Selasa, 21 November 2017

PENDEKAR PEDANG PELANGI 4




JILID IV

AKHIRNYA It Kwan tak sabar lagi. Ia mulai menggunakan siasat-siasat yangcukup berbahaya, la tak lagi mempedulikan harga dirinya sebagai ketua sebuah perguruan silat ternama. Serangannya mulai menjamah ke arah bagian-bagian tubuh yang terlarang bagi wanita. Tentu saja kelakuannya itu membuat Siau In menjadi malu dan marah sekali.

Ketika suatu saat tangan It Kwan mencengkeram ke arah dadanya, Siau In yang nakal dan bengal itu segera membalasnya dengan tak kalah kotornya.

Dengan tangkas gadis itu mengelak sambil meludahkan air liurnya ke muka lt Kwan!

“Cuuh!”

It Kwan menjadi merah padam mukanya, meskipun air ludah itu dapat dielakkannya. Dengan beringas ia menubruk ke depan dengan goloknya. Kali ini yang diserang adalah bagian kepala Siau In. Namun ketika Siau In mengangkat pedang kanannya untuk mengincar pergelangan tangannya, It Kwan tiba-tiba mengulurkan tangan kirinya untuk mencengkeram kemaluan Siau In.

“Iiih…!” Siau In menjerit jijik dan malu.

Karena merasa jijik dan tak ingin bertempur lebih lama lagi melawan orang yang tak mengindahkan tata-susila kesopanan itu, maka Siau In pun lalu menempuh siasat yang nekad dan berbahaya pula.

Gadis itu mula-mula seperti membiarkan jari-jari lawan menyentuh kain celana yang dikenakannya.

Bahkan untuk lebih meyakinkan lawan bahwa ia sudah tidak bisa mengelakkan serangan tersebut, Siau In melepaskan pedangnya yang sebelah kiri. Namun pada saat yang bersamaan pula gadis itu melepaskan tiga buah pisau kecilnya yang selalu terselip di pergelangan tangannya! Ssiuut! Siiuutt! Ssiiuut!

“Adooouuuh…!” It Kwan berteriak nyaring.

Meskipun ia berusaha menghindar, tapi tetap saja sebuah dari pisau terbang tersebut menancap di lehernya!

“Iiiih!” Siau In menjerit keras pula karena celananya di bagian depan terkoyak lebar direnggut jari tangan It Kwan. Tentu saja pahanya yang putih mulus itu tampak dengan nyata.

Tapi tak seorangpun anak murid Perguruan Hek-to-pai itu yang memperhatikan paha Siau In, karena perhatian mereka tercurah semua pada keadaan guru mereka. Darah mengalir dengan derasnya dari luka di leher It Kwan. Pisau kecil itu kebetulan mengenai urat nadinya, sehingga tokoh tingkat tinggi seperti It Kwan pun tak bisa bertahan lagi. Ketua Hek-to-pai itu segera terjerembab kesakitan.

Anggota Hek-to-pai yang mengepung tempat itu menjadi gempar. Sebagian mengurusi guru mereka, dan yang sebagian segera mengepung Siau In kembali. Tanpa banyak cingcong lagi orang-orang yang mengepung Siau In itu segera mengeroyok dengan senjata andalan mereka.

Traaaang! Triiing!

“Aaaaaah!”

“Adduuuuuuh!”

“Ough!”

Siau In juga tidak sungkan-sungkan lagi gadis itu cepat mengambil pedangnya kembali dan mengamuk bagai singa betina. Pedangnya menyambar-nyambar ke sana ke mari sambil meninggalkan korban yang tidak sedikit. Lawan-lawannya bergelimpangan dengan luka yang menganga di sekujur tubuh mereka.

“Berhenti…!!!”

Tiba-tiba terdengar suara bentakan yang menggelegar bagaikan guntur yang meledak di telinga setiap orang, termasuk pada telinga Siau In pula!

Gadis itu terhuyung-huyung sambil mengerahkan tenaga sakti untuk melawan gempuran suara yang mengandung tenaga khikang tinggi itu.

Kalau Siau In saja sampai terhuyung-huyung akibat gempuran Sai-cu Ho-kang (Tenaga Sakti Auman Singa) itu, apalagi para anggota perguruan Hek-to-pai yang masih rendah ilmunya. Mereka segera bergelimpangan sambil menutup telinga mereka.

Untunglah orang yang baru datang dan menghentikan ilmu tersebut tidak meneruskan serangannya, sehingga semuanya segera bisa menguasai diri mereka kembali.

Kesempatan itu cepat digunakan oleh Siau In untuk membenahi celananya yang bolong. Agar lebih rapat serta lebih tertutup lagi, Siau In lalu melepaskan pula ikat pinggangnya, sehingga kain bajunya yang longgar itu melorot turun sampai ke pahanya. Begitu selesai, gadis itu segera bersiap menghadapi orang yang baru saja muncul itu.

137

Orang itu berdiri tegak di tengah jalan. Dengan cekatan ia memberi perintah serta mengatur orang-orang Hek-to-pai yang ada di tempat itu. Anggota Hek-to-pai yang masih sehat dan tidak terluka ia perintahkan untuk membawa saudara-saudara mereka ke dalam perkampung an. Sebagian juga ia perintahkan untuk mengumpulkan golok-golok yang bertebaran di arena pertempuran tersebut.

Siau In berdebar-debar hatinya. Orang itu sangat tenang sekali dan memiliki rasa percaya diri yang amat besar. Meskipun telah melihat hasil pertempuran yang banyak merugikan pihak Hek-to-pai seperti itu, namun orang itu sama sekali tidak kelihatan kaget atau gentar menghadapi Siau In. Bahkan orang itu tampak acuh tak acuh terhadap Siau In.

Orang itu bertubuh tinggi besar dan gemuk.

Rambutnya yang panjang dan sudah berwarna dua macam itu dibiarkannya terurai lepas menutupi telinga dan bahunya. Hanya saja untuk mengikat rambut itu agar tidak menutup wajahnya, orang itu mempergunakan untaian mutiara sebagai pengikatnya.

Kumis dan jenggotnya yang juga sudah terdiri dari dua warna itu hampir menyelimuti seluruh mukanya, sehingga kepalanya yang besar itu hampir seluruhnya tertutup rambut, kecuali mata dan hidungnya.

Orang itu mengenakan jubah yang sangat longgar dan panjang berwarna kelabu. Tangannya memegang tasbeh panjang, terbuat dari bulatan-bulatan besi sebesar kelereng. Karena sering dipegang dan diusap maka warnanya sudah berubah menjadi hitam mengkilap agak kemerah-merahan.

Ketika kemudian orang itu menatap ke arahnya, tiba-tiba Siau In merasa bulu romanya berdiri. Ia seperti melihat mata hantu yang hendak menerkam ke arah dirinya.

“Gadis kecil, siapa namamu? Mengapa kau berani mengacau perkampungan sahabatku ini?” orang itu bertanya dengan suaranya yang dalam dan besar.

Siau In tidak segera menjawab. Lebih dulu ia mengatur pernapasan dan perasaannya yang terguncang, agar semangatnya juga tidak larut dalam kengerian menghadapi keseraman lawan. Setelah dapat menguasai dirinya kembali, baru Siau In membuka suara.

“Kau tidak perlu tahu namaku. Kulihat kau mengenakan jubah pendeta. Kalau kau memang benar-benar seorang pendeta, kau tentu dapat membedakan baik dan buruk. Kau tentu akan melihat dan meneliti dulu siapa yang salah sebelum ikut turun tangan.” Siau In berkata berani.

Orang itu tertegun sebentar, lalu tertawa, walaupun tawanya terdengar ganjil dan menyeramkan.

Mulutnya sama sekali tidak kelihatan terbuka karena tertutup oleh kumis dan jenggotnya yang lebat.

“Kau benar-benar cerdik dan berani, Gadis kecil! Aku memang seorang pendeta pengembara. Orang menyebutku Tong Tai-su. Kebetulan aku berada di sini karena It Kwai itu adalah sahabatku. Dan karena ia sahabatku, maka tentu saja aku takkan mempersoalkan apakah ia salah atau tidak. Yang jelas ia sekarang terluka, dan anak muridnya juga kacau balau oleh amukanmu. Maka sudah selayaknyalah bila sekarang aku membantu dia menangkap kau untuk mempertanggung-jawabkan perbuatanmu.”

