Rabu, 29 Agustus 2018

PENDEKAR PEDANG PELANGI 18


Jilid 18
TAPI keadaan itu justru membuat hati Ho Bing semakin mantap. Dia sudah siap untuk mati bersama kalau perlu.

"Yok Ciang-bun, kau tidak punya kesempatan untuk lari lagi sekarang. Di atas tentu sudah berkumpul ratusan pendekar yang hendak menangkapmu. Di sini pun kau juga tidak mempunyai pilihan lain. Kau memang gampang membu¬nuh aku. Tapi kalau botol yang kubawa ini jatuh dan pecah, hehehe... ruangan ini akan penuh asap beracun yang mematikan!"
Ho Bing mengancam.

Yok Si Ki mendengus. "Huh! Kaukira aku takut menghadapi mereka? Hehe, sekarang pun aku juga siap untuk kembali ke atas lagi. Aku mengejarmu karena aku tak ingin kehilangan kau. Kau harus mati dulu sebelum aku bertempur dengan mereka."

Keringat dingin mengalir membasahi punggung Ho Bing. Tampaknya Yok Si Ki benar-benar ingin membunuh semua lawannya.

"Baiklah, kalau memang itu yang Tuan inginkan...." Ho Bing berdesah sam¬bil mengangkat botol itu ke atas kepalanya.

"He! Tunggu!" Yok Si Ki tiba-tiba berteriak khawatir.

"Tidak peduli! Lebih baik kita mati bersama!"

"Jangan! Jangan! Aku... aku...? Baiklah, aku menyerah! Katakan apa maumu, nanti kita rundingkan lagi.”

Ternyata Yok Si Ki menjadi takut juga. Ruangan itu kedap udara, sementa¬ra pintu keluarnya juga terbuat dari besi yang hanya bisa digerakkan dengan kunci rahasia pula. Kalau asap beracun itu benar-benar ditebarkan oleh Ho Bing, maka dalam waktu singkat dia' tak mungkin bisa mendobrak pintu tersebut.

Ho Bing menahan tangannya. Matanya memandang Yok Si Ki.

"Baiklah, Yok Ciang-bun. Aku tak akan membanting botol ini asal kau memberikan gadis itu dan mengembali¬kan uang tadi kepadaku."

