Senin, 23 April 2018

PENDEKAR PEDANG PELANGI 8


Jilid 8


WHUH!" gadis cantik bermata dingin itu merasa tak senang pula melihat kedatangan Tio Ciu In yang mampu me¬nyaingi kecantikannya.
Di depan meja Kwe Tek Hun, Tio Ciu In menegur Liu Wan yang ternyata juga ikut terbengong-bengong pula menyaksi¬kan kecantikan gadis itu.
"Twako, mari kita berangkat seka¬rang...!"
"Ini... ini... eh, ke mana kita. akan pergi?" Liu Wan menjawab gugup, se¬hingga Ciu In menjadi geli melihatnya.
"Hei bukankah kita akan mencari Siau In? Mengapa kau sudah lupa lagi?" dengan gemas Tio Ciu In menggerutu.
"El oh... ya benar. Mari... mari...!"
Bagaikan orang bingung Liu Wan la¬lu berdiri dan hendak beranjak pergi da¬ri tempat itu. Untunglah dengan sigap Kwe Tek Hun menahan lengannya.
"Sebentar, Saudara Liu...! Kau hendak pergi ke mana? Bagaimana dengan ren¬cana kita untuk menemui Jeng-bin Lo¬kai,?" pemuda itu mengingatkan.
"Hah?" Liu Wan tersentak kaget dan tersadar dari linglungnya.
Kemudian dengan tergesa-gesa pemu¬da itu mempersilakan Tio Ciu In duduk di kursi dan memperkenalkannya kepada Kwe Tek Hun bersaudara. Tak lupa de¬ngan wajah kemerah-merahan Liu Wan meminta maaf atas kekilafannya. Lalu pemuda itu juga bercerita kepada Tio Ciu In tentang rencana mereka untuk minta pertolongan orang-orang Tiat-tung Kai-pang, agar jejak Tio Siau In cepat ditemukan.
"Terserah kepada Twako. Pokoknya Adikku segera diketemukan." Tio Ciu In menyahut perlahan.
"Nah, kalau begitu kita berangkat sa¬ja sekarang!" Kwe Tek Hun menggeram dengan suara bersemangat.
"Aih... nanti dulu! Bagaimana dengan makan pagi kita? Bukankah perut kita belum terisi?" Namun dengan cepat Song Li Cu menahan keinginan kakak seperguruannya itu.
"Ah, kau benar Nona Song. Kita tak perlu tergesa-gesa. Kita memang harus mengisi perut kita dulu." Sambil tertawa Liu Wan menyambut usul gadis manis itu.
Demikianlah seraya menyantap bubur ayam hangat mereka lalu melanjutkan obrolan mereka kembali. Dan Kwe Tek Hun yang merasa dirinya sebagai pihak tuan rumah lalu bercerita tentang peng-alaman pengalamannya yang mengesankan selama ia berkelana di dunia persilatan. Pengalaman Kwe Tek Hun memang sangat banyak, pengetahuannya juga luas karena sejak kecil sampai menginjak remaja se¬ring diajak oleh gurunya yang juga orang tuanya sendiri, mengembara ke seluruh pelosok negeri.
Semuanya asyik mendengarkan. Sam¬bil makan perhatian mereka hampir tak pernah lepas dari bibir Kwe Tek Hun. Bahkan Liu Wan yang sudah bertahun-tahun bertualang di dunia kang-ouw pun
masih tetap merasa kagum pula mende¬ngar kisah-kisah yang diutarakan oleh Kwe Tek Hun. Apalagi Tio Ciu In yang masih hijau itu, kisah cerita yang baru pertama kali didengarnya itu benar-benar amat menarik hatinya. Namun yang sungguh amat menyolok adalah perhatian yang dibenarkan oleh Song Li Cu. De¬ngan pandang mata mesra, kagum serta bangga, gadis itu selalu mengawasi wa¬jah kakak seperguruannya yang gagah tampan itu. Gadis cantik itu hanya mau melepaskan pandangannya apabila sedang melayani tambahan makanan atau mi¬numan Kwe Tek Hun.
Walaupun sedang asyik makan dan mendengarkan cerita Kwe Tek Hun, te¬tapi Liu Wan sempat juga melihat keme¬sraan yang diberikan oleh gadis itu. Se¬saat Liu Wan merasa terharu juga. Na¬mun apabila kemudian dilihatnya wajah Ku Jing San yang sayu, hatinya ikut me¬rasa sedih pula.
"Secara diam-diam tampaknya Ku Jing San telah mencintai Song Li Cu, akan tetapi gadis itu sendiri kelihatan¬nya lebih mengagumi Twa-suhengnya. Sementara Kwe Tek Hun sendiri tak bisa diduga hatinya, apakah ia membalas cin¬ta Song Li Cu atau tidak...."
Tak terasa Liu Wan berdesah panjang. Pikirannya lantas terhunjam pada keada¬annya sendiri. Dalam usianya yang sudah dua puluh lima tahun ini ia telah banyak mengenal dan berhubungan dengan wanita, namun tak seorang pun di antaranya yang mampu menarik dan menggugah perasaan cintanya. Bahkan sudah ber¬ulang kali ia mencoba menyelusuri ke-J"^aft diri pribadmya_sei]diri, untuk me-ngetahui mengapa ia merasa sulit men¬cintai wanita. Tapi sampai sekarang ia belum pernah mendapatkan jawabannya. Padahal ia tak memiliki impian yang muluk-muluk. Sama sekali ia tak berci-ta-cita untuk kawin dengan seorang pu¬tri raja yang cantik bagai bidadari.
Diam-diam Liu Wan melirik Tio Ciu In yang duduk di sampingnya. Gadis yang lembut dan ayu itu benar-benar lain da¬ripada yang lain. Gadis itu mampu meng goncangkan batinnya, meruntuhkan- din¬ ding hatinya, sehingga beberapa kali membuatnya gugup, linglung dan salah tingkah. Namun demikian dia juga belum tahu, apakah dirinya telah jatuh cinta atau tidak, karena menurut pengalaman, perasaannya yang panas membara dan menggebu-gebu itu akan segera padam apabila wanita itu mulai bertingkah ingin menguasai dirinya.
"Liu Twako...?" tiba-tiba terdengar suara Tio Ciu In memanggilnya.
"Ha? Yaa... apa?"
Bagaikan disengat lebah Liu Wan ter¬sentak kaget, bahkan hampir terjengkang dari kursinya. Sesaat kemudian pemuda itu menjadi gugup. Tapi hanya sesaat sa¬ja, karena dengan cepat pemuda itu bisa menguasai dirinya kembali.
"He, Twako... kau melamun, ya?" Tio Ciu In menegur sambil tertawa.
"Tidak. Aku sedang asyik mendengar¬kan cerita Saudara Kwe...." Liu Wan mencoba membela diri.
Tak terduga Tio Ciu In dan yang lain justru tertawa semakin keras. "Nah ... nah... kebohonganmu justru ketahuan malah. Apa yang hendak kau dengarkan lagi kalau cerita itu sudah selesai sejak tadi?" Dengan suara riang Tio Ciu In se¬makin menggoda.
"Benarkah...? Wah, ini... ini...." Liu Wan tersenyum malu.
"Sudahlah, tampaknya Saudara Liu Wan menyukai ceritaku sehingga tertidur." Kwe Tek Hun bergurau. "Oleh karena itu sebaiknya kita segera berangkat sa¬ja."
Semuanya tertawa. Liu Wan terpaksa ikut tertawa pula, meskipun tertawa ke¬cut. Namun suara tertawa mereka terpak sa terhenti ketika mendadak gadis ayu yang baru saja datang tadi menggebrak mejanya.
"Brengsek! Pelayan...!" gadis ayu itu berteriak memanggil pelayan.
"Ya. Sio-cia...? Apakah Sio-cia meng¬hendaki sesuatu? Apakah... apakah...? Anu ... eh, hidangan yang Sio-cia pesan be-be-belum selesai!" Tergopoh-gopoh pela¬yan yang melayani gadis itu tadi datang dan bertanya gugup.
"Persetan! Aku tidak menanyakan ma sakanmu! Aku hanya tidak menyukai sua- ^ ra berisik di ruangan ini! Hmmmh! Apa¬kah kau tidak mempunyai tempat yang lain, yang terpisah dari tempat ini, agar aku bisa tenang menikmati hidanganmu?" Gadis itu membentak sambil bertolak pinggang. Suaranya nyaring dan beberapa kali matanya yang bulat indah itu meli¬rik ke arah meja Kwe Tek Hun.
Pipi Song Li Cu menjadi merah kare¬na jelas yang dimaksudkan oleh gadis itu adalah rombongannya. Namun sebelum Song Li Cu bertindak lebih jauh, Kwe Tek Hun telah lebih dahulu menahannya. Dengan sabar dan tenang pemuda gagah itu menjura ke arah tetangganya yang sedang marah tersebut.
"Maafkanlah kami. Nona. Kami sampai lupa bahwa kami bukan berada di tempat kami sendiri. Biarlah kami pergi. Nona tak perlu mencari tempat yang lain lagi."
Kwe Tek Hun lalu mengajak Liu Wan, 10 Ciu In, dan adik-adik seperguruannya meninggalkan tempat itu. Liu Wan, seba¬gai pemuda matang yang telah kenyang
pengalaman, dapat menerima dan mema¬hami sikap Kwe Tek Hun yang sabar dan mau mengalah itu. Tapi bagi Tio Ciu 1 Ku Jin San dan Song Li Cu, sikap Kwe Tek Hun yang terlalu mengalah itu be¬nar-benar tidak bisa mereka terima. Bu¬kankah tempat itu tempat umum? Bukan rumah pribadi? Se arusn alah setiap orang yang berada di tempat itu menya¬dari bahwa ia tidak berada di rumahn a sendiri.
Tetapi karena Kwe Tek Hun sebagai wakil dari rombongan itu telah menguta¬rakan sikapnya, maka meskipun menahan berang Ku Jing San, Song Li Cu dan Tio Ciu In terpaksa menahan dirinya. Dengan perasaan kesal dan penasaran mereka mengikuti saja langkah Kwe. Tek Hun dan Liu Wan, keluar dari ruangan tersebut. Namun demikian tetap saja Ku Jing San dan Song Li Cu yang agak berangasan itu tak bisa menyembunyikan kedongkol¬an hatinya ketika lewat di dekat meja gadis itu. Kedua saudara seperguruan itu menatap dengan mata melotot seakan-akan hendak menelan tubuh gadis itu.
