher yang ujungnya dipegang oleh dua orang di. antara empat penjahat yang tadi meng-ganggu Pek Lian.

Dalam beberapa detik saja, Yap Kiong Lee telah memperoleh akal yang amat cerdik. Kakinya yang sedang melangkah tadi dilanjutkan dengan tendangan ke arah selangkang si tinggi be-sar dan dia bersikap seolah - olah dia memang hendak mengadu tenaga.

Melihat ini, orang tinggi besar itu menyeringai dan tubuhnya sedikit membungkuk untuk menangkis tendangan dengan tangan kiri sedangkan tangan kanannya tetap melakukan serangan dengan siku. Akan tetapi tiba-tiba Kiong Lee menarik kembali kakinya dan mengenjot badan dengan menekankan kaki pada lantai, tangannya menampar siku yang menyerang rusuknya, meminjam tenaga lawan untuk mengayun tubuhnya meluncur ke atas di antara kepala lawan dan daun pintu seperti seekor burung lolos dari pintu kurungan yang terbuka sedikit saja. Kemudian, tubuhnya yang meluncur keluar itu membuat salto yang amat manisnya sehingga dia dapat turun di luar pintu dengan lunak. Semua orang melongo dan memandang kagum. Bahkan nenek Siang Houw Nio-nio sendiri merasa kagum dan memuji ketangkasan dan kecerdikan pemuda itu.

"Berani... bagus sekali... anak ini sungguh semakin lihai saja !"

Kalau semua orang memandang kagum sekali, tiga orang gadis itupun bersorak karena gembira-nya. Pek In dan Ang In sampai lupa kepada subo-nya yang marah - marah. Mereka terbawa oleh sikap Pek Lian yang bersorak memuji sehingga merekapun ikut pula bersorak. Baru setelah mere-ka melihat subo mereka memandang kepada mereka dengan mata melotot, mereka sadar dan tangan yang sedang bertepuk itupun terhenti di tengah jalan.

Sementara itu, orang tinggi besar itu menjadi marah sekali. Dia adalah orang ke tiga dari Sam-ok, yaitu tiga raja penjahat. Dia adalah San-hek-houw atau Si Harimau Gunung yang sebelum munculnya Raja Kelelawar telah merajai semua penjahat di daratan, rajanya para. perampok, maling dan copet. Kini dia telah menjadi pembantu utama dari Raja Kelelawar di samping dua orang rekannya yang terkenal dengan julukan Sam-ok atau Si Tiga Jahat. Melihat betapa dalam gebrakan pertama dia tidak mampu menghadang pemuda baju putih itu dan sebaliknya malah memberi ke-sempatan kepada pemuda itu mendemonstrasikan kepandaiannya sehingga memperoleh pujian, Sam-hek-houw menjadi marah sekali.

Cepat dia mem-balikkan tubuhnya dan tanpa banyak cakap lagi dia sudah menerjang ke depan dan menyerang Kiong Lee yang baru saja turun ke atas tanah. Serangan San - hek - houw ini ganas dan dahsyat sekali, tiada bedanya dengan ulah seekor harimau yang sedang kelaparan. Dua ekor harimau hitam yang menjadi binatang peliharaannya itu mengaum-ngaum melihat majikan mereka berkelahi, seolah-olah memberi semangat.

Tentu saja para tamu restoran menjadi panik ketakutan. Berdiam di restoran merasa ngeri, mau lari keluar terhadang oleh perkelahian di luar pintu, juga mereka takut kepada dua ekor harimau itu yang rantainya dipegang oleh empat orang penjahat yang kini tertawa-tawa karena mereka merasa yakin bahwa muculnya raja mereka ini akan dapat membalaskan kekalahan mereka tadi.

Akan tetapi sekali ini mereka kecelik. Baru sekarang mereka memperoleh kenyataan bahwa raja mereka itu bukanlah jaminan untuk selalu menang. Biarpun Si Harimau Gunung menyerang dengan ganas dan dahsyat, namun pemuda baju putih itu dengan sikap tenang sekali dapat menan-dinginya dan sama sekali tidak pernah terdesak, bahkan membalas dengan serangan-serangan yang tidak kalah ampuhnya.

Mereka ternyata seimbang, baik kecepatan maupun tenaga mereka. Perkelahian itu amat seru dan menegangkan, terutama sekali bagi mereka yang mempunyai keahlian dalam ilmu silat sehingga dapat mengikutinya. Yang merasa marah dan penasaran adalah San-hek-houw sendiri.