Wajah Yok Si Ki menjadi merah. "Kau memang patut mati!" Ia mengge¬ram dengan suara tertahan.
Tapi Ho Bing seperti tak mempeduli-kan lawannya. Botol racun itu segera di¬angkat kembali ke atas kepalanya.
"Silakan! Kita mati bersama-sama." Ucapnya sambil mengayunkan tangannya ke bawah.
"Baik! Baik! Bangsat! Terimalah ini! u kembalikan semuanya kepadamu!" Saking khawatirnya Yok Si Ki melem¬parkan tubuh Tio Ciu In begitu saja, sehingga gadis itu jatuh berdebam di atas lantai. Kemudian dengan tergesa-gesa pula tangannya mengeluarkan uang pemberian Ho Bing tadi dan melempar¬kannya kepada pengemis itu.
"Aduh...! Kalian semua manusia jahat dan keji! Lepaskan aku!" Tio Ciu In me¬lengking kesakitan.
Ho Bing tidak jadi membanting botol¬nya. "Bagus. Ternyata Yok Ciang-bun masih dapat berpikir jernih juga. Seka¬rang silakan Yok Ciang-bun keluar! Aku akan membuka pintunya dari sini."
Tapi Yok Si Ki tidak beranjak dari tempatnya. Ketua Tai-bong-pai itu justru melipat lengannya di depan dada. Sikap¬nya menjadi tak acuh.
"Huh!" Dia berdesah melalui hidung¬nya. "Jangan dikira hanya kau yang cer¬dik dan tidak takut mati. Kini keadaan¬ku sama dengan keadaanmu tadi. Tidak ada plihan lain selain tergantung pada keinginan lawan. Dan... aku juga siap pu¬la menghadapinya seperti engkau tadi. Terserah kepadamu, kau pilih yang ma¬na. Kalau pilih mati, yah... banting saja botolmu itu! Dan aku segera akan mem¬bunuhmu sebelum racun itu menghenti¬kan detak jantungku! Tapi kalau kau ingin tetap hidup, hehehe... terpaksa kita harus saling bahu-membahu keluar dari tempat ini! Nah, bagaimana? Pikir¬kanlah dengan baik, karena nyawa kita saling bergantung satu sama lain. Kalau salah satu ingin mati, yah... matilah se¬muanya! Keputusan kuserahkan kepada¬mu!"
"Maksud Yok Ciang-bun...?" Keringat dingin semakin deras mengalir dari pung¬gung Ho Bing.
Yok Si Ki tertawa dingin. "Aku tahu bahwa sebenarnya kau masih ingin tetap hidup kalau diberi kesempatan. Begitu pula dengan aku saat ini. Sebenarnya aku ingin sekali membunuhmu. Tapi kalau aku membunuhmu, maka kau tentu akan se¬gera meledakkan botol racunmu itu se¬hingga aku pun tidak akan dapat menye¬lamatkan diri. Maka aku memilih tidak membunuhmu agar aku juga tetap hidup pula. Bahkan aku rela menyerahkan kem¬bali gadis dan uangmu. Tapi..."
"Tapi... apa?"
Yok Si Ki tertawa dingin. "Tapi... jangan kauanggap aku ini bodoh dan mudah ditipu. Hehehe, kulihat kau sangat yakin bisa menyelamatkan diri di ruang¬an ini, padahal pintunya cuma terbuat dari besi yang mudah dirusakkan. Para pengemis itu akan mudah sekali menje¬bolnya. Aku curiga kau mempunyai jalan rahasia lain di ruangan ini, hehehe."
Ho Bing benar-benar kaget melihat kecerdikan lawannya. "Yok Ciang-bun, aku..." Serunya gugup.
"Nah, melihat roman mukamu dan su¬aramu yang gemetar, aku semakin ya¬kin bahwa kau memang menyembunyikan pintu rahasia itu!"
Ho Bing semakin pucat. "Yok Ciang-bun, ini... ini..."
Yok Si Ki menggeram. "Ayoh, cepat¬lah! Orang-orang itu sudah berada di ru¬ang tengah. Sebentar lagi mereka akan tiba di depan pintu. Kau tidak ingin ma¬ti, bukan?"
"Tapi... tapi... maukah Yok Ciang-bun berjanji? Berjanji tidak akan... membunuh aku dan mengambil gadis itu?" Dalam keadaan tegang dan terburu-buru Ho Bing masih mencoba untuk menekan la¬wannya.
Yok Si Ki memandang geram. VBo-doh! Tentu saja aku takkan membunuh¬mu! Kalau 'aku memang ingin membunuh¬mu, buat apa harus bertele-tele begini? Bunuh saja dan habis perkara! Masa aku tak bisa mencari sendiri pintu rahasia¬mu itu? Kalaupun tidak bisa, masa aku
juga tidak dapat meloloskan diri dari ke¬pungan mereka?"
Dok! Dok! Tiba-tiba pintu ruangan itu digedor dari luar!
Ho Bing terkejut. Pintu itu memang kuat, tapi tak mungkin bertahan kalau digedor terus menerus dengan benda yang kuat.
"Ayoh cepat! Sebentar lagi pintu itu akan jebol!" Yok Si Ki menghardik.
Akhirnya Ho Bing menurut juga. "Ba¬iklah, Yok Ciang-bun... aku percaya ucapanmu!" Katanya menyerah sambil menyambar tubuh Tio Ciu In, lalu me¬lompat ke pojok ruangan.
Yok Si Ki tak mau lepas dari Ho Bing. Melihat pengemis kelimis itu me¬loncat, ia segera menempel di belakang¬nya. Pengemis itu menyodokkan ujung tongkatnya ke susunan batu-bata paling bawah, dan dinding itu sekonyong-konyong bergeser dengan suara gemuruh. Lalu beberapa saat kemudian diantara dua dinding itu terbuka sebuah celah sempit selebar tubuh manusia.
tidak banyak! Celah ini akan segera ter¬tutup kembali."
Benar juga. Begitu Yok Si Ki masuk ke dalam celah, dinding itu berderak ke¬ras menutup lagu
Lorong rahasia itu benar-benar gelap sekali. Jangankan melihat lawan, meman¬dang tangan sendiri pun tak bisa. Tapi, bagi jago silat seperti mereka, hal itu bukanlah halangan. Apalagi bagi Yok Si Ki, dengan naluri dan perasaannya yang terlatih, ketua Partai Tai-bong-pai itu mampu membaca keadaan di sekitarnya dengan baik. Dan Ho Bing tahu benar akan hal itu. 1 1 *■1
Sementara itu untuk menghilangkan rasa takutnya Tio Ciu In mulai menya¬nyi lagi. Meskipun suaranya menjadi ka¬cau karena tubuhnya terguncang dalam pondongan Ho Bing, namun ia tidak pe¬duli. Dia terus menyanyi sebisanya.
"Diam kau!" Yok Si Ki membentak.
"Biar saja Yok Ciang-bun! Lorong ini berada di bawah tanah dan sudah jauh dari pondok itu, tak seorang pun dapat mendengar suaranya. Biarkan saja...! Hitung-hitung dapat hiburan."
"Huh!" Yok Si Ki mendengus, lalu diam kembali.
Sepeminuman teh kemudian, setelah berbelak-belok ke sana ke mari, akhir¬nya lorong itu mulai terasa lembab dan agak basah. Lapat-lapat mulai terdengar suara air.
"Nah, sekarang berhentilah bernya¬nyi! Kalau tidak... hmm, akan kucium bibirmu sampai tak bisa bernapas!" Tiba-tiba Ho Bing mengancam Tio Ciu In.
Ancaman itu lebih menakutkan dari¬pada ancaman mati. Kontan saja Tio Ciu «irtVfleSIhefltikan nyanyiannya.
Ketika Yok Si Ki melihat cahaya sa¬mar-samar di ujung terowongan, wajah¬nya tampak lega dan gembira.
"Kita hampir sampai di atas tanah lagi?"
"Belum, Yok Ciang-bun. Itu hanya ca¬haya kunang-kunang...."
"Kunang-kunang?' Sama saja! Kunang-kunang juga hidup di udara terbuka."
"Bukan, maksudku bukan kunang-ku¬nang, tapi... serangga lain yang tubuh- nya bersinar seperti kunang-kunang." Ho Bing buru-buru menerangkan.
Benar juga. Keluar dari lorong itu, mereka belum juga sampai di atas. Me¬reka justru masuk ke dalam lorong yang lebih luas dan lebih lebar lagi. Dan Yok Si Ki menjadi kaget ketika kakinya mengijak air yang mengalir.
"Hati-hati, Yok Ciang-bun! Jangan terlalu ke tengah! Kita berada di sungai bawah tanah! Berpeganglah terus pada dinding gua ini!" Ho Bing memperingat¬kan.
"Gila! Akan sampai di mana lubang gua ini?"
Ternyata timbul juga perasaan kha¬watir di hati Yok Si Ki. Walaupun ba¬ngunan partai Tai-bong-pai juga didiri¬kan di sebuah kuburan kuno, di mana di dalamnya juga memiliki lorong-lorong rahasia seperti liang tikus, tapi lorong gua yang diinjaknya sekarang tetap saja membuatnya ngeri dan kecut. Apalagi jika melihat cahaya-cahaya kebiruan yang bertebaran di sekelilingnya. Cahaya yang timbul dari tubuh serangga-serangga kecil
di dalam gua itu bagaikan m├Ęta kawan¬an iblis yang sedang mengintai mereka.
"Sungai ini akan bermuara di laut, di Pantai Sarang Lebah." Ho Bing men¬jawab tanpa menghentikan langkahnya.
"Kau maksudkan Gua Seribu Jalan itu...?"
Ho Bing berhenti sehingga Yok Si Ki hampir saja menabraknya. "Oh, Yok Ci¬ang-bun juga sudah pernah ke sana..? Memang benar, pantai itu banyak dikenal orang karena keanehannya. Selain memi¬liki tebing yang curam dan batu karang besar-besar, pantai itu juga memiliki ra¬tusan lubang gua, sehingga orang menye¬butnya... Pantai Sarang Lebah... Gua Se¬ribu Jalan, dan sebagainya. Dan lorong ini memang bermuara di sana. Yok Ci¬ang-bun dapat melihatnya nanti. Tapi se¬belum itu, lorong gua ini akan terpecah dan bercabang-cabang seperti liang semut....."
Apa yang dikatakan Ho Bing memang benar. Di dalam keremangan cahaya ra¬tusan atau ribuan serangga tadi, Yok Si Ki melihat bahwa sungai itu beberapa kali berbelok dan berpecah menjadi be¬berapa jurusan. Begitu seringnya aliran sungai itu bercabang menjadi beberapa jurusan, sehingga Yok Si Ki tak bisa mengingat lagi, berapa kali mereka telah berbelok dan berganti arah.
"Gila! Jangan-jangan kita terjebak di lorong ini, berputar-putar sampai tua! Ho Bing...! Bagaimana kau dapat memi¬lih arah yang benar? Apakah kau pernah melewatinya?" Yok Si Ki menggeram. Suaranya sedikit bergetar oleh rasa ngeri.
"Jangan khawatir, Yok Ciang-bun! Aku sudah dua kali melewati terowong¬an ini. Kelihatannya memang membi¬ngungkan, tapi sebenarnya sangat mudah. Asalkan kita selalu mengikuti arus air ini, kita tentu akan sampai juga di laut. Pokoknya jangan sekali-kali melawan arus."
"Benar juga...." Yok Si Ki membatin.
Namun demikian suara gemuruh di terowongan itu tetap saja mengejutkan hati Yok Si Ki. Apalagi ketika dasar su¬ngai itu menjadi semakin dalam, sehing-
ga air itu rasanya merambat naik dan hendak menelan mereka.
Ternyata rasa ngeri tersebut juga di¬rasakan pula oleh Tio Ciu In. Dalam ke¬adaan tertotok lemas seperti sekarang, gadis itu merasa seperti burung tak ber¬sayap, yang tak mampu berbuat apa-apa bila bahaya datang." Beberapa kali ter¬lintas di benak gadis-itu,„ .kalau tiba-tiba mereka terperosok ke dalam air dan dia terlepas dari gendongan Ho Bing! Kalau hal itu sungguh-sungguh terjadi, maka tiada lain nasibnya selain tengge¬lam secara mengenaskan!
"Lepaskan aku...! Biarlah aku berja¬lan sendiri!"
"Benar, Ho Bing. Biarlah dia berjalan sendiri agar langkahmu menjadi lebih ce¬pat." Yok Si Ki berkata pula.
Ho Bing yang merasa lelah juga meng gendong Tio Ciu In, akhirnya mau juga menurunkan gadis itu dan memunahkan totokannya.
"Tapi ingat..., Nona! Kau jangan ter¬lalu jauh dariku! Sekali kakimu salah menginjak lubang sumur, maka arus air akan menyeretmu ke dalam sumur-sumur gelap tak berujung! Ketahuilah, di tengah tengah sungai ini banyak lubang sumur yang dihuni ular berbisa."
Suasana di gua itu tetap gelap guli¬ta. Namun demikian Tio Ciu In tetap saja menutup dadanya yang terbuka itu dengan wajan merah padam.
"Oc-ouh...!" Gadis itu menjerit kecil ketika tiba-tiba kakinya menginjak bagi¬an yang agak dalam.
Bayangan lubang sumur berisi ular berbisa segera membuat Tio Ciu In men¬jadi ketakutan, sehingga air yang menga¬lir di sela-sela kakinya terasa seperti gesekan tubuh ular yang hendak membe¬lit tubuhnya.
"Bagaimana kalau seandainya... per¬mukaan air sungai ini menutupi seluruh lubang gua...?" Yok Si Ki tak bisa me¬nyembunyikan kekhawatirannya.
Ho Bing tersenyum, meskipun senyum itu tak bisa terlihat oleh lawan-lawan¬nya. "Yah, apa boleh buat, kita terpak¬sa kembali lagi ke tempat semula untuk mencari lubang yang lain."
"Huh...!?" Yok Si Ki menggerutu.
Sebenarnya menyesal juga Yok Si Ki mengikuti Ho Bing ke dalam lubang ne¬raka itu. Rasanya lebih mudah baginya menghadapi keroyokan para pengemis ta¬di daripada harus melewati bahaya se-perti itu. Paling tidak, di dalam pertem¬puran, kesempatannya untuk tetap hidup akan lebih banyak daripada mengadu na¬sib di tempat itu.
Waktu rasanya berjalan terlalu lambat dan mereka merasa seperti berputar-putar di tempat yang sama. Begitu ba¬nyaknya lubang yang mereka hadapi, se¬hingga mereka tak tahu lagi berapa ba¬nyak mereka berganti arah. Tentu saja semuanya menjadi tegang dan takut. Ta¬kut salah jalan dan mati sia-sia di tem¬pat yang mengerikan itu.
"A-aku... ta-takut! Bo-bolehkah aku menyanyi lagi... agar rasa takutku ber¬kurang?" Tiba-tiba Tio Ciu In yang me¬langkah di samping Ho Bing berdesah pe¬lan. Pelan sekali, namun sudah cukup un¬tuk mengejutkan Yok Si Ki yang sedang kalut pikirannya.
"Apa katamu?" Yok Si Ki memben¬tak, sehingga Tio Ciu In tersentak ke¬takutan.
"Aaaah, mengapa berteriak-teriak be¬gitu, Ciang-bun? Suaramu justru akan membangunkan Hantu Penunggu Gua ini ..." Ho Bing cepat menengahi. "Biarlah gadis ini menyanyi. Dalam saat begini, rasanya kita memang membutuhkan hi¬buran untuk mengurangi ketegangan."
Yok Si Ki tak menjawab dan untuk beberapa saat mereka tak berbicara. Mereka berjalan sambil berpegangan na¬da dinding gu|7|
"Baiklah! Menyanyilah sesukamu...!" Akhirnya Yok Si Ki berkata dengan su¬ara rendah.
"B-benarkah...?" Tio Ciu In bertanya Wajahnya berseri penuh harapan.
•'Menyanyilah...!" Ho Bing tertawa. "Jangan khawatir, aku takkan mencium bibirmu! Hohohoho!"
Entah mengapa, Tio Ciu In masih te¬tap berharap akan datangnya pertolong¬an dari Pendekar Buta itu. Bahkan Tio Ciu In juga percaya bahwa pendekar sak-
ti itu akan menepati janjinya, menolong dia dari tangan penjahat-penjahat terse¬but. Oleh karena itu dengan sangat ber¬semangat dia bernyanyi lagi.
Apabila di malam gelap gulita
Tiba-tiba muncul Bulan Purnama,
Malampun bagai tersentak dari ti¬durnya f
Menyambut hangatnya Sang Pelita Malam!
Kekasihku......?
Aku selalu mengharap kedatanganmu!
Selesai menyanyikan bait pertama, Tio Ciu In lalu meneruskan lagi dengan bait selanjutnya.
Semalam penuh aku duduk sendiri, Mengenang wajahmu dalam bayangan, Kutanya Sang Bulan bila ada pesan¬mu,
Jatuhkan saja ke dalam pangkuanku!
Kekasihku.
Aku selalu mengharapkan kedatanganmu.
Suara Tio Ciu In memang lembut. Meskipun gemetaran, namun nada suara-ya benar-benar cocok untuk lagu itu ramanya terdengar sendu dan menyedihan, sehingga Yok Si Ki dan Ho Bing seperti terhanyut dalam kesepian pula.
"Wah, kau pandai benar menyanyi. Yok Si Ki memuji.
"Benar. Dan rasanya... suasana juga tidak menjadi tegang lagi." Ho Bing meambahkan sambil tertawa. io Ciu In'mengambil .napas dalam- dalam, siap untuk mengulang kembali lagunya. Tapi ketika lagu itu hampir terepas dari bibirnya, sekonyong-konyong dari arah depan terdengar suara suling melengking menyayat hati! Suaranya mengalun tinggi dalam lagu yang sama, lagu "Menanti Kekasih"!
Yok Si Ki dan Ho Bing tersentak kaget! Di dalam gua bawah tanah seperti itu ada orang meniup suling? Siapakah dia? Hantu? Tiba-tiba Yok Si Ki menyambar leher Ho Bing. Wuuuuut! Dan Ho Bing sama sekali tak bisa menghindar! Jalan darah Hong-to-hiat di leher pengemis itu telah dicengkeramnya.
“Kau punya teman di sini? Huh!"-Mata Ho Bing mendelik ketakutan, Jangan! Ja-jangan lakukan! Ciang-bun...kau keliru! Kau salah sangka! Aku tidaktahu siapa dia!" Pekiknya dengan suara. parau.
"Bohong...! Siapa orang yang mau be rada di tempat ini selain orang sendiri?" nambahkan sambil tertawa. Ho Bing terbatuk-batuk hampir kehabisan napas. Keringat dingin segera membanjir membasahi dahinya, "Nanti dulu...! Tempat ini sudah dekat dengan pantai sarang lebah! Si-siapa
t-t-tahu... suara itu terbawa angin darisana dan masuk ke dalam gua ini?" , Sambil berbicara Ho Bing mencoba melepaskan diri, tapi tak bisa. Cengke raman itu seperti menyumbat seluruh saIuran tenaga saktinya, membuat kekuatannya hilang entah ke mana.
Cengkeraman itu mengendor sedikit.
"Apa? Sudah dekat dengan pantai?" Yok Si Ki menggeram.
"Be-benar! Satu tikungan lagi kita akan tiba di Gua Besar! Dari tempat ini sudah kelihatan lubang keluarnya...!"
"Benarkah...?" Yok Si Ki melepaskan tangannya. "Awas kalau kau berbohong!"
"Oough...!" Ho Bing berdesah sambil mengusap lehernya yang kemerah-merah¬an bekas jari.
Di pihak lain suara suling itu bagai¬kan air kehidupan yang menetes ke da¬lam jiwa Tio Ciu In. Begitu lega rasa nya. Begitu gembira hatinya. Siapa lagi yang meniup suling itu selain Si Pende¬kar Buta?
Tapi untuk menghindari kecurigaan lawannya, Tio Ciu In sengaja berpura-pura tidak tahu. Dia tetap menyanyi, se¬olah-olah tidak mendengar suara suling tersebut.
"Diam...kau!" Yok Si Ki membentak. "Ho Bing, mari kita lihat siapa orang itu
Mereka lalu bergegas menyusuri lo¬rong gua itu lagi. Dan beberapa saat kemudian lorong itu benar-benar menikung ke kiri.
"Yok Ciang-bun, lihat! Bau air laut sudah terasa, bukan? Tuh, di depan...! Kita sudah sampai di Gua Besar!" Ho Bing yang berada di depan berseru lega.
Yok Si Ki menyusul. Pandangannya segera terbentur pada sebuah gua besar bercahaya remang-remang, di mana pa¬da dinding-dindingnya terdapat banyak lubang besar yang mengalirkan air dari dalamnya. Dan jauh di ujung sana, bebe-I rapa buah lubang kosong tampak menyo¬rotkan sinar yang menyilaukan.
"Itu dia lubang keluarnya!" Ho Bing bersorak gembira. Jarinya menunjuk ke arah lubang yang menyilaukan itu.
Aliran sungai itu ternyata tidak me¬menuhi permukaan lantai di Gua Besar. Airnya hanya mengalir di tengah-tengah gua, di antara bongkahan batu-batu be¬sar yang berserakan di tempat itu. Sua¬ranya gemericik menyejukkan hati. Se¬mentara di bagian atas gua itu banyak sekali kelelawar bergelantungan. Bina¬tang-binatang malam itu mengeluarkan suara mencicit tak henti-hentinya.
"Heran? Ke mana suara suling tadi? Mengapa tiba-tiba menghilang?" Ho Bing bergumam heran.
Tak ada jawaban. Semuanya mema¬sang mata dan telinga. Yok Si Ki juga mengerahkan seluruh kemampuannya un¬tuk memeriksa tempat itu. Tempat yang sangat sulit, karena selain gelap juga ba¬nyak batu besar berserakan. Sangat sulit mencari sosok manusia di tempat seperti itu.
"Tampaknya orang itu memang ber¬ada di luar gua...." Yok Si Ki membatin.
Ketika mereka bertiga bergeser ke depan, sebuah benda hitam yang sejak semula mereka sangka batu karang, men¬dadak bergerak dan berdiri di depan me¬reka! Begitu mengejutkan sehingga gadis seperti Tio Ciu In sampai terpekik saking kagetnya!