Tak terduga gadis yang rewel dan ce¬rewet itu ternyata pemarah puia. Sikap yang ditunjukkan Ku Jing San dan SongLl Cu itu ternyata telah menyulut api ke¬marahannya juga. Persis pada saat Ku Jing San dan Song Li Cu berjalan di dekat mejanya, gadis ayu itu dengan se¬ngaja menumpahkan minumannya. Tentu saja air teh itu muncrat mengenai pa¬kaian Ku Jing San dan Song Li Cu.
Song Li Cu tak bisa mengekang ke¬marahannya lag, dengan cepat tangan¬nya meraup tumpahan air teh yang ada di atas meja untuk disiramkan kembali ke wajah gadis ayu itu. Namun sebelum tangannya mampu meraih ke atas meja, ujung sepatu gadis ayu itu ternyata te¬lah lebih dulu menghantam lututnya. Duukk! Seketika itu juga Song Li Cu kehilangan keseimbangan tubuhnya. Ba¬dannya terjungkal ke depan menghantam meja!
Ku Jing San yang sedikit terlambat menyadari keadaan sumoinya, cepat ber¬tindak Tangannya menyambar tubuh gadis yang terpental itu!
Braaaaaak! Tubuh Song Li Cu meng¬hajar meja sehingga tumpahan air teh tadi justru membasahi pakaiannya lagi. Untunglah sebelum tubuh Song Li Cu itu terjerembab ke lantai dan mencium kaki gadis ayu tersebut, lengan Ku Jing San yang kokoh itu telah berhasil menyam¬barnya, sehingga Song Li Cu terhindar dari penghinaan yang lebih besar lagi.
Ku Jing San benar-benar tak mampu mengendalikan dirinya lagi. Apalagi keti¬ka tubuh Song Li Cu yang ada di dalam pelukannya itu ternyata telah tettotok lemas tak bisa bergerak. Kemarahannya benar-benar meledak.
Dengan cepat pemuda itu meletak¬kan tubuh Song Li Cu di atas kursi yang terdekat, lalu tanpa bicara apa-apa lagi kaki kanannya terayun deras ke depan, mengarah ke kaki meja, dengan maksud untuk melontarkannya ke tubuh lawan. De¬ngan kekuatan dan ketangkasan kakinya Ku Jing San yakin ia dapat membalas peng¬hinaan yang menimpa sumoinya. Gadis ayu itu tentu akan jatuh tunggang lang-gang tertimpa meja. Tapi sedetik kemu¬dian mata Ku Jing San terbelalak! Hampir tak dipercayainya gadis ayu yang ke¬lihatan amat lemah itu ternyata mampu bergerak lebih cepat! Jauh lebih cepat J dari gerakannya malah!
Seperti main sulap saja gadis ayu itu membawa kursinya meluncur ke depan meja, lalu kakinya yang terbungkus sepa-tu mungil itu diangkat ke atas, menyong song kaki Ku Jing San. Maka tak dapat dihindarkan lagi kedua kaki yang berla¬wanan arah itu bertemu satu sama lain. '
Sekejap Ku Jing San agak menyesal. Pemuda itu khawatir tenaganya akan terlalu besar sehingga kaki lawannya yang cantik itu dapat menjadi patah ka- f renanya. Mati-matian Ki Jing San men¬coba mengurangi tenaganya!
Tapi untuk yang kedua kalinya Ku Jing San telah terkecoh oleh lawannya. Kebaikan hatinya itu ternyata justru telah mencelakakan dirinya sendiri. Ke- -tika kedua kaki yang berlawanan arah itu saling berbenturan satu sama lain.
bukannya kaki mungil itu yang patah, tetapi justru sebaliknya kaki Ku Jing San yang kokoh kuat itulah yang berderak mau patah. Dhiieees!
"Uuugh!" Ku Jing San mengeluh pen¬dek. Tubuhnya yang besar itu terlempar ke belakang menabrak meja yang lain.
Namun demikian dengan tangkas pemu¬da itu bangkit kembali. Hanya saja keti¬ka akan melangkah, tiba-tiba saja kaki-n a terasa sakit bukan main. Terpaksa dengan hanya bertumpu pada kaki kirinya pemuda itu meloncat ke depan lawannya kembali. Tangan kirinya meluncur dengan kekuatan penuh ke arah muka gadis ayu itu. Dan kali ini pemuda itu benar-benar tidak mau sembrono lagi. Pukulannya itu benar-benar dilandasi dengan seluruh te¬naga dalamnya yang dahsyat.
Akan tetapi untuk yang ke sekian ka¬linya Ku Jing San telah salah perhitung¬an pula. Lawannya kali ini ternyata me¬miliki watak, sifat dan kesaktian yang tidak lumrah manusia. Gadis ayu yang kelihatan lemah gemulai itu ternyata sa¬ma sekali tidak mempunyai rasa belas kasihan dan kebajikan. Bagaikan iblis wa¬nita yang haus darah gadis ayu itu juga mengayunkan tangan kanannya, dan be¬lasan am-gi (senjata rahasia) berbentuk bintang segera menebar menyongsong ke¬datangan Ku Jing San. Begitu banyaknya senjata rahasia itu tersebar dari telapak tangannya, seolah-olah gadis ayu itu hen¬dak membunuh seekor gajah hanya de¬ngan sekali timpuk.
Wajah Ku Jing San menjadi pucat pa¬si. Pemuda itu merasa ajalnya telah sam pai. Tak mungkin ia dapat menghindari semua senjata rahasia yang tertuju ke arah bagian-bagian tubuhnya yang mema¬tikan itu.
Seluruh kejadian, sejak Song Li Cu mendapat musibah sampai dengan Ku Jing San terancam jiwanya, berlangsung dalam waktu yang singkat, sehingga orang-orang yang berada di dalam ruang makan itu hampir sama sekali belum menyadari apa yang telah terjadi. Baru sesaat kemudian semuanya sadar bahwa telah terjadi keributan yang bisa meng¬ancam jiwa mereka. Otomatis semuanya bubar dan lari menghindar.
Ternyata Liu Wan dan Kwe Tek Hun yang berjalan mendahului rombongan itu juga terlambat mengetahui kejadian yang menimpa Song Li Cu dan Ku Jing San tersebut. Mereka berdua baru sadar ke¬tika keadaan Ku Jing San sudah diam-bang maut!
Demikianlah, di dalam situasi yang amat mendesak dan berbahaya bagi ke¬selamatan Ku Jing San itu, tiada lain yang bisa dilakukan oleh Kwe Tek Hun dan Liu Wan selain berusaha menolong dengan |ifi\unya yang paling tinggi. Ham¬pir berbareng keduanya bergerak!
Liu Wan berbalik sambil merendahkan badannya. Dari bawah pinggangnya pemu¬da itu menggerakkan kedua tangannya ke depan, ke arah taburan am-gi yang meluncur dari tangan gadis ayu itu. Ter¬dengar suara mendesing tajam dari tela¬pak tangannya itu ketika hembusan angin yang kuat menyambar ke arah taburan amgi.
Siiiiiiing!!!
Dan pada saat yang bersamaan Kwe Tek Hun menjejakkan kakinya ke lantai. Tubuh pemuda itu melesat seperti kilat ke depan dengan gaya dan gerakan yang sangat aneh serta mentakjubkan. Badan pemuda itu selalu berputar setengah lingkaran setiap menjejakkan kakinya ke lantai. Dan hanya dalam dua kali gerak¬an saja pemuda itu telah mampu me¬nyambar tubuh Ku Jing San. Jauh lebih cepat daripada luncuran am-gi lawannya. Pada detik itu pula • tiba-tiba terdengar suara ledakan yang keras bagaikan petir.
Duuuuuuuaaar!
Belasan senjata rahasia yang melun¬cur dari tangan gadis itu tadi tampak berhamburan ke lantai terkena pukulan udara kosong yang melesat dari tangan Liu Wan! Akan tetapi secara tak terdu¬ga salah sebuah di antaranya mendadak meledak ketika jatuh menimpa lantai! Dan ledakan itu ternyata disertai sem¬buran api kecil berwarna kehijauan! Ce¬lakanya semburan api itu persis menge¬nai tumit Ku Jing San yang terseret ke¬tika diselamatkan Kwe Tek Hun!
"Auuuugh...!" sekali lagi Ku Jing San mengeluh kesakitan karena semburan api panas itu kebetulan mengenai bagian tu¬langnya yang nyeri tadi.
Ku Jing San lolos dari maut berkat pertolongan Kwe Tek Hun dan Liu Wan. Tetapi gadis ayu itu justru tertawa me¬nyakitkan.
"Hihihi... hebat sekali! Sungguh hebat sekali! Selama keluar dari rumah baru sekarang aku melihat ilmu silat yang bermutu! Dan kalian berdua ternyata memiliki ilmu silat yang berbeda. Yang satu mempunyai Thian lui-khong (Pukulan Petir Membelah Langit) dari keluarga Yap, sedangkan yang lain me¬miliki Ban seng-po Lian-hoan (Langkah Selaksa Bintang Berantai) dari Keluarga Kwe yang tersohor! Nah, coba kalian se¬butkan... apa hubungan kalian dengan ke¬luarga-keluarga tokoh persilatan yang kusebutkan tadi?"
Kalau pada saat itu ada halilintar yang menyambar di dalam ruangan terse¬but, mungkin Liu Wan maupun Kwe Tek Hun tidak akan sekaget seperti sekarang.
Rasanya benar-benar tak masuk akal, ha¬nya dengan melihat sebuah gerakan saja dari ilmu silat mereka, gadis ayu yang masih berusia sangat muda itu mampu menebak dengan tepat asal-usul ilmu si¬lat Liu Wan maupun Kwe Tek Hun!
"Nona...? Sebutkan dulu, kau siapa ...?" dengan suara serak Liu Wan berta¬nya.
"Benar, Nona... sebutkanlah namamu dan nama perguruanmu!" Kwe Tek Hun turut menandaskan pertanyaan Liu Wan.
Gadis ayu itu tertawa geli, namun kali ini nadanya terasa dingin dan kaku. Suaranya pun terdengar congkak dan ke¬tus ketika memberi jawaban.
"Kalian mau tahu namaku? Huh, bo¬leh saja! Setiap saat kalian boleh saja mencari aku untuk membuat perhitungan! Dengar, namaku... Mo Goat! Aku datang jauh dari utara Tembok Besar, dari Gu¬run Gobi! Cukup jelas?"
"Gurun Gobi...?" Liu Wan dan Kwe Tek Hun berdesah sambil berusaha meng¬ingat-ingat tokoh-tokoh persilatan yang bertempat tinggal di Gurun Gobi, yang mungkin mempunyai hubungan dengan ga¬dis di depan mereka itu.