Biasanya, selama ini setiap kali dia turun tangan, dan hal ini jarang terjadi karena dia cukup mewakilkan kepada anak buahnya saja, sudah dapat dipastikan bahwa dia akan berhasil baik. Akan tetapi ternyata pemuda baju putih ini sedemikian lihainya sehingga semua serangannya gagal dan dia malah harus menjaga diri karena pemuda itu membalas dengan serangan yang amat berbahaya pula.

Karena penasaran, maka raja penjahat ini lalu mengeluarkan senjatanya yang mengerikan, yaitu rantai yang kedua ujungnya bermata tombak. Begitu diputar, rantai itu lenyap berobah menjadi gulungan sinar yang menyambar-nyambar.

Melihat ini, Yap Kiong Lee cepat mencabut sepasang pedangnya yang tergantung di punggung. Nampak dua sinar putih berkelebatan menghadapi senjata rantai dan kembali terjadi perkelahian yang lebih seru dan juga ternyata dalam adu kepandaian senjata, mereka memiliki tingkat yang seimbang.

                                                                           ***

LIMAPULUH jurus telah lewat dan keduanya sudah saling desak samibil mengerahkan tenaga sekuatnya. "Tring – trang... trakkk...!"

Tanpa dapat dicegah lagi, rantai itu melibat kedua pedang dan senjata - senjata itu saling berbelit de-ngan amat kuatnya. Karena tidak ada jalan lain untuk melepaskan senjata yang terlibat itu, kedua-nya lalu mengerahkan tenaga sinkang. Mereka membentak nyaring dan saling tarik. Akibatnya, kedua pedang Kiong Lee terlepas dari pegangan, akan tetapi juga tangan kanan Harimau Gunung itu terpaksa melepaskan senjata rantainya yang kini hanya dipegang oleh tangan kiri.

Inipun tidak lama karena secepat kilat kaki Kiong Lee menen-dang ke arah pergelangan tangan kiri lawan. Kakek tinggi besar itu berusaha mengelak, akan te-tapi tetap saja ujung sepatu menyerempet perge-langan tangan kirinya sehingga tangan inipun terpaksa melepaskan rantainya. Kini senjata-senjata itu terlepas di atas tanah dan keduanya melanjutkan lagi dengan tangan kosong !

San-hek-houw mengeluarkan suara auman seperti harimau yang disambut oleh dua ekor harimau peliharaannya, kemudian diapun mengeluarkan ilmu simpanannya, yaitu ilmu silat tangan kosong Houw-jiauw- kang. (Ilmu Cakar Harimau). Kedua tangannya membentuk cakar harimau dan gerakannya juga seperti gerakan kaki depan hari-mau kalau mencakar - cakar dengan dahsyatnya. Hanya cakar harimau yang dibentuk oleh jari - jari tangan manusia ini bahkan jauh lebih berbahaya dari pada cakar harimau aseli karena setiap gerak-an mengeluarkan desiran angin tajam.

Kedua kakinya berloncatan persis seperti gerakan harimau kumbang dan selama belasan jurus Kiong Lee nam-pak terkurung dan terdesak oleh ilmu silat yang berbeda dengan Ilmu Silat Houw - kun (Silat Ha-rimau) biasanya ini. Ilmu Silat Houw - jiauw - kang milik Si Harimau Gunung ini benar - benar luar biasa sekali. Agaknya telah dipelajari dengan sem-purna sehingga biarpun jari - jari tangan yang mem-bentuk cakar harimau itu tidak sampai menyentuh lawan, namun sambaran angin pukulannya saja te-lah mampu mencabik - cabik benda. Baju pemu-da yang putih itu, terutama di bagian lengan baju, robek - robek terlanggar angin pukulan itu, seperti dicakari oleh kuku - kuku tajam. Tentu saja semua orang terkejut dan memandang khawatir karena pemuda itu nampak terdesak, terutama sekali tiga orang gadis yang selalu berpihak kepada pemuda itu. Ilmu silat raja perampok itu sungguh lihai bukan main.

Tiba - tiba Kiong Lee mengeluarkan teriakan yang mengejutkan semua orang dan pemuda ini sudah merobah gerakan silatnya. Dia menggerak-gerakkan kaki tangannya perlahan - lahan namun mengandung penuh tenaga sehingga setiap kali ka-kinya dihentakkan, bumi seperti tergetar rasanya.