"Apakah Cu-wi ingin mendengarkan suara sulingku lagi...?" Benda hitam yang tiada lain adalah seorang manusia me¬ngenakan mantel kehitaman itu tiba-tiba berkata pelan.
"K-kau... siapa?" Ho Bing buru-buru menyapa.
Tapi Tio Ciu In segera mengenali orang itu. Tubuh yang tinggi kurus, de¬ngan rambut panjang menutupi bahu, si¬apa lagi kalau bukan Si Pendekar Buta?
"Locianpwe...?" Tio Ciu In berbisik.
Orang itu tidak menjawab. Dia malah mengangkat sulingnya. Tapi sebelum su¬ling itu ditiup, Yok Si Ki sudah lebih dulu melesat ke depan orang itu.
"Tahaaaaan...!" Teriak Ketua Tai-bong-pai itu keras.
Orang itu tak lain adalah Si Pende¬kar Buta itu, menurunkan sulingnya kembali. "Tuan siapa? Apakah Tuan ingin meniup sulingku juga?"
"Jangan bergurau! Aku Yok Si Ki, Ketua Partai Tai-bong-pai angkatan ke tujuh! Siapakah kau? Rasanya aku belum pernah melihatmu di dunia persilatan...."
Tak terduga Pendekar Buta itu berde¬sah panjang sekali. Wajahnya yang tertu¬tup rambut itu mendongak ke atas, se¬hingga dari kejauhan penampilannya be¬nar-benar seperti kembar dengan Yok
Si Ki. Sama-sama jangkung, kurus dan berambut panjang. Perbedaan mereka ha¬nya pada warna rambut dan warna kain yang mereka pakai. Kalau Yok Si Ki berambut hitam dan berpakaian serba putih, sebaliknya Pendekar Buta menge¬nakan pakaian serba gelap dan rambut¬nya sudah bercampur putih.
"Aku memang jarang keluar dari per¬tapaanku! Tentu saja Tuan tidak menge¬nal aku! Orang biasa menyebutku... Si Buta!"
"Kau... buta?" Yok Si Ki terperanjat.
Pendekar Buta itu mengangguk. "Apa¬kah Tuan merasa kaget? Kaget menyak¬sikan orang bermata buta seperti aku bisa sampai di tempat ini? Ah, maaf... Tuan tak usah kaget! Aku memang ting¬gal di sini. Gua ini... tempat tinggalku."
"Namamu Si Buta? Kau tinggal di si¬ni? Hmmh, jangan main-main! Katakan saja terus terang... Siapa namamu sebe¬narnya?"
"Maaff Aku sudah lama tidak berhu¬bungan dengan orang lain. Aku sudah melupakan namaku. Tapi sejak aku keluar lagi, orang memanggilku Si Buta, dan aku menerimanya. Jadilah namaku sekarang Si Buta!"
Sementara itu, Tio Ciu In yang se¬jak tadi merasa belum diperhatikan oleh Pendekar Buta, segera melangkah ke de¬pan.
"Locianpwe...? Kau... kau mendengar suara nyanyianku tadi, bukan?" Tio Ciu In berbisik dan mencoba mendekat.
Tapi Ho Bing segera membentak. "Mau ke mana kau? Cepat... ke sini!"
Namun entah bagaimana cara berge¬raknya, tiba-tiba Si Pendekar Buta itu telah berada di antara Tio Ciu In dan Ho Bing! Demikian cepatnya sehingga tokoh seperti Yok Si Ki pun sampai ke-colongan! Pada saat menangkap gerakan lawan, Ketua Tai-bong-pai itu cepat mengangkat kakinya, namun terlambat. Orang buta itu telah berdiri di dekat Tio Ciu Ih. Bahkan Ho Bing yang hanya tiga langkah jaraknya dari gadis itu tak mam¬pu berbuat banyak.
"Gila...! Karena terlalu meremehkan orang, maka aku jadi kehilangan selang-
kah di belakangnya!" Yok Si Ki mengge¬ram.
Pendekar Buta membawa Tio Ciu In ke samping. "Ya, Nona Tio... burung elangku memang mendengar suaramu dan memberitahukannya kepadaku. Emm... aku tidak terlambat, bukan?"
"Tidak Locianpwe... aku tidak apa-apa."
"Syukurlah...!" Orang tua itu berde¬sah lega.
"Burung elang...? Oh-oh, jadi burung elang putih itu kepunyaanmu?" Ho Bing tersentak kaget. "Awas, Yok Ciang-bun! Tampaknya orang ini adalah Pendekar Buta yang dikatakan oleh pelayan rumah makan itu!"
Tiba-tiba Si Buta itu menoleh ke arah Ho Bing. Keningnya yang tertutup itu berkerut.
"Pelayan rumah makan? Apakah hu¬bungannya pelayan itu dengan Ji-wi ber¬dua? Ah, ya-ya... aku tahu. Ji-wi tentu kawan si pengacau dari luar Tembok Besar itu, bukan?" Tak terduga Pende¬kar Buta itu memotong ucapan Ho Bing.
Tio Ciu In cepat meraih lengan pe¬nolongnya. "Locianpwe, kau benar. Pe¬ngemis jahat ini memang orang upahan Mo Goat, gadis dari luar Tembok Besar itu. Dia mau membunuhku!"
"Sudahlah, Nona Tio. Kau tak perlu khawatir. Yok Si Ki adalah tokoh terke¬muka di dunia persilatan. Dia seorang ke tua partai persilatan yang dihormati orang. Tentu saja dia takkan mau meng¬hina seorang gadis muda seperti engkau. Kau akan...."
"Cukup!" Yok Si Ki berteriak. "Kau tidak perlu mengejek aku! Aku memang tidak berniat mengganggunya! Aku lebih tertarik kepada kepalan tanganmu!"
"Sudahlah Yok Ciang-bun... aku tidak ingin bertentangan denganmu. Aku sudah bosan berkelahi. Kekerasan tidak akan menyelesaikan masalah. Kekerasan ha¬nya akan menimbulkan rasa sakit. Sakit di badan atau pun sakit di hati. Tak ada kedamaian dan kebahagiaan yang diper¬oleh dari jalan kekerasan!"
Bukan main berangnya hati Yok Si Ki. "Aku tidak butuh ceramahmu! Aku butuh pukulan dan tendanganmu! Nah, apakah kau takut berhadapan dengan aku?"
Ternyata Pendekar Buta tidak goyah oleh tantangan lawan. Pendekar itu jus¬tru menarik lengan Tio Ciu In dan me¬ngajaknya pergi.
Tio Ciu In' memandang penolongnya dengan perasaan kagum. "Kau memang hebat, Locianpwe! Dari sikapmu aku bi¬sa melihat bahwa sebenarnya kau tidak takut kepadanya. Namun demikian ter-nyata kau tidak melayani tantangannya! Kata Guruku, sikap seperti itu baru bisa dicapai orang setelah dia bisa mengalah¬kan dirinya sendiri."
Pendekar itu tersenyum kecut, lalu mengeleng. "Kau keliru, Nona Tio. Aku bukan manusia seperti itu. Aku memang benar-benar sudah bosan berkelahi."
"Hei! Berhenti...! Enak saja kau mem¬bawa gadisku!" Tiba-tiba Ho Bing melon¬cat dan berteriak lantang.
Tio Ciu In dan Pendekar Buta ber¬henti melangkah, lalu dengan berani ga¬dis itu menghadapi Ho Bing.
"Pengemis jahat, kau mau apa? Min¬ta digebuk...?" Sekarang di bawah per-I lindungan Pendekar Buta, Tio Ciu In I menjadi galak dan tidak takut lagi kepa¬da lawan-lawannya.
Ho Bing terkejut. Sesaat ada juga ra¬sa keder melihat orang buta di belakang | gadis itu. Namun menyaksikan Yok Si Ki juga melesat datang dan berdiri di sebelahnya, hatinya menjadi besar kem-bali.
"Hohoho... kau menjadi galak seka¬rang! Tapi... tidak apa-apa. Aku justru senang menghadapi gadis bersemangat! Marilah, sayang...!" Ho Bing mengem-I bangkan lengannya dan maju ke depan.
Tangan Pendekar Buta menyentuh bahu Tio Ciu In dari belakang. "Nona, I kau siap menghadapi dia...?" Dia berbi¬sik perlahan.
Tio Ciu In mengangguk. "Aku akan mencobanya...."
"Baiklah. Tapi... kau harus berhati-hati! Dari suara langkah kakinya, dia tentu memiliki ilmu silat tinggi. Tapi, terserah kau. Aku... akan menjaga orang yang bernama Yok Si Ki itu. Tampak¬nya dia lebih berbahaya daripada teman¬nya. Nah, demi keamananmu... bawalah sulingku ini! Selipkan di pinggangmu! Su¬aranya bisa menjadi pedoman bagiku un¬tuk mengikuti gerakanmu." Pendekar Buta itu berbisik lagi di telinga Tio Ciu In.
Tio Ciu In menerima suling itu dan menyelipkannya di balik tali pinggang. Setelah itu kakinya melangkah ke depan sambil mengayunkan tangan kiri, me¬nyongsong kedatangan Ho Bing. Entah kapan ia mencabut senjatanya, tapi yang jelas tangan itu telah memegang sepa¬sang pedang pendek.
"Bagus...!" Ho Bing memuji sambil mengayunkan tongkatnya untuk menang¬kis.
Traaaaang! Bunga api muncrat ber¬hamburan menerangi gua itu.
Keduanya bergetar mundur. Ho Bing tergetar selangkah ke belakang, semen¬tara Tio Ciu In terdorong empat lang¬kah lebih banyak.
Seperti tahu saja, Pendekar Buta itu berbisik dengan ilmu Coan-im-jib-bit. "Jangan terlalu sering mengadu tenaga! Lebih baik kau mengambil keuntungan dengan pedang pendekmu. Dia memang lebih kuat, tetapi tidak segesit gerakan¬mu. Pedangmu dapat meluncur lebih ce¬pat daripada tongkat besinya. Lawanlah dari jarak dekat. Jangan terlalu jauh. Nah, apabila beruntung kau akan bisa mengalahkannya."
Tio Ciu In melirik heran. Rasanya orang tua itu seperti tidak buta saja, dan bisa melihat apa yang terjadi. Na-demikian apa yang dikatakan orang juga.
demikianlah, sekejap kemudian terja¬dilah pertempuran seru di dalam gua itu. Tio Ciu In dengan dukungan Pendekar Buta, berusaha mendesak Ho Bing yang lebih berpengalaman. Dan sesuai petun¬juk penolongnya itu, Tio Ciu In merang-sak terus, tanpa memberi kesempatan pada lawannya untuk mengambil jarak.
Bertempur di tempat gelap, di anta¬ra bebatuan besar yang berserakan, me¬mang membutuhkan kemampuan tersen¬diri. Untunglah dalam penggemblengan- nya selama ini, Tio Ciu In bersama su-heng dan adiknya, juga mendapatkan pe¬lajaran tentang cara bergerak berdasar¬kan perasaan nalurinya.
Traaaaang! Traaanng....!
Beberapa kali pedang Tio Ciu In membentur tongkat lawan, sehingga le¬ngannya terasa linu. Namun dengan se¬mangatnya yang tinggi gadis itu tetap menerjang dan bertempur terus dalam jarak dekat. Ho Bing memang menjadi kewalahan dengan gaya tempur seperti .itu. Tongkat panjangnya sama sekali ti¬dak mendapatkan ruang gerak untuk ber¬kembang. Dalam ruang gerak yang sem¬pit, tongkatnya hanya bisa dipergunakan untuk menangkis dan membela diri.
Meskipun demikian gaya tempur se¬perti itu juga amat berat bagi Tio Ciu In. Tanpa didukung dengan tenaga dalam yang lebih kuat dan ilmu silat yang le¬bih tinggi daripada lawan, gaya tempur seperti itu akan segera berbalik menja¬di bumerang yang akan menyulitkan diri sendiri.
Sejak semula Pendekar Buta mengira bahwa Tio Ciu In telah mempelajari j Ilmu Silat Kulit Domba, yang merupakan ilmu andalan Im-yang-kau. Dengan ilmu silat pilihan itu Pendekar Buta berharap Tio Ciu In mampu menggebrak dan me- I ngacaukan lawannya. Bahkan dengan ke-lebihan ilmu silatnya itu, Tio Ciu In mampu melukai lawannya lebih dulu.
Namun harapan itu tidak terwujud. Tampaknya Tio Ciu In memang belum mencapai tataran yang tertinggi dalam ilmu silat Im-yang-kau itu. Malah bebe¬rapa jurus kemudian gadis itu mulai ke¬lihatan keteter dan terdesak mundur.
Ho Bing memang bukan tokoh semba-rangan. Sebenarnya lelaki pesolek itu bu¬kanlah pengemis sungguhan. Dia adalah orang kepercayaan Au-yang Goan-swe yang ditanam di daerah itu untuk me¬ngawasi kepentingan mereka di sana. Dan pondok di tengah-tengah rawa itu ada¬lah markas mereka di daerah pantai ti-mur kota Hang-ciu.
Begitulah, karena sebelumnya memang sudah ada jalinan rahasia antara Au-yang Goan-swe dan Mo Tan, maka tidak meng
herankan kalau Mo Goat bisa berhubung¬an denga Ho Bing. Ketika Mo Goat yang amat asing di daerah itu, membutuhkan orang yang bisa membantu dia mencari Tio Ciu In dan kawan-kawannya, dia se¬gera menghubungi orang-orang Au-yang Goan-swe di daerah itu. Mo Goat lalu bertemu dengan Ho Bing, dan selanjut¬nya mengupah pengemis itu untuk me¬lampiaskan dendamnya.
Sementara itu Ho Bing sendiri sebe¬lum menjadi orang kepercayaan Au-yang Goan-swe, merupakan tokoh yang amat ditakuti di daerah Barat. Dengan tong¬katnya yang berlubang-lubang seperti su¬ling, tokoh itu malang melintang sebagai jai-hoa-cat (penjahat pemetik bunga). Berkali-kali para pendekar dari golongan putih mencarinya, namun tak seorang pun mampu mengatasinya. Ilmu tongkatnya memang sulit dicari tandingannya. Selain kuat dan ganas, jurus-jurusnya juga penuh dengan gerakan-gerakan licik dan berba¬haya. Apalagi di dalam tongkat itu juga dipasangi berbagai macam jebakan dan senjata rahasia mematikan.
"Hohoho, bidadariku...! Menyerah saja¬lah! Kau bukan lawan yang setimpal bu¬atku! Jangan-jangan pukulanku malah bi¬sa merusakkan kulitmu nanti...!" Begitu merasa kemenangan telah berada di ta-ngannya, Ho Bing mulai mengejek dan tertawa.
Sebenarnyalah Tio Ciu In mulai ter¬desak di bawah angin. Dengan makin se¬ringnya mengadu senjata, maka tenaga simpanan gadis itu juga semakin berku¬rang pula. Dan akhirnya tenaga itu be-nar-benar terkuras habis.
Begitulah, setelah Tio Ciu In kehabis¬an tenaga, maka tongkat Ho Bing mulai melebarkan sayapnya. Dalam medan tem¬pur yang lebih luas, tongkat berbahaya itu segera menampakkan kehebatannya. Terdengar suara mengaung panjang, me¬liuk-liuk tinggi rendah, ketika lubang-lubang di dalam tongkat itu diterobos angin.
Meskipun demikian ternyata sulit juga untuk segera menjatuhkan Tio Ciu ln. Walaupun kalah segala-galanya, tapi ilmu silat gadis itu juga bukan ilmu silat pasaran. Dengan segala keuletan dan latih¬annya selama ini, Tio Ciu In cukup bisa menjaga dirinya.
Akhirnya habis juga kesabaran Ho Bing. Ketika Tio Ciu ln menangkis sabetan tongkatnya, Ho Bing cepat memencet salah satu lubang tongkatnya. Buuuuuushh ...! Dari ujung tongkat yang berada tidak jauh dari wajah Tio Ciu In itu tersebar bubuk kehijauan, yang kemudian menye¬limuti kepala gadis itu.
"Huk-huk-huk... ah, h-h-huk-hukk-huuuuk!" Tio Ciu In tersedak, kemudian terbatuk-batuk.
- "Nona Tio! Apa yang terjadi? Kau kenapa...?"
Tiba-tiba Pendekar Buta menghambur ke depan. Kesepuluh jari-jari tangannya yang terkembang itu mendorong ke tubuh Ho Bing. Wussh! Hembusan angin tajam berbau amis menerjang dengan dahsyat¬nya, sehingga Ho Bing maupun Yok Si Ki menjadi terperanjat bukan main!
"Ho Bing, menghindarlah...!" Yok Si Ki menjerit.
Sambil memberi peringatan Yok Si Ki melesat ke depan. Sisi tangannya me¬nahas ke arah pukulan Pendekar Buta. Taaaas! Hembusan angin berbau amis itu menghantam sisi telapak tangannya dan membias ke segala penjuru.
"Aaaaah...!" Pendekar Buta mengeluh perlahan dan tubuhya bergoyang-goyang mau jatuh. Tebasan tangan Yok Si Ki yang mengandung tenaga bias itu ternya¬ta bisa membalikkan kekuatannya.
"Locianpwe...?" Tio Ciu In yang ter¬bebas dari semburan bubuk beracun itu segera menubruk penolongnya.
Pendekar Buta mengambil napas pan¬jang untuk meluruskan kembali pernapas¬an dan jalan darahnya. Setelan semua¬nya kembali normal, dia baru mengerah kan perhatian ke sekelilingnya. Dicoba¬nya untuk mendengarkan keadaan lawan¬nya.
"Jangan khawatir, Nona Tio. Aku tidak apa-apa. Cuma... penyakit lamaku kelihat annya kambuh kembali. Aku juga tidak menyangka penyakit itu akan kambuh pa¬da saat-saat begini. Tapi... sudahlah, aku bisa mengatasinya. Eh, bagaimana denganKetua Tai-bong-pai itu? Apakah dia ju¬ga baik-baik
Tio Ciu In melirik. Dilihatnya Yok Si Ki berdiri tegak di tempatnya. Orang itu tampak garang dan seperti tidak me¬ngalami gangguan *apa-apa.
"Dia... dia berdiri tegak di depan ki¬ta. Tampaknya dia segera akan menye¬rangmu lagi."
"Aaah, dia memang hebat sekali! Sa¬yang penyakitku tiba-tiba kambuh...."
"Locianpwe... sakit?" Tio Ciu In ber¬desah ketakutan.
"Benar. Sebenarnya aku butuh istira¬hat untuk memulihkannya kembali. Tapi dalam keadaan begini... yah, apa boleh buat! Oleh karena itu kalau aku tidak bisa menolongmu nanti, kau harus cepat-cepat menerobos ke dalam gua lagi! Ja¬ngan keluar dari gua sebelum mereka pergi! Di luar kau akan mudah ditang¬kap mereka."
"Locianpwe...?"
"Sudahlah, kau ikuti saja kata-kata¬ku!"
Sementara itu Yok Si Ki melangkah mendekati Pendekar Buta. Matanya yang tajam dan dingin seperti mata burung hantu menatap lawannya. Ada rasa he¬ran dan kurang percaya dalam sorot ma¬tanya.
"Sungguh dahsyat sekali pukulanmu! Tidak kusangka orang tak dikenal seperti engkau, memiliki tenaga dalam sehebat itu. Sekarang aku benar-benar menjadi curiga. Siapakah sebenarnya engkau ini ...?" Yok Si Ki memuji dengan suara menyelidik.
"Sudahlah, Yok Ciangbun. Aku benar-benar tidak ingin berkelahi denganmu. Lepaskan saja kami berdua dan biarkan kami pergi."
"Uh, enaknya...! Jangan biarkan me¬reka lolos, Ciangbun! Mereka telah ber¬ada di bawah kekuasaan kita. Orang bu¬ta ini tidak kuat menahan pukulan sisi tanganmu. Dan... gadis ini juga sudah terkena pengaruh bubuk laba-labaku. Se¬bentar lagi dia akan roboh dengan sendi¬rinya, hehehe!" Ho Bing berseru sambil melangkah mendekati Tio Ciu In.
Tapi sebagai orang yang sangat berpengalaman, Yok Si Ki tidak percaya be¬gitu saja apa yang dilihatnya. Ia meli¬hat beberapa keanehan pada lawannya. Semula ia melihat kedahsyatan pukulan orang buta itu. Rasanya kekuatan orang itu mampu meruntuhkan sebuah bukit. Tapi anehnya, ketika arus pukulan itu membentur pukulannya, tiba-tiba saja ke¬kuatan itu menyusut dan hilang.
Ada sesuatu yang tidak dia ketahui. Mungkin jebakan, tapi kemungkinan juga bukan.
"Orang ini sangat mencurigakan. Satu-satunya JaJan untuk membongkar kedok¬nya cuma mengalahkannya...." Yok Si Ki bergumam dalam hati.
"Bagaimana, Yok Ciang-bun? Boleh¬kah kami berdua meninggalkan tempat ini?" Pendekar Buta bertanya perlahan.
Yok Si Ki memandang tajam. "Boleh, tapi... dengan satu syarat...."
"Syarat...? Apakah syaratnya?"
"Mudah saja, yaitu... kau kalahkan aku dulu!"
Sekonyong-konyong tubuh Pendekar Buta bergoyang-goyang lagi. Tio Ciu In menjerit dan buru-buru melompat mende¬kati. Namun seperti halnya Pendekar Bu¬ta, gadis itu mendadak juga terhuyung-huyung.
"Nona Tio...?" Pendekar Buta me¬nyambar pinggang Tio Ciu In dan meno-tok beberapa jalan darah di punggungnya untuk menahan pengaruh racun yang tampaknya mulai menyerang gadis itu.
Akan tetapi Yok Si Ki tidak membe ri kesempatan lagi. Selagi Pendekar Bu¬ta itu sibuk menolong Tio Ciu In, tangan nya segera melayang, menghantari teng¬kuk pendekar itu.
"Lihat pfkf lan^" Dia memberi peri¬ngatan.
Pendekar Buta terperanjat. Dengan keadaannya sekarang ia tidak mungkin berkelahi dengan siapapun juga. Jangan¬kan melawan Yok, Si Ki ataupun Ho Bing, menghadapi Tio Ciu In saja ia takkan mampu.
Tapi ia tak bisa menghindar lagi. Sambil mendorong tubuh Tio Ciu In, ia membalik dan terpaksa menangkis pukul-' an Yok Si Ki. Meskipun dia tak yakin
bisa mengerahkan kekuatannya kembali, tapi ia tetap mencobanya pula.
Dieees! Dua kekuatan yang maha dahsyat saling berlaga di udara! Dan kali ini mereka berdua sama-sama terge¬tar mundur! Hanya bedanya, Yok Si Ki tampak biasa-biasa saja, sementara Pen¬dekar Buta tampak mengalirkan darah segar dari sudut bibirnya.
