Selasa, 09 Oktober 2018

PENDEKAR PEDANG PELANGI 28


Jilid 28

HO HOU dan pengikut-pengikutnya memang tidak bisa ditahan lagi. Walau dia dan Liok-kui-tin belum bisa menaklukkan lawan masing-masing, tetapi Mo Goat dan yang lain sudah dapat me¬nguasai keadaan. Bahkan Tan Sin Lun dan Tiam Pit Seng sudah terkapar di atas tanah. Kedatangan Tio Siau In untuk me¬nolong mereka sudah tidak keburu lagi. Siang-kim-eng bersama Tiat-tou telah mengakhiri perlawanan mereka. Sabetan golok dan tusukan pedang membuat guru dan murid itu jatuh terluka parah.


"Suhu...!" Tio Siau In menjerit, namun tak bisa menolong karena pasukan Ho Bing segera mencegatnya.



Sebaliknya, pendekar Souw Thian Hai masih dapat diselamatkan oleh isterinya. Karena keduanya selalu berdampingan, maka kesulitan Souw Thian Hai segera dapat ditolong oleh Chu Bwe Hong. Bah¬kan pada waktu menolong tadi, pedang Chu Bwe Hong nyaris menebas leher Bayan Tanu.

Namun demikian luka di paha Souw Thian Hai itu benar-benar mengganggu sepak terjangnya. Kaki yang luka itu menjadi sulit digerakkan, sehingga Souw Thian Hai menjadi lamban dan kurang bersemangat. Pendekar itu lebih banyak diam di tempatnya, dan bersama Chu Bwe Hong mencoba bertahan sekuat te¬naga.

Yok Ting Ting yang berhadapan lang¬sung dengan Ho Bing juga tidak mampu berbuat apa-apa. Meskipun ilmu silat gadis itu jauh lebih tinggi daripada la¬wannya, tapi Ho Bing mendapat dukungan pasukan khususnya. Pasukan khusus yang sudah dilatih dan dipersiapkan untuk melayani jago silat berkepandaian tinggi. Mereka bergerak dalam kelompok atau barisan, seperti layaknya kawanan semut yang selalu bekerja bersama-sama. Me¬lawan satu dari mereka, berarti harus menghadapi seluruhnya.
A Liong sendiri masih terus berupaya menekan lawannya. Dengan habisnya per¬lawanan para pendekar, maka arena per¬tempuran itu menjadi longgar. A Liong tidak merasa takut lagi mengeluarkan ilmu pedang pelanginya. Kilatan-kilatan cahaya segera memancar dari pedang bengkoknya. Berkelebatan kesana-kemari, memburu dan mengurung anggota Lok-kui-tin.
Lok-kui-tin dengan Barisan Enam Hantunya memang dapat melayani kedah¬syatan sinar pelangi tersebut. Dengan cara mempersatukan tenaga dan pikiran mereka, Lok-kui-tin selalu berusaha me¬mantulkan cahaya yang menyerang me¬reka. Dan sebagai balasannya, mereka ganti , menyerang dengan segala macam senjata rahasia mereka.
"Baiklah. Akan kulihat sampai di ma¬na kalian bisa bertahan. Bagaimana kalau senjata rahasia itu habis?" A Liong meng¬ejek.
Lok-kui-tin menggeram. Mereka be¬nar-benar menjadi gemas dan penasaran.
Baru sekarang mereka menemukan lawan setangguh A Liong. Biasanya mereka tidak pernah bertempur sesulit ini. Satu atau dua orang diantara mereka, biasa¬nya cukup untuk menyelesaikan masalah mereka.

"Marilah! Menang atau hancur!" Hek-kui berseru keras.

Demikianlah walau sangat sulit, A Liong mampu mengimbangi keuletan Lok-kui-tin. Bahkan pemuda itu selalu berada di atas angin. Celakanya, A Liong yang kurang pengalaman itu belum mampu menilai keadaan. Pikirannya hanya ter¬tumpah pada pertempurannya sendiri. Dia hanya berpikir, bagaimana mengalahkan Lok-kui-tin. Sama sekali tidak terpikir olehnya akan hasil akhir dari pertempuran itu.

Sementara itu Chin Tong Sia dan Souw Giok Hong masih juga bertahan terhadap kurungan Mo Goat. Sebenarnya ilmu silat mereka berdua tidak kalah hebatnya dengan ilmu silat Mo Goat. Namun karena mereka berdua tidak mampu mencari Mo Goat asli diantara enam bayangan itu, mereka segera jatuh di bawah angin. Bagaimanapun juga dah¬syatnya ilmu silat mereka, tapi bayangan-bayangan itu tidak dapat diserang atau dilukai dengan pukulan atau senjata me¬reka.

Sebaliknya seperti yang dikhawatirkan Liu Wan Ti, bayangan Mo Goat itu mulai melepaskan senjata rahasianya. Senjata rahasia yang amat berbahaya karena mengandung racun.

Tapi Chin Tong Sia yang cerdik itu tepat lain.iy f lebih berbahaya, tapi aku justru dapat mengetahui aslinya! Ha¬nya yang asli yang melepaskan senjata rahasia, karena yang lain tidak mungkin melepas senjata betulan! Nah, Nona Souw... lindungi aku! Akan kucekik dia!" Chin Tong Sia berbisik kepada Souw Giok Hong dengan ilmu Coan-im-ji-bit, yaitu ilmu mengirim gelombang suara.

"Baik. Mari kita lakukan!" Souw Giok Hong mengangguk.

Dengan mantel pusakanya Souw Giok Hong memang tidak dapat dilukai oleh senjata rahasia Mo Goat. Sebaliknya, , setiap kali senjata rahasia itu meluncur dari tangan Mo Goat, maka Chin Tong Sia segera menyerang lawannya. Bebe¬rapa kali pukulan Chin Tong Sia yang amat mematikan itu nyaris mengenai tubuh Mo Goat asli, sehingga gadis itu segera menyadari kesalahannya. Ternyata maksudnya untuk segera mengakhiri per¬tempuran itu justru membahayakan diri¬nya.

"Kau benar-benar cerdik...!" Gadis itu berseru.

Mo Goat menarik kembali niatnya untuk mempergunakan senjata rahasia. Dia kembali mengurung Chin Tong Sia dan Souw Giok Hong dengan ilmu silat Pat-sian-ih-hoatnya. Karena tingkatan ilmu silat Mo Goat sekarang sudah lebih tinggi, maka dia sudah dapat mengubah dirinya menjadi enam sosok bayangan kembar. Dan semua itu amat merepotkan lawan-lawannya.

Sementara itu arena pertempuran di dekat mereka juga berlangsung tidak kalah sengitnya. Mo Hou dengan Pat-sian-ih-hoatnya melawan Put-pai-siu Hong-jin dengan Cuo-mo-ciangnya!

Tapi kali ini Mo Hou benar-benar ketemu batunya. Pat-sian-ih-hoat yang ia bangga-banggakan itu ternyata tidak mampu mengelabuhi mata Put-pai-siu Hong-jin. Seperti memiliki mata malaikat kakek tua jelek rupa itu dapat memilih Mo Hou asli diantara delapan sosok kem-barannya. Walau orang tua itu harus menerobos kesana-kemari menghindari lima bayangan Mo Hou palsu, namun dia terus saja memburu Mo Hou asli. Pukulan dan tendangan kakinya yang berba¬haya itu hampir tidak pernah keliru memilih sasaran.

"Monyet buruk!" Mo Hou mengumpat tidak habisnya.

"Sudahlah, menyerah sajalah! Kau tidak bisa mengakali aku dengan bentuk-bentuk palsumu itu. Meskipun hidungku ini bengkok dan jelek, tapi daya ciumnya tajam sekali. Aku dapat membedakan bau keringatku dan bau keringatmu. Semen¬tara semua bentuk palsumu itu tidak berkeringat, bukan? Heh-heh-heh!"

"Kurang ajar!" Mo Hou terkejut me¬lihat kecerdikan lawannya.

Put-pai-siu Hong-jin tertawa puas. Saking senangnya mulutnya segera ber¬dendang. Dendang yang tidak keruan lagunya.

"Bersampan di atas telaga,
Airnya bening bagai kaca.
Melihat rambut beralih rupa, Serasa mimpi jadi bayangan."
Karena bibirnya tebal dan lebar, se¬mentara giginya juga sudah ompong, maka suara dendang yang keluar dari mulut kakek jelek itu lebih menyerupai omelan daripada nyanyian. Namun de¬mikian, apa yang terjadi sungguh diluar dugaan. Semakin panjang dan semakin getol kakek itu mengomel, semakin he¬bat pula jurus-jurus yang dia keluarkan. Benturan-benturan tenaga vang terjadi, semakin lama semakin menggoyahkan kuda-kuda Mo Hou.
"Monyet tua! Monyet gila!"
Tiba-tiba gerakan Mo Hou berubah.
Satu persatu kembarannya menghilang. Put-pai-siu Hong-jin tidak mau terkecoh. Setelah kini tinggal satu, Mo Hou justru bergerak lebih cepat. Demikian cepatnya sehingga tubuh pemuda itu kadang-kadang menghilang dari pandangannya.
"Heh-heh-heh! Ilmu apa lagi yang kau keluarkan?" Put-pai-siu Hong-jin terke¬keh-kekeh.
Sungguh mendebarkan. Mo Hou mulai menapak ke tingkat akhir dari Pat-sian-ih-hoat, yaitu membuat tubuhnya menghi¬lang. Dengan tenaga dalamnya yang ting¬gi, disertai dengan kemampuan sihirnya yang hebat, pemuda itu mulai mengecoh pandangan Put-pai-siu Hong-jin.
Semakin cepat gerakan Mo Hou, maka semakin sering pula Put-pai-siu Hong-jin kehilangan lawannya. Ketika akhirnya pemuda itu mengerahkan segala kemam¬puannya, maka Put-pai-siu Hong-jin tidak dapat melihat lawannya lagi. Pemuda itu hanya kelihatan bila sedang mengambil napas.
"Ah! Bocah itu benar-benar hebat dan menakjubkan!" Yap Kim yang tidak pernah melepaskan matanya dari pertempur¬an itu memuji kedahsyatan ilmu silat Mo Hou.
Sekarang Put-pai-siu Hong-jin kebi¬ngungan. Dengan ketajaman indera dan perasaannya, sebenarnya dia dapat mela¬cak keberadaan Mo Hou. Tapi karena situasi di arena itu sangat riuh, dan ge¬rakan Mo Hou juga sangat cepat, maka langkahnya selalu lebih lambat dari la-wannya. Akibatnya serangan Mo Hou yang datang bertubi-tubi membuatnya kalang-kabut.

"Tikus busuk memakan cacing!

Cacing kurus kepanasan

Perubahan yang sangat mendadak itu sungguh mengejutkan Pangeran Liu Wan Ti. Sungguh tidak terduga keadaan men¬jadi berbalik seperti itu. Tampaknya se¬mua orang memang akan dikalahkan oleh pasukan Hun.