Telapak tangannya terbuka dan otot - otot lengan-nya tersembul keluar. Buku - buku tulangnya se-perti saling bergeser mengeluarkan bunyi berke-rotokan dan uap putih nampak membayang tipis di setiap permukaan lengannya. Dan ketika lengan yang bergerak perlahan itu menangkis cakaran Si Harimau Gunung, semua orang menjadi terkejut. Gerakan itu, yang dilakukan perlahan, tahu - tahu meluncur cepat bukan main seperti kepala ular yang mematuk mangsa yang sudah lama diintai-nya. Suara mencicit bagaikan bunyi burung malam terdengar ketika lengan bergerak dan cepatnya membuat semua serangan cakaran Si Harimau Gu-nung itu terhenti setengah jalan karena setiap kali tangan yang berbentuk cakar itu bergerak, baru se-tengah jalan sudah terpukul ke samping dan sebe-lum cakar dapat ditarik kembali, tangan pemuda baju putih yang bergerak seperti ular mematuk itu telah menyerang bagian - bagian tubuh yang ber-bahaya. Si Harimau Gunung terkejut bukan main dan dalam beberapa gebrakan saja nyaris kepalanya kena dipatuk oleh tangan kiri Yap Kiong Lee. Cepat dia membuat gerakan seperti ha-rimau mendekam untuk menghindarkan kepa-lanya. Akibatnya, sebuah arca singa yang berada tepat di belakangnya kena hantaman tangan Kiong Lee. Nampak cap lima jari tangan di tubuh arca batu itu dan kemudian arca itu menjadi retak - re-tak dan akhirnya hancur berantakan menjadi ke-pingan - kepingan kecil berserakan. Tentu saja se-mua orang melongo dan ada yang menjulurkan lidah saking kagum dan ngerinya, bahkan Si Ha-rimau Gunung sendiri terbelalak dan air
mukanya berobah. Hatinya mulai menjadi ragu dan gentar dan timbul pertanyaan dalam hatinya siapa gerang-an pemuda yang amat lihai ini sebenarnya ? Ca-karan tangannya itu biasanya mampu menghancur-kan batu karang yang keras sekalipun, akan tetapi sekarang ternyata hanya dapat membuat kulit le-ngan pemuda itu lecet - lecet sedikit saja, semen-tara dia sendiri tidak berani menangkis pukulan pukulan pemuda yang demikian kuat dan ampuh-nya. Ilmu apakah itu ?

Nenek Siang Houw Nio-nio juga menggeleng-geleng kepala saking kagumnya.

"Hemm, tua bang-ka itu kiranya telah menurunkan ilmu rahasia ke-turunannya kepada murid kesayangannya ini," gumamnya. Pek In dan Ang In tentu saja menjadi kagum bukan main. Mereka memang sudah lama mengetahui bahwa suheng mereka itu amat lihai, akan tetapi mereka tidak menyangka sehebat ini. Diam - diam mereka, dan juga Pek Lian, merasa gembira sekali karena-sekarang Harimau Gunung itu mulai terdesak. Pek In tadi telah mengambil dan menyimpan sepasang pedang milik Kiong Lee yang terlepas, seperti juga seorang di antara pen-jahat - penjahat itu telah (menyimpan senjata rantai dari Si Harimau Gunung.

Selagi Kiong Lee mendesak Si Harimau Gu-nung, tiba - tiba dia terkejut bukan main mende-ngar teriakan seorang di antara para sutenya, "Su-heng ! Kim - sute lenyap dan Ngo - suheng yang menjaga kereta tertotok pingsan !"

Mendengar teriakan ini, wajah Yap Kiong Lee menjadi pucat seketika dan diapun meloncat me-ninggalkan lawannya yang sudah terdesak untuk berlari menghampiri kereta yang ditinggalkan di tepi jalan tak jauh dari rumah makan itu. Dengan wajah pucat dia memeriksa dan memang benar, sutenya yang luka parah dan tidak mampu berge-rak itu lenyap. Ngo - sutenya pingsan dengan leher berwarna kehijauan, mukanyapun mengandung warna kehijauan. Maka mengertilah dia bahwa sutenya ini tentu terkena totokan Ceng - ya - kang, Si Kelabang Hijau tokoh Ban-kwi-to itu. Yap Kiong Lee menjadi bengong, wajahnya pucat se-kali dan hatinya dicekam rasa khawatir yang hebat akan keselamatan sutenya yang tersayang.

Sesosok bayangan berkelebat cepat sekali dari tahu - tahu nenek Siang Houw Nio - nio telah ber-ada di dekat kereta dan suaranya terdengar keren ketika ia menghardik, "Apa katamu ? Ada apa dengan Kim - ji (anak Kim) ? Hayo jawab !"

Yap Kiong Lee menjawab dengan suara penuh duka dan kepala ditundukkan, "Subo, adik Kim telah dilukai orang karena dia bergaul dengan orang jahat. Hari ini sebenarnya teecu hendak mem-bawanya kepada suhu, tidak teecu sangka bahwa orang yang menjadi sahabatnya itu telah menculik-nya, selagi teecu berkelahi di restoran tadi."