"Yok Ciang-bun...! Tampaknya kau telah berhasil mempelajari Tenaga Sakti Inti Roh atau Tenaga Sakti Inti Seribu Nyawa, ciptaan mendiang Kwa Eng Ki." Pendekar Buta berdesis dengan suara terengah-engah. Ternyata kekuatannya dapat keluar juga, walaupun baru sebagi¬an saja.
Yok Si Ki terbelalak kaget. Kakinya melangkah mundur. "Dari mana kau tahu tentang ilmu rahasia itu? Kau...? Hmm, siapakah kau sebenarnya?"
"Sudah kukatakan, aku hanya seorang lelaki buta yang tak punya nama. Tak ada gunanya kau membunuh aku. Lebih baik kau biarkan aku pergi, dan aku akan sangat berterima kasih kepadamu."
Yok Si Ki mendengus. Hatinya makin penasaran karena orang buta itu ternya¬ta telah mengenal ilmunya, yang berarti orang itu sudah pernah mengenal atau berhadapan dengan ilmu tersebut. Pada¬hal sepengetahuannya baru dia sendiri yang berhasil mempelajari ilmu tersebut.
"Lalu dengan siapa dia pernah berha¬dapan? Mendiang ketua Tai-bong-pai la¬ma, Kwa Eng Ki? Atau... jangan-jangan dia bertemu dengan Tai-bong-pai Kui-bo, yang telah bisa memecahkan kunci raha¬sia ilmu itu di buku Tai-bong Pit-kip...!" Yok Si Ki membatin. '
Begitu ingat Tai-bong Kui-bo, ketua Tai-bong-pai itu seperti tersentak dari tidurnya. Hatinya menjadi curiga. Ja¬ngan-jangan orang buta di depannya itu memang pernah bertemu dengan Tai-bong Kui-bo dan merampas bukunya.
"Kau.... kau? Apakah kau kenal de¬ngan Tai-bong Kui-bo?" Tak terasa mu¬lutnya terbuka.
* Pendekar Buta mengerutkan dahinya. "Apa? Tai-bong Kui-bo? Siapakah dia? Katanya tak mengerti.
Yok Si Ki tertegun. Ia melihat keju¬juran pada wajah lawannya.
"Baiklah, kalau memang tidak tahu... ya, sudah! Sekarang kita selesaikan saja persoalan kita dengan kaki tangan."
Selesai berkata Yok Si Ki benar-benar menyerang Pendekar Buta. Kedua telapak tangannya mendorong ke depan dengan kekuatan penuh. Dari kedua ta¬ngannya itu tersebar bau wangi menusuk hidung.
Pendekar Buta buru-buru melangkah ke samping. Meskipun lawannya belum mempergunakan Tenaga Sakti Inti Roh, tetapi Hio-yen Sin-kang (Tenaga Sakti Asap Dupa) yang ia hadapi sekarang ju-ga tidak kalah berbahaya pula. Tenaga Sakti yang menjadi tumpuan para ang-gauta Tai-bong-pai itu sangat terkenal di dunia persilatan.
Namun pada saat yang sama, rasa sakit itu tiba-tiba kambuh lagi! Begitu sakitnya sehingga Pendekar Buta kemba¬li terhuyung-huyung mau jatuh. Akibat¬nya serangan Yok Si Ki tak bisa dihin-dari sepenuhnya!
Sreeet...! Angin pukulan Yok Si Ki | menyerempet bahu Pendekar Buta, se- I hingga tubuh orang tua itu terpelanting menabrak dinding!
Yok Si Ki tak mau memberi kesem¬patan lagi. Sesuai dengan wataknya yang ganas dan kejam, maka serangan berikut¬nya segera tertuju pada jantung lawan- j nya.
Wuuuuuus...! Dan kali ini Yok Si Ki benar-benar mempergunakan Tenaga Sak¬ti Inti Roh! Pasir dan kerikil tampak bertebaran di sekelilingnya, sehingga ketua Tai-bong-pai itu seperti dikurung <■ pusaran pasvEetnout.
"Locianpwe...!" Tio Ciu In menjerit ' dan mencoba menolong Pendekar Buta 1 yang jatuh terlentang di lantai gua.
"Nona Tio, jangan mendekat..." Pen¬dekar Buta berseru.
Terlambat. Tio Ciu In yang berada di garis pukulan <Yok Si Ki tak mampu mengelak lagi. Disertai dengan suara je¬ritannya yang keras gadis itu terpental dan tubuhnya menimpa Pendekar Buta.
"Nona Tio...!?!" Pendekar Buta yang1 tidak bisa melihat bagaimana keadaan gadis itu berteriak ketakutan.
Orang tua itu cepat meraba seluruh tubuh Tio Ciu In. Ketika kemudian ter¬sentuh oleh jarinya darah yang mengalir dari mulut gadis itu, kemarahannya tak bisa dibendung lagi. Bergegas gadis itu diletakkan di dekatnya, lalu tiba-tiba tu¬buhnya melenting berdiri dan mengaum keras sekali!
"Aaaaaaarrrrrgghh.....„!!!"
Begitu kuat dan keras getarannya se¬hingga gua itu bagaikan digoyang oleh gempa. Dan getaran itu semakin menja¬di-jadi ketika dalam kemarahannya Pen¬dekar Buta itu menjebol sebuah batu be¬sar, dan membantingnya kuat-kuat!
Dhuuuuuuaaaaaar......!
Pecahan batu kerikil dan pasir ber¬hamburan disertai suara gemuruh meme¬kakkan telinga. Akibatnya gua itu berge¬tar hebat seolah mau runtuh. Bahkan ge¬taran itu juga menyebabkan batu dan de¬bu di atas langit-langit gua berhambur¬an ke bawah.
Ribuan kelelawar penghuni gua itu mencicit ketakutan. Mereka mencoba menyelamatkan diri dengan terbang ke¬luar gua. Begitu kacau dan ributnya sua¬sana sehingga banyak yang saling berta-brakan di udara, atau jatuh menggele¬par tertimpa pecahan batu.
Suasana di dalam gua itu benar-benar seperti neraka. Debu dan pasir bertebar¬an, disertai jatuhnya bongkahan-bongkah¬an batu yang retak dan copot dari la¬ngit-langit gua.
"Yok Ciang-bun! Cepat kita keluar sebelum gua ini benar-benar runtuh!" Ho Bing berteriak dan lebih dulu meloncat ke arah pintu gua.
Yok Si Ki tidak menjawab, tapi de¬ngan tangkas tubuhnya berloncatan di antara hujan batu. Mereka sama sekali tak memikirkan nasib Pendekar Buta dan Tio Ciu In lagi. Bagi mereka yang pen¬ting adalah menyelamatkan diri mereka sendiri.
Dalam situasi demikian, maka ting¬kat kesaktian seseorang akan tampak de¬ngan jelas. Ho Bing yang tangkas dan memiliki tenaga dalam cukup tinggi, te¬tap bisa bergerak dengan cepat dan lincah. Tubuhnya dapat meliuk-liuk, ke ka¬nan dan ke kiri, menghindari batu-batu besar yang berjatuhan dari langit-langit gua. Tongkatnya berputar seperti gasing di atas kepalanya, bagaikan lembaran ka¬in payung melindungi badan dari guyur¬an debu dan kerikil tajam.
Gerakan Ho Bing benar-benar hebat. Ketika kemudian kakinya menginjak pin¬tu gua, tubuhnya sama sekali tidak ter-luka. Bahkan pakaian yang dia kenakan masih tetap bersih dan rapi. Hanya se-patu dan ujung celananya saja yang tam¬pak "kotor terkena debu.
Namun apa yang dilakukan Ho Bing tersebut ternyata belum sehebat apa yang dikerjakan oleh Yok Si Ki. Dalam keadaan hiruk-pikuk seperti itu, ternya¬ta gerakan yang dilakukan oleh Yok Si Ki benar-benar sulit diterima akal sehat.
Seperti saat mengerahkan Tenaga Sakti Inti Roh tadi, maka sambil berlon¬catan tubuh Yok Si Ki seperti mengelu¬arkan angin berputar yang membiaskan segala macam benda yang datang kepa-danya. Tubuhnya seakan-akan terlindung oleh tabung kaca yang tak kelihatan oleh mata. Sebentar saja tubuh ketua Tai-bong-pai itu telah berada di luar gua, mendahului Ho Bing yang sebenar¬nya sudah lebih dulu menyelamatkan diri.
Ho Bing benar-benar semakin keder melihat kesaktian Yok Si Ki. Orang itu seperti setan saja, tahu-tahu telah ber¬diri di luar gua.
Sementara itu hiruk-pikuk di dalam gua itu masih saja berlangsung dengan hebatnya. Bahkan-debu tebal bercampur pasir juga menyembur sampai ke luar gua, sehingga lubang-lubang mulut gua itu bagaikan kepundan gunung berapi yang sedang menyemburkan asapnya.
Ho Bing dan Yok Si Ki terpaksa me¬lompat ke belakang menjauhi lubang gua itu.
"Bagaimana... dengan gadis itu, Yok Ciang-bun? Apakah Si Buta mampu me¬nyelamatkannya?" Di dalam ketegangan¬nya Ho Bing masih juga memikirkan Tio Ciu In.
Yok Si Ki menghela napas panjang.
"Entahlah...! Rasanya sulit untuk keluar dari gua rtu kalau kita harus menggen¬dong orang lain."
"Lalu... apa yang akan kita perbuat? Menunggu sampai reda dan mencari me¬reka?"
Yok Si Ki mengangguk. "Kita harus tahu, bagaimana keadaan mereka. Mati atau hidup. Kalau sudah mati, kita ting¬galkan saja tempat, ini. Tetapi kalau ter¬nyata mereka masih hidup, kita harus membunuhnya lebih dulu. Aku tidak ingin" menanam bibit kesulitan di kemudian hari."
Akan tetapi sampai matahari hampir terbenam, reruntuhan di dalam gua itu belum juga tuntas. Sekali-sekali masih terdengar suara gemuruh jatuhnya beba¬tuan dari langit-langit gua. Tentu saja Yok1 Si Ki dan Ho Bing tak ingin meng¬ambil resiko masuk ke dalam.
"Lihat, Yok Ciang-bun! Aliran sungai dari dalam gua itu tidak mengalir ke lu¬ar lagi. Tampaknya alur sungai itu telah tertimbun tanah dan bebatuan. Dan hal itu* berarti terowongan-terowongannya akan penuh terisi air. Oleh karena itu kalau mereka masih hidup, mereka akan tetap sulit pula untuk menyelamatkan diri."
Sekali lagi Yok Si Ki menganggukkan kepalanya. "Tampaknya memang demiki¬an. Kalau begitu kita tinggalkan saja tempat ini!"
Demikianlah, mereka berdua lalu me¬ninggalkan pantai itu, dan kembali ke kota Hang-ciu. Sama sekali mereka tak menduga kalau lawan-lawan mereka ma¬sih tetap hidup di antara reruntuhan gua itu.
Ternyata pada saat bencana itu ter¬jadi, Pendekar Buta dengan sisa-sisa tena¬ganya, masih dapat menyeret tubuh Tio Ciu In ke dalam lubang terowongan yang dikenalnya. Kemudian sambil menunggu redanya bencana tersebut, Pendekar Bu¬ta mencoba mengobati luka-luka dalam yang diderita oleh gadis itu. Namun ka¬rena luka-lukanya memang terlalu parah, sementara Pendekar Buta sendiri juga dalam keadaan lemah, maka usaha terse¬but kurang membawa hasil. Gadis itu tetap tergolek pingsan di tempatnya, meskipun nyawanya masih bisa disela¬matkan.
Ketika hari semakin gelap, dan hawa malam mulai terasa mengalir dalam gua, Pendekar Buta merasakan tubuhnya mu¬lai membaik. Sementara itu Tio Ciu In juga mulai siuman dari pingsannya. Ga¬dis cantik itu mulai membuka matanya.
"Locianpwe...??" Jeritnya lirih tatkala melihat Pendekar Buta itu duduk di de¬katnya.
"Syukurlah... kau telah siuman kem¬bali, Nona. Aku benar-benar khawatir melihat keadaanmu. Pukulan Ketua Tai-bong-pai tadi sungguh dahsyat sekali. Pukulannya menyebabkan jalan darahmu menjadi kacau. Bahkan beberapa dianta-ranya tertutup. Beruntung aku segera dapat memperbaiki dan membukanya kembali. Namun demikian kau tetap ha¬rus beristirahat penuh dalam beberapa hari ini. Engkau harus berlatih dan mem¬biasakannya lagi secara hati-hati."
"Terima kasih, Locianpwe. Kau telah menolong jiwaku. Aku tidak tahu bagai¬mana jadinya bila Locianpwe tidak ada.
Oooohh!!"
Tio Ciu In bangkit dan merangkap¬kan dua tangannya di depan dada. Tapi mulutnya segera menjerit kecil ketika sadar tubuhnya tidak mengenakan pakai¬an sama sekali. Otomatis kulit mukanya menjadi merah sekali.
Meskipun tidak bisa melihat, tetapi Pendekar Buta bisa menebak apa yang terjadi. Tergopoh-gopoh ia meminta maaf.
"Maaf, Nona Tio. Aku terpaksa mem¬buka pakaianmu. Tidak ada jalan lain untuk menolongmu, selain harus cepat-cepat membenahi jalan darah yang kacau itu. Keadaanmu tadi benar-benar sangat mengkhawatirkan. Celakanya, setelah pe¬ngobatan selesai dan keadaanmu telah menjadi baik, aku justru tidak berani mengenakan pakaianmu kembali. Aku memang orang tua yang canggung. Seka¬li lagi, maafkanlah aku..." Orang tua itu berkata dengan rasa sesal yang dalam.
Sebenarnya Tio Ciu In sudah hampir menangis. Namun melihat kesungguhan orang tua itu, hatinya menjadi sadar kembali. Bagaimanapun juga orang tua itu telah menolong jiwanya. Apalagi o-rang tua itu menolong dengan sungguh-sungguh. Tidak ada tanda-tanda buruk yang menyatakan bahwa orang tua itu berniat jelek terhadapnya.
Tio Ciu In segera mengenakan pakai¬annya kembali. Rambutnya yang kusut ia rapikan kembali, walaupun tanpa tali pita, karena talinya telah hilang entah ke mana. Begitu pula dengan sepasang sepatunya. Barang itu juga hilang. Ke¬mudian sambil memasang ikat pinggang¬nya, dia melirik ke arah penolongnya.
^TiiteagtjbagrytaHya^terbelalak. Dilihat¬nya orang tua itu mengcengkeram perut dan dadanya. Mulutnya meringis menahan sakit, sementara tubuhnya tampak berge¬tar seperti orang kedinginan. Bahkan da¬hinya sudah penuh keringat.
"Locianpwe...??" Tio Ciu In menjerit kaget.
Namun orang tua itu tak menjawab. Dia sedang sibuk melawan rasa sakit yang menyerangnya. Ketika tubuhnya ke¬mudian bergetar dengan hebat dan ber¬goyang-goyang mau jatuh, Tio Ciu In me nubruk.
Ternyata pendekar tua itu telah ping¬san. Matanya terpejam, sementara pakai¬annya basah oleh keringat.
"Locianpwe....? Locianpwe...!" Tio Ciu In berteriak-teriak memanggil sambil mengguncang tubuh tua itu.
Beberapa saat kemudian mata itu ter buka kembali. Tetapi selain sangat pu¬cat, orang tua itu tampak lemah sekali.
"Maaf, Nona Tio... penyakit lamaku benar-benar kambuh lagi. Untuk beberapa hari aku tidak akan bisa berbuat apa-apa. Kaki dan tanganku lumpuh. Aku ha¬nya dapat menggerakkan kepalaku saja."
"Lumpuh...? Locianpwe lumpuh?" Tio Ciu In berdesah tak percaya.
"Benar. Aku akan menderita lumpuh untuk beberapa hari, sampai penyakit itu pergi...."
Tio Ciu In memandang wajah yang hampir tertutup oleh kumis dan jenggot panjang itu. Dia benar-benar tak me¬ngerti, penyakit apa yang diderita orang tua itu, sehingga harus menderita sede¬mikian hebatnya.
Tampaknya Pendekar Buta tahu apa
yang dipikirkan Tio Ciu In.
"Nona Tio, aku menderita penyakit 'Salah Jalan'. Belasan tahun yang lalu ketika sedang berlatih menghimpun te¬naga sakti, seorang musuh telah mem¬bokong aku, sehingga latihanku menjadi 'salah jalan'. Lebih celaka lagi, dalam situasi yang tidak menguntungkan itu, musuh-musuhku yang lain juga datang dan mengeroyok aku. Terpaksa dalam ke¬adaan lemas dan hampir lumpuh aku menghadapi mereka. Ketika akhirnya aku bisa juga meloloskan diri, keadaanku benar-benar sudah hancur luar-dalam. Badanku penuh darah, sementara luka di bagian dalam tubuhku juga parah se-kali. Boleh dikatakan keadaanku saat itu seperti mayat hidup. Hidup tidak, tapi matipun juga belum."
Orang tue itu berhenti sebentar untuk' mengambil napas. Kulit mukanya tampak semakin pucat.
"Akhirnya luka-luka itu memang bisa kusembuhkan. Tapi akibat dari 'salah ja¬lan' itu masih kuderita sampai sekarang. Apabila penyakit itu datang, aku sama ekali tidak bisa berbuat apa-apa untuk mencegahnya. Badanku akan lumpuh un¬tuk beberapa hari."
Tio Ciu In menganguk-angguk. Guru¬nya memang pernah bercerita, bahwa da lam ilmu silat sering terjadi 'salah ja¬lan'. Semakin tinggi dan rumit ilmu yang dipelajari, semakin banyak pula resiko untuk menderita 'salah jalan'. Bahkan kesalahan itu sering membawa kematian.
"Lalu... di mana keluarga Locianpwe? Tentunya mereka yang merawatmu jika penyakit itu datang."
Orang tua itu menarik napas dalam-dalam. Dan jawabannya sungguh menge¬jutkan Tio Ciu In.
"Aku tidak memiliki keluarga lagi, Nona. Semuanya telah tiada. Ayahku, Ibuku, isteriku, anak-anakku, semuanya telah mati mendahului aku. Kini aku ha¬nya sebatang kara saja di dunia ini."
"Sendirian...? Lalu... siapa yang me¬rawatmu selama ini kalau penyakit itu datang? Bukankah kau tidak bisa apa-apa?"
Orang tua itu tersenyum kecut. "Sudah lama aku ingin mati, agar arwahku bisa segera berkumpul dengan keluarga¬ku. Maka di saat-saat kambuh seperti ini, aku justru berharap segera bisa ma¬ti. Tapi sampai sekarang penyakit itu belum juga bisa mencabut nyawaku. Meskipun berhari-hari perutku tak diisi, tergolek di tanah dikerumuni semut dan nyamuk, aku tetap masih hidup."
"Aaaah...!" Tio Ciu In menggeleng-gelengkan kepalanya.
"Bahkan penyakit ini pernah kambuh di saat aku sedang mandi di sungai ba¬wah tanah itu. Begitu mendadak, sehing¬ga aku tidak bisa berbuat apa-apa untuk menyelamatkan diri. Aku tergolek tak berdaya di dalam air dingin itu selama berhari-hari. Celakanya, kepalaku masih tersangkut diantara dua batu, sehingga aku masih tetap bisa bernapas."
"Aaah! Lalu, berapa hari biasanya pe¬nyakit itu menyerang?"
"Yah, tergantung keadaan. Kadang-kadang tiga hari... lima hari, atau... se¬puluh hari. Tapi biasanya cuma lima ha¬ri."
"Lima hari? Lama juga..." Tio Ciu In bergumam.
"Ah, biarkan saja. Aku juga tidak pernah memikirkannya lagi. Aku malah senang kalau bisa mati. Semuanya ber¬akhir, dan aku segera bisa bertemu de¬ngan isteriku... anak-anakku. Mereka su¬dah terlalu lama menungguku."
"Locianpwe....?"
"Sudahlah, Nona. Kau tak perlu ber¬pikir apa-apa. Yang penting kini adalah mengembalikan tenagamu. Berlatihlah dengan tekun agar kesehatanmu cepat pulih kembali. Setelah itu kau bisa ke¬luar dari gua ini."
Tio Ciu In terdiam. Matanya meman¬dang orang tua itu dengan penuh perasa¬an haru dan sedih. Orang tua yang me¬miliki ilmu silat sangat tinggi itu ter¬nyata sangat menderita dalam hidupnya. Entah mengapa, tiba-tiba timbul perasaan kasihan di dalam hatinya.
"Locianpwe, kau juga tidak perlu khawatir. Sementara aku di sini, aku akan merawatmu. Kita sama-sama me¬mulihkan kesehatan."
Demikianlah, untuk membalas budi orang tua itu Tio Ciu In merawatnya dengan baik. Atas petunjuk orang tua itu Tio Ciu In membawa penolongnya itu ke gua tempat tinggalnya. Gua itu dapat dicapai melalui lorong-lorong kecil di da¬lam tanah. Karena Tio Ciu In sendiri juga masih lemah, maka perjalanan itu membutuhkan waktu yang lama.
Gua itu bersih dan nyaman. Hembus¬an udara yang mengalir lewat aliran su¬ngai di depan pintu gua, membuat tem¬pat tersebut tidak panas dan pengap. Se¬mentara di dalam ruang gua telah diatur dan ditata seperti sebuah kamar besar. Ada tempat memasak, mencuci, serta tempat untuk istirahat.
Malam itu angin laut bertiup dengan kencangnya, sehingga udara segar juga berhembus pula dengan kuatnya ke da¬lam gua. Tio Ciu In mengambil selimut yang ada di rak batu dan menutupkan-nya di atas tubuh Pendekar Buta.
Tiba-tiba gadis itu menarik napas panjang. Entah mengapa, pikirannya me¬layang kepada Liu Wan, pemuda yang lalu berbaik hati menolongnya. Pemuda itu tentu sedang mencarinya sekarang. Mungkin pemuda itu bersama Jeng-bin Lo-kai dan kawanan pengemisnya sedang mengobrak-abrik pondok kecil di tengah rawa itu.