. Satu persatu tokoh Tiat-tung Kai-pang jatuh ke tanah. Demikian pula de¬ngan tokoh persilatan lainnya, hingga akhirnya tinggal rombongan pendekar Pulau Meng-to saja yang masih bertahan. Namun demikian mereka juga sudah ke¬payahan, sementara pasukan Hun terus mendesak dan memburu mereka. Akhir¬nya rombongan itu sampai juga di tem¬pat Pangeran Liu Wan Ti berada.
Demikianlah, akhirnya seluruh pasukan Hun mengepung tempat itu. Mereka ber¬sorak sambil meniup terompet dan me¬nabuh tambur perang. Suasana benar-benar ramai dan hingar bingar.
Yap Kim dan Pangeran Liu Wan putus asa. Seluruh kekuatan di pihak mereka sudah kalah. Tiada lagi yang dapat mereka andalkan. Tinggal A Liong yang masih berada di atas angin. Tapi apa gunanya kemenangan A Liong itu kalau seluruh kekuatan lainnya kalah?
Oleh karena itu pertempuran selanjut¬nya boleh dikatakan cuma menunggu waktu saja. Menunggu saat jatuhnya para pendekar itu seorang demi seorang. Dan semuanya memang tak bisa dihindarkan lagi.
Dengan dukungan pasukan khususnya, Ho Bing dan para pembantunya mulai mendesak Tio Siau In dan Yok Ting Ting. Tongkat Ho Bing mulai menyentuh kulit Tio Siau In dan Yok Ting Ting. Tapi sentuhan itu belum sampai membahaya¬kan jiwa mereka. Namun ketika akhirnya tongkat itu sering menyentuh tubuh me¬reka, otomatis perlawanan mereka men¬jadi terganggu. Apalagi ketika pasukan yang mengepung mereka itu semakin kuat mendesak mereka.
Tio Ciu In benar-benar sedih melihat kesulitan adiknya. Matanya berkaca-kaca. Lima tahun mereka berpisah. Kini me¬reka bertemu justru dalam situasi yang tidak menyenangkan. Dan celakanya dia sendiri juga terluka parah, sehingga tidak bisa menolong adiknya.
"Tak kusangka nasib kami sangat me¬nyedihkan. Tidak ada orang tua, tidak ada kebahagiaan. Ada guru yang mem¬besarkan kami, tapi sekarang guru juga menjadi korban keganasan perang. Aaah....1'
Dalam kesedihannya tiba-tiba terlintas wajah Pendekar Buta, gurunya yang lain. Meski buta tapi memiliki kesaktian yang hebat.
“Ah, dimana guru sekarang ? Apakah dia juga menjadi korban perang besar ini ? mengapa dia tidak muncul-muncul?
Saking teganganya bibir Tio Ciu In bergetar menyanyikan lagu kesukaan Pendekar Buta. Mulanya hanya perlahan, tapi semakin lama semakin keras, sehingga akhirnya suara itu melengking tinggi penuh getaran tenaga dalam.
“Apabila di malam yang gelap gulita,
Tiba-tiba muncul bulan purnama,
Alam pun tersentak dari tidurnya,
Untuk menyambut kehangatan Sang Pelita malam.
Kekasihku …… !
Aku selalu mengharapkan kehadiranmu.. !
Pangeran Liu Wan Ti dan Panglima Yap Kim kaget, bekas panglima itu memandang Tio Ciu In dengan bingung sekilas ia menyangka gadis itu menjadi gila. Namun dugaan itu segera dihapusnya.
Sebaliknya Pangeran Liu Wan Ti men¬jadi berdebar-debar hatinya. Masih ter¬ingat di benaknya peristiwa lima tahun lalu di kota Hang-ciu. Kala itu Tio Ciu In juga bernyanyi seperti sekarang, dan tiba-tiba muncul seorang pendekar sakti bermata buta menolong mereka.
"Apakah Nona Tio hendak meminta pertolongan pendekar buta itu lagi?"
Ternyata nyanyian itu sampai ke te¬linga Kwe Tek Hun pula. Pemuda yang sedang bertempur di samping ayahnya itu mempunyai pendapat yang sama dengan Pangeran Liu Wan Ti. Ia juga teringat peristiwa mengerikan di kota Hang-ciu itu. Peristiwa yang membuat Ku Jing San kehilangan salah satu kakinya.
Belum juga lagu itu habis dinyanyikan oleh Tio Ciu In, tiba-tiba terdengar suara gemuruh mendekati tempat itu. Suara itu seperti suara angin atau badai yang me¬nerjang pepohonan.
"In-ji...!" Aku datang! Bertahanlah!"
Bersamaan dengan hilangnya suara gemuruh itu, seorang lelaki separuh baya telah berdiri di depan Tio Ciu In. Wajah¬nya sama sekali tidak kelihatan karena tertutup oleh rambut putih yang terurai lepas di mukanya.
"Auuh...!" Pada saat yang sama Chin Tong Sia justru mengeluh karena pundak¬nya tergores kipas Mo Goat.
Souw Giok Hong terkejut. "Saudara Chin, kau terluka....?"
Walau tidak parah tapi kipas itu mengandung racun sehingga bahu Chin Tong Sia terasa linu sekali. Untung ia selalu membawa obat pemunah racun di sakunya. Walau tidak segera sembuh, tapi racunnya tidak berbahaya lagi.
"Nona Souw, berhati-hatilah! Kipas itu mengandung racun!"
Sementara itu pendekar Buta telah memegang lengan T.o Ciu In. Tubuhnya tiba-tiba bergetar begitu mengetahui ke¬adaan gadis itu.
"Siapa yang melukaimu? Siapa? Kata-kan!" Katanya kaku.
Tio Ciu In tak kuasa lagi memben¬dung air matanya. "Suhu, tolonglah me¬reka? Mereka itu para pendekar persilat¬an yang ingin membebaskan Panglima Yap Kim. Sekarang mereka dalam kesu¬litan. Pasukan Hun telah mengepung tempat ini. Tidak ada jalan untuk meloloskan diri."
"Apakah panglima itu sudah dapat di¬bebaskan?"
"Sudah, Suhu. Beliau juga ada di sini sekarang. Beliau berada di sebelah ka¬nanmu."
Wajah tertutup rambut itu kelihatan kaget sekali. "Baiklah, aku akan mencoba menolong mereka." Ucapnya kemudian dengan terburu-buru.
Tapi ketika Pendekar Buta hendak berlalu, Tio Ciu In cepat meraih lengan¬nya.
"Suhu! Di sini juga ada Pangeran Liu Wan Ti."
"A-apa...?" Sekali lagi Pendekar Buta itu terkejut.
"Benar, Suhu. Beliau duduk di dekat Panglima Yap Kim. Mereka berdua terluka parah seperti aku."
Pendekar itu menundukkan mukanya dalam-dalam. Sejenak tubuhnya seperti bergoyang-goyang mau jatuh. Tentu saja Tio Ciu In menjadi kaget sekali.
"Suhu! Suhu! Kau kenapa....?"
Wajah itu tengadah kembali. Sambil menghela napas ia berkata, "Tidak apa-apa. Aku tidak apa-apa. Jangan khawatir. Emmm, In-ji. Coba katakan! Siapa saja pendekar persilatan yang ada di tempat ini? Sebutkan satu persatu!"
Tio Ciu In menjadi lega kembali. Lalu disebutnya pendekar yang berada di arena itu satu persatu. Pendekar yang belum pernah dia kenal, hanya ia sebutkan ciri-cirinya. Disamping itu Tio Ciu In juga menyebutkan lawan yang mereka hadapi.
Pendekar itu tertegun ketika Tio Ciu In menyebutkan nama Hong-gi-hiap Souw Thian Hai. Tapi ia segera mengalihkan perhatiannya.
"Jadi mereka itu benar-benar... pasu¬kan Hun? Baiklah, In-ji. Aku akan men¬coba menolong Panglima Yap Kim keluar dari benteng ini. Tapi kau jangan pergi ke mana-mana. Tetaplah di tempat ini. Berteriaklah kalau ada yang menggang¬gumu."
Sementara itu Panglima Yap Kim hampir tidak berkedip memandang pen¬dekar itu. Ternyata orang itu adalah orang yang dilihatnya melempar-lempar-kan prajurit Hun tadi. Dan setelah dekat, serasa ada sesuatu yang dikenalnya pada pendekar itu.
Di lain pihak, Pendekar Buta telah berjalan mendekati pertempuran, yaitu pertempuran antara Mo Goat dengan Chin Tong Sia dan Souw Giok Hong.
Semua orang melihat ada enam orang Mo Goat yang mengurung Chin Tong Sia. Tetapi bagi orang buta seperti Pendekar Buta, yang mengamati pertempuran itu dari indera tubuhnya yang lain, pertem¬puran di depannya itu hanya berlangsung antara seorang melawan dua orang saja.
Memang menurut pengamatan Pende¬kar Buta, orang dikeroyok itu memiliki ilmu silat yang sangat aneh. Orang itu mampu memecah tenaganya menjadi beberapa bagian, dan setiap bagian dapat digunakan untuk menyerang lawan dari berbagai arah.
Sementara itu munculnya Pendekar Buta di arena itu benar-benar mengejut¬kan Mo Goat. Walau sudah lima tahun, tapi gadis itu tidak pernah melupakan orang yang pernah mengalahkan ilmu silatnya.
"Hou-ko! Kau ingat orang yang ku¬ceritakan itu? Dia berada di sini...!" Gadis itu berteriak kepada Mo Hou.
Chin Tong Sia dan Souw Giok Hong terkejut, tapi tidak tahu apa yang di¬maksudkan lawannya. Mereka berdua hanya melihat seorang lelaki mengenakan pakaian tukang kebun, datang mengham¬piri mereka. Lelaki separuh baya itu ke¬lihatan sedang mengerahkan tenaga sak¬tinya.
Terdengar suara desis dari sela-sela bibir Pendekar Buta, seperti suara desis ribuan ular berbisa yang keluar dari liang¬nya. Dan berbareng dengan itu tercium pula bau amis yang menyengat hidung.
"Dia... dia...!" Panglima Yap Kim gelagapan.
Sekonyong-konyong tubuh Pendekar Buta itu mencelat ke depan. Demikian cepatnya, sehingga orang hanya melihat hembusan asap yang meluncur ke arena pertempuran. Gulungan asap itu menyam¬bar salah seorang dari- enam orang Mo Goat itu.
Mo Goat menghindar secepatnya, kemudian berbaur dengan Mo Goat yang lain. Tetapi Pendekar Buta itu terus saja memburunya, seolah-olah tidak ada Mo Goat lain di arena itu. Dia hanya meng¬elak atau menangkis bila Mo Goat yang lain itu menyerangnya.
Kesempatan itu dipergunakan oleh Chin Tong Sia dan Souw Giok Hong un¬tuk keluar dari arena. Mereka segera menghambur ke arena Hong-gi-hiap Souw Thian Hai dan Tio Siau In.
Kedatangan Souw Giok Hong segera disambut ayah-ibunya dengan penuh ke¬gembiraan. Begitu berjumpa gadis ayu itu segera melapor.
"Ayah! Ibu! Aku sudah menemukan Cici Lian Cu....!"
"Souw Tai-hiap! Itu dia yang bernama, Souw Hong Lam!"
"Apaaaa...??" Souw Thian Hai dan Chu Bwe Hong berteriak bersama-sama. Begitu kerasnya teriakan mereka, sehing¬ga Bayan Tanu menjadi kaget pula.
"Nanti aku ceritakan...!" Souw Giok Hong berseru gembira. Lupa bahwa me¬reka dalam kepungan musuh.
Tapi kedatangan Chin Tong Sia di arena Tio Siau In, disambut dengan ben¬tak kemarahan oleh gadis itu. Marah, karena tongkat Ho Bing mulai menyakiti tubuhnya.
"Mau apa kau ke sini? Mau ikut me¬ngeroyok aku? Majulah!"
Chin Tong Sia gelagapan tak dapat menjawab, sehingga Yok Ting Ting men¬jadi kasihan melihatnya. Sebenarnya gadis remaja ini amat senang dengan bantuan Chin Tong Sia. Dia dan Tio Siau In me¬mang berada dalam kesulitan.
"Sudahlah, Cici. Dia hanya ingin membalas kita, urusan nanti kita selesaikan.
Bahu Chin Tong Sia masih terasa Sakit , namun tidak sesakit bentakan Siau In di hatinya. Tapi ketika dia bermaksud meninggalkan tempat itu, Tiat-tou me¬nyerangnya dari belakang. Wuuuus!
Chin Tong Sia segera menghindar. Otomatis tangannya menyambar lengan Tiat-tou. Thaaaas! Kedua lengan mereka bentrok satu sama lain. Akibatnya Si Kepala Besi itu terdorong mundur bebe¬rapa langkah. Untung pasukannya segera menolong. Mereka menyerbu Chin Tong Sia dari segala jurusan.
Chin Tong Sia tidak bisa mundur lagi. Dia terpaksa bertempur melawan pasukan khusus itu bersama-sama Tio Siau In dan Yok Ting Ting. Dan kedatangannya itu memang sangat membantu gadis itu. Paling tidak mengurangi lawan Tio Siau In.
Di lain pihak kedatangan Pendekar Buta benar-benar menjadi neraka buat Mo Goat. Walaupun sudah berusaha seButa menjadi cemas. Dalam keributan atau pertempuran yang hingar-bingar dia tak mungkin bisa menolong Panglima Yap Kim. Oleh karena itu dia harus segera meringkus gadis itu sebagai sandera.
Pendekar Buta lalu mengerahkan ilmu silatnya yang lain, yang jarang sekali ia keluarkan. Terdengar tulang dan urat-uratnya saling membelit dan beradu satu sama lain.
Ketika akhirnya Mo Goat yang marah itu menyerang dengan jarum-jarum be¬racunnya, kedua tangan Pendekar Buta itu segera menyambar ke depan. Taburan jarum beracun itu tersapu habis oleh ki¬basan tangan kirinya, sementara tangan kanannya tetap melaju ke depan, menuju ke arah muka Mo Goat.
Mo Goat cepat menarik kepalanya ke belakang. Tapi mulutnya menjerit keras sekali, ketika tangan itu tetap saja memburunya. Mati-matian gadis itu mem¬banting tubuhnya ke belakang.
Namun sekali lagi gadis itu berteriak ngeri. Lengan Pendekar Buta itu terus saja bertambah panjang, sehingga tangan itu tidak bisa dicegah lagi saat menceng¬keram pundak Mo Goat. Di lain saat gadis itu telah ditangkap oleh Pendekar Buta.
"Hou-ko! Tolong...!" Mo Goat menjerit keras.
Mo Hou terperanjat. Tanpa berpikir lagi pemuda itu melompat meninggalkan Put-pai-siu Hong-jin. Karena saat itu dia sedang mengerahkan Pat-sian-ih-hoat pada lapis yang teratas, maka gerakan¬nya sama sekali tidak terlihat oleh se¬mua orang. Tahu-tahu dia telah berdiri di depan Pendekar Buta.
Put-pai-siu Hong-jin yang ditinggal¬kan, termangu-mangu di tempatnya. Ka¬kek buruk rupa itu tidak segera tahu kalau lawannya telah pergi.
"Tikus kecil! Dimana kau....?"
"Suheng, mengapa kau. memaki aku? Apa kau tidak mempunyai lawan lagi?" Tak terduga Chin Tong 5ia menjawab umpatan Put-pai-siu Hong-jin.
Dasar manusia sinting, kakek itu su¬dah melupakan keinginannya untuk men¬cari Mo Hou. Suara Chin Tong Sia telah merubah jalan pikirannya. Tiba-tiba saja ia ingin menggoda pemuda itu.
"Hei, Bocah Gendeng. Mengapa kau bersama gadis itu lagi? Apa gigimu ingin dipatahkan lagi?"
"Suheng, kemarilah! Bantu aku! Ja¬ngan berdiri diam saja."
"Hohoho, baik. Aku senang sekali. Di situ banyak musuhnya."
Lalu tanpa berbasa-basi lagi kakek buruk rupa itu segera menghambur ke dalam pertempuran. Gayanya yang kocak dan seenaknya sendiri itu membikin ge¬mas dan marah lawan-lawannya. Apalagi begitu masuk kakek itu sudah mengobral pukulan dan tendangan yang sulit dihin¬darkan.
Sementara itu para prajurit Hun yang mengepung tempat tersebut menjadi be¬ringas. Mereka menjadi marah karena Mo Goat tertangkap musuh. Hampir saja me¬reka menyerbu ke dalam arena pertem¬puran, kalau Mo Hou tidak segera meng¬hentikan mereka. Mo Hou sangat meng¬khawatirkan keadaan adiknya. Dia takut orang buta itu akan membunuh Mo Goat.
"Bagus. Tampaknya kau yang memim¬pin pasukan ini. Siapakah namamu, Anak Muda? Apakah kau salah seorang dari panglima Raja Mo Tan?" Sambil tetap mencengkeram punggung Mo Goat, Pen¬dekar Buta bertanya kepada Mo Hou.
Mo Hou menggeram menahan marah. "Namaku Mo Hou, putera Raja Mo Tan. Memang aku yang memimpin pasukan ini. Nah, lepaskan adikku! Kalau tidak, pasu¬kanku akan segera membunuh teman-temanmu!"
Pendekar Buta mengangkat mukanya. Suaranya terdengar kaku ketika menjawab ucapan Mo Hou,
"Kalau benar-benar putera Raja Mo Tan, engkau tentu mengenal Bok Siang Ki, ketua partai Soa-hu-pai."
"Beliau adalah guruku, beliau telah diangkat menjadi Pendeta Agung Ulan Kili oleh ayahku."
"Pendeta Agung? Apakah dia telah menyelesaikan tingkat terakhir dari Pat-sian-ih-hoat? Dia sudah mahir menghi¬lang?"
Bukan main kagetnya Mo Hou. Orang buta di depannya itu seperti mengetahui segala hal tentang gurunya. Siapa dia?
"Kau... kau mengenal guruku? Siapa¬kah kau?"
"Sudahlah. Lebih baik kautanyakan sendiri kepada gurumu. Yang jelas guru¬mu tentu akan memperingatkan, agar kau tidak terlalu dekat dengan aku. Apalagi sampai melawan aku."
"Sombong sekali!"
Pendekar Buta menghela napas pan¬jang. "Sudahlah, perintahkan saja prajurit-prajuritmu menyingkir. Biarkan kami membawa Panglima Yap Kim keluar dari benteng ini. Di luar nanti akan kulepas¬kan adikmu."
"Tidak bisa! Lepaskan adikku, atau... kuperintahkan pasukanku membunuh ka¬lian semua!" Mo Hou berseru marah.
"Begitukah? Baik! Majulah! Akan kuremukkan dulu kepala gadis ini, baru kita berkelahi!" Pendekar Buta berseru pula. Tangannya diangkat ke atas, siap untuk menghajar kepala Mo Goat.
Pasukan Hun menjadi beringas lagi. e eka mengacung-acungkan senjata mereka dan siap untuk menerjang ke arena.
Sebaliknya Mo Hou menjadi bimbang. Wajahnya bertambah kusut.
"Pengecut! Kalau berani, lawanlah aku! Jangan berlindung di balik nyawa perempuan! Bertempurlah dengan aku! Satu lawan satu!" Akhirnya Mou Hou menjerit marah.
Pendekar Buta tertegun. "Kau menan¬tang aku? Wah, kau akan benar-benar dimarahi gurumu nanti."
"Diam! Lihat pukulanku!"
Mo Hou tidak dapat mengekang diri lagi. Tubuhnya melesat ke depan sambil mengayunkan kipasnya. Begitu bergerak dia sudah menggunakan tingkat akhir dari Pat-sian-ih-hoatnya. Tak seorang pun dari sekian ratus orang yang mengurung tem¬pat itu, yang dapat melihat dirinya. Se¬muanya mengira kalau tubuhnya hilang begitu saja. Kali ini Mo Hou memang ingin menunjukkan kesaktiannya.
Semua orang memang melihat bahwa Mo Hou menghilang. Tapi tidak demikian halnya dengan Pendekar Buta. Sebagai orang buta yang biasa mengandalkan perasaan dan indera tubuh selain mata¬nya, ia tetap dapat merasakan hembusan angin yang datang menerpa dirinya. Dan sentuhan angin lembut itu sudah cukup memberitahukan dia, bahwa ada orang yang mendekat dan menyerang tubuhnya.
Tanpa melepaskan tubuh Mo Goat, Pendekar Buta mengelak ke samping, lalu membalas dengan menyodokkan siku ka¬nannya ke belakang. Mo Hou yang tidak terlihat oleh mata itu terperanjat, dan cepat-cepat melenting menjauhkan diri. Sesaat pemuda itu merasa heran melihat lawannya tidak terpengaruh oleh ilmunya. Namun sebentar kemudian ia menjadi sadar pula akan kebodohannya. Lawannya buta, sehingga tidak ada bedanya, dirinya kelihatan atau tidak.
Mo Hou lalu berputar sambil menotok bahu kanan Pendekar Buta. Wusss! Kipas¬nya yang tergulung itu menyambar bahu lawannya. Sengaja dia menyerang sambil berputar untuk mengurangi getaran udara yang keluar dari kipasnya.
Sambil mengempit tubuh Mo Goat di ketiaknya, Pendekar Buta merendahkan tubuhnya. Betapapun kecil getaran itu, ternyata Pendekar Buta masih dapat menciumnya. Bahkan sambil merendah pendekar itu masih sempat menyabetkan rambut panjangnya ke leher Mo Hou. Taaaar! Ujung rambut itu melecut di udara, karena Mo Hou keburu mengelak ke samping.
Demikianlah mereka bertempur se¬makin lama semakin sengit. Dan per¬tempuran itu sama sekali tidak dime¬ngerti oleh orang lain. Bagi mereka Pen¬dekar Buta itu bermain silat sendirian. Kalaupun sekali-sekali tubuh Mo Hou itu kelihatan, mereka juga tidak dapat melihatnya dengan jelas.
Namun bagi Panglima Yap Kim dan Pangeran Liu Wan Ti, pertempuran itu benar-benar mentakjubkan. Mereka me¬mang tidak dapat melihat Mo Hou, tapi mereka yakin bahwa Pendekar Buta itu sedang bertempur dengan Mo Hou. Oleh karena itu bagi mereka kesaktian Pen¬dekar Buta sungguh amat hebat. Betapa tidak? Ilmu sihir aneh >ang sempat membingungkan Put-pai-siu Hong-jin itu ternyata tidak berpengaruh apa-apa ter¬hadap Pendekar Buta. Padahal pendekar itu masih membawa tubuh Mo Goat pula.
Sementara itu situasi pertempuran di arena yang lain tetap belum berubah. Souw Thian Hai dan anak-isterinya tetap dikepung Bayan Tanu bersama pasukan pilihannya. Pasukan khusus yang berke¬lompok dan berlapis-lapis sehingga sulit sekali ditembus.
Demikian pula dengan keadaan Tio Siau In dan Yok Ting Ting. Walaupun sudah dibantu Chin Tong Sia dan Put-pai-siu Hong-jin, mereka tetap belum bisa keluar dari kepungan. Memang, ke¬datangan Put-pai-siu Hong-jin dan Chin Tong Sia sangat menolong mereka. Te¬tapi pasukan khusus itu memang kuat se¬kali. Untunglah dengan gaya bertempur Put-pai-siu Hong-jin yang angin-anginan itu, pasukan pilihan itu tidak berani ter¬lalu mendesak.
Hanya pertempuran A Liong yang mulai menampakkan hasilnya. Walau se¬orang diri harus menghadapi enam jago pilihan dari Raja Mo Tan, tapi akhirnya
pemuda itu dapat menguasai lawannya. Ilmu Pedang Pelangi yang belum pernah terlihat di dunia persilatan itu ternyata dapat menggempur Barisan Enam Hantu. Satu persatu Barisan Enam Hantu yang sangat ditakuti orang itu terlepas dari kelompoknya.
Mula-mula Ang-kui atau Si Hantu Merah, hantu paling muda dalam kelom¬pok itu, terpental keluar dari barisannya. Hantu Merah itu tergores pedang pelangi pada betisnya, yaitu pada saat dia dan saudaranya gagal menangkis pedang A Liong.
Barisan Enam Hantu itu semakin ka¬cau. Hek-kui segera berteriak mengatur barisan mereka. Ui-kui yang terluka le¬ngannya segera menempatkan diri di belakang barisan. Sedangkan Ang-kui yang terluka betisnya, tidak mampu bang¬kit lagi. Darah mengalir deras dari luka itu.
"Kalian tetap belum mau menyerah Baik! Akan kupotong kaki kalian satu persatu!" A Liong mengancam.
Benar juga. Belum habis pemuda itu mengucapkan ancamannya, pedang beng¬koknya telah terlepas dari tangan, dan terbang berputar-putar di udara. Ketika kemudian A Liong mengalihkan perhatian mereka dengan pukulan jarak jauhnya, tiba-tiba pedang itu menukik kembali dan menyambar Ui-kui di belakang barisan.
"Aduh...!" Hantu Kuning itu menjerit kesakitan.
Ui-kui jatuh ke tanah sambil meme¬gangi lengan kirinya. Kini kedua lengan¬nya tidak dapat digunakan lagi. Pisaunya juga hilang entah ke mana.
Kini tinggal empat orang saja diantara Lok-kui-tin yang masih dapat bertempur. Hek-kui saling pandang dengan saudara-saudaranya. Mereka mulai berpikir untuk mengerahkan pasukan khusus.
Namun sebelum Hek-kui memberi pe¬rintah, tiba-tiba terdengar suara jeritan Mo Hou! Ketika Lok-kui-tin memandang ke arena itu, mereka menyaksikan dua majikan mudanya telah berada dalam genggaman Pendekar Buta!
"Apa... a-apa yang terjadi?" Hek-kui memekik bingung.
A Liong juga melihat ke tempat itu. Dia melihat seorang lelaki berpakaian tukang kebun mencengkeram punggung Mo Hou dan Mo Goat. A Liong juga diam saja ketika sisa-sisa Lok-kui-tin itu menghampiri Pendekar Buta.
Mo Hou tidak berkutik di tangan Pendekar Buta. Dia sama sekali tidak menduga kalau lawannya memiliki ilmu silat aneh, yang dapat mengecoh dirinya, sehingga dia terjebak pula seperti adik¬nya.
Ternyata Pendekar Buta itu dapat membuat tangan atau kakinya lebih pan¬jang daripada semestinya. Bahkan yang lebih mengerikan lagi, Pendekar Buta itu dapat melepas engsel sendinya, sehingga lengan dan kakinya dapat ditekuk dan di¬gerakkan ke segala arah.
Mo Hou juga terjebak ketika suatu saat berada di belakang Pendekar Buta. Sama sekali dia tak menyangka ketika tiba-tiba tangan pendekar itu menghan¬tam ke belakang seperti layaknya kalau tangan itu menghanam sasaran di muka¬nya. Ketika dia mencoba menghindar, ternyata lengan itu bertambah panjang, sehingga dengan mudah menotok urat di lehernya.
"Nah! Kau kalah, Anak Muda. Kau bukan tandinganku. Mungkin hanya guru¬mu yang dapat melayani aku. Itu pun kalau ilmunya sudah lebih baik daripada dulu." Pendekar Buta berkata ketus.
"Apa maumu sekarang?" Mo Hou ber¬seru kesal.
Pendekar Buta membawa kedua ta¬wanannya itu ke. depan Tio Ciu In. Ke¬tika Hek-kui bersama tiga saudaranya mengejar dan mengurung, Pendekar Buta menghardik mereka.
"Semuanya berhenti bertempur! Lihat...! Nyawa pimpinan kalian berada dalam genggamanku! Apakah kalian mengingin¬kan kematian mereka?"
Suara Pendekar Buta itu benar-benar mengejutkan prajurit Hun. Semuanya berhenti bertempur. Termasuk juga Bayan Tanu, Ho Bing, dan seluruh pasukan khu¬sus mereka.
Para tokoh persilatan yang tersisa segera berkumpul di dekat Pangeran Liu Wan Ti. Mereka menunggu perintah Pen¬dekar Buta.
"Suhu! Para pendekar telah berkumpul di sini. Apa yang harus kami lakukan?" Tio Ciu In bertanya kepada gurunya.
Pendekar Buta mengangguk, kemudian membentak Hek-kui dan Pek-kui yang berdiri di depannya.
"Bagus! Nah, kalian dengar itu? Seka¬rang perintahkan kepada pasukan kalian untuk mundur! Aku tidak main-main! Ke¬dua orang ini menjadi jaminannya!"
"Hek-kui...! Kau...!" Mo Hou membuka mulutnya.
Tapi belum juga habis ucapan itu keluar dari mulutnya, Pendekar Buta sudah lebih dulu menotok urat gagunya.
Hek-kui bertukar pandang dengan Pek-kui. Mereka merupakan pimpinan tertinggi setelah Mo Hou dan Mo Goat. Dengan tertangkapnya kedua pimpinan mereka itu, otomatis kini mereka berdua yang harus menentukan jalan pertempur¬an selanjutnya.
"Cepat lakukan! Atau kalian ingin gadis ini yang kubunuh lebih dahulu?
Baik...!" Pendekar Buta menggertak sam bil mengangkat Mo Goat di atas kepalanya.
Pendekar Buta sengaja mencengkeram jalan darah pao-si-hiat di dekat tulang punggung Mo Goat, sehingga gadis itu meringis kesakitan.
Hek-kui gemetar. Pikirannya menjadi bingung: Dia dan saudara-saudaranya tak mungkin bisa hidup bila kedua putera Raja Mo Tan itu mati. Tapi kalau me¬reka melepaskan Panglima Yap Kim dan Pangeran Liu Wan Ti, mereka akan men¬dapat marah pula.
"Baiklah! Akan kami lakukan!" Tiba-tiba Pek-kui berseru.
"Pek-kui...?" Hek-kui berbisik pelan.
"Apa boleh buat. Masih ada waktu lain untuk membunuh mereka. Tapi tak ada kesempatan kedua bila dua junjungan kita itu mati. Bagaimana pendapatmu, Hek-kui?" Pek-kui menarik napas pedih.
Hek-kui mengangguk-anggukkan kepa¬lanya. Tapi bibirnya tetap terkatup ra¬pat.
Pendekar Buta bernapas lega. Tangannya turun kembali.
"Kalau begitu lekas kalian perintahkan mereka untuk memberi jalan kepada kami! Siapkan pula dua perahu besar dan satu sampan kecil untuk kami!"
"Suhu...?" Tio Ciu In mendekati guru¬nya.
"In-ji! Kumpulkan teman-temanmu! Minta kepada mereka untuk mengikut di belakangku!"
Pek-kui dan Hek-kui terpaksa menuruti perintah Pendekar Buta. Mereka menyi¬bakkan prajurit Hun yang memenuhi tempat itu. Mereka juga harus mengha¬langi serta membujuk keberingasan praju¬rit Hun. Mereka benar-benar tidak meng¬inginkan orang buta itu membunuh Mo Hou dan Mo Goat.
Dalam perjalanan ke pintu gerbang itulah Tio Siau In bertemu dengan A Liong. Betapa gembiranya gadis itu, se¬hingga Chin Tong Sia menjadi iri meli¬hatnya.
Sebaliknya pertemuan antara Kwe Tek Hun dengan Pangeran Liu Wan Ti dan Tio Ciu In terasa kaku dan kikuk, karena Liu Wan yang mereka kenal dulu ter- i nyata adalah Pangeran Liu Wan Ti.
Ketika melewati kumpulan tawanan yang masih hidup, A Liong berteriak, "Locianpwe! Bagaimana dengan teman-teman kita yang tertawan itu?"
"Bawa mereka!" Pendekar Buta ber¬seru tegas.
"Baik!"
A Liong melesat pergi, diikuti Chin Tong Sia dan Kwee Tek Hun. Bertiga , mereka mengurus para pendekar persilat¬an yang tertawan itu dan membawa me¬reka "pergi. Para pendekar yang terluka dipapah atau digendong perraekar lainnya.
Akhirnya rombongan itu menjadi ba¬nyak sekali. Mungkin lebih dari tiga pu¬luh orang. Mereka berbondong-bondong pergi ke pintu gerbang benteng. Setiap kali melewati mayat-mayat para pende¬kar yang tewas mereka berdesah sedih.
Matahari mulai bergulir ke barat. Pa¬nasnya benar-benar menyengat ubun-ubun. Di depan pintu gerbang, di bawah -tang¬ga, telah disiapkan dua perahu besar dan satu sampan kecil. Tampak belasan prajurit Hun berjaga-jaga di sekitar perahu tersebut.
"Aku mendengar suara air. In-ji, apa¬kah kita telah sampai di pintu gerbang benteng? Apakah mereka telah menyiap¬kan perahu untuk kita?"
"Sudah, Suhu. Ada belasan prajurit yang menjaga perahu itu."
"Suruh mereka pergi!"
Hek-kui memberi isyarat kepada pra¬jurit-prajurit itu agar pergi meninggalkan perahu. A Liong dan Chin Tong Sia se¬gera meloncat* ke depan mendahului yang lain. Mereka memeriksa perahu tersebut lebih dahulu.
"Bagaimana, Saudara Chin? Baik dan aman?" Souw Giok Hong berseru kepada Chin Tong Sia.
"Marilah! Semuanya beres!" A Liong menjawab seruan itu.
"Nanti dulu...!" Pek-kui berseru dan melompat ke depan Pendekar Buta. "Ba¬gaimana dengan kedua pimpinan kami itu? Kami telah menuruti permintaanmu. Sekarang kau harus menepati janji pula. Bebaskan mereka!"
Pendekar Buta menggeram. "Jangan takut. Aku tentu akan membebaskan me¬reka. Tapi aku juga tidak sebodoh yang kau kira. Kami baru melepas mereka se¬telah semuanya pergi."