“Baik! Aku memang sudah menduganya. Orang berwatak buruk dan jahat seperti lt Kwan tidak mungkin mempunyai sahabat dari kalangan baik-baik pula. Sahabatnya tentu tidak jauh pula bedanya dengan dia. Meskipun engkau memakai jubah pendeta, tapi aku yakin jiwamu tentu tak lebih baik daripada dia.”

“Bangsat…! Mulutmu memang tajam! Tapi jangan harap kau bisa membakar kemarahanku.

Bagaimanapun juga kau akan kutangkap dan kuserahkan kepada lt Kwan!” Tong Tai-su menggeram.

Namun Siau In sudah tidak peduli lagi. Dalam keadaan terdesak timbul lagi keberaniannya. Ia tahu lawannya berkepandaian sangat tinggi, dan mungkin ia tak mampu melawannya. Namun bagaima napun juga ia tak ingin mati dalam ketakutan. Dia harus melawan sebisa-bisanya. Siau In mengerahkan lwe-kang sepenuhnya.

Sinkang yang kemudian mengalir ia salurkan ke seluruh tubuhnya. Kemudian dengan perlahan-lahan sepasang pedangnya ia angkat ke depan dada.

“Hahaha… tampaknya kau mau melawan juga!

Baik! Tapi supaya aku tidak ditertawakan orang karena melawan anak kecil seperti kau, maka aku akan menyimpan senjataku dan mengikat tangan kiriku, sehingga aku hanya menggunakan tangan kanan saja untuk melayanimu.”

“Jangan menghina!” Siau In tersinggung.

Sambil mengalungkan tasbehnya ke lehernya, dan menyelipkan lengan kirinya ke belakang, pada ikat pinggangnya, Tong Tai-su melangkah ke depan.

“Marilah! Aku tidak menghinamu! Aku melihat kau bisa mengalahkan It Kwan, tapi kau sendiri juga hampir celaka oleh cengkeramannya. Hal itu berarti kepandaianmu tidak terpaut banyak dengan dia.

Padahal aku sangat mengenal kepandaiannya. Oleh karena itu asal kau bisa lolos dari tangan kananku, kau boleh pergi.” pendeta itu berkata.

“Baik!” Siau In sedikit lega.

Demikianlah Siau In lalu menyerang dengan sepasang pedang pendeknya. Pedang itu berkelebatan ke bagian-bagian tubuh yang berbahaya dari lawannya. Suaranya mencicit-cicit saking kencangnya, karena Siau In memang mengerahkan seluruh kemampuannya.

Tapi Tong Tai-su memang hebat. Ia memang tidak membual atau menyombongkan diri ketika berjanji untuk melawan hanya dengan tangan kanannya.

Ternyata meskipun hanya satu tangan yang maju, tapi ketika tangan itu mulai digerakkan oleh pemiliknya, tiba-tiba Siau In menjadi silau dan bingung menghadapinya. Tangan itu seperti berubah menjadi puluhan banyaknya, sehingga ke manapun Siau In menyerang ia seperti dikeroyok oleh empat atau lima orang lawan.

Akibatnya beberapa kali pedangnya hampir terlepas disambar tangan-tangan itu. Untunglah dengan kematangannya bermain pedang ia masih bisa menyelamatkannya.

“Hei…!? Apa hubunganmu dengan Giam Pit Seng? Kulihat ilmu pedangmu mirip sekali dengan permainan pit-nya!” sambil terus mencecar Tong Taisu berseru keras.

“Beliau adalah guruku! Huh, kalau beliau berada di sini, jangan harap kau bisa menghina aku!” Siau In berteriak pula dengan tak kalah kerasnya.

Tak terduga Tong Tai-su tertawa bergelak.

“Hahaha…! Kau ini anak kemarin sore tahu apa?

Gurumu itu telah dua kali bertanding dengan aku, tapi ia tak pernah bisa mengalahkan aku. Malahan pada pertandingan yang ke dua ia justru hampir mati oleh tasbehku. Untung ada orang yang menolong dia….”

Siau In terkejut bukan main, sehingga permainan pedangnya agak sedikit kacau. Akibatnya pedangnya hampir saja terpental dari genggamannya. Untunglah dia segera sadar kembali. Mati-matian ia mempertahankannya.

Samar-samar Siau In memang mengingatnya. Saat itu ia baru berusia dua belas tabun. Suatu malam suhunya pulang dari bepergian jauh dalam keadaan lesu. Gurunya mengatakan bahwa dia baru saja bertempur dengan musuhnya, tapi ia kalah. Untunglah nyawanya diselamatkan oleh seorang pendekar aneh, yang hanya dengan tiga jurus bisa membuat musuhnya itu lari tunggang langgang. Dan sebelum pergi pendekar aneh itu menyuruh gurunya untuk mengabdi pada aliran Im-yang-kau. Karena sudah berhutang nyawa, serta beranggapan bahwa pendekar penolongnya itu adalah tokoh Im-yang-kau, maka gurunya lalu masuk menjadi anggota Im-yang-kau.

Namun setelah bertahun-tahun mengabdi pada Aliran Im-yang-kau, dan telah berulang kali menemui tokoh-tokohnya, gurunya tak pernah menjumpai penolongnya itu. Ternyata pendekar tersebut bukanlah tokoh Im-yang-kau. Tiada seorang pun tokoh Im-yang-kau yang wajahnya mirip pendekar itu.Tapi gurunya sudah terlanjur mencintai Im-yang-kau, sehingga ia tak mau meninggalkannya lagi. Bahkan oleh karena pengabdiannya yang besar, gurunya diangkat menjadi Pimpinan cabang Im-yang kau wilayah timur setahun yang lalu.

“Oh, jadi kaukah orang yang pernah mengalahkan Guruku itu? Ah, kalau begitu Guruku sekarang bisa tertawa dengan gembira.” gadis itu balas mengejek.

“Memangnya kenapa…?” Tong Tai-su ternyata terpancing juga oleh ejekan Siau In.

“Habis… ilmumu tetap seperti ini saja! Tidak ada kemajuan! Padahal setelah masuk aliran Im-yang-kau, kesaktian Guruku sudah tiga kali lipat dibandingkan dengan dahulu! Buktinya sekarang beliau dijadikan Pimpinan Cabang di daerah timur.” Siau In membual agar lawannya menjadi panas perutnya.

Benar juga. Tong Tai-su menjadi merah padam mukanya. Ejekan gadis centil itu betul-betul mengenai sasarannya. Begitu marah, penasaran, dan jengkelnya, sehingga Tong Tai-su lupa pada janjinya.

Tangan kirinya yang terselip pada ikat pinggangnya itu tiba-tiba ditarik dan terayun ke depan untuk merampas pedang Siau In.

Meskipun kaget tapi Siau In tersenyum penuh kemenangan. Mula-mula gadis itu menarik kedua bilah pedangnya ke depan dada seperti hendak melindungi pedang itu ke dalam pelukannya. Namun ketika tangan kiri Tong Tai-su hendak menyambar pedang kanannya, pedang kirinya cepat menabas ke depan dengan dahsyatnya.

Tentu saja Tong Tai-su tidak ingin mengadu jari-jarinya dengan pedang. Otomatis tangan kanannya segera membantu dengan menyambar pedang kiri Siau In yang berbahaya itu. Gerakannya demikian cepat dan kuat luar biasa sehingga tingkat kepandaiannya itu tidak mungkin Siau In mengelakkannya.

Tapi anehnya gadis itu seperti membiarkan saja pedang kirinya itu ditangkap lawannya. Bahkan berusaha untuk menghindari saja tidak. Sekejap Tong Tai-su curiga. Tapi sebelum kecurigaannya itu terpecahkan, tiba-tiba Siau In menusukkan pedang kanannya yang bebas itu ke arah pergelangan tangan kanan Tong Tai-su yang sudah mencengkeram pedang kirinya itu.

Tong Tai-su terperanjat. Otomatis tangan kirinya yang kagok tadi cepat menyambar terus ke depan, ke pergelangan tangan kanan Siau In! Dan sekejap kemudian kedua bilah pedang pendek Siau In telah terampas semuanya!

Namun di luar dugaan gadis itu justru bersorak gembira sambil bertepuk tangan!

“Apa kau sudah gila…?”