                                                                 ***  

Sama sekali tidak terpikirkan oleh Tio Ciu In, bahwa pada saat itu Liu Wan justru sedang menghadapi maut. Dalam
keadaan tertotok lemas pemuda itu harus menghadapi api yang berkobar hebat di sekelilingnya.




Rabu, 04 Juli 2018

PENDEKAR PEDANG PELANGI 17


Jilid 17
Demikianlah, dalam keadaan kaget Giam-lo Sam-kui tidak menyangka kalau selendang yang berputar di atas kepala Kwa Yung Ling itu mendadak terr putus menjadi beberapa bagian. Dan me-reka juga tidak menduga pula ketika potongan-potongan selendang itu tiba-tiba menerjang ke arah mereka. Ternyata hen¬takan tenaga Kwa Yung Ling tadi telah memotong selendang itu menjadi beberapa bagian.

Mati-matian Giam-lo Sam-kui berusaha menghindar dari potongan selendang itu. Mereka berjungkir balik sambil mengibaskan lengan baju mereka yang longgar. Namun tetap saja beberapa potong¬an selendang melesat mengenai mereka. Ketiganya meringis menahan sakit. Ketika mereka berdiri tegak kembali, tampak baju mereka telah terbuka di sana-sini. Bahkan darah mulai mengalir membasahi kain yang sobek itu. Beruntung bagi mereka karena memiliki sinkang lebih tinggi, sehingga luka-luka itu tidak terlalu dalam.

"Keparat! Hampir saja dia membunuh¬ku!" Orang termuda dari Giam-lo Sam-kui mengumpat, karena dialah yang terparah lukanya.

Namun mereka tidak bisa menghukum Kwa Yung Ling lagi, karena sejalan de¬ngan jurus terakhirnya itu maka seluruh jalan darah wanita itu telah tertutup, sehingga jantungnya juga berhenti berde-nyut. Wanita cantik itu telah mati mengikuti pengasuhnya.

Giam-lo Sam-kui bergegas mengobati luka-lukanya, kemudian cepat-cepat meng geledah tubuh kedua korbannya. Dan sebu¬ah buku kecil mereka dapatkan di balik pakaian Kwa Yung Ling.


"Ah, Tai-bong Pit-kip telah kita da¬patkan kembali!" Orang tertua dari Giam Lo Sam-kui berdesah kegirangan.

Buku itu segera dimasukkannya ke dalam saku. "Ji-te, Sam-te... ayoh, cepat kita tinggalkan tempat ini! Kita harus segera melaporkan penemuan ini kepada Yok Ciangbun (Ketua Yok)!"

Namun belum sempat mereka melangkahkan kaki meninggalkan tempat itu, segera seorang dara remaja berusia em¬pat belas tahun menghambur datang. Gadis itu berteriak setinggi langit begi¬tu melihat mayat Kwa Yung Ling.

"Ibuuuuuu...!!!"

"Tahan! Bukankah anak ini... Yok Ting Ting?" Orang tertua dari Giam-lo Sam-kui tiba-tiba mencengkeram lengan kedua saudaranya.

"Kita tak usah pedulikan dia. Kita sudah membunuh kedua buruan itu, dan sudah mendapatkan buku mereka pula. Kita tak usah membuang-buang waktu untuk mengurusi anak itu." Orang kedua dari Giam-lo Sam-kui memperingatkan kakaknya.

"Benar, Twako. Perjalanan kita masih panjang. Kita tak usah mencari perkara "Ah, bodoh benar kalian ini! Bagaima¬napun juga dia adalah puteri Yok Ciang-bun. Kedatangan anak ini akan menam-bah kegembiraan beliau. Hmm, ayoh... kita bawa anak ini!"

Orang kedua dan ketiga dari Giam-lo Sam-kui tidak mau membantah lagi. Sambil saling memandang dan mengang¬kat pundaknya, mereka berdua cepat melangkah ke depan untuk meringkus Yok Ting Ting.

"Nona Yok, Ibumu sudah mati. Tak perlu kautangisi lagi. Marilah sebaiknya kau ikut kami untuk menemani Ayahmu."

"Pembunuh! Kalian bertiga benar-benar manusia busuk! Kalian telah membunuh Ibuku dan Nenekku! Aku... aku... ah, kubunuh kalian bertiga!"

Yok Ting Ting berteriak tinggi, kemudian dengan nekad melompat dan memukul orang tertua dari Giam-lo Sam-kui.

Tapi hanya dengan sebelah tangan orang tertua dari Giam-lo Sam-kui menangkap pergelangan tangan Yok Ting Ting. Kemudian hanya dengan sekali sentak gadis itu terkulai lemas dalam pelukannya. Sebuah totokan jari telah membuat gadis itu tak berdaya.
Namun sebelum ketiga iblis itu ber¬anjak pergi, dari balik air terjun terde¬ngar suara bentakan nyaring.


"Lepaskan anak itu...!"

Dengan gesit Giam-lo Sam-kui membalikkan badan. Dan mata mereka segera menangkap dua sosok bayangan wanita berkelebat menghampiri tempat itu. Salah seorang dari bayangan itu tiba-tiba telah berdiri di depan mereka, sementara bayangan yang lain melesat ke tempat di mana Tio Siau In tergeletak. Sekejap ketiga iblis itu melongo menyaksikan wajah cantik berkesan agung itu.

"Engkau... siapa?" Di dalam kekagetan mereka orang tertua dari Giam-lo Sam-kui itu bertanya.

Wanita cantik di depan Giam-lo Sam-kui, yang tidak lain adalah Bibi Lian itu berdesah pendek.

 "Kalian tak perlu tahu... siapa kami berdua. Kami hanya meminta agar anak itu dilepaskan!"

"Oh...!" Saudara tertua dari Giam-lo Sam-kui menggeram.

Kulit wajahnya yang pucat itu kembali memerah. Hatinya tersinggung. "Tahukah Kau... siapa gadis ini? Dia puteri ketua kami yang hilang sejak dua tahun lalu. Kami telah menemukannya kembali, dan akan membawanya ke Tai-bong-pai. Nah, apakah kau tetap ingin mencampuri urusan kami?"

"Bohong...! Penjahat ini berbohong! Aku bukan anak Yok Si Ki! Orang-orang ini justru telah membunuh Ibu dan Nenekku!" Tak terduga Yok Ting Ting berteriak keras sekali.

Tentu saja Giam-lo Sam-kui menjadi marah sekali. Kelima jari-jari tangan ka¬annya tiba-tiba terayun ke ubun-ubun Yok Ting Ting.

Gadis itu menjadi pucat seketika. Dia tak mungkin bisa mengelak, karena tu¬buhnya tertotok lemas dan tak bisa bergerak!

Namun di dalam situasi yang kritis itu mendadak terdengar suara berdesis seperti suara bara api terjatuh ke dalam air. Cush! Dan Giam-lo Sam-kui tiba-tiba melihat cahaya kebiruan melesat menerjang ke arah jari tangannya yang hendak mencoblos kepala Yok Ting Ting!

Ujung jari yang hampir menembus ubun ubun Yok Ting Ting itu cepat ditarik kembali. Sebagai gantinya orang tertua dari Giam-lo Sam-kui itu mengebutkan ujung lengan bajunya ke arah cahaya yang datang.


Taaak...! Taaaak!

Tak terasa lengannya bergetar hebat seperti menahan gempuran pedang, sehingga Yok Ting Ting terlepas dari pelukannya! Dan pada saat itu pula wanita cantik terse¬but berkelebat menyambar tubuh gadis itu!

"Aaiiih...!?" Tiga Iblis dari Neraka itu membelalakkan mata mereka.

Ujung lengan baju saudara tertua mereka tampak berlubang di kedua sisinya. Lubang sebesar ujung jari itu bagaikan lubang bekas tertembus anak panah.

"Kau... kau dari keluarga Souw?" Saudara tertua dari Giam-lo Sam-kui bertanya gugup.

"Benar! Ia memang puteri kesayangan Hong-gi-hiap Souw Thian Hai!"

Tiba-tiba dari pinggir arena terdengar suara lembut dan merdu. Semuanya berpaling dengan cepat ke arah suara itu. Di tepian kolam, di ma¬na air terjun itu tertumpah tampak seorang gadis cantik bak bidadari. Tubuhnya yang tinggi langsing itu melenggang gemulai bagaikan pohon yang-liu tertiup angin. Sementara itu wajahnya yang bulat telur kelihatan bercahaya laksana bintang kejora.

Kalau Giam-lo Sam-kui terbelalak matanya melihat kecantikan yang tiada tara itu, sebaliknya Bibi Lian tersentak keheranan seperti melihat hantu!

"Kau... kau siapa? Bagaimana kau bisa mengenal aku?"

Gadis ayu itu tersenyum sambil memberi hormat kepada Bibi Lian. "Cici, kau tentu telah melupakan Adikmu, karena aku pun hampir melupakan wajahmu pula. Tapi Ayah telah memberikan ciri-ciri wajahmu, sehingga aku bisa mencarimu...."

"Kau... kau mencariku? Apakah kau... Souw Giok Hong?"

Gadis ayu yang kemarin berjumpa dengan Tio Siau In di atas kuburan itu mengangguk. "Benar, Cici Lian Cu. Ayah sangat prihatin dan tidak pernah percaya kalau kau mati dalam musibah kebakaran itu. Beliau tetap mencarimu ke mana-mana bersama Ibu. Beruntunglah aku bisa melacakmu sampai di tempat ini. Cici, Ayah sangat kangen padamu...."

Terdengar suara tertahan di tenggorokan wanita bertangan buntung itu. Matanya pun tampak berkaca-kaca. Perlahan-lahan tangannya yang memegang Yok Ting Ting itu terkulai lemas, sehingga gadis remaja itu melorot turun ke atas rumput.

Sementara itu Giam-lo Sam-kui saling memberi isyarat untuk secara diam-diam meninggalkan tempat tersebut, ka¬rena melihat kesaktian wanita buntung tadi mereka sadar bahwa mereka tak mungkin bisa menghadapinya. Apalagi wanita itu masih memiliki dua orang kawan yang belum mereka ketahui kepandaiannya. Namun mereka percaya bahwa kedua orang itu tentu memiliki kesaktian yang serupa pula.

Tapi ketika Giam-lo Sam-kui mulai bergerak melangkahkan kakinya, gadis ayu yang baru datang itu cepat membentak.

"Berhenti...! Kalian telah membunuh orang! Hmm, bagaimana mungkin pergi begitu saja?"

Bukan main malunya ketiga iblis neraka itu. Mereka benar-benar menjadi marah sekarang. Walaupun tahu berhadapan dengan tokoh sakti yang mereka perkirakan dari keluarga Souw, tapi mereka juga pantang dihina. Bagaimanapun juga mereka adalah tokoh dari partai persilatan terkenal pula.

"Hmmh! Peduli apa dengan engkau? Kami adalah petugas Pengawas Hukum dari Tai-bong-pai! Dan kedua wanita yang kami bunuh itu adalah anggota-anggota partai kami yang harus kami adili karena telah berbuat kesalahan! Apakah engkau hendak mencampuri urusan kami?"

Saudara tertua dari Giam-lo Sam-kui menggeram. Ketiga Iblis Neraka itu lalu berdiri berdampingan, siap untuk bertempur. Sebaliknya gadis ayu itu tergagap bingung mendengar ucapan lawannya.
Melihat hal itu Bibi Lian atau Lian Cu segera memunahkan totokan Yok Ting Ting dan bertanya kepada gadis itu.

"Benarkah Nenek dan Ibumu anggota Partai Tai-bong-pai?"

Gadis remaja itu memandang jenazah ibu dan pengasuhnya. Air matanya kembali bercucuran.

"Orang-orang itu sangat jahat! Mereka adalah Giam-lo Sam-kui! Mereka... uhuk-huk...!"

"Jawablah pertanyaanku dulu! Benarkah Ibu dan Nenekmu itu anggota Partai Tai-bong-pai seperti mereka?" Wanita bertangan buntung itu kembali mendesak.

Sambil tersedu-sedu Yok Ting Ting mengangguk. "Tapi... tapi Ibuku dipaksa oleh...." Jawabnya tersendat, lalu tiba-tiba terdiam kembali dan tak mau melanjutkan kata-katanya.

"Ya, sudah! Kalau begitu urusan ini memang urusan Partai Tai-bong-pai sendiri! Orang luar tidak berhak untuk mencampurinya." Wanita buntung itu melirik Souw Giok Hong.

"Tapi... dia telah membunuh Ibuku! Aku harus membunuhnya!" Yok Ting Ting melengking tinggi.
Wanita berlengan buntung itu melepaskan pegangannya.

"Kalau engkau sendiri yang hendak melawan mereka, silakan...! Kau dan mereka memang sama-sama anggota Tai-bong-pai! Cuma... hm, rasanya kepandaianmu masih terlalu lemah dibandingkan mereka. Melawan mereka sekarang, sama saja dengan bunuh diri. Dan hal itu berarti dendam Ibu dan Nenekmu tidak ada yang membalaskan”.

Yok Ting Ting terbelalak. Di balik ucapannya wanita cantik itu seolah-olah memberi harapan kepadanya. Harapan untuk belajar ilmu silat kepadanya. Dan ketika menoleh, gadis ayu bak bidadari tadi juga tampak mengedip-ngedipkan mata kepadanya.


Akhirnya Yok Ting Ting memberi hormat.


"Bibi, kau... kau mau menerima aku sebagai murid?" Katanya dengan suara gemetar.

Wanita cantik itu menghela napas. Matanya menerawang jauh, seperti ada banyak masalah yang sedang membebani pikirannya.

"Sudahlah, hal itu bisa kita pikirkan belakangan. Sekarang biarkanlah Giam-lo Sam-kui pergi. Lebih baik kita urus sendiri jenazah Ibu dan Nenekmu."

Akhirnya wanita cantik itu berdesah dengan suara berat. Lalu tangannya dikibaskan untuk memberi isyarat agar lawannya segera pergi meninggalkan tempat itu.

Bagi Giam-lo Sam-kui yang penting adalah tugas yang diberikan oleh ketua mereka, yaitu mencari Tai-bong Kui-bo dan Buku Pusaka Tai-bong Pit-kip. Seka¬rang mereka telah berhasil menyelesai¬kan tugas tersebut dengan baik. Selain sudah berhasil menemukan Tai-bong Kui-bo dan membunuhnya, mereka juga berhasil mendapatkan Tai-bong Pit-kip pula. Oleh karena itu urusan Yok Ting Ting sebenarnya tidak penting bagi mereka. Kalau tadi mereka berniat menangkap gadis itu, sesungguhnya hanya untuk menyenangkan ketua mereka saja. Maka melihat Yok Ting Ting sekarang dilindungi oleh orang-orang yang lebih kuat, mereka tidak ingin mencari kesulitan lagi. Mereka bergegas meninggalkan tempat tersebut.


Begitu ketiga iblis itu pergi, Yok Ting Ting segera menubruk mayat ibunya dan menangis sekuat-kuatnya.