"Suhu...? Engkau tidak pergi bersama-sama kami?" Tio Ciu In memegangi lengan gurunya.

"Jagalah dirimu baik-baik, In-ji. Aku tentu mencarimu nanti. Nih! Ambil sapu¬tangan ini! Berikan kepada Pangeran Liu Wan Ti dan Panglima Yap Kim setelah semuanya aman! Mengerti....?"

"Sudanlah. Ikuti saja perintahku."

A Liong maju ke depan. "Locianpwe, biarlah aku menemanimu. Siapa tahu mereka berlaku curang?"

"Tidak usah, Anak Muda. Kau pergi saja bersama yang lain."

Para pendekar itu., mengikuti Panglima Yap Kim dan Pangeran Liu Wan Ti ke dalam perahu. Mereka dibagi menjadi dua bagian, dan masing-masing mendapat satu perahu. Panglima Yap Kim dan Pangeran Liu Wan Ti berada dalam satu perahu, sementara Souw Thian Hai dan keluarga¬nya di perahu lainnya. Mereka segera berangkat setelah mengucapkan terima kasih kepada Pendekar Buta.

Beberapa waktu kemudian dua perahu besar itu telah menghilang dari pandang¬an. Kini tinggal Pendekar Buta yang ma¬sih tinggal di tempat itu. Dia tinggal sendirian, dikelilingi Hek-kui dan sau¬dara-saudaranya. Bahkan ribuan prajurit Hun yang ada di dalam benteng itu ikut mengepung pula.

Perlahan-lahan Pendekar Buta mem¬bawa Mo Hou dan Mo Goat menuruni SJahgga. HwABi dan samlara-saudaranya mengikuti dari belakang. Sementara itu Bayan Tanu dan pasukannya tetap meng¬awasi dari kejauhan. Semuanya siap un¬tuk menyerang Pendekar Buta.

Sampai di bawah Pendekar Buta me¬masang telinganya. Suara kecipak air menjilat kayu, memberi petunjuk dimana sampan kecil itu berada. Dan pendekar itu segera melompat ke dalam sampan.

"Nih, terimalah!" Pendekar itu berseru sambil melemparkan tubuh Mo Hou dan Mo Goat ke atas tangga.

Selesai mengembalikan tawanan pen¬dekar itu rnenepukkan tangannya ke da¬lam air. Plak! Plak! Plak! Tiba-tiba sam¬pan kecil itu terbang ke tengah sungai. Ratusan anak panah segera bertaburan dari atas tembok, memburu sampan itu. Ternyata para prajurit Hun yang berada di atas tembok telah menyiapkan serang¬an anak panah.