 Tong Tai-su menghardik dengan mata melotot.

“Lhoh… aku menang, bukan? Mana pedangku!” seenaknya Siau In menyahut.

“Menang apa? Apa kau tidak melihat pedangmu ini?” Tong Tai-su memperlihatkan pedang Siau In yang dirampas.

“Hei! Bukankah Tai-su tadi sudah berjanji untuk tidak menggunakan tangan kiri? Ternyata Tai-su telah melanggar janjimu sendiri. Bukankah hal itu berarti kalah?” Siau In menuntut dengan gaya-nya yang kocak.

“Tapi… ini…!” Tong Tai-su ” menjadi pucat. Tak terasa pedang itu dilepaskannya begitu saja, sehingga jatuh berdentang di tanah.

Siau In cepat memungut pedangnya.

“Tahan…!” tiba-tiba Tong Tai-su membentak.

“Tapi… bukankah kau belum bisa mengalahkan tangan kananku? Nah, kau belum boleh pergi!”

Tapi dengan berani Siau In bertolak pinggang.

“Siapa bilang tangan kananmu belum kalah? Bukankah tangan kanan Tai-su tadi sudah tidak berkutik karena sedang mencengkeram pedangku? Kalau tangan kiri Tai-su tidak turut campur, bukankah pedangku yang satunya sudah bisa menembus pergelangan tangan kanan Tai-su itu? Hayo…, benar tidak?” sergahnya berani.

“Lha… ini…, wah! Kau gadis cilik memang cerdik sekali! Tapi…?” Tong Tai-su akhirnya mengakui pula kekalahannya. Namun ia masih tampak bingung.

“Tai-su, Kau seorang lo-cianpwe (tokoh persilatan angkatan tua)! Kau tidak boleh menjilat ludahmu sendiri. Apalagi lawanmu hanya seorang gadis muda seperti saya. Hanya seekor binatang yang biasa menjilat ludahnya sendiri.” dengan cerdik Siau In mengolok-olok Tong Tai-su agar lawannya itu menjadi malu untuk mengubah keputusannya.

“Kurang ajar! Kau memang luar biasa licinnya! Sudahlah… pergi sana!” Tong Tai-su berteriak kecewa.

Bagai burung yang terlepas dari sangkarnya, Siau In tidak mau menyia-nyiakan kesempatan itu. Dengan gesit tubuhnya melesat ke depan untuk secepatnya meninggalkan tempat berbahaya itu. Sebaliknya Tong Tai-su dengan lesu melangkah ke perkampungan Hek-to-pai, diiringkan oleh sebagian anak muridnya It Kwan yang masih sehat.

Kalau baru saja tadi Siau In mengalahkan lawannya dengan kecerdikan, sebaliknya Ciu In harus benar-benar menguras tenaga untuk menundukkan lawan-lawannya.

Empat orang Pek-hok-bio itu ternyata memiliki ilmu tongkat yang cukup tinggi. Terutama cara mereka bekerja sama satu sama lain. Setiap kali Ciu In menyerang dengan pedangnya, secara serempak dua orang lawannya segera menempatkan diri untuk menghadapinya, sementara dua orang yang lain segera mengambil kesempatan itu dengan balas menerjang.

Demikian selalu terjadi sehingga Ciu In merasa kewalahan. Apalagi setiap pedangnya bertemu dengan tongkat lawan, ia seperti membentur dua kekuatan sekaligus. Bahkan pada saat yang sama ia harus menerima tekanan dua kekuatan yang lain lagi.

Untunglah ia bersenjatakan dua bilah pedang, sehingga setiap saat senjatanya dapat berada di dua jurusan.

Ciu In memang belum mempunyai banyak pengalaman bertempur sehingga ia belum bisa memanfaatkan kelihaian ilmu pedangnya. Walaupun demikian karena ilmu pedang gubahan Giam Pit Seng itu memang cukup hebat serta aneh diduga, maka empat orang Pek-hok-bio itu pun juga merasa sulit pula menghadapinya. Hal itu membuat mereka menjadi penasaran sekali. Di Kuil Pek-hok-bio mereka berempat merupakan tokoh-tokoh tingkat dua, karena mereka berempat adalah adik-adik seperguruan dan kepala kuil itu. Maka sungguh memalukan sekali bagi mereka karena tidak bisa meringkus seorang gadis muda belia seperti Ciu ln.

“Baiklah…!” Ciu ln berkata di dalam hatinya. “Aku terpaksa mempergunakan pisau terbangku! Tanpa senjata kecil itu tampaknya aku akan kehabisan napas melayani mereka.”

Ciu ln lalu mencari kesempatan. Mula-mula ia berkelebatan ke sana ke mari melayani lawan-lawannya. Namun pada suatu saat tiba-tiba ia berhenti. Sebelum lawan-lawannya bisa menduga apa yang hendak ia kerjakan, secara mendadak Ciu In melepaskan pisau-pisaunya. Sekali melepas gadis itu menaburkan delapan buah sekaligus.

Karena setiap lawan memperoleh jatah dua buah pisau dan dalam posisi terpencar pula, maka otomatis kedudukan mereka menjadi tercerai-berai.

Kesempatan inilah yang dikehendaki Ciu In.

Mumpung lawan-lawannya sedang sibuk menangkis atau mengelakkan pisau-pisaunya, ia segera mencecar salah seorang di antaranya dengan sergapan dua bilah pedangnya.

Orang itu tentu saja menjadi sibuk bukan main.

Selagi tongkat besinya sedang ia pakai untuk menghanfam pisau kecil itu, tiba-tiba Ciu In menyerangnya dengan tabasan dua pedangnya. Ia mencoba untuk meloncat mundur. Tapi papan jembatan itu ternyata terlalu sempit, sehingga badannya melayang ke dalam empang. Mati-matian ia berusaha mengaitkan tongkat besinya ke ujung papan di dekatnya, namun sekali lagi Ciu ln memberondong dengan tendangan dan tusukan pedang. Akibatnya tongkat itu justru terguncang lepas dari tangannya.

Ketika temannya yang terdekat berusaha menolong orang itu, Ciu In kembali melepaskan pisau terbangnya. Kali ini hanya dua buah, tapi semuanya mengarah ke bagian jantung dan pusar orang yang akan menolong temannya tersebut.

Orang itu menjadi gelagapan. Karena dalam posisi melayang ke depan, maka gerakannya menjadi kagok.

Menangkis salah, mengelakkan juga salah. Dua-duanya akan membuat ia terpelanting ke samping sehingga dirinya akan mudah diserang kembali.

Benar juga. Ketika orang yang hendak menolongnya mencoba untuk mengelak, tubuhnya menjadi terbuka, dan kesempatan tersebut memang dipergunakan oleh Ciu In dengan sebaik-baiknya.

Pedang gadis itu meluncur ke depan ke arah lutut dan pinggang orang itu. Dan sekali ini jalan satu-satunya bagi orang itu cuma menangkis. Tapi karena menangkis dalam posisi yang jelek mengakibatkan tubuhnya terbanting ke arah empang pula.

Byuuuuuur!

Byuuuuuurr!

Dalam waktu yang hampir bersamaan kedua orang Pek-hok-bio tercebur ke dalam empang yang dalam itu. Ciu In cepat membalikkan badannya karena pada saat yang bersamaan pula kedua lawannya yang lain telah menerjang ke arah dirinya. Dua orang yang masih tersisa itu tampak berang sekali karena kawan-kawannya dapat diperdaya oleh gadis itu.

Setelah kini tinggal dua orang saja yang harus dihadapinya, Ciu In benar-benar bisa mengembangkan ilmu pedangnya dengan leluasa.

Pedang pendeknya menjadi semakin lincah menari-nari mengelilingi tubuh lawan-lawannya. Meskipun lawannya memegang tongkat besi, namun senjata yang berat itu terlalu lamban untuk mengejar ayunan pedang pendeknya yang gesit bagai lebah madu.

Berulang kali kedua orang lawannya itu terpaksa jatuh bangun untuk menghindarkan diri dari sengatan pedang Ciu In.

Lima jurus pun segera berlalu, dan dua orang Pek-hok-bio yang masih tersisa itu pun sudah tidak bisa bertahan lebih lama lagi. Ketika salah seorang di antara mereka terpaksa melepaskan tongkat besinya dan terjungkal ke dalam kolam terkena ujung sepatu Ciu In, yang lain pun segera ikut terjun ke dalam empang pula.