Sementara itu dari arah lain Bibi Lan datang bersama Tio Siau In. Wanita cantik itu, yang begitu tiba tadi langsung menghampiri tubuh Siau In, berhasil menyelamatkan gadis itu dari maut.

Wajah Tio Siau In kelihatan pucat sekali. Meskipun dapat berjalan, namun gadis wcMrrasih tampak lemah sekali. Serangan Giam-lo Sam-kui dan Tai-bong Kui-bo tadi benar-benar telah melukai bagian dalam tubuhnya dengan parah. Apabila tadi tidak cepat-cepat ditolong oleh Bibi Lan, mungkin dia sudah mati.

"Cici Tui Lan...? Benarkah?" Melihat kedatangan wanita cantik itu, Souw Giok Hong tiba-tiba berseru gembira.

Wanita cantik yang datang bersama Siau In itu terkejut. Matanya menatap Souw Giok Hong dengan tajamnya. Karena merasa belum pernah kenal juga, maka ia memandang Lian Cu, seakan-akan menuntut penjelasan.

"Lan-moi, kau masih ingat gadis kecil yang sering digendong Ayahku dahulu" Wanita bertangan buntung itu akhirnya berkata pelan.

"Maksudmu dia ini... Giok Hong?" Wanita yang datang bersama Siau In itu bertanya ragu.

Lian Cu mengangguk sambil meraih pundak Giok Hong.


"Benar, Lan-moi entah bagaimana caranya dia sampai bisa menemukan persembunyian kita ini. Padahal sudah dua belas tahun kita menghilang, dan kukira setiap orang juga beranggapan bahwa kita sekeluarga telah terbakar hangus di dalam istana itu. Aaah!" Wanita cantik itu berdesah sedih.

"Semua orang memang berpendapat begitu, karena perajurit yang memeriksa reruntuhan istana itu telah menemukan mayat dua wanita yang sedang meme¬luk anak-anaknya. Jadi semua orang menganggap bahwa Cici sekeluarga memang telah menjadi korban kebakaran itu. Cuma... Ayah dan Ibu yang tidak percaya pada khabar itu. Menurut Ayah, Cici bedua memiliki kepandaian tinggi. Tidak mungkin Cici mati hanya karena kobaran api itu. Dan sampai sekarang pun Ayah tetap mencari Cici."

Sekali lagi wanita bertangan buntung itu berusaha menahan sedu-sedannya. Terbayang kembali wajah Hong-gi-hiap Souw Thian Hai, ayahnya, yang kini tentu sudah tua.

"Aku bersama kakakmu Tui Lan memang dapat menyelamatkan diri. Tapi anak-anak...? Ah, kasihan sekali mereka...”

Sementara itu Siau In yang tidak pernah melupakan wajah Giok Hong, menyapa dengan suara lemah pula. "Hei, Cici... ternyata kita bertemu kembali."

"Ah, kau? Mengapa kau tampak kesa¬kitan begitu? Apakah engkau terluka?" Giok Hong menyahut kaget.

"Aku terkena pukulan Perempuan Bongkok yang kukatakan tadi malam itu. Kebetulan aku menemukannya di dekat, air terjun ini dan sedang berkelahi dengan lawan-lawannya. Tetapi ketika mereka melihat aku, entah mengapa... tiba-tiba semuanya berbalik menyerangku." Siau In bercerita dengan suara lirih dan agak gemetar.

"Begitukah? Padahal sebenarnya Perempuan Bongkok itu tidak begitu jahat. Kelakuannya yang aneh itu disebabkan oleh keinginannya untuk melindungi anak dan cucunya, lihatlah, dia telah menjadi korban lawan-lawannya!"

"Oooh! Lalu... ke mana tiga orang lawannya itu? Apakah mereka menemu¬kan anak dan cucunya?"
Souw Giok Hong mengangguk sambil menunjuk Yok Ting Ting yang sedang menangisi mayat ibunya

"Itu dia anak dan cucunya. Hampir saja mereka mati di tangan orang-orang itu."

"Sudahlah!" Tui Lan atau Bibi Lan menengahi.

"Kita urus dulu mayat mereka! Setelah itu kita bisa berbincang-bin¬cang lagi sepuasnya. Bagaimana? Setuju?"

Lian Cu dan Giok Hong mengangguk.Mereka lalu membujuk Yok Ting Ting, agar merelakan kedua orang tuanya dikuburkan.Semakin cepat dikuburkan akan semakin baik buat mereka.Semula Yok Ting Ting menolak. Gadis yang sekarang merasa sebatangkara dan tidak memiliki sanak saudara lagi itu tidak memperbolehkan ibunya dikubur. Namun setelah Lian Cu dan Tui Lan membujuknya, gadis itu mau juga menurut.

Sambil menimbun tanah ke liang lahat, Lian Cu mendekati Giok Hong. Ia berbisik ke telinga gadis ayu itu. "Eh, Giok Hong! Bagaimana dengan Pangeran Liu Yang Kun? Apakah dia telah pulang ke istana?"

Tapi gadis ayu itu menggelengkan kepalanya. "Belum, Cici. Sampai sekarang Pangeran Liu Yang Kun belum muncul juga. Entahlah, semua orang juga sudah melupakannya. Malah sekarang Permaisuri Li telah mengangkat puteranya sendiri untuk menggantikan Pangeran Liu Yang Kun menjadi putera mahkota. Anehnya... Pangeran mahkota yang baru itu mendadak juga hilang dari istana. Persis seperti peristiwa hilangnya Pangeran Liu Yang Kun pada lima belas tahun yang lalu. Dan sekarang sudah lebih dari dua tahun pangeran muda itu menghilang dari istana. Permaisuri Li sudah berkali-kali me¬ngerahkan pasukan rahasia untuk mencari puteranya itu."

Terdengar tarikan napas yang berat di dada Lian Cu. Matanya juga menerawang jauh. Kenangannya bersama Pangeran Liu Yang Kun kembali terbayang di depan matanya.

"Apakah dia benar-benar sudah tiada...?" Lian Cu bergumam seperti kepada dirinya sendiri.

Memang sebenarnyalah bahwa kedua wanita cantik itu adalah isteri Pangeran Liu Yang Kun. Mereka bernama Han Tui Lan dan Souw Lian Cu. Mereka berdua merupakan jago-jago silat berkepandaian tinggi, sebelum menjadi isteri Pangeran Liu Yang Kun. Han Tui Lan adalah Anggota Aliran Im-yang-kau, sedangkan Souw Lian Cu adalah puteri Hong-gi-hiap Souw Thian Hai dari isteri pertamanya.

Seperti telah dituturkan pada permulaan cerita ini, istana Pangeran Liu Yang Kun terbakar habis bersama seluruh isinya. Semua orang berpendapat bahwa keluarga Pangeran Liu Yang Kun habis terbakar api. Namun anggapan itu ternyata tidak benar. Kedua isteri Pangeran Liu Yang Kun dan putera puteri mereka ternyata dapat lolos dari malapetaka tersebut. Semuanya selamat walaupun terpisah dan saling tidak mengetahui ke¬adaan masing-masing.

Han Tui Lan dan Souw Lian Cu dapat menyelamatkan diri dengan luka bakar di seluruh badan mereka. Sedangkan pu¬tera puteri mereka dapat diselamatkan oleh Tabib Tong Kian Teng, walaupun akhirnya anak-anak tersebut juga hilang di dalam perjalanan mereka.


Karena mengira anak-anak mereka sudah mati, apalagi mereka berdua juga menderita luka bakar yang parah, maka Souw Lian Cu dan Han Tui Lan sengaja menyembunyikan diri di gua itu sambil mengobati luka-lukanya. Sepuluh tahun telah berlalu dan mereka sudah dapat melupakan peristiwa sedih itu. Namun peristiwa tak terduga pada hari ini, telah membangkitkan kembali kenangan lama mereka. Kenangan yang sangat menya¬kitkan, yang membuat luka di hati me¬reka seolah-olah*.terkoyak kembali.


"Lalu... bagaimana dengan mayat para dayang dan anak-anak yang ditemukan setelah kebakaran itu? Apakah mereka juga dikuburkan secara layak? Hmm, kasihan sekali para dayang itu! Mereka tentu telah berusaha menyelamatkan anak-anak...." Souw Lian Cu meneruskan pertanyaannya begitu upacara penguburan itu selesai.

"Benar, Cici. Mereka dimakamkan secara terhormat, karena semua orang memang menyangka bahwa mereka adalah isteri dan putera-puteri Pangeran Liu Yang Kun. Permaisuri Li malah meng-adakan upacara kebesaran di seluruh negeri. Ah... semua orang tentu akan kaget sekali kalau tiba-tiba Cici berdua muncul di depan mereka."

"Jangan dipikirkan dulu masalah itu! Sebaliknya kita mengatur rencana sebelum" melangkah. Dan pertama-tama... kita bicarakan dulu masalah Yok Ting Ting ini. Eh... namamu Yok Ting Ting, bukan? Kudengar Giam-lo Sam-kui menyebut namamu tadi...." Souw Lian Cu mengalihkan pembicaraan kepada Yok Ting Ting.

Gadis yang masih dibalut kesedihan itu mengangguk.

"Kau boleh memilih, tinggal bersama kami atau pulang ke Tai-bong-pai?" Souw Lian Cu bertanya dengan suara perlahan.

Yok Ting Ting menundukkan mukanya. Beberapa kali dia mengusap mata¬nya yang basah.

"Aku... aku sudah tidak memiliki siapa-siapa lagi. Semua orang Tai-bong-pai juga memusuhi aku. Maka... kalau diperbolehkan aku akan tinggal di sini saja. Aku bisa membantu apa saja. Memasak, menyediakan teh, mencuci pakaian...."

Ucapan itu benar-benar menyentuh lubuk hati Souw Lian Cu dan Han Tui Lan. Mereka jadi ingat akan anak-anak mereka sendiri, yang tidak dapat mereka asuh karena musibah itu. Mereka tentu telah tumbuh sebesar Yok Ting Ting atau Tio Siau In ini apabila masih hidup.

Dengan penuh kelembutan Han Tui Lan lalu mengelus rambut Yok Ting Ting. Bahkan matanya tampak berkaca-kaca ketika berkata.

"Anak manis, jangan khawatir! Kau boleh tinggal bersama kami sesukamu. Sampai kau bosan. Lihatlah, kau akan mempunyai banyak teman di sini. Gadis ayu yang ada di depanmu ini bukan bida-dari, tapi adik Bibi Lian Cu. Namanya ... Souw Giok Hong. Dan gadis di dekatku ini bernama Tio Siau In, dari Aliran Im-yang-kauw. Dia akan lama berada di sini, karena luka dalamnya sangat parah. Mu-dah-mudahan aku dan Bibi Lian Cu bisa menyembuhkan lukanya."

Yok Ting Ting melelehkan air mata saking gembiranya. Ia segera berlutut di depan Han Tui Lian dan Souw Lian Cu.


Han Tui Lan dan Souw Lian Cu saling pandang dengan tersenyum. Mereka berdua benar-benar merasa bahagia, se¬olah-olah kehilangan mereka akan keluarga selama ini sedikit terhibur dengan kedatangan mereka. Gua yang sepi itu tiba-tiba terasa semarak.

Mereka lalu saling menceritakan pe¬ngalaman mereka masing-masing. Souw Lian Cu bercerita tentang penderitaannya bersama Han Tui Lan pada waktu menyelamatkan diri dari istana dua belas tahun lalu. Mereka berdua berlari tan pa mengenakan sepotong pakaian pun di tubuh mereka. Baju yang mereka pakai telah habis dimakan api. Bahkan hampir semua kulit tubuh mereka melepuh, sementara rambut di kepala mereka juga tidak ada tersisa sama sekali. Oleh karena itu selain merasa kesakitan, mereka juga malu bertemu orang. Keadaan mereka pada waktu itu lebih pantas di¬sebut mayat daripada manusia hidup. Begitulah, mereka lalu mencari tempat sunyi untuk bersembunyi dan mengobati luka-luka mereka.


"Mengapa Cici tidak pulang saja ke rumah? Ayah dan Ibu tentu akan meng¬obati luka-luka itu." Souw Giok Hong menyela keputusan kakaknya untuk menyendiri.


Han Tui Lan tersenyum. "Ah, saat itu kami benar-benar sudah putus asa. Suami hilang, anak mati terbakar, se¬mentara kami sendiri juga lebih pantas disebut kuntilanak daripada manusia."


"Ya... mana ada keinginan untuk kembali lagi?" Souw Lian Cu menambah¬kan sambil tersenyum.

"Tapi sekarang Cici berdua telah pu¬lih menjadi cantik lagi." Souw Giok Hong memuji.

"Ah, kami telah menjadi tua seka¬rang. Dan kami berdua merasa betah di tempat ini, sehingga kami tidak ingin ke mana-mana lagi."

"Cici, kau...?" Souw Giok Hong tiba-tiba cemberut.

"Sudahlah! Sekarang ganti kau yang bercerita. Bagaimana kau dapat menemu¬kan kami di sini?" Souw Lian Cu cepat mengalihkan pembicaraan lagi.

Merasa belum puas bicara tentang kakaknya, Souw Giok Hong hampir saja tidak mau bercerita tentang dirinya. Ta¬pi dengan nada halus dan lembut akhirnya Han Tui Lan bisa juga membujuk¬nya, sehingga gadis itu lalu menceritakan pengalamannya.

"Ayah sering mengajak aku dan Ibu berkeliling ke seluruh pelosok negeri un¬tuk mencari jejak dan berita Cici. Walaupun semua orang menganggap kami gila, tapi kami tak peduli. Dan bertahun-tahun kemudian, setelah aku selesai mempelajari ilmu silat Keluarga Souw, aku berusaha mencari Cici sendiri. Setiap kali mendengar berita tentang pen¬dekar wanita yang muncul di dunia kang-ouw, aku-segera mencarinya."

"Giok Hong, kau memang gila... men¬cari orang yang sudah dianggap mati!" Souw Lian Cu menyela.

"Tetapi... bukankah jerih payahku ti¬dak sia-sia? Akhirnya aku juga dapat menemukan Cici berdua."
Souw Lian Cu menatap adik t irinya dengan perasaan haru. 

"Baiklah, teruskan ceritamu!"

Souw Giok Hong tersenyum, lalu me¬lanjutkan ceritanya. "Sebulan yang lalu aku mendengar dongeng tentang Dewi Bulan yang sering muncul di daerah pantai timur ini. Malah selain Dewi Bulan aku juga mendengar cerita tentang Pe¬rempuan Bongkok pula. Demikianlah, hampir sebulan lamanya aku berkeliaran di daerah ini untuk menemui Dewi Bulan atau Perempuan Bongkok itu. Siapa tahu salah seorang di antara mereka adalah Cici?"


. "Benar. Aku malah melihat sendiri penduduk kampung di tepi sungai itu mengadakan upacara memanggil Dewi Bulan di atas tebing. Ketika aku membuntuti mereka, tiba-tiba datang Perem¬puan Bongkok menculik sajah seorang di antara mereka. Eh...??"


Tak terasa Siau In menyela. Tapi mu¬lutnya segera terdiam manakala menyebut Si Perempuan Bongkok. Dia segera sadar bahwa perempuan bongkok itu ada¬lah pengasuh Yok Ting Ting.
Untunglah Yok Ting Ting tidak merasa tersinggung oleh ucapan Siau In. Bah¬kan . gadis itu mau memberi penjelasan kepada mereka.


"Maaf, Cici. Orang-orang Tai-bongpai memang memiliki sifat dan adat istiadat aneh yang lain dari orang kebanyakan. Kami sering dianggap jahat dan disebut sebagai pengikut ajaran ilmu hitam. Bahkan untuk mempelajari ilmu silat Tai-bong-pai, sering dilakukan dengan cara-cara yang aneh. Dengan upacara-upacara mistik serta menggunakan benda-benda yang dianggap bertuah. Dan sa-lah satu di antara benda bertuah yang dapat menambah kekuatan kami adalah... memanfaatkan zat yang keluar dari mayat manusia."


"Mayat manusia...?" Siau In bergidik ngeri.


"Ya! Itulah yang dilakukan Tai-bong-Kui-bo selama ini. Untuk menambah ke¬kuatan Ilmu Perampas Ingatan yang se¬dang dia pelajari, dia harus banyak me¬nyadap dari bangkai manusia. Karena su¬dah kehabisan bangkai manusia, maka Tai-bong Kui-bo mulai menculik orang kampung. Ah, kasihan dia. Dia melaku¬kan hal itu karena ingin membalaskan dendam kami kepada Ketua Tai-bong-pai."


"Hei! Bukankah mereka masih satu perguruan?" Souw Giok Hong bertanya keheranan.


Wajah Yok Ting Ting tiba-tiba beru¬bah. Mulutnya terdiam, tapi sinar mata¬nya menyimpulkan kesedihan, kegeraman, sekaligus juga keputusasaan yang dalam.