Nenek itu menjadi semakin marah, sepasang matanya memancarkan sinar berapi.

"Kenapa engkau dan suhumu membiarkan anak itu berkeliaran? Sungguh orang tua yang tidak tahu mengurusi anak! Berteman dengan segala macam manusia jahat dibiarkan saja. Hemm, aku akan minta pertanggungan jawab kepada suhumu. Akan kulabrak dia kalau tidak bisa mendapatkan anakku dalam keadaan sehat selamat !"

Wajah nenek itu menjadi merah padam dan hampir saja ia menangis. Ia lalu cepat memasuki keretanya dan berkata dengan suara berteriak kepada murid - muridnya, "Kita tidak jadi bermalam di sini! Bayar semuanya lalu susul aku. Malam ini juga aku harus melabrak si tua bangka itu atas keteledorannya mengasuh Kim-ji!" Setelah berkata demikian, kereta dilarikan de-ngan kencang menuju ke barat, ke arah kota raja.

Para murid itu tertegun dan bengong saja. Yap Kiong Lee menjadi serba salah. Sejak suhu dan subonya hidup berpisah, hatinya merasa bingung dan prihatin sekali, bahkan dia sampai tidak mau menikah sampai sekarang. Dia sangat takut dan hormat kepada subonya karena di waktu dia masih kecil, subonya itulah yang mengasuhnya dan dia tahu bahwa subonya itu sebenarnya amat sayang padanya.

Kemudian suhu dan subonya saling ber-pisah, subonya meninggalkan suhunya yang sudah tua itu dan mengabdi kepada kaisar di istana yang masih keponakannya sendiri. Suhunya tidak mau ikut dan dia sendiri kasihan dan tidak tega untuk meninggalkan suhunya yang sudah tua dan sendi-rian itu. Karena dia tidak mau ikut subonya dan memilih untuk tinggal di situ merawat suhunya, maka subonya tidak mau lagi menggubrisnya. Kini subonya marah - marah, tentu akan terjadi keribut-an dan dia merasa prihatin sekali.

Yap Kiong Lee lalu memerintahkan para sute-nya untuk berpencar dan menyelidiki ke mana Yap Kim dilarikan orang. Pada saat itu, Si Harimau Gunung bersama empat orang penjahat kasar tadi telah lenyap dari situ, agaknya jerih dan tidak ber-napsu lagi untuk melanjutkan perkelahian.

Pek In dan Ang In membayar sewa kamar yang belum dipakai itu dan membayar harga makanan, kemudian mereka yang juga nampak tegang dan khawatir itu menghampiri Kiong Lee.

"Bagaimana baiknya sekarang, Yap - suheng ?" tanya Pek In. Tidak ada jalan lain, kalian harus mentaati perintah subo, menyusulnya ke tempat suhu. Dan nona ini siapakah nona ini dan bagaimana bisa bersama kalian ?"

"Nona Sie Pek Lian ini adalah seorang yang dicurigai subo sebagai teman ketua Lembah Yang-ce, maka subo memerintahkan kami untuk mena-wannya dan mengajaknya pulang."

"Hemm, kalau begitu, mari kita susul subo. Pasti akan menjadi ramai di sana." Merekapun berangkat, mempergunakan kereta Kiong Lee un-tuk mengikuti jejak kereta nenek Siang Houw Nio-nio yang marah itu. Kiong Lee benar-benar me-rasa prihatin sekali.

"Adik Pek dan Ang, aku khawatir akan terjadi salah paham antara subo dan suhu. Padahal, saat ini suhu sedang mengasingkan diri di tempat sa-madhinya, sudah belasan hari suhu tidak keluar dari situ."

Dua orang gadis itupun merasa khawatir sekali. Sebaliknya, Pek Lian menjadi ingin tahu sekali dan merasa amat tertarik. Makin lama, makin banyak ia mengalami hal yang aneh - aneh, bertemu de-ngan orang - orang yang aneh dan berilmu tinggi Betapa di dunia ini penuh dengan orang - orang pandai, pikirnya, akan tetapi herannya, semakin pandai orang, semakin banyak masalah yang mereka hadapi, keruwetan - keruwetan hidup yang membuat kehidupan mereka itu menjadi tidak te-nang, bahkan menderita. Biarpun ia belum tahu benar, akan tetapi iapun dapat menduga bahwa tentu ada rahasia besar antara nenek Siang Houw Nio - nio dan ketua Thian - kiam - pang itu, raha-sia yang membuat mereka terpisah dan agaknya menderita dan saling bermusuhan. Benar juga kata-kata yang pernah didengarnya dahulu bahwa kelandaian itu, seperti juga harta dan kedudukan, lebih banyak mendatangkan malapetaka dari pada bahagia. Tadinya ia sendiri tidak begitu mengerti akan arti kata - kata ini yang dianggapnya tak masuk akal karena bukankah semua itu bahkan merupakan sarana untuk dapat merasakan keba-hagiaan ? Akan tetapi, sekarang ia mulai melihat betapa orang - orang yang berkepandaian tinggi, justeru menjadi sengsara hidupnya karena kepan-daian itu sendiri. Persaingan, permusuhan, perke-lahian terjadi di mana - mana dan saling bunuh terjadi di antara orang-orang yang pandai ilmu silat. Apakah hal buruk ini akan terjadi pada orang-orang yang tidak tahu ilmu silat ?