Pendekar Buta segera melepas bajunya dan menangkis hujan anak panah itu. Cuma sebentar, karena hujan panah itu segera berhenti. Sampan itu telah berada di luar jangkauan anak panah.

Sementara itu perahu yang ditumpangi Panglima Yap Kim dan Pangeran Liu Wan Ti melaju terus tanpa berhenti. Se¬muanya lupa lapar, lupa haus, dan lupa lelah. Yang mereka pikirkan hanya me¬nyingkir jauh-jauh dari benteng itu.

Akhirnya mereka mendarat di sebuah dusun di tepian sungai. Penduduknya me¬nyebut dusun itu Ui-kang-cung.

Kepala dusun Ui-kang-cung segera menyongsong dan menjamu mereka. Apalagi ketika dia tahu bahwa yang datang adalah Pangeran Liu Wan Ti dan bekas Panglima Yap Kim. Daerah itu memang daerah para pengagum Panglima Yap Kim.

"Pangeran...! Kedatangan Pangeran di dusun ini sungguh suatu keberuntungan yang tidak kami sangka sebelumnya. Ba¬gaimana tidak? Kebetulan sekali dusun ini menjadi ajang perjuangan para pende¬kar yang ingin menumbangkan kekuasaan Ouyang Goanswe." Kepala Dusun itu me¬lapor kepada Liu Wan Ti.

"Menjadi ajang perjuangan para pen¬dekar...?" Pangeran Liu Wan Ti mengerutkan keningnya.

"Benar, Pangeran. Akan hamba tunjuk¬kan tempat mereka bila Pangeran meng¬hendaki."

Pangeran Liu Wan Ti mengawasi Pa¬nglima Yap Kim untuk meminta penda¬pat. Dan panglima itu segera mengang¬gukkan kepalanya.

"Lebih baik kita melihatnya, Pange¬ran."

Demikianlah, Kemala Dusun itu lalu membawa mereka ke suatu tempat di pinggiran sungai. Di sana tampak ribuan tenda memenuhi tepian Sungai Huang-ho.

"Gila! Ini benar-benar kekuatan yang maha dahsyat!" Panglima Yap Kim ber¬desah sambil menggeleng-gelengkan kepalanya.

"Siapa yang memimpin para pejuang ini?" Pangeran Liu Wan Ti bertanya ke¬pada Kepala Dusun Ui-kang-cung.

"Jenderal Yo Keng, Pangeran."

Pangeran Liu Wan Ti terkejut. "Kau¬maksudkan... Jenderal Yo Keng dari perbatasan itu?"

"Benar, Pangeran. Dulu beliau diutus Kongsun Goanswe ke kota raja untuk menemui Menteri Kui Hua Sin. Tapi sampai di istana beliau malah hampir dibunuh oleh Auyang Goanswe. Akhirnya Jenderal Yo Keng pulang, dan di sepan¬jang jalan beliau mengumpulkan para pejuang yang ingin menumbangkan keku¬asaan Auyang Goanswe. Sekarang pejuang yang bergabung dengan Jenderal Yo Keng telah mencapai ribuan."

Demikianlah, malam itu juga Pangli¬ma Yap Kim dan Pangeran Liu Wan Ti menemui Jenderal Yo Keng. Bukan main gembiranya jenderal itu karena sejak dulu ia sangat mengagumi Panglima Yap Kim maupun Pangeran Liu Wan Ti. Bah¬kan kedatangannya ke kota raja dulu juga untuk memberitahukan munculnya Pangeran Liu Wan Ti di perbatasan. ?

Ketika berita kedatangan Panglima Yap Kim dan Pangeran Liu Wan Ti itu diumumkan kepada para pejuang, mereka menyambut dengan gegap gempita. Dan jadilah malam itu mereka berpesta-pora menyambut kehadiran Panglima Yap Kim dan Putera Mahkota.

Kebetulan malam itu bulan muncul dengan terangnya. Maka dengan disaksi¬kan oleh gemerlapnya bintang di langit, Panglima Yap Kim dikukuhkan sebagai pimpinan dari para pejuang itu. Semen¬tara para pendekar yang lain, seperti Hong-gi-hiap Souw Thian Hai, Kwe Tai-hiap, Put-pai-siu ? ^ng-jin, A Liong, Tio Ciu In dan lain-lainnya, ikut membantu pula dari belakang.

Para pendekar itu lalu berkumpul di tepian sungai. Mereka bergerombol sam¬bil menikmati aliran sungai di atas bebatuan.

"Sayang sekali Pendekar Buta tidak ikut hadir di tengah-tengah kita. Di ma¬na dia sekarang?" Panglima Yap Kim bergumam perlahan.

"Benar, Saudara Yap. Kita banyak berhutang budi kepadanya. Tanpa perto¬longannya, kita semua sudah mati di dalam benteng itu. Ilmu silatnya benar-benar hebat».." Sow Thian Hai berkata pula.

"Tapi omong-omong... rasanya aku pernah mengenal gaya ilmu silatnya. Tapi aku benar-benar sudah lupa. Apakah Souw Tai-hiap juga berpikir demikian?"

"Entahlah. Semuanya serba cepat, dan aku sendiri sedang repot menghadapi la¬wan, sehingga tidak memperhatikan ilmu silatnya."

"Hai...!" Tiba-tiba Panglima Yap Kim tersentak kaget. "Aku ingat sekarang! Ilmu silat itu... ilmu silat itu...? Ah, dia... Pangeran Liu Yang Kun!"

"Pangeran... Liu Yang Kun?" Semua¬nya berseru kaget.

"Benar, Souw Tai-hiap. Sekarang aku ingat ilmu silat yang digunakan untuk menangkap putera Raja Mo Tan itu. Na¬manya... Kim-coa-ih-hoat (Baju Ular Emas)! Yah, benar... namanya Kim-coa-ih-hoat! Hanya Pangeran Liu Yang Kun saja di dunia ini yang memiliki ilmu silat itu."

"Benarkah? 3adi... dia masih hidup?"

"Wah, sungguh menyenangkan kalau dia masih hidup. Kita dapat memperte¬mukan Enci Lian Cu dengan suaminya." Sekonyong-konyong Souw Giok Hong ber¬sorak gembira sambil memeluk ibunya.

"Eh, aku lupa membawa titipan sapu¬tangan dari guruku!" Tio Ciu In ikut-ikutan berteriak.
Gadis itu merogoh sakunya dan me¬ngeluarkan saputangan putih. Saputangan itu lalu diserahkan kepada Pangeran Liu Wan Ti.

"Maaf, Pangeran. Aku benar-benar lupa. Guruku berpesan untuk memberikan saputangan ini kepadamu atau kepada anglima Yap Kim."

Pangeran Liu Wan Ti menerima saputangan itu dengan perasaan heran. Tapi jantungnya segera berdegup keras ketika melihat tulisan di atas saputangan itu. ,

Adikku,
Kau yang berbakat mengurus negara.
Kuserahkan segalanya kepadamu.
Kakakmu,


"Benar. Dia... dia memang Pangeran Liu Yang Kun!" Panglima Yap Kim berdesah panjang.

Sejenak pertemuan itu menjadi sunyi, masing-masing memikirkan sepak terjang pangeran yang amat sakti itu. Hanya golongan muda seperti A Liong yang tidak tahu cerita tentang Pangeran Liu Yang Kun.


"Wah, tampaknya ilmu silat Pangeran itu tinggi sekali, ya?" A Liong yang duduk di dekat Tio Siau In itu berkata perlahan.


"Tentu saja. Bagaimana mungkin dia bisa menyelamatkan kita kalau ilmusilat-nya biasa-biasa saja. Lalu... bagaimana dengan keinginanmu dulu? Katanya kau ingin mendaki Gunung Hoa-san? Bagai¬mana? Jadi tidak?" Tio Siau In tersenyum menggoda.

“Wah, Cici. Kau ini baru bertemu sudah mengajak berantem”

Demikianlah, mulai malam itu Pangran Liu Wan Ti dan Panglima Yap Kim bersumpah untuk melawan kekuasaan Auyang Goanswe. Mereka bahu-membahu memimpin para pejuang demi menegakkan keadilan di negeri mereka.

Tamat (walau belum tamat)

Jilid 27


PENDEKAR PEDANG PELANGI 27


Jilid 27

KEBERINGASAN mereka justru di¬manfaatkan oleh pasukan Hun. Para komandan pasukan Hun yang cerdik itu segera mengatur siasat. Mereka meng¬giring pendekar-pendekar itu ke dalam jebakan, sehingga banyak diantara pendekar yang jatuh ke dalam perangkap. Mereka terpisah dari kawan-kawannya dan terkurung dalam kepungan. Dan me¬reka segera dikeroyok dan dicincang seperti binatang buruan.


Korban semakin banyak. Baik di pihak para pendekar, maupun di pihak pasukan Hun. Namun karena jumlah pasukan Hun lebih banyak, maka pasukan para pende¬kar itu semakin terdesak.

Matahari naik semakin tinggi. Panas¬nya mulai membakar arena. Bau darah dan keringat' bercampur dengan kepulan asap dan debu. Pertempuran sudah ber¬langsung hampir setengah hari. ,
Diam-diam Liu Wan menjadi khawatir. Walaupun tidak dapat melihat seluruhnya, tapi ia merasa kesulitan berada di pihak¬nya.

"Eh? Mengapa Souw Hong Lam belum juga muncul? Kemana dia?"

Tampaknya kekhawatiran Liu Wan itu dirasakan pula oleh Yap Kim. Bekas panglima yang mahir ilmu perang itu sadar pula bahwa mereka dalam kesulitan. Dari suara terompet dan genderang yang terdengar, sudah dapat ditebak apa yang terjadi.

Tapi mereka bertiga tidak dapat ber¬buat banyak. Keenam bentuk Mo Hou itu hampir tidak pernah memberi kesempatan untuk berpikir. Mereka benar-benar dalam kesulitan. Bahkan berkali-kali mereka ha¬rus jatuh bangun untuk menghindari se¬rangan Mo Hou..

Baik Liu Wan maupun Si Pelayan Dapur sudah tidak dapat lagi melindungi alat penyamaran mereka. Satu persatu alat penyamaran mereka terlepas.

"Saudara A Liong...!?" Liu Wan men¬coba memanggil A Liong yang bertempur dengan barisan Lok-kui-tin.

"Aku di sini, Locianpwe!"

Pemuda itu hanya mampu menjawab, tapi tidak dapat berbuat apa-apa. Dia sendiri sedang berjuang menghadapi ba¬risan Liok-kui-tin. Mereka bertempur di atas tembok dan genting. Mereka ber¬gerak cepat sekali. Berputar-putar bagai¬kan kelompok hantu yang berpindah dari satu tempat ke tempat lain. Begitu kuat¬nya angin pukulan mereka, sehingga debu dan daun beterbangan ke segala penjuru. Membuat orang-orang pada menyingkir dan menjauhi tempat itu.

Sementara itu keenam bayangan Mo Hou sudah dapat menguasai Yap Kim bertiga. Keenam buah kipas baja itu me¬layang-layang di sekitar lawannya. Pe¬muda sakti itu masih menunggu saat yang tepat untuk memilih mangsanya. Dan hal itu memang segera ia lakukan.

"Aduuuh!"

Kipas Mo Hou menyerempet punggung dan kepala Si Pelayan Dapur kemudian menghajar dada Liu Wan. Begitu kuatnya sehingga Liu Wan memuntahkan darah segar.
Yap Kim bergegas melepaskan pukul¬an petirnya untuk menahan serangan berikutnya. Dia benar-benar melepaskan seluruh kemampuannya dan tidak mem¬perhitungkan lagi kesehatannya. Dia tidak peduli lagi kalau kekuatannya akan ter¬kuras habis.

Dhuuuuar....!

Pukulan itu memang dapat mendorong bayangan Mo Hou ke belakang. Tapi ber¬samaan dengan itu tubuh Liu Wan dan Si Pelayan Dapur juga jatuh ke tanah.

Topi dan baju tebal Si Pelayan Dapur terkoyak dan terlepas. Begitu pula de¬ngan bantal dan jenggot Liu Wan. Alat penyamaran kedua orang itu sudah tidak berfungsi lagi.
"Heiii???" Mo Hou dan Yap Kim ber¬seru kaget. Otomatis Mo Hou dan kelima kembarannya melompat mundur.
Yap Kim ternganga menyaksikan wa¬jah Liu Wan dan Si Pelayan Dapur. Tiba-tiba saja mereka berdua berubah menjadi seorang pemuda tampan dan seorang gadis cantik. Dan wajah pemuda itu segera dikenal oleh Yap Kim.

"Pangeran Liu Wan Ti....?"