Tetapi sampai beberapa saat mereka berdua tetap tak mampu menemukan to¬koh yang mereka kenal. Sebaliknya de¬ngan tatapan matanya yang semakin me¬ngancam, gadis ayu yang bernama Mo Goat itu mendesak mereka.
"Ayoh, sekarang lekaslah kalian kata¬kan! Apa hubungan kalian dengan tokoh-tokoh tua yang telah kusebutkan tadi?"
Liu Wan dan Kwe Tek Hun saling pandang satu sama lain. Sebenarnya me¬reka tak ingin membawa-bawa nama gu¬ru atau perguruan mereka. Akan tetapi gadis itu telah menyebutkan nama dan asal-usul perguruannya, sehingga tak enak rasanya kalau mereka tetap menyembu¬nyikan diri mereka. Salah-salah mereka dikira takut terhadap gadis itu.
Sementara itu Tio Ciu ln telah mem¬bawa Song Li Cu dan Ku Jing San ke tempat yang aman. Song Li. Cu - masih tetap lemas kena totokan tadi, sedang¬kan Ku Jing San juga masih merasa¬kan kesakitan pada kaki kanannya. Karena tidak bisa mengobati mereka, maka Tio Ciu In memutuskan untuk menantikan saja petunjuk dari Kwe Tek Hun dan Liu Wan.
Dan Tio Ciu In segera memasang te¬linga ketika gadis yang bernama Mo Goat itu bertanya tentang asal-usul Liu Wan dan Kwe Tek Hun. Di dalam hati¬nya gadis ayu itu juga ingin tahu siapa sebenarnya Liu Wan yang baru saja dike¬nalnya itu.
"Baiklah. Dugaan Nona memang be¬nar. Aku memang mempunyai hubungan perguruan dengan keluarga Yap, karena salah seorang dari anggota keluarga itu adalah Guruku. Dan namaku sendiri ada-lah Liu Wan...." akhirnya Liu Wan me¬ngaku juga.
"Nah, dugaanku benar bukan? Thian-lui-khong-ciang hanya ada satu di dunia ini, dan ilmu sakti itu hanya dimiliki oleh keluarga Yap di kota raja. Melihat kesempurnaan ilmu yang kau keluarkan tadi, aku berani memastikan bahwa kau adalah murid Hong-lui-kun Yap Kiong Lee yang terkenal itu. Benar tidak?" de¬ngan suara tetap kaku Mo Goat berkata lantang.
Liu Wan yang biasanya tangkas ber¬bicara itu terdiam. Wajahnya kelihatan kaku menahan geram.
"Dan dugaanku tentang engkau juga benar, bukan?" Mo Goat mengalihkan ucapannya kepada Kwe Tek Hun. "Kau tentu anak murid Keluarga Kwe yang bertempat tinggal di Pulau Meng-to itu."
Kwe Tek Hun berdesah pendek. Hati¬nya juga merasa geram terhadap gadis itu, tapi seperti halnya Liu Wan dia juga merasa sulit untuk mengungkapkannya. Gadis itu memang pintar mempermain¬kan orang.
"Ya! Aku memang putera tunggal pendekar Kwe Tiong Li, pemilik Pulau Meng-to."
Sekejap mata yang bulat indah itu terbelalak. "Oh, jadi kau putera pendekar yang disebut orang Keh-sim Tai-hiap itu? Sungguh tak kusangka sama sekali. Pan¬taslah kalau Ban-seng-po Lian-hoan yang kau keluarkan tadi mampu mengungguli kecepatan senjata rahasiaku. Ban-seng-po Lian-hoan memang hebat sekali.
Mungkin sejajar dengan Bu-eng Hwe-teng milik Bit-bo-ong jaman dahulu."
Diam-diam Liu Wan dan Kwe Tek Hun merasa tergetar juga hatinya. Gadis remaja itu ternyata luas sekali pengeta¬huannya. Sungguh tak sebanding dengan usianya.
"Wah, jangan-jangan ilmu silat gadis ini juga hebat pula...." Liu Wan mulai menduga-duga di dalam hati.
Semantara itu melihat kedua adik se¬perguruannya masih menderita akibat perbuatan lawannya, Kwe Tek Hun men¬jadi penasaran.
"Nona...! Kami hanya tertawa secara tidak sengaja. Itu pun aku sudah berusaha mengalah dengan meminta maaf kepada¬mu. Tetapi mengapa kau tetap saja me¬nganiaya dan mempermainkan Adik-adik¬ku? Apakah engkau benar-benar tidak memiliki perasaan?"
Mata itu tiba-tiba berkilat marah. "Apa katamu? Kau anggap aku tak ber¬perasaan? Huh! justru kalianlah yang tak memiliki perasaan! Semua orang Han berhati culas dan kejam! Mengapa aku
harus berbelas kasihan kepada kalian?" I sekonyong-konyong Mo Goat menjerit.
Semua orang terperanjat. Ucapan I yang baru saja keluar dari mulut gadis I itu seperti melantur, namun juga seperti I mengandung arti yang dalam, seolah-olah I gadis itu sangat kecewa dan amat mem¬benci bangsa Han.
"Eh, ucapan Nona sungguh sangat mengherankan sekali. Mengapa Nona me¬nyeret-nyeret bangsa Han dalam pertengkaran kita ini? Mengapa pula Nona mengatakan orang Han itu culas dan kejam?
Apa hubungannya?" Liu - Wan bertanya penasaran.
Tak terduga kemarahan Mo Goat se¬makin berkobar. Gadis itu mengembang¬kan kipasnya di depan dada. Matanya yang indah itu menjadi beringas.
"Jangan banyak tanya! Pokoknya se¬tiap orang Han yang mengganggu aku takkan kuberi ampun! Harus dibunuh! Termasuk... temanmu yang telah berani menyerangku itu!" serunya nyaring seraya menuding ke arah Ku Jing San.
Kwe Tek Hun mendengus melalui hidungnya. "Kau takkan bisa membunuh nya. Dia adalah adik seperguruanku. Selama aku masih ada di sini, dia takkan bisa kauapa-apakan!" pemuda gagah itu menggeram.
"Hihihihi...! Kau katakan aku tak bisa membunuhnya? Oooo, kau benar-benar buta dan bodoh! Apa kau tak menyadari bahwa Sutemu itu sebentar lagi akan mati? Coba kaulihat kakinya yang sakit itu...!" mendadak gadis itu tertawa mengejek.
Kwe Tek Hun menoleh. Dipandangnya Ku Jing San lekat-lekat. Hatinya merasa was-was juga
"Jing San...! Bagaimana kakimu?" tanyanya khawatir.
Ku Jing San yang kesakitan itu cepat membuka sepatunya. Tiba-tiba matanya terbeliak. Kaki yang terbungkus sepatu itu ternyata sudah busuk dan berwarna hijau.
"Suheng...!" Ku Jing San berteriak naikkan pipa celananya, warna kehijauan itu ternyata telah merembes ke atas sampai di bawah lututnya kehijauan! Dan ketika pemuda itu melihat dengan gemetar ke arah Kwe Tek Hun.
Bagai berlomba Kwe Tek Hun dan Liu Wan melesat mendekati Ku Jing San.
Keduanya bergegas memeriksa kaki anak muda itu. Kwe Tek Hun mencoba menekan bekas luka bakar akibat ledakan senjata rahasia tadi. Tapi betapa kagetnya dia ketika daging itu mendadak terlepas dan jatuh tergumpal di atas lantai. Daging di atas tumit itu sekarang menganga, namun anehnya tak setetes pun darah keluar.
Kwe Tek Hun meloncat mundur dengan muka pucat. Liu Wan menatap pendekar muda itu sambil menggeleng-gelengkan kepalanya. Sebagai seorang tabib yang mengerti ilmu pengobatan ia tahu bahwa kaki itu tak bisa dipertahankan lagi.
"Saudara Kwe! Potong saja kaki itu sebelum racunnya naik ke atas! Cepat!" Liu Wan berseru tegang, "Apaaaa...? Kakiku dipotong?" Ku Jing San menjerit hampir pingsan,
"Saudara Liu? Apa maksudmu...?" Kwe Tek Hun menegaskan pula dengan suara menggeletar.
"Daging itu sudah mati dan busuk! Tak mungkin bisa dihidupkan lagi walau de¬ngan obat dewa sekalipun! Satu-satunya jalan hanya dibuang, sebelum menjalar ke bagian lain!" Liu Wan menerangkan.
"Ooouuh...!" Ku Jing San berdesah ke¬takutan. Wajahnya menjadi putih pucat seperti tak berdarah.
"Saudara Kwe, cepat...! Lakukan apa yang dikatakan Liu Twako! Dia seorang tabib yang tak mungkin berdusta!" dalam ketegangannya Tio Ciu ln ikut berteriak.
"Hihihih..! Mengapa kalian semua menjadi cemas? Biarkan saja dia mati! Racun api itu memang tidak ada obat pe munahnya! Sekali kena tak mungkin bisa hidup lagi!" Mo Goat tertawa puas.
Melihat pertunjukkan kekejaman yang sangat mengerikan itu para tamu yang masih tersisa di tempat tersebut segera bubar menyelamatkan diri. Ruang makan itu lantas menjadi sepi.
"Iblis keji! Kau memang bukan manu¬sia...!" akhirnya Kwe Tek Hun memekik, lalu mencabut pedang yang terselip di pinggangnya dan menabas kaki Ku Jing San, persis pada lututnya.
Darah segar mengucur deras dari ka¬ki yang terpotong itu. Dan pukulan batin tersebut benar-benar tak dapat dipikul oleh Ku Jing San. Pemuda itu terkapar di lantai tak sadarkan diri. I Liu Wan yang kemudian bergerak me-' nolongn a. Pemuda yang mahir ilmu pe¬ngobatan itu segera memungut bungkus¬an obatnya. Paha Ku Jing San cepat di¬ikatnya erat-erat, kemudian lukanya yang menganga lebar itu ditaburinya dengan obaUi samjui Jrata*» Sc&elah itu semuanya dibalut dengan kain bersih, sehingga se-"nentar kemudian kaki yang buntung terse¬but telah terbungkus dengan rapi.
Melihat sutenya telah dirawat Liu Wan, Kwe Tek Hun segera kembali meng hadapi Mo Goat. Wajah pemuda gagah itu tampak suram. Bagaimanapun sabar¬nya pemuda itu, namun usia Kwe Tek Hun tetap masih muda. Darahnya masih mudah bergejolak pula seperti halnya pe¬muda lain. Apalagi tindakan sewenang-wenang itu menimpa adik seperguruannya sendiri. Maka tidaklah mengherankan bila akhirnya pemuda itu tak bisa menahan dirinya lagi.