Agaknya ke-mungkinannya jauh karena mereka tentu tidak condong mempergunakan kekerasan. Dan kedu-dukan ? Ayahnya sendiri sekeluarga tertimpa malapetaka karena kedudukan. Andaikata ayahnya bukan seorang menteri, melainkan seorang petani miskin, apakah kaisar akan melihatnya? Tentu keluarga ayahnya kini masih aman sentausa, walaupun sebagai keluarga petani miskin !

Untung bagi mereka bahwa malam itu terang bulan sehingga dengan mudah mereka dapat meng-ikuti jalan yang berlika - liku mengikuti arus su-ngai itu. Belasan li sebelum memasuki daerah Ko-ta Raja Tiang - an, mereka membelok ke kanan, meninggalkan jalan besar memasuki jalan kecil, akan tetapi tetap mengikuti aliran sungai. Mereka memasuki sebuah hutan kecil yang banyak me-nyembunyikan cahaya bulan. Akan tetapi karena Yap Kiong Lee sudah hapal akan jalan di tempat itu, dia dapat menjalankan keretanya dengan lan-car. Kemudian nampak sebuah telaga kecil di te-ngah hutan dan di pinggir telaga itu terdapat sebu-ah bangunan megah yang dilingkari tembok merah yang kokoh kuat seperti benteng.

Hari telah larut malam dan tempat itu nampak sunyi sekali. Akan tetapi mereka tahu bahwa tem-pat itu tentu terjaga ketat oleh para murid perkum-pulan Thian - kiam - pang. Kiong Lee, Pek In dan Ang In longak - longok dan merasa heran karena tidak melihat adanya kereta subo mereka yang ta-di dilarikan kencang lebih dahulu.

"Berhenti! Siapa di sana ?"

Bentakan nyaring ini segera dikenal oleh Kiong Lee sebagai suara ji-sutenya, yaitu orang ke dua setelah dia di antara murid - murid Thian - kiam - pang. Tentu ji - sute-nya itu sedang bergilir meronda.

Pek Lian yang mendengar bentakan itu, merasa jantungnya tergetar karena suara itu dikeluarkan dengan pengerahan khikang yang cukup kuat un-tuk membuat orang yang datang dengan niat buruk menjadi gentar.

Akan tetapi Kiong Lee tidak jadi menjawab karena dia mendengar suara kaki berlari - lari disu-sul suara beradunya senjata! Agaknya yang dite-gur oleh ji-sutenya tadi bukanlah rombongannya, melainkan orang lain. Yap Kiong Lee mengerahkan ilmu ginkangnya dan sekali tubuhnya meluncur ke depan, dia telah meninggalkan tiga orang wanita muda itu. Tubuhnya lalu mencelat ke atas, berpu-taran dan tahu - tahu dia telah hinggap di atas pa-gar tembok yang kokoh kuat dan tinggi itu. Akan tetapi baru saja kakinya menginjak pagar tembok, dari sebelah dalam menyambar sebatang piauw ke arah lehernya. Dia cepat mengelak, akan tetapi penyerangnya itu sudah berada di dekatnya dan menyerangnya dengan tusukan pedang. Kembali Kiong Lee mengelak dan biarpun cuaca remang-remang, agaknya penyerangnya itu mengenal ge-rakan mengelak ini, sedangkan Kiong Lee juga mengenal gerakan serangan pedang.

"Toa-suheng... !" penyerang itu berseru.

"Sam-sute ! Ada apakah ini ?"

"Entahlah, suheng. Aku baru saja keluar karena mendengar teriakan ji-suheng tadi. Agaknya tempat ini kedatangan orang-orang jahat. Lihat, di sana ji-suheng sedang melayani seorang musuh agaknya!"

Bersambung

Darah Pendekar 9                                                                 Darah Pendekar 11