"Apa? Pangeran?" Seruan Yap Kim itu segera diikuti pula .oleh jeritan gadis cantik Si Pelayan Dapur yang tidak lain adalah Tio Ciu In itu.
Segumpal darah segar tiba-tiba me¬nyembur lagi dari mulut Liu Wan atau Pangeran Liu Wan Ti. Pangeran Mahkota yang telah menghilang hampir sepuluh tahun itu tampak pucat sekali. Pukulan gagang kipas fcju telah melukai isi dada¬nya. Meskipun demikian pemuda itu ma¬sih bisa tersenyum kepada Tio Ciu In.
"Nona Tio...? Aaaah!"
"Liu Toako? Kau benar-benar Pange¬ran Liu Wan Ti?"
Tak terduga Mo Hou tertawa gembira. Karena kelima kembarannya juga ikut tertawa, maka suaranya menjadi riuh se¬kali.
"Hahaha... aku benar-benar tidak me¬nyangka kalau Pangeran Mahkota yang dicari-cari itu ada di sini! Sungguh kebetulan sekali! Sekali tepuk kudapatkan dua harimau sekaligus! Hmmmh!"
Munculnya Pangeran Liu Wan Ti di tempat itu memang mengejutkan semua orang. Lima tahun lamanya pangeran itu dicari dan ditunggu-tunggu kedatangan¬nya. Tak terduga pangeran itu muncul dalam situasi yang sulit seperti itu.
Keenam bayangan Mo Hou itu kembali bergabung menjadi satu lagi. Dengan wa¬jah puas pemuda itu memandang ketiga lawannya. Mereka sudah tak berdaya lagi. Pangeran Liu Wan Ti terluka dalam. Tio Ciu In terluka punggungnya. Sedang¬kan Yap Kim berdiri lemah di tempatnya. Bekas panglima itu benar-benar kehabisan tenaga setelah melepaskan pukulan petir¬nya.
"Nah! Kuberi waktu untuk berunding! Siapa diantara kalian yang ingin kupeng-gal kepalanya lebih dahulu? Panglima Yap Kim? Atau... Pangeran Liu Wan Ti?"
"Jangan sombong! Aku belum .menye¬rah! Lihat pukulan...!" Tiba-tiba Tio Ciu In melompat sambil "menyerang Mo Hou.
Mo Hou berputar sambil melangkahkan kakinya ke belakang. Tubuhnya lalu meliuk ke samping sambil menyambar pinggang gadis itu.
Tentu saja Tio Ciu In tidak ingin ce¬laka. Dengan gesit ia menggeliat ke samping. Di lain saat tangannya telah memegang sepasang pedang pendek, dan langsung menyerang Mo Hou lagi. Lagi-lagi terasa udara menjadi padat sehingga Mo Hou sulit bernapas.
"Gila! Tampaknya kau mempunyai hu¬bungan perguruan dengan mendiang Bit-»!" Pemuda itu menggeram marah, fah, benar! Gadis itu memang meng-jnakan ilmu silat Bit-bo-ong! Tadi bo¬cah itu menggunakan Kim-liong Sin-kun, sekarang Pat-hong-sin-ciang! Apakah dia murid iblis itu?" Walaupun dalam keada¬an lemah Yap Kim masih juga berpikir tentang Tio Ciu In.
Mo Hou menghentakkan tenaganya. Sekejap tekanan udara itu mengendor. Dan kesempatan itu segera ia gunakan sebaik-baiknya. Ia melompat ke kiri sam¬bil menebaskan kipasnya ke tangan Tio Ciu In.
itu nyaris memotong pergelangan tangan Tio Ciu In. Untung dengan sisa-sisa tenaganya gadis itu berhasil meng¬elak. Gerakannya cepat bukan main.
Tio Cu In tidak mau memberi kesem¬patan pada lawannya. Walau punggungnya terasa sakit, tapi dia berusaha mati-ma¬tian untuk menahannya. Dia tak ingin pemuda itu membunuh Panglima Yap Kim dan Pangeran Liu Wan Ti.
Darah mulai merembes membasahi punggung Tio Cu In. Luka akibat goresan kipas itu mulai mengeluarkan darah. Un¬tunglah dalam penyamarannya tadi dia mengenakan pakaian berlapis-lapis, hingga sabetan kipas lawan lebih banyak mengiris pakaian daripada kulit punggungnya!
Selama tinggal di dalam gua Tio Ciu In mendapat banyak pelajaran dari Si Pendekar Buta. Pendekar berambut pan¬jang itu benar-benar memiliki ilmu silat yang sangat tinggi. Bahkan menurut Tio Ciu In, ilmu silat Pendekar Buta itu masih berada di atas Toat-beng-jin atau Lo-jin-ong!
Kini ilmu silat Tio Ciu In memang sudah melampaui Liu Wan. Tapi ilmu yang dia dapatkan itu ternyata masih jauh dari cukup untuk melawan Mo Hou. Putera Raja Mo Tan itu memang benar-benar hebat sekali.
Beberapa kali gadis itu terdorong mundur bila harus beradu tenaga dengan lawannya. Pedang pendeknya selalu ber¬getar bila beradu dengan kipas Mo Hou. Dan rasanya ia semakin sulit memper¬tahankan pedang itu.
"Lihatlah! Aku tak perlu memanggil enam orang kembaranku untuk mering¬kusmu! Bahkan sebenarnya aku juga tidak perlu menggunakan kipas ini untuk me-ngalahkanmu! Satu tangan kosong saja sudah cukup untuk membunuhmu!"
Tio Ciu In diam tak menjawab. Pe¬muda itu memang sangat sombong. Tapi kenyataannya memang benar. Dalam ke¬adaan terluka seperti sekarang, ia me¬mang tak lebih dari seekor anak ayam yang berusaha keras untuk melawan in¬duknya.
"Aduuuh!"
Sekali lagi Tio Ciu In memekik, kipas Mo Hou menyambar lengan kanannya dan hampir saja memutuskan urat nadinya, darah merembes keluar bersamaan dengan terlepasnya pedang yang tergengam di dalam tangan itu.
Lengan itu terasa nyeri dan sulit digerakkan, sementara luka di punggungnya juga semakin banyak mengeluarkan darah.
“Berdoalah! Tampaknya…. Engkaulah yang pertama akan mati oleh kipasku!” Mo Hou menggeram sambil mengangkat kipasnya tinggi-tinggi.
Kipas terbuat dari baja tipis itu berkelebat, terdengan suara mendesing saat kipas itu menyambar leher Tio Ciu In dan kali ini gadis itu memang tidak bisa berbuat banyak, walaupun masih ada pedang di tangan kirinya, tetapi luka di tangan dan punggunya membuat ia tidak leluasa menyalurkan tenaga dalamnya, satu-satunya jalan yang dapat dilakukan oleh Tio Ciu In hanya mengelak, itu pun hanya dapat dilakukan dengan cara melemparkan diri ke belakang dan ketika hal itu benar-benar dilakukannya maka sabetan kipas itu memang luput mengenai lehernya, Namun cara menghindar itu juga membuat posisi Tio Ciu In menjadi semakin sulit, tubuh Tio Ciu In terlentang diatas tanah, dengan demikian pertahanannnya menjadi terbuka dan otomatis dia tak bisa berbuat apa-apa menghadapi serangan Mo Hou berikutnya.
“Liu Toako…..!” tak terasa bibir gadis itu bergetar.
“nona Tio!” Liu Wan mencoba bangkit tapi segera jatuh kembali, wajahnya semakin pucat.
Mo Hou benar-benar membuktikan ancamannya, sekali lagi kipasnya menyambar ke leher Tio Ciu In, Wuuuu! Dan sekejap saja kipas itu sudah menempel di leher Tio Ciu In, namun pada saat yang sama seleret sinar merah tiba-tiba membentur daun kipas itu. Duk! Demikian kuatnya tenaga yang terkandung dalam sinar merah itu , sehingga kipas itu melenceng dan hampir terlepas dari gengaman Mo Hou!.
Mo Hou terkejut sekali. Terkejut dan marah. Dan dalam kemarahannya kekuat¬an ilmu sihir pemuda itu muncul dengan sendirinya! Wussss! Tiba-tiba saja pemuda gagah itu berubah menjadi mahluk yang sangat mengerikan!
Tubuh Mo Hou berkembang menjadi dua kali lipat besarnya. Sementara wa¬jahnya yang tampan itu berubah menjadi kasar dan berbulu lebat. Bahkan dari sela-sela giginya yang berubah menjadi tonggos itu menetes darah segar!
"Ooooh....???"
Tidak seorang pun yang tidak kaget menyaksikan pemandangan itu. Tidak ter¬kecuali Souw Hong Lam, orang yang baru saja datang dan menyelamatkan jiwa Tio Ciu In. Pemuda dari keluarga Souw itu sama sekali tidak menduga kalau totokan sinar merahnya membuat Mo Hou ber¬ubah menjadi raksasa.
"Souw-heng, awas...! Itu hanya ilmu sihir!" Liu Wan memberi peringatan.
Mo Hou yang telah berubah bentuk menjadi seorang raksasa itu menggeram. Matanya melotot seolah-olah mau keluar dari lobangnya.
"Siapakah kau? Sungguh berani sekali kau mengganggu dan melawanku!"
Suara itu terasa menggelegar di teli¬nga Souw Hong Lam. Membuat pemuda itu tiba-tiba tertegun dan merasa ngeri tanpa sebab. Rasanya wajah itu sangat menyeramkan sekali. Demikian menakut¬kan sehingga Souw Hong Lam tidak ingin melihatnya.
"Kau... kau...?" Souw Hong Lam ter¬bata-bata. Lehernya bagai tercekik.
Sementara itu Mo Hou telah meng¬angkat kipasnya. Perlahan-lahan kipas itu terayun ke bawah, siap untuk membelah tubuh Souw Hong Cam;
"Saudara Souw....!"
A Liong yang masih sibuk dengan ke¬royokan Lok-hui-tin itu tiba-tiba berte¬riak. Suaranya bergetar penuh tenaga. Demikian kuatnya sehingga pengaruh sihir yang mencekam hati Souw Hong Lam menjadi goyah.
Kesempatan itu segera dimanfaatkan oleh Souw Hong Lam. Dengan menghen¬takkan seluruh kekuatannya pemuda itu mengibaskan pengaruh sihir yang mencengkeram pikirannya. Dan begitu penga¬ruh sihir itu hilang, dia cepat-cepat me¬lompat ke depan untuk menyelamatkan Tio Ciu In dan membawanya ke tempat aman.
Namun bantuan itu justru berakibat buruk terhadap A Liong sendiri. Begitu perhatiannya terpecah, maka pukulan Lok-kui-tin menerobos pertahanannya dan menggempur bertubi-tubi. Keenam Hantu itu memang benar-benar tokoh berkepan¬daian tinggi.
Buk! Buk! A Liong terlempar ke ba¬wah.' Demikian cepatnya pukulan Enam Hantu itu sehingga A Liong tak mampu lagi menghindar.
Tapi dengan cepat A Liong bangkit kembali. Wajahnya menjadi merah. Pu¬kulan itu sangat menyakitinya, meskipun tidak sampai melukai kulitnya.
"Ah, kalian sungguh pandai mengguna¬kan kesempatan. Kalau begitu aku juga tidak akan segan-segan lagi. Awas, aku akan menggunakan senjata untuk menye¬lesaikan perkelahian ini."
Keenam Hantu itu benar-benar kaget.
Pukulan mereka ternyata tidak mampu membunuh pemuda itu. Pukulan berganda yang dapat meremukkan seekor gajah itu ternyata tidak berarti apa-apa bagi A Liong. Ternyata pemuda itu hanya ter¬lempar dari tempatnya.
Ang-kui yang paling berangasan di-antara Lok-kui-tin tampak bengong, se¬mentara saudara-saudaranya yang lain juga saling pandang dengan dahi berkerut.
"Bocah itu mempunyai tenaga tersem¬bunyi yang sangat hebat dalam tubuhnya. Kita... kita harus berhati-hati mengha¬dapinya," Hek-kui berdesah perlahan.
Ketika A Liong menghunus pedang anehnya, maka keenam hantu itu melangkah mundur. Pedang atau pisau panjang berbentuk aneh itu memantulkan sinar beraneka-warna, seperti pancaran sinar pelangi yang merebak dan mem¬bungkus mata pedang itu.
"Hati-hati! Pedang kecil itu memiliki perbawa aneh! Kita tidak boleh melawan¬nya dengan tangan kosong! Kita harus melawan dengan p iau kita pula!" Pek-kui memperingatkan saudara-saudaranya.
A Liong menimang-nimang pedang pemberian gurunya, Soat Ban Ong dan Bok Kek Ong. Pedang itu memang bukan pedang biasa seperti kebanyakan pedang di daerah Tiong-goan. Pedang itu lebih menyerupai pisau panjang yang meleng¬kung setengah lingkaran. Mata pisaunya yang mengkilat bersih itu memantulkan sinar beraneka-warna.
"Kalian memang beruntung! Pedang ini jarang sekali kupergunakan. Hanya dalam keadaan sulit aku memakainya. Kini dia terpaksa kukeluarkan untuk me¬lawan kalian. Nah, berhati-hatilah! Biasa¬nya lawanku tidak ada yang tahan menghadapinya! Ayoh....!"
"Sungguh sombong sekali! Tampaknya engkau juga belum pernah mengenal kami, sehingga kau menjadi takabur. Ketahui¬lah... sekarang kau berhadapan dengan Lok-kui-tin dari Gurun Go-bi!" Hek-kui berkata penuh geram.
"Sayang sekali. Aku memang belum mengenal kalian, karena aku hanya se¬orang pemuda gelandangan bernama A Liong, yang tidak mempunyai tempat tinggal dan sanak keluarga. Hehehe....!"
Wajah Ang-kui menjadi merah. "Tutup mulutmu!" Teriaknya keras sambil men¬dahului menyerang. Pisau lebarnya ter¬ayun ganas ke ulu hati A Liong. Dan ke¬lima saudaranya segera mengikuti pula langkahnya. Mereka menyerang dari se¬gala jurusan.
Siiing! Siiing! Siiing! Trang! Trang!
Sekilas nampak sinar pelangi berkele¬batan di arena itu, kemudian lenyap setelah terjadi benturan beberapa kali.
Apa yang terjadi benar-benar menge¬cutkan hati Lok-kui-tin! Dalam, gebrakan pertama itu mereka dikejutkan oleh ke¬hebatan ilmu pedang A Liong. Baru kali ini mereka berenam menyaksikan ilmu pedang sekuat dan sehebat itu.
Memang dapat dimaklumi kalau Lok-kui-tin terkesima melihat ilmu pedang A Liong. Sudah puluhan tahun mereka ma¬lang melintang di dunia persilatan, baik di luar maupun di dalam Tembok Besar. Dan selama itu pula mereka menyaksikan berbagai macam ilmu silat yang aneh-aneh. Namun ternyata baru sekarang ini mereka menemukan ilmu pedang seperti kepunyaan A Liong. Ilmu pedang anak muda itu sama sekali tidak mengandalkan ketajaman pedangnya, tapi justru meman¬faatkan pengaruh dari kilatan sinar pe¬dang tersebut.
Ternyata A Liong mampu membuat pedang itu seperti terbakar dan selanjut¬nya mengeluarkan kilatan sinar beraneka warna. Dan kilatan sinar itu lalu melun¬cur dan memburu Lok-kui-tin berenam. Anehnya sinar itu mampu melukai kulit daging mereka. Bahkan pisau Lok-kui-tin tidak kuasa menghadapi sinar itu. Pisau mereka menjadi rusak ketika me¬nangkis sinar itu.
"Aaah! Sungguh berbahaya!" Pek-kui menyeringai kecut.
"Kita gunakan Barisan Lok-kui-tin!" Hek-kui memberi aba-aba.
"Benar! Sinar itu jangan dilawan de¬ngan kekerasan. .Harus kita hindari atau kita pantulkan dengan badan pisau kita! Hanya dengan cara itu kita dapat meren¬dam kekuatannya!" Ui-kui menanggapi ucapan saudaranya.
"Tetapi sinar yang memantul itu ma¬sih berbahaya buat kita. Salah-salah bisa mengenai kawan sendiri." Ang-kui berka¬ta dengan suara bergetar.
"Kalau begitu kita arahkan pantulan¬nya ke atas! Jangan sampai mengarah ke samping atau ke bawah!"
"Baiklah! Mari kita lakukan!" Pek-kui mengangguk.
A Liong membiarkan lawan-lawannya berbicara. Dia tetap tenang saja di tem¬patnya. Bibirnya justru tersenyum.
"Sudah selesai berunding? Ayolah...!"
Sikap pemuda itu benar-benar mem¬bakar hati Lok-kui-tin. Mereka segera menyusun barisan dan menyatukan keku¬atan mereka. Mereka harus melawan tenaga A Liong secara bersama-sama. Mereka harus melawan pemuda itu seba¬gai kesatuan, bukan sebagai orang per orang.
"Kalian benar-benar cerdik. Begitu melihat kalian segera tahu kelemahan dan jalan keluarnya. Bagus sekali. Tam¬paknya pertempuran ini memang akan berlangsung lama. Tapi akan kita lihat, siapa di antara kita yang lebih dulu membuat kesalahan."
Selesai bicara A Liong menyabetkan pisaunya. Seleret sinar putih melecut seperti cambuk ke arah lawan-lawannya. Siiing...! Lok-kui-tin merunduk berbareng sambil bersama-sama menyilangkan senja¬ta mereka di atas kepala. Gerakan me¬reka begitu serempak dan indah sehingga senjata itu membentuk deretan tangga yang panjang.
Traaaaang!
Sinar putih itu mengenai deretan pisau-- yang disusun oleh Lok-kui-tin dan ^ memantul ke samping. Celakanya, pan¬tulan sinar itu menyambar dan mengenai beberapa pendekar persilatan di dekat mereka. Orang-orang itu menjerit kesa¬kitan, sebelum akhirnya jatuh dengan kulit terkelupas bagai dibelah senjata tajam.
A Liong terkejut. Dia tak menduga kalau serangannya akan melukai kawan sendiri.
"Ah! Mereka memang cerdik sekali!. Aku benar-benar ceroboh! Aku terlalu meremehkan mereka." A Liong menyesal.
Lok-kui-tin benar-benar puas; Mereka dapat menjinakkan ilmu pedang A Liong yang aneh. Bahkan mereka dapat meman¬faatkannya pula. Sekarang justru mereka berenam yang balik menguasai arena.
Sambil bertahan A Liong mencari jalan untuk menghadapi lawannya. Se¬rangan . Lok-kui-tin yang bertubi-tubi hanya ia hindari dan ia punahkan sebe¬lum mengenai tubuhnya. Namun karena serangan itu datang tanpa henti, maka sekali dua kali terpaksa harus ditahan dengan kekuatan pula. Dan akibatnya memang mengejutkan.
Karena tenaga yang dilontarkan oleh Lok-kui-tin itu merupakan tenaga ga¬bungan, maka kekuatannya pun bukan main hebatnya. Berbenturan dengan tena¬ga A Liong ternyata membuat kedua belah pihak merasakan akibatnya. Ma¬sing-masing tergetar mundur ke belakang.
Hek-kui dan Pek-kui terlongong-Io-ngong di tempatnya. Keduanya hampir tidak percaya melihat hasil benturan itu.
"Gila! Tenaga dalam pemuda itu masih selapis lebih tinggi dibandingkan te¬naga gabungan kita! Benar-benar tidak masuk akal."
Demikianlah, Lok-kui-tin semakin berhati-hati menghadapi A Liong. Seba¬liknya A Liong sendiri juga tidak berani berlaku ceroboh terhadap mereka. Ma¬sing-masing tak ingin mencelakai kawan sendiri.
Sementara itu Souw Hong Lam telah1 meletakkan tubuh Tio Ciu In di dekat Yap Kim dan Liu Wan Ti. Tio Ciu In semakin kelihatan lemah dan menderita. Punggungnya telah basah oleh darah yang terus mengalir dari lukanya.
"Saudara Souw...? Tolong, ambilkan obat luka di dalam bungkusanku! Berikan kepada Nona Tio agar darahnya segera berhenti mengalir." Tabib Ciok atau Liu Wan atau Pangeran Liu Wan Ti itu ber¬kata kepada Souw Hong Lam.
"Aku? Nona Tio...?" Pemuda ganteng itu mengerutkan dahinya seraya menga¬wasi Tio Ciu In dan Pangeran Liu Wan Ti berganti-ganti. Wajahnya kelihatan bingung.
Tio Ciu In tersenyum dan mengang¬guk. "Benar apa yang dikatakan Pangeran ' Liu Wan Ti. Aku yang rendah bernama Tio Ciu In. Terima kasih atas pertolong¬an Souw .Tai-hiap."
"Haaah...? Pangeran Liu Wan Ti? Siapa yang... lhoh, kau...? Kenapa kumis dan jenggotmu, Ciok Lo... eh!"
Souw Hong Lam kelihatan bingung sekali. Semula dia mengira berhadapan dengan Tabib Ciok, tetapi ternyata bukan. Orang yang berdandan seperti Tabib Ciok itu ternyata tidak memiliki kumis dan jenggot. Wajahnya juga tidak tua dan keriput seperti biasanya. Wajah itu masih • kelihatan muda dan tampan.
"Dia memang Pangeran Mahkota Liu Wan Ti yang hilang hampir sepuluh tahun lalu, Anak Muda. Nah, kini lakukan dulu perintahnya! Ambilkan obat yang ada di dalarn bungkusan itu."
"Yayaya, Tai-ciangkun!" Souw Hong Lam memandang Panglima Yap Kim yang terduduk lemah tak berdaya.
Namun sebelum pemuda itu bergerak, Mo Hou sudah berdiri di depannya. "Tak perlu bersusah-susah lagi! Bersiap sajalah untuk mati!" Hardik pemuda itu sambil mengayunkan kipasnya.
Souw Hong Lam terbelalak. Namun dia tidak segera menghindar. Dia hanya memutar atau membalikkan tubuhnya saja, sehingga kipas itu menghunjam telak ke arah punggungnya.
"Mampus... kau!" Mo Hou menggeram.
"Souw-heng...!" Pangeran Liu Wan Ti berdesah khawatir.
Duuk! Ujung kipas itu menghantam punggung Souw Hong Lam dan melem¬parkannya ke tanah. Kebetulan pemuda itu jatuh di dekat bungkusan Liu Wan Ti, sehingga kesempatan tersebut dia pergu¬nakan sebaik-baiknya. Obat yang dimak¬sud segera ia keluarkan dan ia lemparkan kepada Tio Ciu In.
Mo Hou terkesiap. Ujung kipasnya seperti menggores benda keras. Dan la¬wannya sama sekali tidak mati atau ter-luka seperti kehendaknya. Pemuda gan¬teng itu hanya tersungkur. Bahkan masih dapat bergerak dengan lincah seolah- olah tidak terjadi sesuatu.
"Hmm, kau...? Kau dapat menahan tajamnya kipasku?"
"Kenapa tidak? Kukira kipasmu tidak setajam mata pedang!" Souw Hong Lam menjawab sambil mengebutkan debu yang mengotori jubah panjangnya.
Tiba-tiba Mo Hou menyeringai. "Ah, aku tahu. Kau keturunan Keluarga Souw dan kini mengenakan mantel hitam pan¬jang.. Kau tentu mengenakan mantel pu¬saka warisan Bit-bo-ong itu, bukan?"
Souw Hong Lam tidak menjawab. Kedua tangannya bersilang di, depan da¬da, siap untuk menyerang Mo Hou. Asap putih dan merah tampak mengepul di atas kepalanya.