Terdengar suara berkerotokan ketika Kwe Tek Hun mengerahkan tenaga sakti¬nya. Matanya tampak mencorong seperti mata harimau di dalam kegelapan.
"Nona! Sebetulnya aku tidak suka berkelahi dengan wanita. Tetapi perlaku¬anmu yang amat kejam itu dan tak ber¬perikemanusiaan itu membuat aku ter¬paksa menghadapimu."
Lagi-lagi Mo Goat tertawa dingin. Nada suaranya semakin terasa mengeri¬kan, seperti suara nalrli cantik di"maraTnB sunyi.
"Kau mau melawanku? BaiHah! Tapi jangan menyesal bila nasibmu sama se¬perti kawanmu itu. Hihihi, majulah...!"
Kwe Tek Hun mencabut ke-bali pe¬dangnya. Pemuda itu tidak ingin berna¬sib malang seperti halnya K j J mg San -dan Song Li Cu, terjungkal paco gebrak¬an pertama. Apalagi gadis cantik itu se-karang membawa kipas bajanya yang aneh.
"Lihat pedang!" Kwe Tek Hun tiba-tiba berseru dan menyerang.
Mula-mula pedang Kwe Tek Hun menghunjam ke bawah, menuju ke perut Mo Goat. Tapi sebelum ujung pedang itu menyentuh sasaran, Kwe Tek Hun meng¬angkatnya ke atas seperti layaknya orang mencongkel sebuah benda dengan ujung pedang. Terdengar suara mengaung tak-kala ujung pedang yang tipis itu berge¬tar dengan hebat.
Mo Goat terkesiap Walaupun serang¬an yang sesungguhnya belum datang, na¬mun getaran ujung pedang yang menggi-riskan itu seperti memberi bisikan pada¬nya agar berhati-hati. Oleh karena itu sama sekali ia tak berusaha menangkis atau menyentuh ujung pedang pedang tersebut. Gadis itu memilih jalan yang lebih aman, .yaitu menghindar sambil ba¬las menyerang.
Dengan gesit Mo Goat menggeliatkan tubuhnya ke kanan, sehingga pinggang¬nya yang kecil pipih itu seolah-olah ter¬lipat mau patah. Dan gerakannya yang indah itu segera diikuti dengan meluncurnya ujung kaki kirinya ke atas, ke dagu Kwe Tek Hun.
Untuk sesaat Kwe Tek Hun menga¬gumi kecerdikan lawan yang tak mau membentur ujung pedangnya, sehingga je¬bakan yang telah dia persiapkan menjadi batal untuk dilakukan. Bahkan sekarang dagunya balik diserang dengan ujung se¬patu lawan.
Kwe Tek Hun menarik tubuhnya ke belakang sambil mengayunkan pedangnya mendatar. Sambil mengelak pemuda itu bermaksud menabas kaki Mo Goat. Kali ini Kwe Tek Hun benar-benar mengerah¬kan kelincahan dan kecepatan geraknya agar mampu memotong kaki gadis itu, sehingga dendam Ku Jing San dapat ter¬balas.
Tapi keinginan itu memang sulit ter¬laksana. Jangankan memotong kaki la¬wan, menyentuh kainnya pun ternyata tflK bisa. Gerakan Kwe Tek Hun yang dilan¬dasi tenaga dalam sepenuhnya itu memang cepat bukan main, namun ternyata ge¬rakan Mo Goat jauh lebih cepat lagi. Hanya dengan jalan melemparkan badan nya ke belakang, gadis ayu itu sudah bi¬sa . meloloskan diri dari tabasan pedang Kwe Tek Hun.
Meskipun demikian beberapa gebrakan tadi sudah cukup bagi mereka untuk men jajaki ilmu masing-masing. Ternyata me¬reka sama-sama memiliki kegesitan dan ilmu meringankan tubuh yang luar biasa. Ban-seng-po Lian-hoan dari keluarga Kwe 4 yang sangat dikagumi orang itu ternya ta sekarang bisa dilayani dengan baik oleh Mo Goat. Ginkang gadis itu benar-benar hebat tiada terkira.
Dan pertarungan selanjutnya lebih te¬pat disebut pertandingan ilmu meringan¬kan tubuh daripada bertempur mengadu ilmu silat. Mereka berdua bagaikan sepa¬sang burung walet yang berlaga di uda¬ra. Tubuh mereka berkelebatan ke sana ke mari, di antara meja dan kursi. Ka¬dang-kadang terdengar suara nyaring apa bila kedua senjata mereka beradu satu sama lain.
TraaaaaangJ Trannnnnng! Tning!
Tak terasa peluh dingin membasahi punggung tangan Liu Wan. Pertarungan itu sungguh dahsyat dan menegangkan. Masing-masing ternyata memiliki modal ilmu silat yang sulit dicari tandingannya. Mo Goat yang cantik itu mempunyai il¬mu silat yang aneh dan mengerikan. Se¬pintas lalu gaya dan gerakannya seperti campur aduk antara beberapa ilmu silat yang dimainkan bersama-sama. Namun apabila diperhatikan benar-benar, maka akan tampak betapa dalamnya arti dari setiap gerakan yang kelihatan seperti campur aduk itu. Begitu dalam dan ru¬mit sehingga menyimpan kekuatan yang dahsyat tiada terkira. Apalagi semuanya itu didukung oleh lwe-kang dan ginkang gadis itu yang sukar diukur pula tinggi nya.
Akan tetapi Kwe Tek Hun sendiri ju¬ga memiliki ilmu yang hebat pula. Seba¬gai ahli waris Keh-sim Tai-hiap (Pende¬kar Patah Hati), yang tersohor memiliki beberapa macam ilmu kesaktian tinggi, seperti Pek-in Ginkang (Ilmu Meringan¬kan Tubuh Awan Putih), Kim-hong-kun-hoat (Pukulan Burung Merak), Pai-hud-smkang (Tenaga Sakti Menyembah Budha) dan Ban-seng-po Lian-hoan (Langkah Se¬laksa Bintang Berantai), maka tak meng¬herankan bila pemuda gagah itu juga tumbuh seperti ayahnya. Di dalam usia¬nya yang masih amat muda, kesaktian Kwe Tek Hun benar-benar sulit dicari tandingannya.
Namun di kota Hang-ciu ini ternyata Kwe Tek Hun mendapatkan lawan yang setimpal. Mo Goat, seorang gadis remaja, yang usianya jauh lebih muda daripada Kwe Tek Hun, ternyata mampu menan-dinginya. Malahan kalau dikaji benar-be¬nar, gadis cantik itu justru memiliki be¬berapa kelebihan yang bisa membahaya¬kan jiwa Kwe Tek Hun. Apalagi gadis itu tampaknya belum mengeluarkan selu¬ruh ilmu'simpanannya.
Sebagai seorang yang juga memiliki ilmu silat tinggi Liu Wan segera bisa membaca irama pertempuran mereka. Setelah pertempuran berlangsung lebih dari lima puluhan jurus, terlihat perma¬inan pedang Kwe Tek Hun mulai tampak kesulitan menghadapi kelincahan kipas Mo Goat. Meskipun permainan pedang Kwe Tek Hun tersebut bukan merupakan ilmu andalan Keluarga Kwe, tapi untuk memainkannya pemuda itu sudah meno¬pangnya dengan Pai-hud-sinkang dan Pek-in-ginkang, sehingga kekuatan dan kece¬patannya benar-benar telah menjadi ber¬lipat ganda. Akan tetapi kehebatan ilmu pedang itu masih tetap saja di bawah bayang-bayang ilmu kipas Mo Goat yang cepat dan kuat. Tampaknya lwekang dan ginkang gadis cantik itu memang lebih tinggi daripada Kwe Tek Hun.
Kenyataan itu benar-benar mengecut¬kan hati Liu Wan. Pemuda sakti yang mahir bermacam-macam ilmu itu mera¬sa bahwa kepandaiannya tak lebih baik daripada Kwe Tek Hun. Walaupun dia memiliki Thian-Iui-khong-ciang yang am¬puh, rasanya juga sulit mengalahkan Mo Goat. Gadis cantik itu memiliki ilmu meringankan tubuh yang hebat, sehingga Pek-in. Ginkang keluarga Kwe yang sa¬ngat disegani orang itu tak berdaya di¬buatnya.
Thian-lui-khong-ciang memang dahsyat. Tapi ilmu itu membutuhkan pengerahan Iwekang yang berat pula. Kalau lawan dengan ginkangnya yang tinggi bisa sela¬lu menghindari pukulannya, akhirnya ia sendiri yang akan kehabisan tenaga.
"Bukan main...!" Liu Wan berdesah kagum.
Sebaliknya pertempuran tingkat tinggi itu semakin membuka mata Tio Ciu lIn. Ternyata apa yang didapat dari gurunya selama ini belumlah apa-apa bila diban¬dingkan dengan mereka, jangankan harus mengikuti jurus-jurus yang mereka kelu¬arkan, melihat gerakan-gerakan mereka yang cepat bagai kilat itu saja sudah membuat pening kepalanya. Namun ke¬nyataan itu justru menggugah semangat¬nya. Ia harus bisa seperti mereka. Ia ha¬rus lebih tekun mempelajari ilmu silat Im-yang-kau, karena gurunya pernah ber¬cerita bahwa Aliran Im-yang-kau juga memiliki sebuah ilmu yang amat dahsyat, yang disebut Ilmu Silat Kulit Doma. Sia¬pa tahu dirinya bisa mempelajarinya kelak?
Traaaaaaang...!
Tiba-tiba Tio Ciu In dikejutkan oleh suara benturan senjata yang amat nya¬ring. Ketika gadis ayu itu memandang ke arena pertempuran, dilihatnya Kwe Tek Hun dan Mo Goat telah berhenti bertem¬pur. Mereka tampak berdiri berhadapan dalam jarak lima langkah. Sementara Liu Wan yang berdiri menonton tadi te¬lah berada di dekat Tek Hun.
Mo Goat berdiri tegak sambil mengi¬bas-ngibaskan kipasnya di depan dada. Bibirnya yang merah tipis itu tersenyum mengejek. Sedangkan Kwe Tek Hun tam¬pak berdiri lesu memandangi pedang yang terlepas jatuh dari tangannya.