Celakanya tak seorang pun dari empat orang Pek-hok-bio itu yang mampu berenang di dalam air, sehingga dengan mudah mereka menjadi bulan-bulanan Liu Wan yang sejak tadi masih mengapung di empang menonton pertempuran mereka. Pemuda itu dengan cerdik menyelam ke dalam air, lalu bergantian menarik kaki-kaki mereka ke bawah. Tentu saja orang-orang Pek-hok-bio itu menjadi gelagapan seperti anak ayam yang menggelepar-gelepar di dalam lumpur. Entah berapa mangkuk air saja yang mengalir ke dalam perut mereka.

Setelah orang-orang Pek-hok-bio itu kelihatan lemas dan kecapaian, barulah tubuh mereka diseret ke pinggir oleh Liu Wan. Ciu ln cepat berlari mendekati dan bersiap siaga kalau-kalau orang Pek-hok-bio itu masih hendak meneruskan pula pertempuran mereka.

Tapi empat orang itu sudah tidak berdaya lagi.

Selain senjata mereka tertinggal di dalam air, keadaan tubuh mereka pun sudah tidak keruan lagi. Tenaga hilang, perut dan paru-paru mereka pun penuh dengan air. Berkali-kali mereka terpaksa muntah-muntah untuk mengeluarkan air yang mereka minum.

Celakanya yang keluar tidak cuma air empang, tapi juga seluruh isi perut mereka, termasuk puluhan ekor ikan hidup yang ikut tertelan ketika sekarat tadi.

Begitu dapat berdiri mereka berempat segera ngeloyor pergi tanpa pamit lagi. Mereka berjalan terhuyung-huyung, sambil sesekali masih harus memuntahkan kotoran-kotoran dan ikan-ikan kecil yang tersisa di dalam perut mereka.

“Nona Tio, ilmu pedangmu sungguh hebat sekali! Terutama pisau-pisau terbangmu itu. Dan kau benar-benar cerdik. Semula aku sudah merasa khawatir, karena pada permulaannya kau tampak sangat kerepotan menghadapi kerja sama mereka.”

Ciu In tersenyum kemalu-maluan. Pujian pemuda tampan yang baru setengah hari dikenalnya itu terasa menyesakkan dadanya. Pemuda itu sungguh pintar bergaul dan pandai mengambil hati orang, sehingga sebentar saja Ciu In merasa dekat dan akrab dengannya.

“Ah, diam-diam Tuan tentu mentertawakan ilmu pedangku itu….” Ciu In pura-pura kurang senang.

“Hei, benar… Nona! Aku berkata sebenarnya. Ilmu pedangmu sungguh-sungguh hebat. Hanya saja dalam penggunaannya kau seperti belum menyatu dan mengenal betul akan sifat-sifatnya. Tapi …eh, omong-omong, sudah setengah harian kita saling mengenal, mengapa masih mempergunakan sebutan “Tuan” dan

“Nona”? Mengapa kita tidak saling menyebut kakak dan adik saja?” dengan gaya yang menyenangkan Liu Wan membelokkan arah percakapan mereka.

“Ah… aku…?” Wajah Ciu In yang cantik itu menjadi merah.

“Baiklah, kalau kau setuju… aku akan memanggilmu adik, karena usiamu tentu belum ada dua puluh tahun. Sedangkan aku sudah seperempat abad. Nah, mulai saat ini aku akan memanggilmu Ciu-moi, dan kau boleh menyebutku Engko Wan atau…

Wan Siok-siok (Paman Wan)!” pemuda itu berkelakar.

“Wah, tidak mau kalau Wan Siok-siok! Terlalu tua!” Ciu In terpancing untuk melayani kelakar Liu Wan.

“Terserah Ciu-moi…. Nah, sekarang kita masuk ke pondok lagi untuk mengatur siasat. Aku juga akan berganti pakaian pula. Pakaian ini basah dan berbau amis. Setelah itu kita juga akan merayakan keberhasilan sandiwara kita tadi. Anak buah So Gu Thai yang dikirim ke mari tadi dapat kita kelabuhi dan pulang dengan tangan hampa….”

“So Gu Thai? Siapakah So Gu Thai itu?”

Liu Wan melangkah ke atas jembatan, diikuti oleh Ciu In. “So Go Thai adalah penjahat yang kuceritakan itu. Sebenarnya ia bukan orang Han, tapi orang Tartar dari suku Hun. Nama sebenarnya adalah Sogudai.

Seperti nenek moyangnya ia juga pemuja matahari dan bulan. Dan setiap pergantian tahun ia tentu mengadakan upacara korban untuk dewa matahari dan bulan. Dia sangat lihai dan berbahaya karena dia adalah bekas pengawal pribadi Mo Tan, raja orang-orang Tartar itu.” sambil berjalan melewati jembatan itu Liu Wan memberi keterangan tentang musuhnya.

“Jadi dia orang… Tartar?” Ciu In bertanya ngeri.

Ciu In sering mendengar penuturan suhunya, bahwa bangsa Tartar yang terdiri dari bermacam-macam suku itu sangat kasar, kejam, dan tak mengenal perikemanusiaan. Di jaman pemerintahan mendiang Kaisar Liu Pang, suku bangsa biadab itu telah beberapa kali menyerang ke pedalaman Tionggoan.

Di bawah rajanya yang lihai, buas, kejam namun amat cerdik luar biasa itu, hampir saja bisa mengalahkan bala tentara Kerajaan Han. Untunglah Kaisar Liu Pang memiliki pembantu-pembantu dan panglima-panglima perang tangguh dan gagah berani, sehingga beberapa kati pula Mo Tan dan pasukan perangnya dapat dihalau keluar dari Tembok Besar.

“Ya! So Gu Thai orang Tartar dari suku Hun. Satu suku dengan Mo Tan, rajanya.” Liu Wan mengiyakan.

“Ciu-moi…! Sebenarnya aku tidak heran melihat So Gu Thai berkeliaran di daerah Tionggoan. Mungkin dia hanya salah seorang pengikut Mo Tan yang tercecer di sini ketika mereka mengundurkan diri ke utara. Tetapi yang aku herankan, selama sebulan ini aku sering melihat dan bertemu dengan orang-orang Tartar di sepanjang daerah pantai timur ini. Walaupun mereka menyamar seperti orang Han, tapi logat bicara dan tingkah laku mereka dapat kukenali dengan baik.

Aku jadi curiga dan berpikir keras. Jangan-jangan ada sesuatu yang mereka kerjakan di daerah ini. Aku… jangan-jangan Mo Tan telah bersiap-siap untuk melintasi Tembok Besar lagi.”

“Oh, kalau benar-benar demikian… sungguh mengerikan!” Ciu In menatap Liu Wan dengan muka pucat.

“Yah… rakyatlah yang akan mengalami nasib yang buruk. Sampai sekarang bekas-bekas kebiadaban pasukan Mo Tan itu masih melekat di dada orang-orang Han. Ah, silakan duduk dulu, Ciu-moi! Aku akan berganti pakaian…,”

Sampai di dalam pondok Liu Wan mempersilakan Ciu In untuk duduk di kur si yang telah disediakan, sementara ia sendiri masuk ke dalam kamar untuk mengganti pakaiannya yang basah. Lo Kang dan Lo Hai segera menyiapkan minuman.

Ciu In lalu melihat-lihat lagi keadaan pondok yang menyenangkan itu. Di ruang samping Ciu In melihat tiga buah lukisan orang dalam ukuran yang cukup besar. Lukisan itu terdiri dari sebuah lukisan wanita cantik setengah baya dan dua buah lukisan lelaki usia empat puluhan dan enam puluhan. Gambar lelaki berusia empat puluhan itu hampir mirip dengan Liu Wan. Hanya bedanya wajah Liu Wan tidak setajam dan sekeras wajah di dalam gambar itu. Dan juga, di dalam gambarnya, lelaki itu kelihatan lebih tinggi dan lebih jangkung daripada Liu Wan.

“Ciu-moi, kau di sini rupanya…”

Seperti tadi, kali ini pun Ciu In hampir menjerit saking kagetnya. Tanpa menimbulkan suara tiba-tiba saja Liu Wan telah berada di belakangnya.