Mo Hou tersenyum. Sama sekali tidak ada kesan khawatir atau takut di wajah¬nya. Baginya, Souw Hong Lam bukan lawan yang perlu diperhitungkan. Dari rumah ia telah dibekali berbagai macam kiat untuk mengalahkan ilmu silat Tiong-goan. Termasuk juga ilmu silat Keluarga Souw. Jangankan cuma Souw Hong Lam, melawan Hong-gi-hiap Souw Thian Hai pun dia tidak takut.
Ketika asap di atas kepala Souw Hong Lam itu semakin tebal, Mo Hou tidak dapat menahan kesabarannya lagi. Kipas itu justru ia masukkan ke dalam saku, kemudian dengan tangan kosong dia menerjang ke depan. Kedua tangannya mencakar wajah Souw Hong Lam.
Souw Hong Lam tidak berani beradu tangan. Dia sadar bahwa Iwe-kangnya masih kalah jauh dibandingkan lawannya. Dari pukulan kipas di punggungnya tadi dia sudah dapat menyelami kekuatan lawan. Dia |memilih j|ajanf l»n,|' yaitu mengelak ke samping sambil memukul pinggang Mo Hou. Dan pukulan tersebut hanya pancingan saja, karena pukulan se¬benarnya akan ia susulkan kemudian.
Tapi Mo Hou adalah seorang jago silat yang cerdik dan berbakat sekali. Dalam hal tipu muslihat dan kelicikan, rasanya tidak ada orang lain yang mam¬pu melebihi dia. Pukulan pancingan itu ternyata ia biarkan saja mengenai ping¬gangnya, sehingga Souw Hong Lam justru menjadi bingung sendiri.
"Anak Muda, awas...!" Yap Kim yang sudah tidak berdaya itu berteriak lemah.
Souw Hong Lam berusaha menarik kembali pukulannya. Kakinya melangkah ke samping, lalu berputar menjauhi la¬wannya. Sambil bergerak jari telunjuk kirinya terayun ke depan! Cus! Seleret sinar merah menusuk ke arah punggung Mo Hou!
Bless! Sinar itu menghunjam telak ke punggung Mo Hou! Begitu kuatnya se¬hingga sinar itu tembus melewati dada.
Tapi sungguh mengherankan. Luka itu sama sekali tidak mengeluarkan darah. Bahkan tubuh itu ^ama legali tidak am¬bruk atau kesakitan. Sebaliknya putera Raja Mo Tan itu justru tertawa gembira. Suaranya terdengar dimana-mana, karena suara itu tidak cuma keluar dari mulut¬nya, tapi juga keluar dari mulut tujuh Mo Hou yang lain, yang tiba-tiba telah berdiri di sekitar arena.
Yap Kim, Lu Wan Ti, dan Tio Ciu In mengeluh. Mereka tidak mempunyai ha¬rapan lagi. Melawan satu orang Mo Hou saja sudah sulit, apalagi harus melawan delapan orang sekaligus.
Benar juga. Baru beberapa jurus saja Souw Hong Lam sudah kebingungan meng¬hadapi lawannya. Totokan Tai-kek Sin-ciangnya benar-benar tidak berguna meng¬hadapi bayangan-bayangan semu itu. Be¬berapa kali totokan jarinya mengenai ba¬yangan Mo Hou palsu, sehingga tenaga¬nya banyak terbuang sia-sia.
"Hmmm, sebentar lagi tenagamu ha¬bis. Kau tidak akan dapat berbuat apa-apa lagi kepadaku." Mo Hou mengejek.
Beberapa buah pukulan mendarat di tubuh Souw Hong Lam, membuat pemuda itu jatuh bangun di atas tanah. Membuat pakaian pemuda ganteng itu menjadi lepas dan kedodoran. Bahkan debu dan tanah membuat wajahnya yang ganteng itu berlepotan tidak keruan.
Akhirnya ketika topi yang melekat di kepala Souw Hong Lam itu copot diter¬jang angin pukulan Mo Hou, semua orang yang melihatnya terkejut. Rambut yang hitam panjang tiba-tiba terurai lepas menutupi sebagian pundak dan punggung pemuda ganteng itu.
"Eh, Saudara Souw... jadi kau ini?" Liu Wan Ti berdesah perlahan. Matanya terbelalak.
Souw Hong Lam palsu yang tidak lain adalah Souw Giok Hong, puteri Hong-gi-hiap Souw Thian Hai, menjadi merah mukanya. Sambil tersenyum malu gadis itu membersihkan alis buatan dan semua kotoran yang menempel di wajahnya. Dan beberapa saat kemudian wajahnya yang cantik bak bidadari itu membuat terpe¬sona semua orang.
"Aah!" Tak terasa Pangeran Liu Wan Ti menelan ludahnya.
"Bukan main! Sungguh tak kusangka hari ini aku dapat bertemu dengan ba¬nyak anak muda berkepandaian tinggi! Aku benar-benar sudah ketinggalan za¬man." Panglima Yap Kim berdesah pan¬jang.
Orang yang tidak peduli akan per¬ubahan" itu hanya Mo Hou. Delapan sosok bayangan kembarnya masih tetap ber¬siaga penuh di sekitar mereka. Wajahnya tampak puas dan berseri ketika melihat pasukan Hun dapat menguasai seluruh arena.
"Nona! Kalau kau benar-benar dari keluarga Souw, kau tentu puteri kedua I Hong-gi-hiap Souw Thian Hai." Yap Kim berkata.
"Benar, Yap Tai-ciangkun. Aku me- | mang Souw Giok Hong, puteri kedua Souw Thian Hai."
"Dimana ayahmu sekarang? Apakah dia juga datang kemari?"
Wajah cantik itu tertunduk sebentar. Ketika kemudian wajah itu terangkat kembali dan siap untuk menjawab, tiba-tiba terdengar suara Mo HoJ membentak,
"Diam! Kubunuh- kalian semua....!"
Dua diantara delapan bayangan kem¬bar itu segera meloncat dan menyerang Souw Giok Hong. Sementara empat ba¬yangan lainnya mendekati Pangeran Liu Wan Ti, Tio Cu In, dan Panglima Yap Kim. Sisanya, dua bayangan, masih tetap berdiri tegak mengawasi keadaan.
Situasi memang sangat gawat bagi pasukan para pendekar dan bekas Pangli¬ma Yap Kim. Lawan mereka kali ini memang sangat kuat. Selain kalah banyak, pasukan asing yang dipimpin oleh Mo Hou itu memang lebih berpengalaman dalam perang besar.
Tampaknya keinginan para pendekar untuk membebaskan Panglima Yap Kim gagal total. Bahkan mereka sendiri se¬karang berada dalam kesulitan besar. Ternyata ilmu silat tinggi saja tidak dapat menjamin untuk menang perang.
Rombongan Kwe Tek Hun dengan para pengemis Tiat-tung Kai-pang, sudah tercerai-berai. Korban sudah tidak ter¬hitung lagi. P,ara pendekar persilatan yang lain juga sama saja keadaannya. Bersama-sama dengan para prajurit pen¬jaga benteng yang membelot, mereka mencoba bertahan sedapat mungkin. Me¬reka memanfaatkan lorong-lorong ba¬ngunan yang lebih mereka kenal untuk main petak-umpet.
Api berkobar dimana-mana. Pasukan Hun telah membakar apa saja untuk memburu lawannya. Mereka benar-benar menjadi brutal setelah merasa menang. Watak asli mereka s bagai bangsa barbar tak dapat dikendalikan lagi. Benteng itu benar-benar menjadi tempat pembantaian sadis.
Rombongan Souw Thian Hai, Kwe Tiong Li, serta para jago silat ternama lainnya, masih tetap mengamuk di arena masing-masing. Kesaktian mereka me¬mang membuat pasukan Hun kewalahan. Tetapi dalam perang besar seperti itu mereka tetap tidak bisa berbuat apa-apa untuk memenangkan pertempuran. Mereka hanyalah beberapa tetes air di-antara api yang berkobar di medan per¬tempuran.
- Matahari mulai membakar atap ben¬teng itu. Panasnya menambah, gerah hati manusia-manusia haus darah, yang kini saling bunuh diantara mereka sendiri. Perang memang membuat manusia kehi¬langan harkat hidupnya sebagai manusia. Perang menghilangkan peradaban manusia sendiri.
Sementara itu Panglima Yap Kim dan rombongannya tinggal menantikan saat-saat kematian mereka pula. Mereka tidak mungkin lagi menyelamatkan diri. Apalagi sekarang tinggal Souw Giok Hong sendiri yang mampu melawan.
Tapi mana mungkin Souw Giok Hong melawan ilmu sihir Mo Hou? Tai-kek Sin-ciang dan Tai-lek Pek-kong-ciang andalan keluarga Souw, hampir tak ada gunanya melawan bentuk-bentuk semu itu. Bayangan itu sama sekali tidak da¬pat disentuh, apalagi diserang. Tapi se-baliknya bayangan itu mampu menyerang dan melukai Souw Giok Hong.
"Rahasianya hanya pada bentuk asli orang ini. Kalau aku bisa menyerang yang asli, dia pasti dapat kukalahkan. Tapi bagaimana aku dapat memilih, mana diantara mereka yang asli? Semuanya tampak sama, bahkan seperti hidup sen¬diri-sendiri." Souw Giok Hong berkata hampir putus asa.
Mo Hou memang pemuda pilihan. Bertulang baik. Dalam usia yang masih amat muda ia telah memiliki ilmu silat sangat tinggi. Bakat dan kemampuannya lebih baik daripada kebanyakan orang. Bahkan lebih baik dari Pangeran Liu Wan Ti, Kwe Tek Hun, Souw Giok Hong, Tio Ciu In atau lainnya. Selain itu ia masih juga beruntung mendapatkan guru yang baik.
Kalau diperbandingkan, mungkin cuma A Liong atau Chin Tong Sia yang setara dengan bakat Mo Hou. Hanya saja, ka¬rena ilmu yang mereka pelajari tidak sama, maka hasil yang mereka dapatkan juga tidak sama pula. Mereka memiliki kelebihan dan keistimewaan sendiri. Se-lain itu, dalam perjalanan hidup mereka, masing-masing juga memiliki suratan nasib serta keberuntungan yang berbeda pula, sehingga akhirnya ilmu yang me¬reka miliki juga tidak sama pula tinggi¬nya.
A Liong sejak kecil mempunyai ben¬jolan aneh di bawah pusarnya. Benjolan yang entah berisi apa, dan dari mana datangnya, namun yang jelas benjolan sebesar telor ayam itu mempunyai kha¬siat menguatkan tubuh dan melipatganda¬kan tenaga dalam. Dan keberuntungan seperti itu jelas tidak diperoleh Mo Hou maupun Chin Tong Sia.
Sedangkan Mo Hou, meskipun tidak seberuntung A Liong, tapi dia mendapat kan seorang guru yang memiliki ilmu silat sangat langka. Selain perguruan Soa-hu-pai itu sudah berusia ribuan tahun, ilmu silatnya juga berakar pada ilmu sihir. Oleh karena itu dapat di¬maklumi kalau Soa-hu-pai memiliki be¬berapa kelebihan dibandingkan Beng-kau atau aliran silat lainnya.
Sementara itu ilmu silat Beng-kau adalah ilmu silat murni dan usianya be¬lum setua Soa-hu-pai. Kelebihan Soa-hu-pai hanya terletak pada ilmu sihirnya.
Oleh karena itu untuk menghadapi ilmu silat Soa-hu-pai, orang har.us bisa mengatasi hrrai" smirnya dulu. Sebelum kekuatan sihir itu hilang, maka pertem¬puran dengan orang Soa-hu-pai boleh dikatakan berat sebelah.
Maka dapat dimaklumi kalau akhirnya pertempuran antara Souw Giok Hong melawan Mo Hou itu dimenangkan oleh Mo Hou. Seperti halnya ilmu silat aliran Beng-kau, ilmu silat keluarga Souw ada¬lah ilmu silat murni. Dan celakanya, tingkat kepandaian Souw Giok Hong se¬karang juga belum mencapai tingkat yang tertinggi, sehingga dia juga belum tahu | cara yang baik untuk mengatasi ilmu sihir tersebut.
Dua sosok bayangan Mo Hou itu me¬ngurung dan mendesak Souw Giok Hong. Karena bayangan itu hanya bentuk semu, maka tidak dapat disentuh maupun di¬lukai. Sebaliknya, dengan kehebatan te¬naga dalam pemiliknya, dua sosok ba¬yangan itu dapat menyerang dan melukai Souw Giok Hong.
Sementara itu empat bayangan Mo Hou lainnya, terus melangkah mendekati Yap Kim bertiga. Bentuk-bentuk semu itu siap menghabisi mereka.
"Pangeran...! Tampaknya kita tidak dapat mengelak lagi! Sebaiknya kita ga¬bungkan kekuatan kita untuk menyong¬song mereka. Lebih baik mati sebagai kesatria, daripada mati seperti binatang yang akan disembelih!" Yap Kim berbisik.
"Be-benar, Ciangkun...."
Keempat bayangan itu mengangkat tangannya. Terdengar suara gemeretak tulang dan otot mereka. Namun sebelum tangan itu melayang, tiba-tiba terdengar suara teriakan Chin Tong Sia "Tunggu....!"
Pemuda itu melenting dan berjungkir balik di atas kepala para prajurit, kemu¬dian berdiri di depan mereka. Dan air muka pemuda itu segera berubah melihat lawan yang ada di depannya. Selain su¬dah mengenal wajahnya, dia melihat wa¬jah itu tidak hanya satu, tapi empat se¬kaligus.
"Gila...!" Chin Tong Sia mengumpat.
"Saudara Chin, awas... dia itu putera Raja Mo Tan. Dia mahir ilmu sihir." Pangeran Liu Wan Ti memberi peringatan.
Chin Tong Sia menoleh. Air mukanya semakin keruh menyaksikan dandanan Pangeran Liu Wan Ti. Dia mengenal suara dan dandanan itu, tapi tidak menge¬nal orangnya.
Pangeran Liu Wan Ti menyeringai menahan sakit. "Ah, Saudara Chin, maaf¬kan aku. Aku... Tabib Ciok. Maksudku, aku menyamar sebagai tabib. Aku me¬nyamar untuk . mencari Panglima Yap Kim! Dan aku... aku telah menemukan orang yang kucari itu. Lihat, dia ada di sini!"
Chin Tong Sia tertegun, kemudian memandang bekas panglima yang sangat ia hormati itu. Kepalanya mengangguk, namun mulutnya masih terkunci.
Tiba-tiba Panglima Yap Kim beringsut ke depan. Tubuhnya masih sangat lemah. Sambil menunjuk Liu Wan Ti ia berbisik,
"Anak muda, ketahuilah...! Dia ini sebenarnya adalah Pangeran- Mahkota Liu Wan Ti!"
Sekali lagi Chin Tong Sia terkejut. "Pangeran Liu Wan Ti? Tapi kata orang Pangeran Liu Wan Ti berada di perbatas¬an? Beliau berada di Benteng Kongsun Goanswe. Kurasa... Ciok Lo-cianpwe sendiri yang mengatakan hal itu."
Liu Wan Ti menghela napas. "Saudara Chin, panjang ceritanya. Akan kucerita¬kan nanti."
Pembicaraan mereka terhenti, karena empat sosok Mo Hou itu tiba-tiba mem¬bentak Chin Tong Sia,
"Jadi kau dapat meloloskan diri dari penjara bawah tanah itu, heh? Siapa yang menolongmu-? Hong-gi-hiap Souw Thian Hai....?"
"Benar. Tunggulah sebentar lagi. Pen¬dekar itu akan sampai di sini. Dia se¬dang membersihkan orang-orangmu yang berusaha merintangi jalannya."
"Bagus. Kalau begitu aku tidak perlu mencarinya!"
Keempat bayangan Mo Hou itu lalu menerjang Chin Tong Sia. Masing-masing menyerang dari arah berbeda, seakan-akan mereka itu memang hidup sendiri-sendiri. Dan seperti dugaan Chin Tong Sia, tenaga dalam Mo Hou memang sela¬pis lebih tinggi daripada tenaga dalam¬nya, sehingga dia harus berhati-hati.
Chin Tong Sia lalu melompat ke sam¬ping. Dari tempatnya berdiri ia melihat pertempuran lain di dekatnya. Dan ia benar-benar kaget ketika melihat bebe¬rapa orang Mo Hou lain di arena itu. Beberapa orang Mo Hou lain itu sedang mendesak gadis berwajah ayu.
Otak cerdas Chin Tong Sia segera melihat dan meyimpulkan keanehan itu. Untuk mengalahkan semua bentuk semu itu, dia harus tahu dulu mana yang asli. Dan untuk mencari yang asli, semua bentuk semu itu harus dikumpulkan dan tidak boleh ada yang bersembunyi.
Demikianlah, karena ingin , memilih sosok Mo Hou yang asli, maka Chin Tong Sia segera bergeser mendekati arena pertempuran gadis ayu itu. Dan seperti yang ia inginkan, empat bayangan itu terus memburunya pula. Maka di lain saat mereka telah berbaur dalam arena pertempuran Souw Giok Hong. Chin Tong Sia berdiri di sebelah Souw Giok Hong, sementara delapan sosok bayangan Mo Hou itu menebar di sekeliling mereka.
"Hei, Saudara Chin! Akhirnya kau datang juga....!" Souw Giok Hong menyapa dengan lega begitu melihat Chin Tong Sia.
Tentu saja Chin Tong Sia bingung. Dia tak mengenal wajah Souw Giok Hong. Dia tak tahu kalau Souw Giok Hong ada¬lah Souw Hong Lam.
Souw Giok Hong segera menyadari kekeliruannya. Sambil bertempur dia lalu bercerita tentang dirinya.
"Ah, jadi kau ini puteri Souw Tai-hiap. Kalau begitu malah kebetulan se-kali. Sebentar lagi Souw Tai-hiap dan is-terinya akan datang. Dia ingin berjumpa dengan Souw Hong Lam."
"Ayah-ibuku juga datang?" Gadis itu tidak dapat menyembunyikan kegembira¬annya.
Demikianlah, Souw Giok Hong lalu bertempur berpasangan dengan Chin Tong Sia, sehingga delapan bayangan Mo Hou itu harus bekerja keras menghadapi me¬reka.
Chin Tong Sia bergeser mendekati 5|QA]\54» Giok Hong, Jalu berbisik, "Nona Souw. Suhengku pernah mengatakan bah¬wa manusia-manusia -tiruan ini dikenda¬likan oleh yang asli. Semakin tinggi te¬naga dalam pemiliknya, maka semakin dahsyat pula kekuatan mereka. Untuk mengalahkan mereka, kita harus dapat mengetahui yang asli."
. Souw Giok Hong memandang Chin Tong Sia, lalu mengangguk-anggukkan ke¬palanya. Ia menjawab dengan suara lirih pula,
"Aku tahu. Tapi bagaimana caranya?" "Sebenarnya mudah, tapi sulit melakukannya. Pertama-tama kita harus dapat melacak sumber tenaga yang menggerak- ! kan bonska-bor,eka ini. Caranya, setiap kali mereka bergerak dan menyalurkan tenaga, kita Jihat dan kita rasakan. Kita lihat, siapa diantara mereka itu yang menjadi sumbernya, yang menyalurkan tenaganya kepada yang lain. Getaran tenaga itu yang harus kita lacak. Me-mang sulit, karena orang itu akan selalu berusaha mengacaukan indera kita."
"Suhengmu benar. Memang sulit mela¬kukannya. Apalagi mereka berjumlah de¬lapan, sementara kita' hanya berdua. Kita bertahan saja sudah sulit, apalagi harus melacak sumber tenaga mereka. Belum sampai ketemu, kita sudah mati duluan."
"Ah, jangan patah semangat dulu. Kita belum mencobanya. Ayoh, sekarang lindungi saja aku. Akulah yang akan me¬lacak sumbernya."
"Baiklah," Souw Giok Hong menarik napas panjang.
Keduanya lalu berdiri berendeng. Ke¬tika salah satu dari Mo Hou itu menye¬rang, Souw Giok Hong cepat melangkah
ke depan melindungi Chin Tong Sia. Di¬biarkannya pemuda itu mencari Mo Hou asli.
Tapi delapan orang Mo Hou itu terus saja bergerak ke sana kemari. Bagai kawanan burung elang yang mengincar anak ayam, mereka menyambar-nyambar dari segala jurusan. Souw Giok Hong ter¬paksa jatuh bangun melindungi Chin Tong Sia.
"Bagaimana, Saudara Chin? Belum kau dapatkan?"
"Wah, sulit sekali! Setiap kali kute*-mukan, mereka cepat bergeser .dan ber-
Ternyata Mo Hou mengetahui maksud Chin Tong Sia dan Souw Giok Hong. Buktinya pemuda itu. lalu meningkatkan serangannya. Delapan sosok bayangannya menyerang habis-habisan, sehingga Chin Tong Sia dan Souw Giok Hong menjadi kalang-kabut mempertahankan " diri. Ke¬inginan Chin Tong Sia untuk mencari Mo Hou asli, tidak dapat terlaksana.
Pat-sian-ih"-hoat memang terlalu sulit untuk dilawan. Ilmu silat bercampur ilmu sihir itu tidak mungkin dihadapi de¬ngan ilmu silat biasa. Untunglah Souw Giok Hong mengenakan mantel pusaka dan Chin Tong Sia mahir Cuo-mo-ciang. Walaupun kalah, tapi setiap kali terjepit masih dapat meloloskan diri.
"Sayang sekali suhengku tidak ada di sini. Kalau ada dia... hm, orang ini sudah lari terbirit-birit sejak tadi." Chin Tong Sia bergumam dengan suara dongkol.
Begitu ingat suhengnya, gerak-gerik Chin Tong Sia tiba-tiba berubah linglung. Mulutnya melantunkan pantun sekenanya. Suaranya sumbang dan sama sekali tidak enak untuk didengar.
Kalau saja burung gagak itu datang padaku,
Matahari pun terpaksa sembunyi.
"Saudara Chin, kau...?" Souw Giok Hong kaget.
Tapi Chin Tong Sia tidak peduli. Sam¬bil bergumam tak jelas pemuda itu me¬nyerang lawan yang berada di depannya. Wajahnya kelihatan. keras dan kaku. Pu-
kulannya juga kuat mengejutkan!
Demikianlah, walau terdesak dan tak bisa berbuat apa-apa lagi, tapi Chin Tong Sia dan Souw Giok Hong tetap me¬lawan dengan gigih. Mereka mencoba bertahan dengan berpasangan. Masing-masing saling membantu dan saling me¬lindungi.
Tapi bagaimanapun juga delapan ba¬yangan Mo Hou itu terlalu berat bagi mereka. Seorang Mo Hou saja sudah sulit dilawan, apalagi sampai delapan orang. Maka dapat dimaklumi kalau akhirnya mereka menjadi bulan-bulanan serangan Mo Hou.
Karena marah dan kesal Chin Tong Sia mengumpat dan memaki sambil ber¬nyanyi. Gerakannya juga semakin ngawur ternyata pemuda itu justru semakin ber¬bahaya. Tampaknya saja ngawur, tapi ternyata gerakannya semakin sulit di¬duga. Seringkah pertahanannya juga ter¬buka dan tak terjaga. Namun anehnya, pukulan lawan justru sulit sekali menge¬nainya.