"Kau memang hebat, Nona. Rasanya aku harus belajar sepuluh tahun lagi un¬tuk bisa menandingimu. Baiklah, kami mengalah kali ini. Tapi suatu saat aku akan mencarimu untuk membuat perhi¬tungan lagi." akhirnya pemuda itu meng¬geram perlahan.
Tak terduga gadis cantik itu menci¬birkan bibirnya. "Wah, enak benar...! Be¬gitu kalah langsung pergi sambil mengan¬cam akan membalas dendam. Mana ada. peraturan begitu?" ujarnya lantang.
Kwe Tek Hun tersentak kaget. "Mak¬sud Nona...?"
Crek! Gadis cantik itu menutup ki¬pasnya dengan tiba-tiba. Matanya yang mencorong dingin itu menatap ganas. "Tinggalkan dulu kepalamu! Baru kau bo¬leh pergi meninggalkan tempat ini!" ben-taknya keras.
"Kurang ajar...!" Kwe Tek Hun meng¬geram dengan wajah pucat pasi.
"Kau sungguh keterlaluan sekali, No¬na! Apakah kau benar-benar ingin mem¬bunuh kami semua?" Liu Wan berseru penasaran.
"Tentu saja." Kalian telah berani me¬ngusik ketenanganku. Dan tadi sudah ku¬katakan, orang-orang Han yar.g berani mengganggu aku akan kubunuh!"
"Baik! Kalau begitu silakan kaubukti-kan niatmu itu!" Liu Wan menjadi ma¬rah juga akhirnya.
"Saudara Liu! Biarkan aku yang mem¬buktikan ucapannya itu!" tiba-tiba Kwe Tek Hun berteriak, lalu menerjang lebih dulu ke arah Mo Goat.
Gadis cantik itu tertawa mengejek.
Majulah kalian semuanya, agar aku bisa menghemat waktu!" serunya seraya mengelak ke samping.
"Iblis...!" Liu Wan mengumpat keras.
Pemuda itu lalu merangkapkan kedua tangannya di depan dada. Berbareng de¬ngan kedua kakinya yang ditarik mereng¬gang, kedua belah telapak tangan yang terbuka itu mendorong ke depan dengan kekuatan penuh. Wuuus! Terdengar suara desir angin meluncur dari kedua telapak tangan tersebut.
Mo Goat ingin mencoba kekuatan Thian-lui-khong-ciang Liu Wan. Sambil merendahkan badannya, gadis itu mengi¬baskan kipasnya ke depan.
Duaaaaar! Terdengar sebuah letupan yang amat keras!
Gadis cantik itu terdorong mundur satu langkah, sementara dua lembar da¬un kipasnya di bagian tengah tampak melengkung. Sebaliknya tubuh Liu Wan sendiri kelihatan bergoyang-goyang, mes¬kipun kedua kakinya tetap kokoh meng¬hunjam lantai. Pemuda itu merasakan betapa kuatnya sambaran kipas lawan¬nya tadi.
"Bagus, kalian berdua telah maju ber¬bareng! Kali ini aku pun tidak akan se¬gan-segan lagi mengeluarkan ilmuku! Nah, lihatlah...!" sekonyong-konyong Mo Goat berseru nyaring.
Liu Wan bersiap kembali dengan pu¬kulan Thian-lui-khong-ciangnya. Bahkan pemuda itu telah siap untuk mengurung lawannya dengan ilmu silat andalan per¬guruannya, Tai-khong Sin-kun (Pukulan Angin Puyuh)! Sedangkan Kwe Tek Hun tampak merapatkan ujung-ujung jari ta¬ngannya di depan wajahma. seolah-olah ingin membentuk dua buah paruh burung merak dengan jari-jarinya itu.
Tapi mata mereka tiba-tiba terbeliak. Tubuh lawannya yang rampirg indah itu .mendadak pecah menjadi dua bagian, dan masing-masing bagian lalu tumbuh men¬jadi tubuh Mo Goat yang utuh, sehingga di dalam arena tersebut ada dua Mo Goat yang siap bertarung dengan mereka.
"Gila! Tidak mungkin...'" Kwe Tek Hun berdesis ragu.
"Awas, Saudara Kwe, ia pan¬dai ilmu sihir!" Liu Wan yang juga menjadi bingung itu memperingatkan teman¬nya.
"Hihihihi...! Ayolah, keluarkan seluruh kepandaianmu!" sepasang Mo Goat kem¬bar itu menantang.
"Saudara Kwe, mari kita hadapi dia bersama-sama!"
"Mari!"
Karena tak tahu mana Mo Goat yang aseli dan mana Mo Goat yang palsu, ma¬ka Liu Wan dan Kwe Tek Hun menye¬rang saja semuanya. Liu Wan segera mengeluarkan Pukulan Angin Puyuhnya. Bergantian kedua telapak tangannya menghantam tubuh Mo Goat yang berdiri di depannya. Angin kencang terasa ber-siutan dari telapak tangannya, melanda tubuh gadis itu.
Dan dalam waktu yang bersamaan Kwe Tek Hun juga menerjang pula tubuh Mo Goat yang lain. Pemuda gagah itu menyerang dengan jurus Kim-hong-pao-goat (Burung Merak Memeluk Bulan), salah satu jurus Kim-hong-kun-hoat an¬dalan Keluarga Kwe. Gerakannya sangat indah, namun amat berbahaya dan me¬matikan. Memang sebenarnyalah bahwa ilmu silat Keluarga Kwe sangat hebat. Kalau tadi Kwe Tek Hun dikalahkan, hal itu bukan karena kepandaiannya yang rendah, tapi disebabkan karena pemuda tersebut telah terlanjur mempergunakan pedangnya. Padahal bukan itulah yang menjadi inti kepandaiannya. Namun kare¬na pedangnya terlanjur dikalahkan, seba¬gai seorang ksatria pemuda itu mengakui kekalahannya.
Kini tanpa pedang di tangannya Kwe Tek Hun justru menjadi lebih berbahaya malah. Dengan ilmu andalan keluarganya itu Kwe Tek Hun benar-benar seperti seekor harimau ganas yang tumbuh sa-yapnya.
Demikianlah dalam waktu yang bersa¬maan Mo Goat diserang dengan dua ma¬cam ilmu silat tinggi yang jarang tam¬pak di dunia persilatan. Meskipun demi¬kian gadis yang kini berubah menjadi dua orang itu sama sekali tak menunjukkan perasaan takut. Kedua tubuh kembarnya itu masing-masing cepat mengelak de¬ngan ginkangnya yang amat tinggi. Bah¬kan beberapa saat kemudian tubuh kem¬bar itu ganti menyerang dengan gesit¬nya. Masing-masing dari tubuh kembar itu berkelebatan mengurung Liu Wan dan Kwe Tek Hun. Memang mentakjubkan, masing-masing seperti memiliki nyawa sendiri-sendiri.
Maka terjadilah sebuah pertempuran seru, aneh, dan membingungkan! Seru, karena ilmu-ilmu yang mereka keluarkan adalah ilmu yang jarang ada duanya di dunia persilatan. Tapi aneh dan membi-ngungkan karena salah seorang di anta¬ranya cuma bentuk semu atau bentuk tipuan yang sebenarnya tidak ada. Hanya karena kehebatan ilmu sihir Mo Goat sa¬ja hal itu bisa terjadi.
Yang benar-benar repot adalah Liu Wan. Tanpa disadarinya pemuda itu ber¬kelahi melawan bentuk Mo Goat yang palsu. Maka ilmu silatnya yang dahsyat dan menggiriskan itu menjadi percuma saja. Dia seperti bertempur dengan sebu¬ah bayangan yang bisa dilihat, tapi tak dapat disentuhnya. Thian-lui-khong-ciang-nya yang meledak-ledak seperti halilin¬ tar itu tidak bisa menghancurkan tubuh lawannya. Paling-paling tubuh lawannya itu seperti bergoyang-goyang mau hilang bila terkena pukulannya.
Sementara itu Kwe Tek Hun yang kebetulan berhadapan dengan Mo Goat asli, benar-benar harus mengerahkan se¬gala kemampuannya. Lawannya yang masih amat muda itu ternyata menyimpan ilmu yang luar biasa tingginya. Ilmu silat ke¬luarganya yang selama ini tak pernah memperoleh lawan, sekarang benar-benar i ketemu batunya. Tenaga sakti Pai-hud-sinkang dan ilmu meringankan tubuh Pek- i in-ginkang, yang selama ini ditakuti orang sama sekali tak berdaya mengung-gul tenaga dalam dan kelincahan lawan¬nya. Dalam segala hal gadis cantik itu ternyata berada di atasnya. Hanya lang¬kah ajaib Ban-seng-po Lian-hoan saja yang akhi ya masih bisa menolong Kwe Tek i Hun dari kehancuran. Dalam keadaan terpojok, langkah ajaib itu ternyata ma¬sih mampu menyelamatkan nyawanya.
Akan tetapi dengan demikian akhir dari pertempuran itu sudah bisa diduga.
Cepat atau lambat Kwe Tek Hun maupun Liu Wan mesti mengakui keunggulan la¬wannya. Dan hal itu berarti saat kema tian mereka telah tiba Mo Goat yang kejam dan amat benci kepada orang Han itu tentu akan membunuh mereka.
Walaupun tidak dapat mengikuti- ira¬ma pertempuran tersebut, namun Tio Ciu In dapat juga merasakan kesulitan kawan-kawannya. Tapi karena kepandaian sendi¬ri masih terlampau rendah, maka tak mungkin bisa menolong mereka.
Matahari belum terlampau tinggi. Si¬narnya yang hangat masih menerobos lobang jendela, menebarkan kehangatan di udara pagi yang dingin itu. Tio Ciu In memang tidak merasa kedinginan karena pertempuran itu justru membuatnya ge¬rah dan cemas. Lain halnya dengan Tio Siau In, yang pada saat itu sedang .duduk merenung sendirian di rumah tabib di tepi laut itu. Walau di depan perapian, gadis itu masih kedinginan.
Matahari memang bersinar terang di tepi laut itu. Tapi karena angin laut . berhembus sangat kencang, maka panas- nya seolah-olah selalu terguncang pergi terbawa angin. Bahkan hembusan angin yang amat kuat itu justru melemparkan butiran-butiran air ke daratan. Dingin¬nya bukan alang kepalang.
Tio Siau In melipat kakinya yang di¬ngin di depan perapian. Gadis centil yang biasanya selalu bersikap lincah itu kini hanya merenung diam tak bergerak. Ma¬tanya yang berbulu lentik itu menatap kosong ke dalam api, seakan-akan lidah api yang menjilat-jilat ke atas itu amat mengasyikkannya.