Souw Lian Cu cepat menepuk pundak Yok Ting Ting. "Sudahlah! Kau tak usah menceritakannya kalau keberatan."


Sekonyong-konyong Yok Ting Ting memeluk Souw Lian Cu dan menangis sekeras-kerauiya. Tentu saja kelakuan¬nya itu mengagetkan yang lain. Namun dengan sabar dan telaten Han Tui Lan dan Souw Lian Cu membujuk dan mem¬besarkan hatinya.


Akhirnya Yok Ting Ting mau juga menceritakan siapa sebenarnya dia dan ibunya. Siapa pula sesungguhnya Tai-bong Kui-bo itu. Dia juga bercerita ten¬tang aib yang disandang ibunya. Bagai-mana penderitaan ibunya selama ini. Me¬reka sangat membenci Yok Si Ki. Benci sekali. Tapi dia tak bisa berbuat apa-apa. karena bagaimanapun juga orang itu adalah ayahnya.


Semuanya berdesah dan menggeram, seolah-olah ikut terbuai dalam kekalutan pikiran Yok Ting Ting. Terutama Tio Siau In. Gadis yang biasanya acuh tak acuh dan suka berbuat sekehendak hati-nya itu, seperti bisa merasakan penderi¬taan Yok Ting Ting dan ibunya.


"Sudahlah, kau benar. Kau memang tidak boleh memusuhi Ayahmu sendiri. Perbuatannya yang tak terpuji itu tentu akan mendapatkan balasan nanti. Biar¬kan saja orang lain yang melakukannya. Sekarang tenangkanlah hatimu di sini. Anggaplah kami semua ini sebagai peng¬ganti keluargamu." Souw Lian Cu menghibur.


"Te-terima kasih! Terima kasih...!" Yok Ting Ting sekali lagi memberi hor¬mat sambil meneteskan air mata.


Untuk beberapa saat mereka hanyut dalam keharuan. Tapi Siau In 'segera mengganggu keheningan itu dengan pertanyaannya.


"Cici Hong, kau belum selesai dengan cerita Dewi Bulanmu tadi. Selesaikan dulu, dong!"


Souw Giok Hong tidak menjawab. Justru Souw Lian Cu yang meneruskan kisah adiknya itu.


"Ternyata daya cium Giok Hong kali ini memang benar. Meskipun sempat di¬kacaukan oleh keberadaan Tai-bong Kui-bo di sini, tapi tokoh yang dianggap se¬bagai Dewi Bulan itu memang kami ber¬dua adanya. Dan anggapan penduduk itu berawal dari seringnya kami berdua mem bantu segala macam kesulitan mereka secara diam-diam. Oleh karena kami ha¬nya berani keluar di malam hari, maka mereka melganggap kami sebagai seo¬rang dewi. Dan sebagai imbalan atas bantuan itu mereka mengadakan persem¬bahan makanan kepada kami. Ah, mereka memang terlalu bodoh dan sederhana...."


"Untunglah pada saat-saat terakhir aku bisa melihat Cici. Kalau tidak, ah... aku tentu akan segera pergi begitu meli¬hat perempuan bongok itu bukan Cici. Dalam benakku perempuan bongkok itu juga... Dewi Bulan."


Souw Lian Cu memeluk adiknya.


"Thian memang telah mentakdirkan kita bersua kembali."


Demikianlah, mulai hari itu Tio Siau In tinggal bersama mereka untuk memu¬lihkan kembali luka-lukanya. Dia memang selalu teringat kepada kakaknya. Tapi dengan keadaannya sekarang, tidak mung¬kin dia bisa meninggalkan tempat itu.



***


Sementara itu jauh di luar Kota Hang-ciu, di sebuah pondok kecil yang terpencil di tengah-tengah rawa, Tio Ciu In benar-benar berada dalam keadaan putus asa. Dengan badan lumpuh akibat totokan dan dada terbuka akibat keka¬saran Ho Bing, gadis itu meratapi nasib¬nya.


Tiada aib yang lebih menyakitkan dan memilukan hati seorang gadis selain di¬perkosa oleh laki-laki yang dibencinya. Dan kini Tio Ciu In akan mengalami hal seperti itu, diperkosa oleh seorang pe-ngemis yang belum pernah dikenalnya.


Demikianlah, dalam keadaan putus asa segala macam usaha segera dicoba oleh Tio Ciu In. Ketika tiba-tiba muncul bayangan Pendekar Buta di benaknya, maka gadis itu segera ingat akan pesan¬nya. Apabila ingin berjumpa dengan orang tua itu dia harus menyanyikan la¬gu "Menanti Kekasih". Dan harapan itu¬lah yang sekarang dicoba oleh Tio Ciu In. Dia menyanyikan lagu itu dengan pe¬nuh perasaan. Dia tak peduli lagi apa¬kah lagu itu dapat didengar atau tidak.


Apabila di malam gelap gulita,
Tiba-tiba muncul Bulan Purnama.
Malam pun bagai tersentak dari tidurnya,
Menyambut hangatnya Sang Pelita Malam!
Kekasihku____?
Aku selalu mengharap kedatanganmu!


Karena merasa tak berpengharapan lagi, maka suara itu bebar-benar berge¬tar dari lubuk hati. Suaranya mengalun pedih penuh dengan dorongan perasaan.Maka getaran suara yang tercipta pun I mampu menggetarkan udara di sekitarnya.


Sementara itu Si Tongkat Bocor Ho j Bing meninggalkan ruangan tersebut de¬ngan hati mendongkol. Ketika menyang-j gupi perintah Mo Goat, dia sudah berpe¬san bahwa dia akan bekerja sendiri dan tidak mau diganggu sebelum selesai me¬nunaikan tugasnya. Maka kedatangan se¬seorang di saat seperti itu benar-benar tidak disukainya.


"Bangsat kurang ajar! Kalau urusan i yang dibawa cuma sepele, akan kubunuh orang itu!"


Ho Bing agak terkejut juga ketika sampai di ruang tengah. Ruangan ber¬ukuran tiga tombak persegi itu penuh i dengan bangkai serigala. Begitu pula hal-I nya dengan ruangan depan. Bau darah terasa anyir memuakkan.


Ruangan depan itu tampak sepi. Ha¬laman depan yang terlihat dari pintunya  yang terbuka juga kelihatan sunyi. Yang tampak hanya tumpukan bangkai serigala di mana-mana.


Ho Bing mulai curiga. Bbrrrrrrh! Ti¬ba-tiba seekor elang putih menukik dari atas dan terbang masuk ke dalam ru¬mah. Ho Bing meloncat mundur. Namun sebelum kakinya mendarat, matanya ter-belalak kaget! Entah dari mana datang¬nya, tiba-tiba di depan pintu telah berdiri seorang lelaki berambut panjang. Wajahnya putih pucat, seputih warna pa¬kaian yang dipakainya.


"Kau... kau siapa? Mengapa kau ma¬suk rumah orang seenaknya? Kaukah yang membunyikan lonceng ?" Di dalam kegugupannya Ho Bing membentak garang.


"Benar. Akulah yang menarik lonceng¬mu. Tapi kau tak perlu tahu namaku, karena aku hanya ingin mengambil gadis yang datang bersamamu tadi." Orang yang berpenampilan aneh dan menakut¬kan itu menjawab dengan suara dingin.


Ho Bing menggeram. Jawaban orang itu benar-benar memuakkan hatinya, se¬hingga hasratnya untuk membunuh orang benar-benar timbul sekarang.


"Kurang ajar! Enak saja kau bicara! Kau kira mudah mengambil sesuatu dari tangan Si Tongkat Bocor Ho Bing?"


Tak terduga orang itu meludah. "Aku ! tidak peduli! Untuk menyingkirkan kau I tak perlu waktu lama. Paling-paling cu- ; ma dua jurus saja! Itu pun nyawamu su¬dah melayang!"


Saking marahnya Ho Bing malah tak bisa bicara lagi. Tongkatnya segera ter- | ayun ke depan dengan derasnya. Kekuat¬annya sungguh hebat luar biasa, sehing¬ga tongkat berlubang itu mengeluarkan suara melengking seperti suling.


Namun pada saat yang hampir bersa¬maan, orang itu juga melesat ke depan untuk menyongsong tongkat Ho Bing. Tu¬buhnya berputar cepat di udara, semen- j tara telapak tangannya menyambar ke i arah kepala Ho Bing. Kecepatannya be- i nar-benar sulit diikuti dengan pandang mata biasa. Ho Bing hanya bisa melihat lawannya menerjang ke arah dirinya de-' ngan cara berputar seperti gasing di uda¬ra. Tapi akibatnya sungguh di luar du¬gaan! Rambut Ho Bing yang digelung ke atas itu tiba-tiba jatuh ke tanah!


Rambut itu seolah-olah dipangkas dengan pisau cukur!
Wajah Ho Bing seolah-olah tak berda¬rah lagi! Putih pucat seperti mayat! Apalagi ketika menyadari bahwa rambut itu hanya ditabas dengan sisi telapak ta¬ngan saja! Oh, kalau saja tebasan ta¬ngan itu sejengkal lebih ke bawah, pikir¬nya.
Ho Bing benar-benar menjadi lemas. Dia yang selama ini sangat ditakuti orang, ternyata ditaklukkan orang dalam
satu gerakan saja. Sungguh suatu kepan¬daian yang amat mentakjubkan!
"Tu-tuan... si-siapa?" Ho Bing berta¬nya dengan suara gemetaran.
Untunglah pada saat itu juga terde¬ngar suara nyanyian Tio Ciu In, menga¬lun perlahan melintasi ruangan tersebut. Hawa pembunuhan yang memenuhi ruang¬an itu mendadak surut kembali.
"Hmmh... sedang apa dia? Mengapa bernyanyi-nyanyi begitu? Apa dia sedang mandi, heh?" Orang berambut panjang itu menurunkan tangannya, lalu melang¬kah ke ruang dalam.
Ho Bing mencoba menggerakkan kaki¬nya untuk menghadang, tetapi tidak bi¬sa. Kekuatannya seperti tidak ada lagi. Dan pada saat itu pula sekonyong-ko¬nyong dari ruang dalam menyambar bu-rung elang putih, yang tadi masuk ke dalam rumah. Burung itu terus melesat keluar dan terbang tinggi ke udara.
"Hehehe....! Tampaknya kau ingin me¬manggil bantuan dengan burungmu itu?" Orang berambut panjang itu berhenti melangkah, dan berpaling sambil tertawa menghina.
Ho Bing terkejut. Dia juga mengira burung itu milik lawannya. "Jadi... bu¬rung itu... burung itu juga bukan milik Tuan?"
"Apa...? Jangan mengada-ada! Huh!"
Wajah Ho Bing menjadi merah! Hati¬nya sungguh amat sakit. Biarpun berpa¬kaian pengemis, tapi selama ini tak se¬orang pun berani membentak-bentak diri¬nya seperti itu! Bahkan setiap orang cenderung segan dan takut kepadanya!


Namun apa boleh buat, sekali ini la¬wannya memang benar-benar bukan tandingannya. Sedikit saja ia salah ngomong, nyawanya bisa melayang. Oleh karena itu dia tidak boleh bermain kasar. Dia harus pandai-pandai melihat keadaan* Dia harus menghadapinya dengan kecerdikan.


"Baiklah! Tuan boleh mengambil gadis itu. Tapi sebelumnya perkenankanlah aku mengetahui nama besarmu agar hatiku merasa puas karenanya." Ho Bing mem¬beri hormat.


Wajah pucat itu tampak sangat puas. "Apakah kau benar-benar ingin tahu na¬maku? Hehehe, dengarlah! Namaku... Yok Si Ki! Kau pernah mendengarnya?"


"Yok... Si... Ki? Tuan ini... Ketua *fai-bong-pai?" Suara Ho Bing menjadi gemetaran lagi.


"Nah... kau mulai ketakutan, bukan?"


Ho Bing menggeretakkan giginya. Na¬ma itu memang sangat mengerikan bagi¬nya. Meskipun baru sekarang melihat orangnya, tapi nama itu telah didengar¬nya sejak dulu. Nama itu sangat terke¬nal di dunia persilatan. Setiap orang ten¬tu tahu, siapa Ketua Partai Tai-bong-pai yang ganas itu.


"Tidak! Aku hanya ingin bertanya sedikit..."


"Bertanya...? Apa yang hendak kauta-nyakan?"


"Tuan tadi mengatakan... bahwa Tuan ingin bertemu dengan gadis itu. Hem mm, apakah Tuan mempunyai hubungan kelu¬arga dengan dia?"


Tak terduga orang itu berkata kasar. "Kau gila! Kaukira rupaku mirip dengan dia, hah? Aku ingin bertemu dia kare¬na dia seorang gadis yang cantik meng¬gairahkan! Tahu? Sudah berbulan-bulan aku tidak menjumpai gadis secantik dia. Hahaha... aku akan menyesal sekali ka¬lau kesempatan ini tak kupergunakan!"


Bukan main kagetnya Ho Bing. Ternya¬ta orang itu mempunyai keinginan yang sama dengan dirinya. Sama-sama ingin menikmati tubuh cantik itu. Tiba-tiba timbul akalnya yang cerdik.


"Bagus! Kalau begitu... maksud Tuan tidak berbeda dengan tugas yang diberi¬kan kepadaku. Tidak ada bedanya, siapa yang harus menikmati gadis itu."


Yok Si Ki bukan orang bodoh. Bahkan sebagai ketua sebuah partai persilat¬an besar, yang terkenal tak disukai orang, maka otaknya juga penuh dengan akal dan kelicikan pula. Namun demiki¬an sekali ini Yok Si Ki tidak dapat me-nebak, apa yang ada di belakang ucapan Ho Bing itu.


"Apa maksudmu? Katakan lekas!"


"Seseorang telah mengupah aku untuk memperkosa gadis itu sampai mati. Nah, bukankah tidak menjadi soal bagiku... si¬apa yang harus mem perkosanya? Pokok¬nya gadis itu mati dalam keadaan sudah diperkosa. Habis perkara"


Yok Si Ki mengerutkan keningnya. Masa ada tugas seaneh dan seenak itu? Dibayar pula?


"Hei! Siapa yang mengupahmu itu? Apakah dia telah ditolak lamarannya oleh gadis itu?"


Ho Bing meringis. "Ditolak? Wah, bu¬kan-, bukan! Dia juga seorang perempu¬an! Bukan karena itu...!"


"Perempuan? Oh, kalau begitu... tentu bersaing dalam kecantikan. Mereka tentu bersaing dalam hal kecantikan. Karena cantik, maka perempuan itu ingin menghabisi saingannya. Lalu dia mengu-pahmu untuk membunuh gadis itu. Begi¬tukah?"


"Tidak. Bukan begitu. Gadis yang mengupah aku itu juga cantik sekali. Bahkan menurut pendapatku dia justru lebih menarik dan lebih bergaya."


Yok Si Ki mengerutkan dahinya. "Ja¬di, mengapa dia mengupahmu? Ooooh... apakah mereka »saling berebut lelaki?"


Ho Bing menatap lawannya. Melihat wajah lawannya tidak sekeruh dan seganas tadi, hatinya menjadi lega.


“Aku juga tidak tahu persis sebabnya, Menurut keterangan beberapa orang peMenurut keterangan beberapa orang pelayan tadi di kota mereka memang pernah berkelahi, malah pada waktu berkelahi masing-masing membawa teman sehingga pertempuran menjadi semakin seru, pertempuran baru berhenti setelah dilerai oleh seorang lelaki buta”


"Kalau begitu mereka mengupahmu karena... dendam? Lalu... berapa dia memberi uang kepadamu?"


Ho Bing menatap lawannya sambil menghela napas. Tidak mungkin dia mem bohongi orang itu.


"Sepuluh tail emas! Dan akan ditam¬bah lagi bila tugas itu bisa kuselesaikan dengan baik." jawabnya singkat.


"Wah... begitu murahkah harga gadis secantik itu? Tapi, baiklah... sekarang serahkan saja uang itu kepadaku! Biar¬lah aku yang melakukan tugasmu! Dan kau boleh mengambil uang tambahannya nan¬ti. Bagaimana...?"


Ho Bing tak bisa mengelak lagi. Terhadap Yok Si Ki ia tidak bisa berbuat apa-apa, karena orang itu dapat berbuat apa saja. Termasuk hal-hal yang tidak mungkin dilakukan oleh manusia biasa Jangankan harus menolak atau memilih, dapat lepas dari keganasannya saja sudah untung bagi Ho Bing. Maka tiada jalan lain baginya selain harus memenuhi perintahnya.


Yok Si Ki menerima uang itu dengan sorot mata dingin. "Nah, sekarang tunjukkan tempat gadis itu! Awas, kau jangan bertingkah macam-macam di depanku.”


"Bagus! Masuklah! Aku ikut di bela¬kangmu! Ingat, jangan berbuat yang men¬curigakan!"


Tapi ketika Ho Bing meraih daun pintu, Yok Si ki membentak kembali. "Tahan! Ada orang datang...!"