Babi, monyet,

kerbau sialan....
Tahu ada ekor,
tetap saja mencari
Dasar binatang bodoh!

Tentu saja Souw Giok Hong yang belum tahu adat kebiasaan Chin Tong Sia menjadi bingung dan risih. Bingung kare¬na mendadak Chin Tong Sia berlagak se¬perti orang tidak waras. Risih, karena pemuda itu mengucapkan kata-kata kasar di depannya.

Tapi seperti halnya Chin Tong Sia, Souw. Giok Hong tidak punya banyak waktu untuk berpikir. Gempuran Mo Hou benar-benar membuatnya putus asa. Be¬berapa kali pukulan dan tendangan Mo Hou mengenai tubuhnya. Untung saja mantel pusaka itu melindunginya. Walau sakit, tapi tidak sampai melukai bagian dalam tubuhnya.
Sebuah tendangan juga tidak bisa di¬hindari Chin Tong Sia. Begitu kerasnya sehingga Chin Tong Sia terlempar me¬nabrak tembok bangunan. Rasanya selu¬ruh bangunan itu ikut bergoyang.

"Aduh! Monyet gundul menampung air

. Sahabat dekat menggali kubur.
Monyet tua sialan....!»

Sambil berteriak kesakitan Chin Tong Sia berpantun. Sebuah pantun konyol yang diteriakkan sesukanya.

Tapi dalam keributan itu tiba-tiba terdengar suara pantun lain. Serangkai pantun yang dinyanyikan dengan suara lebih sumbang dan lebih jelek, tapi de¬ngan dorongan kekuatan tenaga dalam yang menggetarkan hati.
"Monyet mati belum tentu jadi mayat.

Apa gunanya menampung air?
Bila sahabat tidak putus asa.
Apa gunanya menggali kubur?"

Ketika orang berpantun itu tiba-tiba muncul di arena, Mo Hou benar-benar kaget setengah mati. Penyanyi bersuara jelek itu tidak lain adalah Put-pai-siu Hong-jin, manusia bertampang jelek yang dulu melukainya.