Tio Siau In memang sedang melamun. Berbagai peristiwa menegangkan yang dialaminya sejak dia meninggalkan rumah berkelebat satu persatu di depan mata¬nya. Semenjak gurunya memerintahkan dia dan kakaknya ke kota Hang-ciu un¬tuk mencari pemuda bertatto "naga" di badannya, hingga peristiwa menegangkan yang terjadi di dalam rumah makan itu tadi malam.
Semula Tio Siau In memang tidak me¬nyukai tugas itu. Tugas >ang dianggap¬nya terlalu mengada-ada dan kurang ma¬suk akal. Tugas yang diberikan atas da¬sar ramalan-ramalan yang belum tentu benar. Tapi kejadian demi kejadian yang secara tak sengaja dilihatnya, membuat Tio Siau In berbalik pikiran. Sekarang gadis itu berubah menjadi ingin tahu, apa sebenarnya yang ada di balik cerita ten¬tang pemuda bertatto naga itu? Menga¬pa kelihatannya setiap orang mempunyai kepentingan dengan pemuda bertatto na¬ga tersebut?
Bahkan sekarang di dekat Tio Siau In sendiri ada seorang pemuda yang juga memiliki tatto naga di dadanya. Mung¬kinkah pemuda ini yang dimaksudkan oleh gurunya itu?
Tak terasa Tio Siau In melirik ke pintu kamar yang ada di belakangnya. Di dalam kamar itu A Liong beristira¬hat. Sejak meminum obat penyembah lu¬ka dalam, pemuda itu langsung tertidur dengan nyenyaknya.
Tio Siau rn menarik napas panjang. Matanya kembali terhunjam ke dalam perapian. Kejadian yang mendebarkan ha¬tinya semalam kembali di pelupuk mata¬ nya. Kejadian yang sangat membekas di dalam hatinya, yang membuka mata ba¬tinnya akan sifat-sifat manusia. Keculas¬an, keserakahan, kekejaman, flan tipu da¬ya demi kepentingan pribadi.
Tadi malam, ketika mereka memasuki perairan teluk kecil itu, Su Hiat Hong meminta kepada Tio Siau In untuk me¬minggirkan sampannya. Berbeda dengan pantai di sekitarnya, pantai di trluk kecil tersebut memiliki hamparan pasir yang landai, sehingga Tio Siau I n mudah mem bawanya ke daratan.
Rumah bekas tabib kerajaan itu didi¬rikan di atas tiang-tiang vang cukup tinggi dari tanah. Mungkin dimaksudkan untuk menghindari air pasang atau bina¬tang-binatang melata yang banyak bera¬da di tempat itu. Setiap pintu keluar di¬pasangi tangga ke bawah. Sementara di kanan kiri bangunan tersebut ditanami pohon-pohon besar untuk melindungi ru¬mah itu dari angin laut dan terik mata¬hari.
Rumah itu tidak begitu besar. Mung¬kin hanya terdiri dari tiga atau empat Kamar saja. Dan dinding bagian belakang rumah itu menempel pada tebing curam yang memagari ceruk sempit tersebut, sungguh sebuah rumah yang aneh dan an¬tik.
"Rupanya Tong Kiat Teng belum tidur Mungkiri dia masih bekerja di kamar obat nya, atau mungkiri dia sedang membaca di kamar tidurnya. Kita jangan sampai mengagetkannya." Su Hiat Hong ber¬kata pelan ketika melihat jendela rumah itu terbuka lebar. Sinar lampu dari da¬lam ruang panggung itu menyorot keluar.
“Lalu... apa yang harus kulakukan, Paman? Apakah aku harus naik dan me¬ngetuk pintunya?" Tio Siau In bertanya.
"Ya! Tapi lebih baik kita pergi ke sana bersama-sama. Coba, kautolong pe¬muda ini agar bisa berjalan ke rumah itu!" Su Hiat Hong yang masih lemah itu meminta kepada Tio Siau In.
Tio Siau In lalu memapah A Liong turun dan sampan, kemudian membantu¬nya berjalan melewati hamparan pasir di tepian pantai tersebut. Su Hiat Hong sambil mendekap dadanya yang sakit melangkah di belakang mereka.
"He, Paman... lihatlah! Di sana ada perahu!" tiba-tiba Tio Siau Iri yang seca¬ra tak sengaja memandang ke laut ber¬desah perlahan. Tangannya menuding ke sebuah perahu yang ditambat di antara bongkalan batu karang besar di luar pantai.
"Haaah...? Nanti dulu, Nona! Jangan-jangan itu perahu orang-orang Hun tadi! Awas...! Mari kita mencari tempat per¬sembunyian yang aman!"
"Bagaimana dengan sampan kita?"
"Biarkan saja. Takkan kelihatan dari rumah itu. Kalau pun diketem kan oleh orang-orang itu, paling-paling juga dikira kepunyaan Tong Kiat Teng. Ayoh, cepat!"
A Liong sama sekali tak berkata apa-apa ketika dibawa bersembunyi di semak-semak yang tumbuh di pinggiran tebing ceruk itu. Pemuda yang masih tampak kesakitan itu menurut saja ketika ditun¬tun Tio Siau In ke balik perdu.
Beberapa saat lamanya mereka me¬nunggu di tempat itu. Tapi tak seorang pun tampak keluar atau terdengar suara¬nya. Rumah itu kelihatan sepi-sepi saja, Su Hiat Hong menjadi curiga. Benarkah yang datang itu rombongan orang-orang Hun? Kalau benar mereka, apa maksud mereka datang ke rumah Tong Kiat Teng ini? Mengapa rumah itu tampak tenang-tenang saja? Apakah mereka sudah sa¬ling mengenal?
"Nona...?" Akhirnya Su Hiat Hong tak tahan lagi menunggu lebih lama. "Mari kita mendekat ke rumah itu! Kita berge¬ser perlahan-lahan melalui semak-semak ini, lalu kita mendekam di bawah kolong rumah. Beranikah kau?"
Tio Siau In tersenyum. "Seharusnya aku yang bertanya kepada Paman. De¬ngan keadaan Paman dan A Liong ini, apakah bisa merangkak sampai ke sana?"
"A Liong...? Bagaimana? Kau tinggal di sini atau ikut kami ke rumah itu...?" Su Hiat Hong bertanya kepada A Liong.
Pemuda itu menengadah kepalanya. Meskipun pucat namun pandangannya ke¬lihatan tegar dan bersemangat.
"Aku ikut!" jawab pemuda itu tegas.
"Baiklah! Tapi kita harus berhati-hati benar! Langkah kita tidak boleh menge¬luarkan suara sama sekali. Sekali kita ketahuan oleh orang-orang Hun itu, ma¬tilah kita! Bagaimana, Nona?"
Tio Siau In mengangguk. Bagaimana¬pun juga gadis cantik itu sudah membu¬latkan tekadnya untuk menyelidiki masa¬lah pemuda bertatto naga ini. Apalagi dia juga sudah bersedia untuk memberi pertolongan kepada Su Hiat Hong dan A Liong. Tidak enak rasanya membiarkan mereka menempuh bahaya sendirian.
Mereka lalu merangkak perlahan-lahan mendekati rumah panggung itu. Su Hiat Hong paling depan, A Ltong di tengah, dan Tio Siau In di belakang sendiri. Se¬makin dekat dengan rumah itu perasaan mereka menjadi semakin tegang. Apalagi lapat-lapat mereka mulai mendengar su¬ara percakapan orang di dalam rumah itu.
Dua puluh langkah dari bangunan ru¬mah itu Su Hiat Hong berhenti. Perwira I kerajaan itu teringat akan kebiasaan pimpinan orang Hun yang bersembunyi dalam gelap. Ditelitinya lebih dulu tempat di sekeliling rumah tersebut, ka-lau-kalau ada orang di sana. Setelah yakin tak ada bahaya yang mengancam mereka, Su Hiat Hong baru merangkak lagi.
Suara percakapan itu semakin jelas terdengar. Apalagi ketika mereka telah sampai di bawah kolong rumah tersebut. Mereka mencari tempat yang terlindung di antara bebatuan yang berserakan di bawah bangunan itu.
"Nah, sudah habis waktu yang kita berikan kepada Tabib Tua itu! Bawa dia ke sini!" tiba-tiba terdengar suara meng¬geledek di dalam rumah itu.
"Baik, . Goanswe! Prajurit, bawa orang tua itu ke mari!"
Hampir saja Su Hiat Hong berseru kaget. Untunglah telapak tangannya ce¬pat membungkam mulutnya sendiri. Ten¬tu saja Tio Siau In menjadi terheran-heran melihat ulahnya. Gadis itu mendekat¬kan mulutnya ke telinga Su Hiat Hong.
"Ada apa. Paman? Mengapa kau tam¬pak kaget sekali? Apakah Paman Telah melihat "Bohong...! Kau memang keras kepa¬la! Kau tak mau berterus terang kepada¬ku! Kau tentu telah menyembunyikan mereka di suatu tempat...! Hmmh!"
"Aku tidak membohong, Goanswe. Se¬lama lima belas tahun ini aku juga sia-sia mencari jejak anak-anak itu. Bagai¬kan orang gila aku mencari mereka ke mana-mana. Seluruh negeri ini hampir telah kujelajahi semuanya, tapi aku tetap tidak menemukan mereka. Aku sudah berputus asa. Aku merasa berdosa kepa¬da Pangeran Liu Yang Kun. Itulah sebab¬nya aku mengasingkan diri di tempat ini."
Su Hiat Hong mengangguk. Namun ia menaruh jari telunjuknya di depan bibirnya.
Terdengar suara langkah kaki dari bagian depan ke bagian belakang di atas lantai papan, rumah itu. Terdengar suara ribut sebentar. Kemudian terdengar suara langkah lagi, namun kali ini terdiri dari dua orang, di mana yang seorang langkahnya terdengar lemah dan agak diseret.
"Inilah dia, Goanswe!"
"Bagus! Nah, Tong Kiat Teng... waktu berpikir yang kami berikan telah habis. Bagaimanakah pendapatmu? Apakah kau sudah mau berterus terang kepadaku?"
"Maaf, Goanswe... aku sudah menga¬takan yang sebenarnya. Aku tidak tahu di mana anak-anak itu sekarang."
"Bangsat! Kau menang keras kepala! Apakah kau sudah tak ingin hidup lagi?"