“Wan-ko, kau kembali mengagetkanku!” sungutnya kesal.

Tapi tampaknya Liu Wan tak mempedulikan kekesalan Ciu In itu. Dengan wajah bersungguh-sungguh pemuda itu menatap mata Ciu In.

“Kau… mengenal wajah yang terlukis di dalam gambar-gambar ini, Ciu-moi?” desaknya dengan suara yang agak bergetar.

Ciu In balas memandang dengan aneh dan tak mengerti. Kadang-kadang dirasakannya pemuda itu bersikap aneh dan membingungkan. Seperti ada sesuatu yang disembunyikan atau dirahasiakannya.

“Tidak. Aku sama sekali tidak mengenal mereka. Siapakah mereka…?” sambil menggeleng Ciu In menyahut dengan suara curiga.

Tiba-tiba Liu Wan menghela napas lega. Wajahnya kembali cerah seperti biasanya. Dengan cepat tangannya meraih gambar wanita cantik setengah baya itu.

“Ini… Ibuku. Cantik sekali, bukan? Gambar ini kubuat lima tahun yang lalu! Tentu saja Ibuku sekarang lebih tua dari pada gambar ini.” Liu Wan menerangkan

“Apakah Wan-ko dari keluarga bangsawan atau pejabat kerajaan? Kulihat Ibumu mengenakan perhiasan yang bagus-bagus.” Ciu In mencoba bertanya tentang asal-usul Liu Wan.

Pemuda itu tertawa. “Siapa pun bisa mengenakan perhiasan yang bagus-bagus, Ciu-moi. Tak perlu ia harus keluarga bangsawan atau pejabat kerajaan.

Seorang pedagang yang berhasil pun bisa membeli perhiasan-perhiasan seperti itu kalau dia suka. Apalagi di dalam gambar itu aku memang sengaja menambahi perhiasan-perhiasan bagus pada wajah Ibuku, agar beliau kelihatan lebih cantik lagi dipandang mata.” dengan cerdik dan luwes pemuda itu menjawab.

“Ah, Wan-ko ini ada-ada saja. Pandai benar mengambil hati Ibumu. Ehm, lalu lukisan orang tua berambut agak putih ini siapa?”

Liu Wan mengambil gambar lelaki berusia enam puluhan itu pula.

“Ini gambar… guruku!” jawab pemuda itu singkat.

“Gurumu? Bolehkah aku mengenal nama dan gelar Gurumu?” Sekali lagi Ciu In mencoba mengetahui latar belakang Liu Wan.

Tapi pemuda itu dengan cepat menggelengkan kepalanya. “Maaf, Ciu-moi… Guruku sangat suka menyendiri dan tak suka namanya dikenal orang.”

“Baiklah… Lalu siapakah gambar yang lain itu?

Apakah ia juga suka menyendiri dan tak ingin namanya diketahui orang?” dengan suara menggoda Ciu In menunjuk lukisan lelaki berusia empat puluhan itu.

Liu Wan tersenyum kemalu-maluan. Suaranya pun terasa sungkan ketika menjawab. “Benar, Ciu-moi. Itu gambar Kakakku. Dia… dia memang tak suka diketahui namanya.”

“Yah….” Ciu In berdesah kecewa seraya mengangkat pundaknya. “Tampaknya seluruh keluargamu suka menyendiri dan tak ingin bergaul dengan orang lain, kecuali… kau!”

Kali ini Liu Wan benar-benar meringis kecut.

“Bukan begitu maksudku, Ciu-moi. Soalnya… ah, sudahlah… kelak engkau tentu akan mengerti juga, Ciu-moi. Sekarang memang belum waktunya …. ” ujarnya kemudian dengan suara sedih dan menyesal.

Ciu In tertawa. “Ya, kalau kita masih diberi kesempatan untuk bertemu lagi. Kalau tidak…? Soalnya kalau Adikku yang hilang itu sudah aku ketemukan, aku akan kembali pulang dan tidak akan pergi ke mana-mana lagi.”

“Terus mau pulang? Di manakah rumahmu? Apakah…?”  Tiba-tiba Liu Wan tidak meneruskan pertanyaannya. Ia menjadi sungkan dan malu sendiri.

Apalagi ketika kemudian Ciu In tertawa kecil sambil menutupi mulutnya.

“Maaf, Wan-ko. Rumah dan keluargaku juga tidak suka dikenal orang pula.”

Liu Wan mengambil gambar-gambar itu dan memasangnya kembali di tempat semula. Lalu dengan wajah agak lesu ia mengajak Ciu In ke ruang depan.

“Sudahlah, Ciu-moi. Kita tidak perlu saling mengolok-olok. Biarlah untuk sementara kita tak usah saling bertanya tentang asal-usul kita masing-masing. Sekarang yang penting adalah menyelamatkan Adikmu. Lihat… matahari sudah hampir terbenam. Sebentar lagi kita akan berangkat.”

Malam memang cepat sekali datangnya. Belum juga mereka menghabiskan teh dan makanan kecil yang disuguhkan oleh Lo Kang dan Lo Hai, untuk merayakan keberhasilan sandiwara mereka, ribuan kunang-kunang telah mulai menyerbu empang itu.

Begitu banyaknya binatang malam itu beterbangan di sekitar pondok tersebut, sehingga tanpa lampu minyak pun rasa-rasanya sudah terang benderang.

Demikian pula keadaannya di tepian pantai di dekat perkampungan nelayan Ui-thian-cung pada malam itu.

Karena angin laut tidak begitu kencang berhembus, maka ribuan kunang-kunang segera berkumpul dan bercengkerama di tempat sepi itu. Mereka beterbangan di antara riak-riak gelombang yang berdebur lemah di hamparan pasir yang luas.

Kalau Ciu In menonton keindahan kunang-kunang itu sambil makan minum dan mengobrol bersama Liu Wan, sebaliknya Siau In mengagumi binatang malam itu sendirian, tanpa kawan, tanpa minuman dan makanan, bahkan di atas hamparan pasir yang sunyi sepi pula.

Seperti tujuannya semula, sehabis mengalahkan Tong Tai-su dengan kecerdikannya, Siau In berlari menyusuri jalan yang menuju ke laut itu. Sambil mengerahkan gin-kangnya, kadang-kadang Siau In masih menoleh ke belakang. Gadis itu masih merasa khawatir kalau-kalau Tong Tai-su yang lihai itu berubah pikiran lagi. Tapi setelah beberapa saat lamanya tak ada tanda-tanda kalau pendeta pengembara itu mengejar dirinya, Siau In menjadi lega. Gadis itu lalu mengendorkan langkahnya.

Dengan bernyanyi-nyanyi kecil ia melenggang seenaknya. Angin sore berhembus agak sedikit kencang sehingga bajunya yang longgar menyibak. Siau In menjerit lirih sambil membungkukkan badannya.

Angin nakal itu menyelonong masuk lewat celananya yang robek di bagian depan.

“Oh….!”

Tiba-tiba gadis itu terperanjat. Sekejap Siau In menyangka Tong Tai-su mengejarnya, karena ketika dia membungkuk tadi, ia seperti melihat sebuah bayangan menyelinap cepat ke semak-semak di belakangnya. Namun ketika ia membalikkan badan dan melihat jalan lengang di belakangnya, Siau In tak melihat siapa-pun di sana. Untuk lebih meyakinkan dugaannya Siau In berbalik dan meneliti semak-semak itu. Tapi semak itu kosong.

“Ah, tampaknya aku hanya terbayang-bayang saja wajah Tong Tai-su yang menyeramkan itu….” akhirnya Siau In membesarkan hatinya sendiri.

Gadis yang memang memiliki watak lincah dan gembira itu sebentar saja telah melupakan rasa kaget dan kecurigaannya. Siau In telah bernyanyi-nyanyi kecil kembali. Bahkan di tempat yang dirasa sangat sepi dan lengang, ia menyelinap ke semak-semak di tepi jalan. Di tempat itu mengalir sebuah selokan kecil yang sangat jernih airnya. Sambil buang air kecil Siau In mengganti celananya yang sobek. Celana itu tidak dibuang tetapi dimasukkannya ke dalam bungkusannya.

Tiba-tiba…!

“Iiiiiiiiih…! ” Siau In menjerit sekeras-kerasnya.