"Siapa? Aku tidak mendengarnya...." Ho Bing berbisik.


"Mereka masih satu lie dari sini. Ah5 banyak sekali...."


"Satu lie? Ah, masih jauh! mungkin mereka hanya lewat saja. Walaupun ter¬pencil, kadang-kadang tempat ini juga dilewati orang. Mungkin...."


"Diam! Mereka menuju ke tempat ini. Ada kira-kira sepuluh atau lima belas orang banyaknya. Ah, lebih baik gadis itu kita bawa keluar dulu. Ayoh, cepat!"


Mereka bergegas masuk. Dan Tio CiU In hampir saja bersorak begitu melihat bayangan Yok Si Ki. Namun kegembira¬an itu segera hilang begitu menyadari siapa yang datang. Sepintas lalu penam-pilan Ketua Partai Tai-bong-pai itu me¬mang mirip dengan Pendekar Buta. Ke¬duanya sama-sama jangkung dan berambut panjang.


Begitu datang mata Yok Si Ki dan Ho Bing tak pernah lepas dari dada Tio Ciu In yang terbuka. Gadis itu benar-benar memiliki dada yang mulus dan in¬dah. Bahkan kulitnya yang bersih itu se¬perti mengeluarkan cahaya di dalam gelap.


"Gila! Sungguh sempurna! Ayoh, kita bawa dulu gadis ini keluar! Kita sembu¬nyikan agar tidak diketahui orang! Ah, sungguh beruntung sekali aku hari ini...!" Yok Si Ki berkata sambil menyambar tubuh Tio Ciu In dan dibawa keluar.


"Ouuuugh! Lepaskan aku! Lepaskan ...!" Tio Ciu In menjerit-jerit, tapi ia tak bisa berbuat apa-apa. Tubuhnya le¬mas bagai tak bertulang.


Yok Si Ki melompat dan berlari ke luar, diikuti oleh Ho Bing. Tapi langkah mereka segera terhenti di halaman depan. Sekelompok pengemis tampak berdiri bergerombol menantikan mereka. Dua pengemis tua tampak memimpin rom¬bongan itu. Mereka adalah Jeng-bin Lo-kai dan Pek-bi-kai.
Yok Si Ki terkejut. Ternyata ia sa¬lah perhitungan. Tak disangka mereka datang begitu cepat. Yok Si Ki tidak ta¬hu bahwa kaum pengemis, terutama ang¬gota Tiat-tung Kai-pang, mengenal daerah itu seperti mengenal diri mereka sendiri. Mereka mengenal jalan pintas dan jalan setapak yang biasa dilalui binatang-binatang buruan. Ketika Yok Si Ki berusaha menghindar,Jeng-bin Lo-kai buru-buru menghadang.


"Maaf, Tuan! Ijinkanlah kami berbica¬ra sebentar...." Orang tua itu cepat menganggukkan kepalanya dan memberi hormat.


"Kalian siapa?" Yok Si Ki menggeram penuh kewaspadaan.
"Mereka anggota Tiat-tung Kai-pang ...." Ho Bing buru-buru membisiki Yok Si Ki. Suaranya sedikit gemetar.


Sementara itu di dalam gendongan Yok Si Ki, Tio Ciu In seperti mengenal suara, orang-orang yang baru saja datang itu. Tapi karena dipanggul secara terbalik di atas pundak Yok Si Ki, maka pandangannya terhalang oleh punggung orang itu.


"Kami adalah pengemis-pengemis hi¬na dari Tiat-tung Kai-pang. Aku adalah Jeng-bin Lo-kai dan di sebelahku ini... Pek-bi-kai. Dan kalau tidak salah lihat kami sedang berhadapan dengan Ketua Tai-bong-pai. Benarkah?"


Yok Si Ki mengerutkan keningnya. Dia juga pernah mendengar nama-nama itu. Mereka adalah orang-orang yang memi¬liki nama besar di dunia persilatan. Wa¬laupun demikian ia tidak peduli. Yang perlu diwaspadai adalah sahabat-sahabat mereka, karena para pengemis itu bersa¬habat dengan tokoh-tokoh persilatan ter¬nama.


"Benar, Lo-kai. Kau memang tidak salah lihat. Aku memang Yok Si Ki dari Tai-bong-pai. Lalu... apa kehendak Lo-kai menghentikan aku?"


Tiba-tiba Jeng-bin Lo-kai mengalih¬kan pandangannya ke arah Ho Bing. "Maaf Yok Ciang-bun. Kami mempunyai urusan penting dengan kawan Yok Ciang-bun ini. Salah seorang anggota kami me-
lihat dan mendengar bahwa kawan Yok Ciang-bun ini mengaku sebagai anggota Tiat-tung Kai-pang, bahkan mengaku se¬bagai tangan kananku. Padahal setiap orang tahu, bahwa Ho Bing Si Tongkat Bocor bukan anggota kami lagi. Dia ka¬mi keluarkan dari Tiat-tung Kai-pang ka¬rena telah berbuat kesalahan besar ter¬hadap perkumpulan.... Nah, Yok Ciang-bun, ijinkanlah kami bertanya kepadanya. Apakah yang ia inginkan dengan kebo¬hongannya itu? Apakah karena soal wa¬nita lagi seperti dulu?"


Yok Si Ki menghela napas lega. "Oh! Jadi Lo-kai ingin berurusan dengan dia? Aha, silakan kalau begitu. Sebenarnya kami bukan sahabat atau kawan. Kebe¬tulan saja kami punya urusan kecil di sini. Nah, silakan! Aku akan pergi dulu .'..!"


"Jeng-bin Lo-kai...! Jehg-bin Lo-kai, tolong...!" Tiba-tiba Tio Ciu In berteriak begitu tahu siapa yang mencegat mere¬ka.


Yok Si Ki dan Ho Bing terkejut. Me¬reka lupa bahwa tawanan mereka sudah terlepas dari totokan gagunya. Namun hal itu justru sangat menggembirakan hati Ho Bing, karena tidak mungkin pa¬ra pengemis itu membiarkan Yok Si Ki pergi.


"Hei, Nona Tio Ciu In rupanya! Ah, Yok Ciang-bun... jangan pergi dulu!" Be¬nar juga. Pengemis tua itu buru-buru menghentikan Yok Si Ki.


"Kurang ajar! Apa sebenarnya kemau-anmu, Pengemis Tua? Bukankah kau 
ingin berurusan dengan Ho Bing? Mengapa tiba-tiba berubah pikiran? Apakah kau ingin melihat darah anak buahmu berce¬ceran di tempat ini?"

"Ah, ternyata benar juga dugaanku. Tidak ada masalah lain bagi Ho Bing selain masalah wanita. Bahkan kali ini ma¬salahnya menjadi besar dengan ikut campurnya ketua Tai-bong-pai. Nah, Yok Ciang-bun, kami semua memang bukan lawan yang setimpal bagimu. Tapi mengingat gadis itu adalah kawan kami, kami memberanikan diri memohon kepadamu.

“Lepaskanlah dia...!"


Tak terduga Yok Si Ki tertawa panjang. "Ah-ah-ah... tampaknya kalian lebih menyukai kawan daripada nyawa kalian sendiri. Baiklah, kalian boleh mengero¬yokku untuk merebut gadis ini. Aku siap melayani. Tapi jangan salahkan aku ka¬lau nama-namamu nanti akan tinggal ke¬nangan bagi sahabat-sahabatmu yang lain, ho-ho-hoh-ha-ha."


"Jadi Yok Ciang-bun tetap tidak mau melepaskan gadis itu?" Jeng-bin Lo-kai berdesah.


"Jangan banyak bicara! Majulah!"


Jeng-bin Lo-kai tahu, Yok Si Ki me¬rupakan tokoh paling terkemuka dari go¬longan ilmu hitam. Selain ilmu silatnya yang berbau ilmu hitam itu sangat ting¬gi, dia juga seorang ketua partai persi¬latan besar yang mempunyai banyak ang¬gota di dunia kang-ouw. Walau ilmu si¬latnya tidak seganas dan sekeji ilmu si¬lat orang-orang dari Lembah Tak Ber¬warna, tapi Yok Si Ki sangat ditakuti orang.


Namun demi menyelamatkan teman ; Kwe Tek Hun, putera sahabat mereka, Jeng-bin Lo-kai rela menyabung nyawa.Sebelum maju ke depan pengemis tua itu memberi isyarat kepada Pek-bi-kai.


"Baiklah, Yok Ciang-bun. Aku Si Pe¬ngemis Tua ini minta pelajaran darimu." Katanya kemudian sambil melangkah ke depan.


Jeng-bin Lo-kai lalu mengangkat tong¬katnya. Tongkat besi sepanjang satu se¬tengah depa, yang selama ini telah mengangkat namanya di dunia persilatan. Setelah memberi peringatan, orang tua itu lalu memancing reaksi lawan dengan menyodokkan tongkat itu ke arah ulu hati. Sambil menyodok kakinya siap bergeser ke kiri apabila lawannya menghindar. Se¬baliknya ia juga siap dengan jurus beri¬kutnya apabila lawan menangkis serangan itu.


Tapi apa yang dilakukan oleh Yok Si Ki sungguh di luar perkiraan Jeng-bin Lo-kai. Tokoh ilmu hitam itu ternyata tidak menangkis atau menghindari sodok¬annya. Pada saat yang paling kritis, orang itu justru balas menyerang dengan cengkeraman jari-jarinya. Wus! Jeng-bin Lo-kai segera mengendus bau bangkai dari hembusan tangan itu!


Dan pada saat yang bersamaan pula, Pek-bi-kai tiba-tiba bersiul keras sekali! Suara siulan itu segera disambut dengan suara suara siulan yang lain di kejauh¬an. Bahkan di beberapa tempat kemudi¬an tampak panah berasap meluncur ke udara.


Yok Si Ki dan Ho Bing terkejut. Oto¬matis jari tangan Yok Si Ki yang telah mencengkeram ujung tongkat Jeng-bin Lo-kai itu dilepaskan kembali. Tokoh ilmu hitam itu mundur selangkah sambil mengamati tongkatnya yang telah melengkung dan penyot di ujung¬nya. Ujung tongkat itu bagaikan meleleh dibakar api.


"Bukan main! Besi saja menjadi penyok begini, apalagi kulit dan daging manusia!" Jeng-bin Lo-kai berkata di dalam hati.


Yok Si Ki mendengus dengan suara di hidung. "Huh! Kau mau mengundang seluruh anggota Tiat-tung Kai-pang ke tempat ini? Silakan kalau memang itu keinginanmu. Tempat ini akan menjadi kuburan masal bagi Tiat-tung Kai-pang!"


Ho Bing yang dari tadi hanya diam di tempatnya, tiba-tiba melangkah maju. "Tuan, mereka memberikan isyarat tan¬da bahaya kepada semua orang, kepada semua sahabat-sahabat mereka yang ke¬betulan berada di sekitar tempat ini. Le¬bih baik kita segera pergi, karena seben¬tar lagi mereka akan datang. Mungkin sepuluh, dua puluh, atau lebih banyak lagi. Kita berdua tak mungkin melawan mereka." Bi " nya dengan suara khawa¬tir.


Sekali lagi Yok Si Ki mendengus. "Bagus! Biarlah mereka datang! Biar me¬reka saksikan di sini, suatu kejadian yang takkan mereka lupakan seumur hidup mereka. Musnahnya sebuah perkumpulan pengemis yang terkenal sejak dulu!"


"Tapi kalau hal itu benar-benar terjadi, justru Tuanlah yang tak bisa tidur nyenyak setiap hari. Harap Tuan memi¬kirkannya juga." Ho Bing yang tidak ingin mendapat kesulitan di kemudian hari, mencoba membujuk Yok Si Ki.
"Apa katamu? Aku tak bisa tidur nyenyak? Mengapa?"


"Tuan memang dapat membantai mereka. Tapi selanjutnya seluruh kaum persilatan akan memusuhi Tuan, bahkan memusuhi Tai-bong-pai. Semua orang akan datang mencari Tuan..." Ho Bing berhenti sebentar, lalu lanjutnya pula. "Mungkin Tuan tidak takut menghadapi mereka. Tapi tak mungkin Tuan melayani mereka terus menerus. Satu kalah, tentu yang lain akan datang. Dua kalah maka berpu¬luh-puluh yang lain akan datang pula. Belum lagi kalau mereka bersatu, beramai ramai menghadapi Tuan. Apakah Tuan tidak akan menjadi kewalahan nanti?"


"Apa...?" Ketua Tai-bong-pai itu men¬delik, namun kata-kata itu termakan ju¬ga di hatinya.


"Ingatlah, Tuan. Tuan tentu tahu ju¬ga, bahwa Tiat-tung Kai-pang selalu ber¬sahabat dengan Hong-gi-hiap Souw Thian Hai dan Keh-sim Tai-hiap Kwe Tiong Li. Bagaimana kalau salah seorang di an¬tara mereka juga mencari Tuan? Apakah Tuan juga sudah siap menghadapi mere¬ka?"


"Aku tiddk takut! Mereka tidak akan bisa mengalahkan aku." Yok Si Ki berte¬riak, tapi tampak sekali perubahan wa¬jahnya ketika Ho Bing menyebutkan na¬ma Hong-gi-hiap Souw Thian Hai.


Ho Bing menarik napas panjang. Ma¬tanya menatap para pengemis yang me¬ngepung tempat itu. 


"Baiklah! Kalau be¬gitu, silakan Tuan bertempur dengan me¬reka! Lebih baik aku pergi menyelamat-kan diri! Nah, selamat tinggal...!"

Sekonyong-konyong Ho Bing memba-likkan tubuhnya, kemudian melesat masuk kembali ke dalam rumah. Gerakannya cepat sekali dan tak dapat terduga oleh stapapun juga.


"Hei! Mau ke mana kau? Tunggu...!" Yok Si Ki berteriak, lalu menjejakkan kakinya mengejar. Gerakannya juga tidak kalah cepat pula. Bahkan tampak lebih ringan dan lebih lincah meskipun di pun¬daknya ada Tio Ciu In!


"Lepaskan aku! Lepaskan...!" Tio Ciu ln menjerit.


"Yok Ciang-bun jangan lari! Lepas¬kan Nona Tio...!" Jeng-bin Lo-kai berseru keras seraya melompa't ke depan. Namun Pek-bin-kai segera menahannya.


"Jangan masuk, Lo-heng! Kedua orang itu sangat licik! Kita jangan sampai ter¬perangkap oleh akal bulus mereka. Biar¬lah mereka di dalam. Rumah ini sudah kita kepung. Kita tunggu dulu bantuan yang datang. Nanti kita gempur bersa¬ma-sama." Pengemis beralis putih itu menasehati Jeng-bin Lo-kai.
"Benar. Hampir saja aku terkecoh oleh kelicikan Ho Bing."


Sementara itu Ho Bing melesat ke ruang bawah tanah kembali. Yok Si Ki yang tak ingin kehilangan Ho Bing cepat menyusup ke dalam pula sebelum pintu itu tertutup kembali.


Sambil berlari menuruni tangga Ho Bing menoleh. "Tuan beruntung mau menerima saranku. Sebentar lagi tempat ini akan terkepung oleh puluhan, bahkan mungkin malah ratusan pendekar persilat¬an. Tuan tentu tahu, bahwa peristiwa pembantaian prajurit dan para pemenang sayembara itu membuat pendekar-pende¬kar persilatan datang ke daerah ini."


"Lalu... mau ke mana kita? Bersem¬bunyi di ruang ini?"


Ho Bing berdiri di tengah ruangan. Air mukanya yang kelimis, walaupun rambutnya terpotong pendek, tampak berseri-seri. Pandang matanya menunjuk¬kan kegembiraan.
"Lepaskan aku! Lepaskan aku...!" Tio Ciu In yang menjadi ketakutan karena dibawa kembali ke dalam ruangan itu, berteriak dan menjerit-jerit. Gadis itu benar-benar ketakutan.

"He-he-he, Yok Ciang-bun. Tentu saja kita bersembunyi di tempat ini. Mau ke mana lagi?" Pengemis licik itu tertawa senang. Tampak sekali kalau dia amat yakin akan keselamatannya.

"Apa maumu, heh?" Yok Si Ki mem¬bentak berang.

Tiba-tiba saja Ketua Tai-bong-pai itu menyambar* dada Ho Bing. Cepat bagai kilat. Ho Bing yang sudah bersiaga itu mengelak dan berteriak mengancam la¬wannya. Di tangannya tergenggam botol berisi cairan berwarna merah.

"Berhenti, Yok Ciang-bun! Atau... kau dan gadis itu akan mati di ruangan ini!"

"Apa maksudmu...?" Yok Si Ki meng¬geram sambil membuang sobekan kain baju Ho Bing yang tersambar oleh tangan nya tadi.

Diam-diam hati Ho Bing menjadi ke¬cut juga. Dalam puncak kesiagaannya, ternyata tetap saja ia hampir mati di¬sambar tangan Yok Si Ki. Gerakan orang itu benar-benar seperti setan cepatnya.