"Goanswe...? Apa lagi yang harus ku¬katakan kepadamu? Aku sudah mengata¬kan semuanya. Memang akulah yang me¬nyelamatkan anak-anak itu dari kobaran api yang mengamuk di istana Pangeran Liu Yang Kun. Dan aku pulalah yang membawa mereka keluar dari kota raja. Tapi luka-lukaku ketika aku menerobos Kobaran api itu selalu mengganggu per¬jalananku. Aku tak tahan lagi, sehingga di tengah jalan aku terpaksa menitipkan mereka pada seseorang. Celakanya, ka¬rena saat itu aku dalam keadaan sakit dan kalut pikiran, maka aku telah lupa kepada siapa aku telah menitipkan anak-anak itu."
"Huh, kau memang benar-benar keras kepala, Kiat Teng! Rupanya kau memang sudah tidak menyayangi jiwamu lagi. Baiklah, tanpa bantuanmu pun aku tentu dapat menemukan anak-anak itu. Masih banyak jalan untuk menemukan mereka, walaupun untuk itu akan jatuh korban jiwa. Aku tidak peduli. Jangankan cuma ribuan jiwa, kalau aku harus membantai setiap anak yang seusia mereka pun akan aku laksanakan juga!"
Ucapan Au-yang Goanswe itu benar-benar mengejutkan Tong Kiat Teng. Bah¬kan juga mengagetkan Su Hiat £|ong yang bersembunyi di kolong rumah itu. sungguh keji sekali hati Jenderal Au-yang yang telah diselimuti dendam itu. Tak terasa Su Hiat Hong menoleh ke bela¬kang, mencari Tio Siau In dan A Liong. Tapi yang tampak cuma Siau In saja. A Liong tidak berada di tempatnya. Ten¬tu saja keduanya semakin kaget.
Tio Siau In menjadi cemas sekali. Hampir saja mulutnya berteriak memang¬gil. Untung tidak jadi, karena tiba-tiba saja pemuda itu muncul dari celah-celah besar di sampingnya.
"Batu besar ini dapat bergeser. Ada lubang di bawahnya. Aku tadi menemu¬kannya secara tak sengaja. Nona, marilah kita bersembunyi di sini. Di dalam ada ruangan yang lebar." pemuda itu memberi keterangan dengan kalimat pendek-pendek seperti orang yang terengah-engah. Lupa bahwa mereka sedang bersembunyi.
"Hei, siapa di luar...? Beng Ciang-kun tangkap orang yang bersembunyi di luar itu!" sekonyong-konyong Goanswe yang ada di dalam rumah itu berseru keras .
Muka Su Hiat Hong menjadi pucat seperti kapur. Kehadiran mereka bertiga telah diketahui orang itu. Satu-satunya jalan hanya menyelamatkan anak-anak muda itu.
"Nona, cepatlah kau ikut A Liong masuk ke dalam lubang itu! Biarlah ku¬temui mereka sendirian. Cepat...Su Hiat Hong cepat berbisik di telinga Tio Siau In.
"Paman sendiri bagaimana?" Tio Siau In ragu-ragu.
"Jangan khawatir aku kenal mereka! I Cepat!"
Bersamaan dengan melompatnya Tio Siau In ke dalam lobang batu, yang ke¬mudian menutup perlahan-lahan, bebera pa orang perajurit kerajaan tampak ber¬loncatan keluar dari dalam rumah panggung tersebut. Seorang perwira setengah baya cepat mendekati persembunyian Su Hiat Hong. Empat orang perajurit me¬ngikuti di belakangnya.
"Selamat bertemu, Beng Ciang-kun ...!" Su Hiat.Hong menyapa perwira itu dengan ramah.
"Kau...? Ah, Su Ciang-kun rupanya! Bagaimana kau bisa sampai berada di tempat ini? Di mana Lim Ciang-kun?" orang yang disebut Beng Ciang-kun ter¬sebut berseru kaget. Suaranya bernada curiga dan berkesan menyelidik. Sama sekali tidak terasa ramah.atau gembira.
"Beng Ciangkun, siapa dia? Mengapa tidak segera kaubawa ke dalam?'
"Su Ciangkun, mari kita masuk...! Au-yang Goanswe memanggilmu!" Beng Ciangkun berkata pelan.
Su Hiat Hong tak berani menolak. Beng Ciangkun yang bernama Beng Cun itu memiliki kepandaian yang tinggi, ka¬rena dia adalah tangan kanan Au-yang Goanswe. Perlahan-lahan, dengan mena¬han rasa sakit Su Hiat Hong menaiki tangga rumah.
"Apakah kau sakit, Su Ciangkun?" Beng Cun bertanya keheranan.
"Ya...! Nanti kuceritakan semuanya..."
Begitu memasuki ruangan Su Hiat Hong terperanjat. Tong Kiat Teng, saha¬batnya itu, benar-benar mengenaskan se¬kali keadaannya. Tubuh yang kurus itu tidak mengenakan baju sama sekali. Wa¬jahnya, kulit punggungnya, lengannya, se¬muanya terdapat bekas luka siksaan.
"Tong Kiat Teng, kau kenapa? Siapa¬kah yang telah menyiksamu?"
"Ah, Su Hiat Hong... kau?" Tong Kiat Teng menyapa lemah.
Su Hiat Hong cepat melangkah ma¬ju, namun dengan cepat Au-yang Goan¬swe yang bertubuh tinggi besar dan ber¬usia lima puluhan tahun itu menghadang¬nya. Sama sekali tidak ada kesan ramah atau bersahabat dari jenderal yang men¬jadi atasannya itu. Bahkan jenderal itu seperti memusuhinya, suatu hal yang benar-benar tidak dipahami oleh Su Hiat Hong.
Bahkan Su Hiat Hong menjadi kaget ketika pimpinannya itu membentak ma¬rah!
"Su Hiat Hong! Di mana Lim Kok Liang dan yang lain-lainnya? Mengapa eng¬kau tiba-tiba berada di tempat yang terasing ini? Apakah kau memata-matai aku?"
Su Hiat Hong menjadi kaget meski¬pun dia telah mencium sesuatu yang ti dak beres pada pimpinannya itu, tapi ia juga belum bisa mengetahuinya dengan pasti. Dan terus terang dia juga ti¬dak berani menduga-duga, berpra¬sangka yang bukan-bukan terhadap atas¬annya itu. Dia memang menjadi kaget ketika mendengar niat jenderal itu untuk membasmi semua anak keturunan Pange¬ran Liu Yang Kun, tetapi tidak memahami apa sebenarnja terselip di balik maksud dan tujuan Auyang Goanswe itu, ia tidak berani menanyakannya.
"Goanswe...! Tugas yang Goanswe be¬rikan kepada kami itu ternyata penuh aral dan rintangan. Tak seorang pun di antara kami yang mampu melaksanakan tugas itu dengan baik. Bahkan mereka telah menjadi korban. Semuanya telah tewas di tangan para pengacau yang tidak menyetujui diadakannya Perlombaan Mengangkat Arca itu. Tinggal aku se¬orang yang masih hidup. Lim Kok Liang, Ong Ci Kin. Kwa Sing, Gui ciangkun, semuanya telah gugur di tangan gerom¬bolan suku bangsa Hun..." Su Hiat Hong melapor seolahL-lah tidak memiliki pra¬sangka apa-apa terhadap pimpinannya.
Namun Au-yang Goanswe seperti tidak mengacuhkan laporan Su Hiat Hong. Bah¬kan jenderal itu juga seperti tidak mempedulikan kematian-kematian anak buah¬nya.
"Persetan dengan kematian teman-temanmu! Aku tidak peduli! Sekarang ka¬takan terus terang kepadaku! Mengapa kau sampai di tempat ini? Bukankah kau kutugaskan di kota Hang-ciu? Lekas jawab!" jenderal itu menggeram keras.
"Goanswe, aku sungguh tidak menger¬ti apa yang Goanswe maksudkan...."
"Bohong! Kau tidak perlu bersandiwa¬ra lagi di depanku. Kau tentu sudah ta¬hu, atau setidak-tidaknya telah bercuri ga kepadaku, sehingga kau tidak pergi melaksanakan perintahku, tapi selalu menguntit dan memata-matai semua ke¬giatanku. Benar tidak....?"


Jilid 7                                                                                                           

PENDEKAR PEDANG PELANGI 7



Jilid 7



“Tahaan” bayangan pertama yang tidak lain adalah orang tua bongkok tadi berteriak seraya menyerang punggung Ketua Kuil Pek-hok-bio.

"Hentikan...!" bayangan ke dua yang tidak lain adalah bayangan Tio Ciu In berseru pula seraya menerjang ke arah altar.

Semua orang terkejut. Kejadian itu benar-benar di luar dugaan. Tak seorang pun berpikir bahwa tempat yang terjaga kuat dan rapi itu akan bisa kemasukan perusuh dari luar. Demikian pula halnya dengan para pimpinan, pendeta dan para anggota Kuil Pek-hok-bio itu.

Namun semua telah terjadi. Dua orang tamu undangan telah meloncat menyerang ke arah panggung. Dan pe¬nyerang itu ternyata sangat dikenal. Oleh para anggota Kuil Pek-hok-bio tersebut, karena mereka adalah Gu Lain Si Kakek Penjaga Kamar Buku, dan Nyonya Cia anggota kehormatan Kuil Pek-hok-bio sendiri.
"Gu Lam! Apa yang kaulakukan?" Ketua Kuil Pek-hok-bio yang kurus ke¬ring itu membentak sambil mengelak ke samping.
"Cia Hu-jin (Nyonya Cia), tahaaaaaan ...!" para pendeta yang mengelilingi altar itu berteriak seraya menghadang lang¬kah Tio Ciu In.
Melihat serangan tangannya gagal, ka¬kek bongkok itu segera berputar pula ke samping untuk mengejar lawannya, tapi dua orang pendeta berjubah merah itu te lah memotong langkahnya. Bahkan kedua orang itu telah menyabetkan dua pasang ujung lengan baju atau jubah mereka yang panjang ke arah dada dan kepala¬nya. Begitu kuat tenaga dalam yang mereka pergunakan sehingga angin pu¬kulannya telah lebih dulu datang daripa¬da ujung lengan bajunya.
"Gu Lam! Apakah kau sudah gila,
menyerang Ketua sendiri?" sambil me¬nyerang salah seorang dari pendeta itu menghardik.
Wuuuuus! Wuuuuus!
Plak! Plak!
Kakek bongkok itu tidak berusaha un¬tuk mengelak, sebaliknya ia mengerah¬kan tenaga ke lengannya untuk. menang¬kis serangan tersebut. -Dan akibatnya sungguh di luar dugaan masing-masing.