Seketika wajah Siau In menjadi pucat, matanya berkedip-kedip mau menangis, sementara bungkusan pakaiannya ia lepaskan begitu saja! Gadis itu memandang kaget ke tengah-tengah semak itu! Di tempat yang agak longgar itu tampak seorang pemuda sedang tiduran di atas rumput, dan hanya dua tombak jauhnya dari tempat Siau In berdiri!

“Kkkkau? Si-si-siapakah kau? Mengapa kau di sini? Kau… mengintip-intip aku, ya? K-k-kau tadi… melihat… melihat… ya? Ooooh!” dengan suara sember dan serak, seperti mau menangis, Siau In menuding pemuda nakal itu.

Lalu seperti induk ayam yang diganggu anaknya, Siau In mengamuk sejadi-jadinya. Gadis itu menerjang, memukul, menendang dengan membabi-buta ke arah pemuda nakal itu untuk melampiaskan rasa dongkolnya. Siau In lupa bahwa pukulannya itu bisa membunuh orang.

Untunglah pemuda itu bukan pemuda petani tambak atau nelayan yang tak mampu apa-apa.

Pemuda itu ternyata seorang jago silat tinggi yang bisa mengelak serta menghindarkan diri dari amukan “induk ayam” yang baru kesal dan marah itu.

“Hei! Hei! Berhenti! Apa-apaan ini? Mengapa kau menyerang aku? Apa salahku?” sambil melesat ke sana ke mari pemuda itu berteriak-teriak.

Setelah beberapa saat tak dapat mengenai tubuh lawannya, Siau In tiba-tiba malah menjadi sadar akan perbuatannya. Ia segera menghentikan amukannya.

Terlongong-longong ia memandang lawannya. Air mukanya tampak menyesal karena dia hampir saja membunuh orang. Tapi ketika dilihatnya orang itu masih segar bugar seperti tidak pernah terjadi apa-apa, kemarahan Siau In pun cepat meluap kembali.

“Kurang ajar! Ternyata kau pandai bersilat, ya? Jadi kau memang sengaja mau mengganggu dan mencoba aku, ya? Kau sengaja mengintip dan… eh, katakan terus terang! Kau… hei, bukankah kau yang mengacau di atas panggung perlombaan tadi?” Siau In berkicau seperti burung sedang birahi.

Pemuda yang tak lain memang Chin Tong Sia itu hanya bisa menggaruk-garuk kepalanya. Ia sama sekali tak mempunyai kesempatan untuk menjawab atau membela diri. Demikian mulutnya terbuka hendak bersuara, Siau In sudah menggencetnya dengan berondongan suaranya. Demikian berulang kali sehingga akhirnya Chin Tong Sia menjadi kesal pula dibuatnya. Dan merasa kesal, gendengnya pun segera kumat.

Dengan sikap acuh tak acuh pemuda itu membalikkan tubuhnya. Sambil melangkah pergi, mulutnya masih sempat membalas semprotan Siau In. Suaranya tenang, seenaknya, malahan agak sedikit menggoda.

“Tentu saja aku melihatnya! Habis, begitu dekatnya, sih! Masa aku buta?”

Dapat dibayangkan rasa marah, malu, penasaran, dongkol, di hati Siau In, sehingga gadis itu rasanya ingin menangis menggerung-gerung di tanah.

“Bagus! Kalau begitu kau harus mati!” Siau In berteriak marah, lalu menerjang Chin Tong Sia.

Dengan tangkas Chin Tong Sia mengelak, lalu melangkah ke samping dan berusaha meneruskan jalannya. Tapi mana mau Siau In melepaskannya?

Dengan mengerahkan seluruh kepandaiannya gadis itu mencoba meringkus pemuda yang telah membuat dirinya menderita malu bukan main itu.

Belasan jurus telah terlewati. Ternyata dengan tangan kosong Siau In tak mampu menjatuhkan lawannya, padahal pemuda itu sama sekali tak pernah membalas. Saking marah dan jengkelnya Siau In menghunus sepasang pedang pendeknya. Dengan dua buah senjata andalannya itu Siau In mencoba mencabik-cabik tubuh Chin Tong Sia!

Namun kali ini Siau In benar-benar ketemu batunya. Pedang pendeknya yang baru saja menaklukkan seorang ketua partai persilatan yang cukup tenar seperti It Kwan itu, kini ternyata menjadi melempem, dan sama sekali tak bisa berbuat banyak terhadap pemuda tak ternama seperti lawannya itu.

Jangankan dapat menyentuh tubuhnya, sedang bayangannya pun Siau In tak mampu menggapainya.

Bahkan bila mau, tampaknya dengan mudah pemuda itu bisa meloloskan diri dari libatan pedang Siau In dan pergi dari tempat itu.

Namun kelihatannya Chin Tong Sia memang tak hendak meninggalkan tempat tersebut. Sebaliknya dari berlari, Chin Tong Sia malah melenggang bolak-balik dan berputar-putar di tempat itu sambil mengelakkan serangan pedang Siau In. Sambil melenggang dan menghindar, pemuda yang sudah angot gendengnya itu berpantun!

Di sana gunung, di sini gunung!

Di lembah ada sungainya…!

Di sana melembung, di sini… ya melembung!

Oooiiiiii…?

Di tengah-tengah ada… jurangnya!

Ketika menyebut kata-kata gunung, Chin Tong Sia menggerakkan tangannya ke atas dan ke bawah, seperti hendak memperagakan dua buah benda yang menonjol atau melembung. Dan ketika menyebut kata-kata melembung serta kalimat pada bait yang paling akhir, pemuda itu melakukannya dengan tertawa cekikikan.

Kulit muka Siau In menjadi merah padam bagai udang direbus. Malunya bukan main. Gadis yang cerdik dan sudah biasa mengolok-olok orang itu dengan cepat bisa menangkap atau menduga arah pantun yang dinyanyikan pemuda itu. Yang dimaksudkan dengan gunung yang melembung itu tak lain tentulah pantatnya yang menonjol besar.

Sementara kata-kata lembah atau jurang itu tentu juga dimaksudkan untuk menghina atau mengejek dirinya.

Rasanya Siau In tak ingin hidup lagi kalau tak membunuh pemuda kurang ajar tersebut. Tapi sebelum ia benar-benar menumpahkan seluruh kelihaiannya, mendadak dari arah depan terdengar suara ketawa yang lain lagi.

“Ah, salaaaaaah! Salah…! Sute, pantunmu itu kurang benar! Harusnya begini…!”

Di sana bokong, di sini bokong…!

“Wah… terpeleset! Keliru… keliru…! Oh, ya begini…!”

Di sana gunung, di sini gunung! Di lembah ada sungainya…!

Di sana melembung, di sini melembung hi-hi-hi-hi..!

Di tengah-tengah ada… ada… ada sungainya!

“Hahaha! Nah, itu baru benar! Di tengah-tengah ada sungainya! Bukankah di sana ada mata air yang mengalir? Haha-hoho-ha-ho…!”

“Suheng…!” tiba-tiba Chin Tong Sia membentak keras sekali. “Di mana kau sekarang? Apakah kau tadi juga melihat …? Awas, sekali ini kau tidak boleh ikut campur!”

“Aku berada di depan. Wah… aku tidak melihat apa-apa tadi. Habis, aku sendiri sedang berak, sih! Kau juga nakal, tak mau membagi-bagi kebahagiaan bila dapat mangsa. Seharusnya tadi kau memberi tahu, dong! Meski masih berak, aku juga akan berlari ke situ, hehehe…!”

Siau In cepat mengeluarkan pisau-pisaunya. Karena kemarahannya sudah tidak bisa dibendung lagi, maka pisau-pisau itu pun segera beterbangan mencari mangsa. Kali ini Chin Tong Sia benar-benar harus mengeluarkan seluruh kepandaiannya. Tubuhnya yang kurus itu berkelebatan melebihi kecepatan pisau.

Meliuk, meluncur, menukik, melenting, dan melayang ke segala penjuru, laksana lebah yang mengitari bunga. Gerakannya indah dan cepat bukan main.

Belasan pisau yang dipunyai Siau In telah habis terpakai, namun tak sebuah pun yang dapat mengenai sasarannya. Pemuda lawannya itu terlalu gesit dan lincah. Siau In menjadi kesal dan putus asa. Saking kesalnya gadis itu segera membuang pedangnya.