"Kau lagi...!" Pemuda itu menggeram marah.
Seperti orang tidak bersalah Put-pai- siu Hong-jin tertawa terkekeh-kekeh. En- I tah apa sebabnya, kali ini dia datang I tanpa baju, sehingga tulang-tulangnya i yang kurus itu menonjol kesana-kemari. Wajahnya yang buruk itu sangat menge¬rikan, sehingga Souw Giok Hong tidak berani menatapnya lama-lama. *
Sebaliknya Chin Tong Sia kelihatan gembira dan berseri-seri. "Nona Souw, inilah... suhengku. Dia benar-benar da- I tang!"
Souw' Giok Hong berusaha tersenyum. ' Namun senyumnya segera hilang dan ber¬ubah kecut ketika Put-pai-siu Hong-jin tertawa kepadanya. Lobang mulut yang lebar itu sama sekali tidak ada giginya. , Kosong melompong.
"Waduh, temanmu cantik sekali....!"
"Suheng, jangan macam-macam!" Chin Tong Sia membentak.
"Baiklah. Aku tidak akan mengganggu¬nya. Sekarang pergilah kau membantu teman-temanmu itu! Serahkan saja anak j penyihir ini kepadaku. Akan kuajak dia main sihir-sihiran, heh-heh-heh."
Chin Tong Sia mengerutkan dahinya. "Suheng, kau juga mempunyai ilmu sihir?"
Put-pai-siu Hong-jin tertawa terke¬keh-kekeh. "Konyol kau! Siapa bilang aku bisa ilmu sihir? Ilmu bohong-bohongan itu tidak ada gunanya untuk dipelajari."
Mo Hou benar-benar marah sekali, begitu geramnya dia, sehingga semua bentuk kembarannya berteriak bersama-sama, lalu menerjang Put-pai-siu Hong-jin.
"Monyet ompong! Kubunuh kau!"
Delapan orang Mo Hou itu menggem¬pur Put-pai-siu Hong-jin dari empat pen¬juru. Tidak sesosok bayangan pun yang peduli pada Chin Tong Sia dan Souw Giok Hong lagi. Sehingga kesempatan itu dipergunakan pula oleh mereka untuk meloloskan diri dari tempat itu.
Mereka menyelinap kembali ke tem¬pat Pangeran Liu Wan Ti berada. Namun baru beberapa langkah mereka berjalan, sesosok bayangan telah berdiri bertolak pinggang di depan mereka. Seorang gadis cantik bermata liar dan ganas yang tidak lain adalah Mo Goat atau Tiau Hek Hoa!
"Saudara Chin, awaaas... dia Tiau Hek Hoa! Pengkhianat itu!" Souw Giok Hong yang amat mengenal Tiau Hek Hoa itu menjerit.
"Jadi kau gadis bermuka hitam itu, heh?" Chin Tong Sia yang telah dikhianati oleh Mo Goat itu membentak marah.
"Bocah bodoh...! Memang benar aku! Mau apa?"
"Huh! Sudah kuduga bahwa kau se¬orang pengkhianat! Menjebloskan aku ke dalam perangkap! Lalu kembali ke rom¬bongan dan membohongi mereka! Sungguh licik!" Chin Tong Sia berseru marah.
"Biar saja! Aku adalah puteri Raja Mo Tan, yang mendapat tugas untuk mencari dan membunuh bekas Panglima Yap Kim! Aku melakukan apa saja untuk melaksanakan tugas itu. Dan ternyata aku berhasil mendapatkan buruanku itu. Nah, kalian mau apa? Mau menghalangi aku? Huh! Jangan harap! Lihat saja se¬kelilingmu! Pasukanku telah menguasai benteng ini!"
Selesai bicara gadis itu mengerahkan tenaga dalamnya, kemudian memecah diri menjadi empat bayangan. Dan bayangan itu segera bergeser ke samping untuk mengepung Chin Tong Sia dan Souw Giok Hong.
"Saudara Chin, hati-hati dengan sen¬jata gelapnya! Gadis itu suka mengguna¬kan racun!" Liu Wan Ti memberi per¬ingatan.
Mo Goat menoleh. Dia segera menge¬nal wajah Liu Wan yang pernah berkelahi dengan dia di kota Hang-ciu lima tahun lalu.
"Bagus. Sebenarnya aku sudah curiga padamu, karena aku pernah melihat ilmu pukulanmu. Kau bukan seorang tabib. Tapi aku tak menyangka kalau kau masih begini muda...."
"Adik Goat! Jangan lepaskan orang itu! Dia itu Liu Wan Ti! Putera Mahkota Han yang kita cari selama ini!" Tiba-tiba Mo Hou berteriak dari tempatnya begitu melihat kedatangan adiknya.
"Putera Mahkota? Wah, aku benar-benar terkecoh dalam beberapa hari ini!
Aku sama sekali tidak mengenalnya wa¬lau sudah berkumpul berhari-hari!"
Chin Tong Sia dan Souw Giok Hong saling pandang. Ternyata terlepas dari mulut singa, mereka jatuh ke taring serigala pula. Puteri Raja Mo Tan itu tidak kalah berbahayanya daripada Mo Hou.
Tio Ciu In yang duduk di sebelah Liu Wan Ti menjadi cemas pula. Dia teringat peristiwa lima tahun lalu, pada saat Mo Goat melukai Ku 3ing San sehingga pe¬muda itu harus dipotong kakinya.
"Liu Toako, eh... Pangeran Liu? Ba¬gaimana ini.
"Bagaimana dengan lukamu sendiri? Sudah lebih baik?" Pangeran Mahkota itu balik bertanya.
. "Lumayan. Tapi aku belum berani | mengerahkan tenaga dalam. Aku khawatir darahnya akan keluar lagi."
Panglima- Yap Kim menghela napas panjang. "3angan dipaksa. Istirahat saja¬lah barang sebentar lagi. Aku juga se¬dang berusaha mengembalikan tenagaku. Aku sebenarnya tidak terluka. Aku hanya kehilangan tenaga karena tadi terlalu memaksa diri."
Pangeran Liu Wan Ti mengangguk-angguk, lalu menatap Tio Ciu In kembali. Kenangan masa lalu kembali terbayang di depan matanya. Sungguh tidak diduga ia masih bisa berjumpa dengan gadis yang pernah merampas hatinya itu.
"Nona Tio, dimana saja kau selama Ini? Aku benar-benar tidak mengira bah¬wa kita bisa bertemu lagi. Pada waktu itu aku dan para tokoh Im-yang-kau me¬lihat sendiri gua yang runtuh itu. Kami semua berpendapat bahwa kau telah ter¬kubur di gua itu. Apalagi kami menemu¬kan sepatu dan ikat pinggangmu..." Liu Wan Ti berbisik perlahan.
Tio Ciu In tertunduk dalam-dalam. "Pendekar Buta itu menyelamatkan aku. Aku dibawa ke tempat tinggalnya dan diambil sebagai murid."
Selesai berkata gadis itu tiba-tiba tersentak. Dia ingat gurunya Si Pendekar . Buta, yang juga eistang ke benteng ini bersamanya.
"Lalu dimana Pendekar Buta itu sekarang, Nona Tio?"
"Eh, dia... dia juga berada di benteng ! Aku tidak tahu, dimana dia sekarang. Mungkin masih di dapur atau... di gudang penyimpanan kayu bakar."
"Dia? Dia ada di sini....?"
Sementara itu rombongan Souw Thian Hai masih berkutat dengan pasukan Ba-. yan Tanu yang mengeroyok mereka. Wa¬laupun pasukan pilihan itu tidak dapat mendekati mereka, namun Souw Thian Hai dan rombongannya juga tidak bisa mengalahkan barisan pengepung itu. Me¬reka 'bertempur sambil terus bergeser mendekati arena pertempuran Mo Hou dan Put-pai-siu Hong-jin.
Souw Thian Hai berpasangan dengan isterinya, Chu Bwe Hong. Tio Siau In berpasangan dengan Yok Ting Ting. Se¬dangkan Giam Pit Seng berpasangan de¬ngan muridnya, Tan Sin Lun. Mereka berenam selalu menjaga jarak agar pa¬sangan mereka tidak terpisah satu sama lain. Hanya dengan berpasangan mereka mampu bertahan dari kurungan lawan. Dua kelompok pasukan pilihan itu dipimpin oleh Bayan Tanu. Dibantu Ho Bing, Siang-kim-eng, Tiat-tou dan lain-lain. Dilihat dari segi ilmu silat, mereka itu memang bukan lawan Souw Thian Hai dan Tio Siau In. Namun karena mereka dibantu oleh pasukan pilihan yang sudah dipersiapkan untuk menghadapi jago silat tinggi, maka mereka sangat sulit dikalah¬kan. Setiap kali terdesak atau mendapat bahaya, mereka selalu dilindungi barisan¬nya.
Ketika pertempuran itu terus berge¬ser maju dan akhirnya sampai di tempat Pangeran Liu Wan Ti berada, tiba-tiba Panglima Yap Kim bangkit berdiri. Bekas panglima itu segera mengenal Souw Thian Hai dan isterinya!
"Saudara Souw...! Souw Hujin! Selamat bertemu!"
Ternyata tidak hanya bekas panglima itu saja yang gembira melihat kedatang¬an rombongan itu. Ternyata Tio Ciu In dan Souw Giok Hong juga gembira sekali.
"Suhu...! Siau In!"
"Ayah! Ibu...,!"
Panggilan atau seruan itu benar-benar mengejutkan rombongan pendekar Souw I Thian Hai. Bahkan Souw Thian Hai sen¬diri sampai lupa bahwa dia sedang ber¬kelahi dengan Bayan Tanu. Dan kele¬ngahan itu benar-benar dimanfaatkan oleh Bayan Tanu. Tombak rantainya me¬nerobos pertahanan lawan dan melukai paha Souw Thian Hai.
"Souw Tai-hiap, awas...!" Giam Pit Seng berteriak.
Tapi mata tombak itu sudah terlanjur mengenai sasarannya. Darah memancar dari luka itu, membuat Souw Thian Hai menyeringai kesakitan. Sekejap kaki ka¬nan itu seperti lumpuh karena mata tombak itu tepat mengenai urat pokok.
"Aduuuh...!" Giam Pit Seng yang baru saja memberi peringatan itu tiba-tiba menjerit pula.
Ternyata pedang Siang-kim-eng juga menerobos pertahanan Giam Pit Seng dan menyambar lengan pendekar itu. Sebuah goresan yang panjang dan dalam mem¬buat lengan itu tidak bisa digerakkan lagi. Otomatis senjata "pit yang dipegang¬nya terlepas. Seperti berlumba Chu Bwe Hong dan Tang Sin Lun memberi pertolongan. Chu Bwe Hong menolong suaminya, sedangkan Tan Sin Lun menolong gurunya.
Walau kaget mendengar suara panggil¬an kakaknya, namun Tio Siau In tidak mengurangi kewaspadaannya, sehingga rasa kaget itu tidak sampai mencelaka¬kannya. Sambil berseru girang ia melon¬cat keluar arena. Dia berlari menuju ke arah Tio Ciu In.
Tapi jeritan Giam Pit Seng mengejut¬kan Tio Siu In. Sekejap pikirannya bi¬ngung. Siapa yang harus dia lihat lebih dulu? Gurunya yang berada dalam bahaya atau kakaknya yang sudah lima tahun berpisah?
Akhirnya Tio Siau In berbalik kembali. Dia tidak bisa meninggalkan gurunya. Dengan pedang pendeknya dia menerjang Siang-kiam-eng.
"Cici, maaf! Aku akan menolong Suhu dulu!"
Di pihak lain Souw Giok Hong tak dapat berbuat apa-apa melihat bahaya yang mengancam ayahnya. Dia dan Chin Tong Sia benar-benar tak berkutik meng¬hadapi delapan bayangan Mo Hou. Dia hanya bisa melihat, bagaimana sibuknya ibunya bersama Yok Ting Ting menolong ayahnya.
Demikianlah situasi benar-benar buruk bagi pihak Pangeran Liu Wan Ti. Pasukan para pendekar yang bergabung dengan perajurit benteng itu tidak mampu ber¬tahan lagi. Banyak diantara mereka yang tewas atau terluka. Bahkan banyak pula diantara mereka yang tertawan. Terom¬pet kemenangan telah ditiup di segala tempat.
Matahari tepat di atas kepala. Akhir¬nya pertempuran usai juga. Panas mata¬hari tidak menghalangi kegembiraan pa¬sukan Hun. Mereka bersorak sambil mem¬bunyikan terompet dan tamburnya. Ben¬teng itu telah mereka' taklukkan dan mereka kuasai.
Kalaupun masih ada pertempuran, maka pertempuran itu hanya pertempuran kecil, yaitu pertempuran beberapa tokoh persilatan yang dikepung prajurit Hun. Walau tidak memiliki kawan lagi, tapi tokoh seperti Kwe Tiong Li, Kwe Tek y Hun, Jing-bin Lo-kai, dan lainnya lagi, masih tetap bertempur sekuat tenaga. Seperti halnya rombongan Souw Thian Hai, mereka tetap tidak mau menyerah.
Pangeran Liu Wan Ti merasa sangat sedih. Walaupun serangan ke dalam ben¬teng itu bukan rencananya, tapi kekalah¬an para pendekar persilatan tersebut benar-benar menyakitkan hatinya. Rasa¬nya ia ikut bersalah atas kejadian itu.
Panglima Yap Kim juga menyesal sekali. Semua itu hanya karena dia. Dua kekuatan besar yang Bsama-sama meng¬inginkan dirinya. Yang satu ingin mem¬bebaskan dia, sementara yang lain ingin membunuh dirinya. Dan ternyata kekuat¬an yang menginginkan kematiannya itu telah mengalahkan kekuatan yang hendak membebaskan dia.
Yap Kim benar-benar sedih dan me¬nyesal sekali. Ratusan korban telah jatuh di kalangan pendekar persilatan. Mereka mati hanya karena mau membebaskan dirinya. Benar-benar suatu pengorbanan besar, pengorbanan yang sangat menyentuh jiwa dan semangatnya.
Perasaan seperti itu menghinggapi pula hati Pangeran Liu Wan Ti. Pangeran itu tak kuasa menyembunyikan rasa se¬dihnya. Berkali-kali dia berdesah panjang.
"Ciangkun, apa yang harus kita laku¬kan sekarang? Para pendekar itu telah dikalahkan. Tinggal tokoh-tokohnya saja yang masih bertahan. Dan mereka juga akan tergilas oleh pasukan Hun," Pange¬ran Liu Wan Ti mengeluh sedih.
Yap Kim tidak menjawab. Matanya menatap ke sekelilingnya. Dilihatnya A Liong, Souw Thian Hai ^Gialn /rJjSeng, Put-pai-siu Hong-jin, Chin Tong Sia, dan yang lain lagi. Semuanya bertempur de¬ngan susah payah. Lawan mereka me¬mang hebat. Pasukan dan jago yang di-bawa Mo Hou memang benar-benar pilih¬an.
Karena tempat itu lebih tinggi dari tempat lain, - maka Yap Kim juga dapat menyaksikan sisa-sisa pertempuran di sekitarnya. Ia masih melihat para tokoh Tiat-tung Kai-pang yang mati-matian bertahan dari kurungan pasukan Hun.
Bahkan dengan ketajaman matanya ia juga dapat melihat sahabat lamanya, Kwe Tiong Li dan puteranya, berkelahi dengan gagah perkasa. Keadaan mereka tidak kalah sulitnya dibandingkan tokoh-tokoh Tiat-tung Kai-pang. Barisan yang mengepung mereka terdiri dari empat lapis, yang secara bergantian menyerang mereka dari empat jurusan.
Ketika pandangan Yap Kim bergeser ke selatan, tiba-tiba matanya terbelalak. Lebih kurang seratus tombak jauhnya dari tempat itu, dia melihat keributan kecil diantar a kerumunan pasukan Hun. Wlasan orang prajurit Hun tampak be¬terbangan, terlempar ke kanan dan ke kiri, seolah-olah ada gajah mengamuk di tengah-tengah mereka.
Namun ketika kerumunan itu menyi¬bak, bukan gajah yang muncul, tapi se¬orang lelaki berpakaian tukang kebun de¬ngan topi lusuh di kepalanya. Orang itu melangkah perlahan, sambil sebentar-sebentar memasang telinganya. Wajahnya tidak dapat terlihat dengan jelas, karena rambut putih di bawa'- topi lusuh itu
dibiarkan terurai lepas menutupi muka¬nya.
"Siapa dia...?" Tak terasa bibir Yap Kim itu bergumam.
"Ada apa, Panglima?" Pangeran Liu Wan Ti dan Tio Ciu In bertanya kaget.
"Ah, tidak. Aku... aku hanya sedih sekali. Begitu tulus perjuangan para pendekar itu, sehingga mereka lebih rela mati daripada menyerah kepada musuh. Lihatlah! Masih banyak pendekar yang tidak mau meninggalkan benteng ini wa¬lau perang sudah usai. Mereka memilih gugur 'daripada pulang menanggung malu." Yap Kim menjawab hampir tidak terdengar.


Jilid 26                                                                                                         jilid 28