Sambil menjatuhkan diri di atas rumput Siau In menangis sejadi-jadinya!

Tentu saja Chin Tong Sia menjadi kaget sekali

“Lho… bagaimana ini? Kenapa tiba-tiba jadi menangis…?”

Chin Tong Sia menggaruk-garuk rambutnya yang tidak gatal. Pemuda itu tidak tahu apa yang harus dikerjakannya. Membujuk salah, tidak membujuk hatinya tidak tega.

Siau In memang ingin menumpahkan seluruh kekesalannya, seluruh kemarahannya, dan juga seluruh kekecewaannya, sehingga beberapa waktu lamanya ia masih menangis sesenggukan. Sebaliknya Chin Tong Sia yang menunggu di dekatnya, melihat Siau In tak kunjung menghentikan tangisnya, menjadi salah tingkah. Mendadak timbul rasa sesalnya, karena telah membuat kesal hati gadis cantik itu. Dengan agak takut-takut, takut mendapat semprotan lagi, Chin Tong Sia berlutut di samping Siau In. Dengan kata-kata halus dan ucapan sesal, pemuda itu mencoba menghentikan tangis Siau In. Tak terasa tangan pemuda itu terulur ke depan untuk memegang pundak Siau In. Pada saat itulah tiba-tiba Siau In membalik!

Plaaak! Plaaaak!

Dua kali tamparan yang keras mendarat di pipi Chin Tong Sia! Begitu cepat dan keras sehingga pemuda itu tidak kuasa lagi untuk menghindarinya.

Jaraknya demikian dekat, dan Chin Tong Sia sendiri memang lengah. Akibatnya pipi pemuda itu menjadi bengkak dan merah, bahkan dari sela-sela bibirnya mengalir darah segar.

Tapi sungguh mengherankan! Sama sekali pemuda itu tidak marah atau sakit hati. Pemuda itu hanya mengusap-usap saja pipinya yang bengkak. Hanya matanya saja yang berkedip-kedip seperti lampu kehabisan minyak, memandang dengan wajah menyesal kepada Siau In.

“Heh? Kenapa kau diam saja ditampar gadis ini?”

Entah dari mana datangnya, mendadak di dekat Chin Tong Sia telah berdiri Put-pai-siu Hong-jin! Si Gila itu seperti hantu yang muncul begitu saja di tempat itu, sehingga Siau In yang baru saja menampar Chin Tong Sia itu sampai terlonjak saking kagetnya!

Apalagi ketika gadis itu melihat wajahnya yang menyeramkan!

“Suheng! Sekali lagi kau jangan turut campur! Aku… tiba-tiba aku merasa menyesal telah mempermainkan gadis ini. Aku memang anak bengal.Aku tak pernah mempunyai Ayah dan Ibu. Yang ada hanya Suhu dan para Suheng yang terlalu amat memanjakan aku. Aku tak pernah diajari untuk menghormati wanita. Aku tak pernah ditampar kalau berbuat nakal. Oooh, kalau aku punya Ibu, aku tentu sering dipukul dan ditampar seperti ini kalau nakal….” seperti orang melamun Chin Tong Sia bergumam dengan suara lemah.

“Nah, kau sudah mulai cengeng lagi! Huh, bosan aku…! Sudahlah, aku akan pergi dulu! Silakan kau menangis bersama gadis ini sepuasnya, asal jangan lupa datang di rumah nelayan itu tengah malam nanti!”

Selesai menggerundel Put-pai-siu Hong jin melesat pergi dari tempat itu. Datangnya sangat tiba-tiba, begitu perginya. Tubuhnya yang kurus dan agak bungkuk itu seperti berubah menjadi asap yang tertiup angin semakin jauh. Cepat bukan main! Siau In sampai terbelalak saking herannya.

“Nona, maafkanlah aku. Aku benar-benar menyesal mempermainkan engkau. Kuharap kau tidak menjadi sakit hati terhadapku….” sambil tetap mengelus-elus pipinya yang bengkak Chin Tong Sia meminta maaf kepada Siau In.

Siau In sudah tidak sesenggukan lagi. Masih dengan kaki bersimpuh di atas rumput gadis itu menatap dengan rasa benci kepada Chin Tong Sia.

Rona merah masih menjalar di pipi gadis itu kalau mengingat keadaannya ketika diintip oleh pemuda itu.

Tapi pemuda itu kini juga ikut bersimpuh di depannya. Bahkan pemuda itu tampak sangat menyesali perbuatannya. Terbukti ditampar sampai bengkak dan berdarah pun ia tak membalas. Akhirnya susut juga kemarahan Siau In.

“Baiklah, aku memaafkan kau. Tapi… coba kau berkata terus terang! Apakah kau tadi benar-benar melihat… eh… melihat seluruhnya?” dengan wajah kembali memerah Siau In mencoba meyakinkan sekali lagi akan kekhawatirannya.

Chin Tong Sia menatap dengan agak takut-takut.

Sikapnya itu benar-benar aneh dan bertolak belakang dengan kehebatannya dalam ilmu silat! Perlahan-lahan kepala Chin Tong Sia mengangguk.

Plaaaak!

Kemarahan Siau In tiba-tiba meledak kembali dan tangannya melayang ke pipi Chin Tong Sia tanpa bisa dicegah lagi. Akibatnya untuk kedua kalinya darah mengalir keluar dari mulut pemuda itu.

“Wah, payah…! Sute, apa sebenarnya yang telah terjadi padamu? Kenapa kau tetap diam saja seperti patung? Lama-lama kau bisa ompong… ditampar terus-menerus oleh perempuan galak itu!” terdengar suara Put-pai-siu Hong-jin dari kejauhan.

Siau In tercengang. Orangnya sudah tidak tampak, tapi kenapa seperti masih bisa menyaksikan keadaan di tempat itu? Berdiri juga bulu roma Siau In melihat kesaktian orang itu. Apa jadinya kalau manusia menyeramkan itu tadi menjadi marah dan membela sutenya? Baru Si pemuda ini saja sudah bukan main lihainya, apalagi orang itu.

Perlahan-lahan Siau In menurunkan tangannya yang telah siap sedia hendak menampar lagi. Matanya yang galak itu tiba-tiba meredup tatkala menyaksikan aliran darah yang masih menetes-netes di sudut bibir Chin Tong Sia. Sejenak heran juga hati Siau In melihat pemuda itu diam saja tak membalas ketika ia tampar tadi. Apakah pemuda itu takut padanya? Jelas tidak. Pemuda itu memiliki kesaktian yang jauh lebih tinggi dan pada silatnya. Apakah pemuda itu benar-benar menyesali perbuatannya?

Siau In menghela napas panjang. Matanya tertunduk pula.

“Menurut aturan aku harus membunuhmu untuk menghilangkan rasa maluku. Tapi… sudahlah. Aku tak tega melihat kau telah menyesali perbuatanmu. Hanya kuminta untuk selanjutnya kau jangan sampai bertemu dengan aku. Kalau sampai berjumpa sekali lagi, aku akan membunuhmu. Kalau tak bisa membunuhmu, aku sendiri yang akan bunuh diri. Aku tak ingin melihat orang yang telah melihat tubuhku, kecuali….” Siau In tak meneruskan ucapannya, kemudian berdiri dan meninggalkan tempat itu.

“Kecuali… apa, Nona?” Chin Tong Sia cepat berdiri dan bertanya.

Tapi Siau In tak mau berbicara lagi. Kakinya melangkah cepat menuju ke pantai. Chin Tong Sia sendiri sebenarnya juga akan ke perkampungan nelayan pula. Tapi ia tak berani membarengi gadis itu.

Ia takut gadis itu akan membuktikan ancamannya.

Barulah ketika gadis itu tidak kelihatan lagi, Chin Tong Sia melangkah pula menuju ke pantai. Inilah pengalamannya yang pertama dengan seorang gadis selama hidupnya yang telah menginjak dua puluh enam tahun itu.

“Oh… tololnya aku! Sampai lupa aku menanyakan namanya! Hmmm…!” pemuda itu menyesali dirinya.

Tiba-tiba Chin Tong Sia ingat pada bungkusan Siau In yang masih ketinggalan di dekat selokan itu.

Bergegas pemuda itu kembali dan mengambilnya.

Namun ketika ia hendak berlari untuk memberikan benda tersebut ke pemiliknya, hatinya kembali ragu-ragu.

“Ah, peristiwa ini masih mengeruhkan pikirannya.

Dia bisa benar-benar berbuat nekad kalau aku tetap mendesaknya. Hmh, biarlah lain kali saja kalau takdir masih mempertemukan aku dengan dia, barang ini akan kuserahkan kepadanya.” Sambil menarik napas panjang Chin Tong Sia mengikatkan bungkusan itu ke pundaknya. Entah apa isinya ia tak tahu.

Demikianlah, peristiwa yang tidak mengenakkan hati itu masih saja mengganggu dan berkecamuk hebat di dalam pikiran Siau In. Oleh sebab itu pula walaupun malam telah merangkak semakin larut, gadis cantik itu masih saja bermenung sendirian di tepi pantai. Dibiarkannya angin malam yang nakal itu membelai dan mengacaukan rambutnya. Bahkan dibiarkannya pula air laut yang mulai pasang itu membasahi kain celananya.

Berjam-jam lamanya gadis itu duduk diam bagai patung batu. Diam tak bergerak. Matanya menerawang jauh ke tengah laut seolah-olah ingin menjenguk cakrawala, di mana langit dan permukaan laut saling bertaut menjadi satu. Hanya tarikan napasnya yang panjang dan berat saja yang menandakan gadis itu masih hidup.
Terdengar suara lonceng dari kampung Ui-thian-cung, pertanda hari sudah lewat tengah malam. Air laut benar-benar telah mulai pasang, sehingga pasir di mana Siau In duduk juga mulai dibanjiri air.

Siau In terpaksa beranjak pergi meninggalkan tempat itu. Dengan lesu gadis itu melangkah satu-satu ke tempat yang lebih tinggi. Kadang-kadang ia harus melompati batu-batu karang yang berserakan di depannya. Dan akhirnya gadis itu memutuskan untuk duduk kembali di sebuah batu karang yang menjulang paling tinggi.

Namun ketika Siau In mulai meletakkan pantatnya di puncak batu karang itu, tiba-tiba matanya terbelalak memandang ke tengah laut. Di antara gulungan ombak yang bergulung-gulung datang, gadis itu melihat sebuah perahu datang mendekati pantai di mana ia berada. Yang membuatnya heran adalah perahu itu sama sekali tidak memasang lampu seperti halnya perahu-perahu nelayan yang lain.

Siau In meloncat turun dan bersembunyi di balik batu karang. Nalurinya mengatakan bahwa perahu yang datang itu bukanlah perahu nelayan biasa. Ada sesuatu yang aneh dan mencurigakan. Selain tidak memasang lampu, perahu itu juga tidak berlabuh di perkampungan nelayan, tapi tempat terasing seperti ini.

Perahu itu ternyata cukup besar pula, mungkin – ada empat atau lima tombak panjangnya. Di tengah-tengahnya dibangun sebuah ruangan lengkap dengan atapnya. Dan begitu menyentuh pasir, enam orang penumpangnya segera berloncatan turun untuk menyeret perahu itu ke tepian.

Siau In menjadi berdebar-debar hatinya. Melihat gerakan orang-orang itu dapat dipastikan bahwa mereka memiliki kepandaian silat yang tinggi. Tubuh mereka yang hanya mengenakan baju tanpa lengan itu, tampak kokoh kekar dan perkasa.

“Tutup perahu ini dengan daun ilalang yang tumbuh di tepian itu!” tiba-tiba terdengar suara berwibawa dari dalam perahu.

Siau In terkejut bukan main. Ternyata masih ada lagi orang di dalam perahu itu. Untunglah gadis itu tidak gegabah dalam pengintaiannya.

Sekejap saja keenam orang itu telah membabati daun ilalang dan menutupkan nya pada perahu besar itu. Mereka bekerja dengan cepat tanpa suara, seperti kawanan hantu yang bekerja di malam hari. Mereka seperti tidak memperdulikan orang yang masih berada di dalam perahu.

Selesai menimbun perahu dengan daun ilalang, orang-orang itu lalu berdiri tegak menunggu perintah.

Tak seorang pun membuka mulutnya. Mereka tegak kaku bagaikan patung batu.

Siau In mencoba melihat wajah-wajah mereka.Namun karena jaraknya terlalu jauh, maka hanya warna pakaian dan bentuk perawakan mereka saja yang bisa dilihatnya. Kegelapan membuat wajah mereka tampak hitam dan samar-samar. Keenam orang itu mengenakan pakaian yang berbeda-beda warnanya. Kuning, hijau, biru, merah, putih dan hitam. Masing-masing membawa pedang di atas punggungnya.

“Carilah tempat berlindung! Kita tunggu kedatangan mereka!” tiba-tiba terdengar suara di atas batu karang di mana Siau In bersembunyi.

Hampir saja Siau In menjerit. Tanpa dia ketahui bagaimana atau kapan keluarnya, orang yang berada di dalam perahu tadi telah berdiri tegak di atasnya, di atas batu karang besar itu. Demikian dekatnya, 175

sehingga rasa-rasanya dia bisa menjangkau ujung sepatu orang itu. Untunglah cuaca cukup gelap dan suara debur ombak juga cukup berisik pula sehingga benar-benar membantunya dari perhatian orang itu.

Coba kalau tidak, arang itu tentu akan segera mengetahui persembunyiannya.

Angin laut berhembus dengan tajamnya, tapi peluh dingin justru mengucur dengan derasnya di leher dan punggung Siau In. Hampir-hampir gadis itu tidak berani bernapas, takut suaranya akan terdengar.

“Ada orang datang…!” orang itu bersuara lagi.

“Bersembunyilah…!”

Dan untuk yang kedua kalinya Siau In tersentak kaget. Suara itu telah berada di dalam timbunan daun ilalang kembali, tanpa sedikit pun ia ketahui kapan berpindahnya. Padahal perahu yang ditimbun ilalang itu ada tiga atau empat tombak jauhnya dari batu karang tempat ia bersembunyi.

Sekarang bukan hanya ketegangan atau ketakutan yang melanda hati Siau In, tapi juga rasa ngeri menyaksikan kehebatan orang itu. Sekejap timbul juga perasaan bimbang di hatinya. Benarkah orang itu atau mereka itu manusia-manusia biasa seperti dirinya? Ataukah mereka itu hantu-hantu penjaga pantaj yang sedang menakut-nakuti dirinya?

“Aku sama sekali tak melihat gerakannya. Orang yang berdiri di atas batu karang ini tadi seperti menghilang begitu saja. Rasa-rasanya memang cuma hantu atau roh yang bisa berbuat demikian.” gumam Siau In di dalam hatinya.

Kemudian gadis itu menyurukkan tubuhnya semakin dalam ke celah-celah batu karang. Kalau memang benar makhluk-makhluk itu bukan manusia seperti dirinya, Siau In ingin tahu apa yang hendak mereka perbuat di tempat itu.

“Hemmm, kenapa hanya seorang yang datang…?” tiba-tiba orang yang bersembunyi di dalam perahu tadi berdesah agak keras.

Siau In menjulurkan kepalanya di antara celah sempit di dekatnya. Dengan amat hati-hati gadis itu mengintip ke luar.

Benar juga. Tidak lama kemudian dari arah kampung Ui-thian-cung terlihat sesosok bayangan hitam berloncatan di antara batu karang yang berserakan di tepian pantai tersebut. Dengan cepat bayangan hitam itu terbang mendekati. Gerakan kakinya sangat ringan dan lincah, menandakan orang itu memiliki ginkang yang tinggi pula.

Sekejap saja bayangan itu telah berada di dekat perahu. Dan sungguh kebetulan juga, bayangan itu berdiri tak jauh dari tempat Siau In bersembunyi, sehingga gadis itu bisa melihat wajah orang itu dengan jelas.

Orang itu mengenakan jubah hitam yang amat longgar, hingga tubuhnya yang tegap dan tinggi itu semakin tampak seperti raksasa. Rambutnya yang panjang dan telah berwarna dua itu dibiarkan tergerai di pundaknya. Demikian juga dengan kumis dan jenggotnya yang lebat itu dibiarkannya tumbuh bebas menutupi sebagian besar wajahnya pula. Sesaat hampir saja Siau In menyangkanya sebagai Tong Taisu.

— o0d-w0o —

  Jilid 3