Kedua pendeta berjubah merah, itu merupakan tokoh tingkat dua di. Kuil Pek-hok-bio, dan merupakan orang-orang ke dua setelah ketuanya. Sedangkan Gu Lam hanyalah penjaga Kamar Buku. Maka tidaklah aneh kalau kedua pende¬ta berjubah merah tersebut tidak ber¬sungguh-sungguh dalam serangan mereka. Mereka hanya mengerahkan separuh ba¬gian dari tenaga dalam mereka, dan se¬mua itu sudah lebih dari cukup untuk menghentikan amukan Gu Lam.- Dan ke-duanya yakin betul akan hal itu. -
Akan tetapi hasilnya sungguh menge¬jutkan! Bukannya Gu Lam yang jatuh tunggang langgang akibat bentrokan kekuatan itu, lapi sebaliknya justru mere¬ka berdualah yang terdorong ke belakang dengan kuatnya! Untunglah dalam keka¬getan mereka, mereka masih bisa berta¬han untuk tidak jatuh terjengkang ke atas panggung, sehingga untuk sementa¬ra mereka masih dapat menyelamatkan diri dari rasa malu yang lebih besar!
Tentu saja kedua pendeta itu menja¬di marah bukan main. Wajah mereka menjadi merah padam saking malu dan gusarnya. Namun ketika mereka berdua sudah bersiap sedia untuk menghukum Kakek Gu Lam, tiba-tiba mereka terbe¬lalak! Kakek penjaga kamar buku itu ki¬ni telah berubah bentuk maupun wajah¬nya!
Kakek bongkok itu kini dapat berdiri dengan tegap. Sebuah bantal kecil yang dipakai untuk mengganjal punggungnya tadi tampak tergeletak di bawah kakinya. Wajahnya yang berjenggot dan berkeriput tadi kini kelihatan bersih dan gagah. Ternyata getaran udara yang diakibat¬kan oleh bentrokan tenaga tadi telah merontokkan tempelan-tempelan bedak kering yang dipakai untuk menyamar se¬bagai Gu Lam.
Sementara itu nasib Tio Ciu In ter¬nyata juga tidak jauh bedanya dengan Gu Lam palsu! Di dalam ketergesaannya tadi ternyata Ciu In juga telah melupa¬kan pula penyamarannya sendiri. Ketika empat orang pendeta yang berada di se¬keliling altar tadi mencegatnya, ia tidak peduli. Ciu In nekad saja menjenguk ke arah altar untuk melihat gadis korban itu. Gadis itu hanya mengelak saja se¬cara reflek ketika dua orang di antara pendeta itu mendorongnya. Akibatnya do¬rongan itu mengenai bantal yang meng¬ganjal perut dan dadanya, sehingga ban¬tal itu tersembul ke luar dari tempat¬nya. Tentu saja bentuk tubuhnya menjadi lucu dan aneh!
"Hah, kau bukan Cia Hu-jin!" kedua pendeta itu segera berteriak.
"Hei? Siapa kau...?" dua orang pende¬ta berjubah merah itu juga berteriak pu¬la ke arah Gu Lam palsu.
Kejadian yang tak tersangka-sangka itu segera merubah suasana yang semuIa tenang dan serius itu menjadi ribut dan panik. Para tamu yang rata-rata tak . mengerti ilmu-ilmu silat itu menjadi ke-takutan. Mereka menyangka kuil itu te¬lah kedatangan musuh atau pasukan ke¬amanan kota. Mereka segera berlarian ke arah pintu, sehingga tak ayal lagi mereka saling bertubrukan dan berdesak-desakan. Jerit dan tangis para tamu wa¬nita tak dapat dicegah lagi.
Namun keributan itu sama sekali tak mempengaruhi keadaan di atas panggung. Lelaki yang menyamar sebagai Gu Lam palsu dan masih tetap berhadapan dengan pendeta berjubah merah. Lelaki 'yang masih amat muda itu tidak segera men¬jawab pertanyaan lawan-lawannya. Mata¬nya yang tajam itu justru melirik ke arah Tio Ciu In yang juga kedodoran pe¬nyamarannya. Sekilas dahinya yang lebar itu berkerut, agaknya ia merasa kaget atau heran, karena ada orang lain yang sedang menyamar pula seperti dirinya. . Ada terbersit keinginannya untuk menge¬tahui siapa gadis itu, tapi kedua lawan¬nya tak memberi kesempatan kepadanya.
Melihat perusuh yang menyaru seba¬gai Gu Lam palsu itu tidak mempeduli-kan pertanyaan mereka, kedua pendeta berjubah merah itu menjadi marah bukan buatan. Berbareng mereka menerjang dari kanan dan kiri. Masing-masing tetap mem pergunakan ujung lengan baju mereka yang lebar itu sebagai senjata.
Whuuus! Whus! Whuuuss!
Hembusan angin yang amat kuat se¬gera mengurung Gu Lam palsu. Begitu kuatnya sehingga anak muda itu tidak berani lagi adu kekuatan seperti tadi. fDdBm yTfpt menyelamatkan diri dari ku-rungan tersebut, pemuda itu cepat me¬rendahkan tubuh serendah-rendahnya, ke¬mudian bergeser mundur mengikuti hem¬busan angin pukulan lawannya.
Sesaat dua pendeta berjubah merah itu terkesiap melihat gerakan anak mu¬da tersebut. Gerakan yang dilakukan oleh anak muda itu terang sangat sulit dan merupakan bagian dari sebuah jurus ilmu silat yang sangat tinggi. Kelihatannya memang sederhana, tapi tanpa dasar dan perhitungan yang matang tak mungkin gerakan tersebut bisa dilaksanakan de¬ngan mulus. Jelas bagi kita sekarang, pemuda itu memiliki ilmu silat yang amat tinggi. Cuma mereka berdua tidak tahu, dari aliran atau perguruan mana lawan mereka tersebut berasal. Yang te¬rang mereka berdua harus berhati-hati.
Sementara itu di dekat mereka Tio Ciu In juga sedang menghadapi empat orang pendeta berjubah kuning tingkat tiga di kuil Pek-hok-bio itu. Karena pe¬nyamarannya sudah terlanjur kedodoran, maka Tio Ciu In juga tak ingin direpot¬kan oleh dandanannya lagi. Baju luar, sanggul, ganjal perut dan tempelan-tem¬pelan bedak yang menutup sebagian wajah nya segera dibuangnya.
Melihat lawan mereka sekarang beru¬bah menjadi gadis yang lebih cantik lagi, empat pendeta berjubah kuning itu terke jut. Apalagi ketika mereka lihat gadis itu masih sangat muda sekali.
"Kau... kau siapa? Mengapa kau me¬ngacau upacara kami?11 dalam gugupnya salah seorang dari pendeta itu berseru.
Seperti halnya dengan Gu Lam palsu,
sikap Tio Ciu In sekarang juga tidak se¬tegang tadi. Kenyataan bahwa gadis yang terbaring di atas altar itu bukan adik¬nya membuat hati Tio Ciu In menjadi tenang kembali. Namun demikian Tio Ciu In tetap bertekad untuk menolong gadis itu. Gadis yang tak berdosa itu harus diselamatkan.
"Jangan kalian ributkan aku ini siapa! Lebih baik kalian melepaskan gadis yang tak berdosa itu!"
"Kurang ajar! Kau bocah kecil ini memang sudah bosan hidup! Pergi...!"' Pendeta itu tersinggung dan berteriak gusar.
Tanpa basa-basi lagi keempat pen¬deta berjubah kuning itu lalu menyerang Tio Ciu In. Seperti teman-teman mere¬ka yang berjubah merah, mereka pun mempergunakan lengan baju mereka yang lebar dan panjang itu untuk senjata. Ba¬gaikan gumpalan awan yang bertebaran di udara, lengan baju mereka bergulung-gulung menimpa ke arah dada Tio Ciu In. Begitu dahsyatnya tenaga yang mereka kerahkan sehingga Tio Ciu In merasa seperti ada ratusan batu besar yang hendak menimpanya.
Dan kali ini Tio Ciu In tidak mau sembrono lagi seperti tadi. Dengan tang¬kas kedua tangannya mencabut pedang pendek yang terselip di lengannya. Srrrt! Srrrt..! Pedang itu lalu diputarnya de-ngan kencang mengelilingi tubuhnya, se¬hingga lawan-lawannya terpaksa menarik kembali serangan mereka agar tidak ter¬potong oleh sabetan pedang tersebut.
Tapi para pendeta itu juga tak ingin melepaskan Tio Ciu In. Untuk menanggu¬langi pedang tesebut mereka terpaksa mengeluarkan senjata pula, yaitu kebut¬an lalat yang gagangnya terbuat dari be¬si dan bulu kebutannya dari ekor kuda pilihan. Dengan bulu kebutan tersebut para pendeta itu ingin merampas pedang pendek Tio Ciu In.
Demikianlah pertempuran seru pun tak bisa dielakkan lagi, sehingga pang¬gung yang sempit itu menjadi terlalu se¬sak untuk pertempuran dua arena ter¬sebut. Terpaksa dalam sebuah kesempatan Tio Ciu In meloncat turun ke bawah
panggung. Tentu saja lawan-lawannya tak ingin kehilangan dirinya. Mereka mela¬yang turun pula mengejar dia.
Sambil melayani kurungan lawannya Tio Ciu In mencuri lihat ke sekeliling¬nya, ke ruang kosong yang telah diting¬galkan tamu-tamunya. Gadis itu hanya melihat belasan penjaga atau anggota Kuil Pek-hok-bio di tempat itu. Mereka bersiaga penuh dengan senjata masing-masing mengurung ruangan tersebut. Ta¬pi ia tak melihat Liu Wan di antara me¬reka. Kemanakah sebenarnya pemuda lihai itu?
Ternyata apa yang dilakukan oleh Liu Wan juga tidak kalah sibuknya dengan Tio Ciu In maupun Gu Lam palsu. Pemu¬da itu sekarang sedang bertempur pula dengan hebatnya melawan So Gu Tai dan Ketua Kuil Pek-hok-bio di atas genting. Jauh lebih dahsyat dan. lebih seru dari pada pertempuran di dalam ruangan ter¬sebut.
Tadi ketika seluruh perhatian orang tertuju ke arah keributan di atas pang¬gung, diam-diam Liu Wan melihat musuh lamanya, So Gu Tai bersama Ketua Kuil Pek-hok-bio berusaha meloloskan diri melalui lobang genting yang terbuka. Tentu saja pemuda itu tak mau melepas¬kannya. Dengan tangkas ia mengejar me¬reka.
Untuk beberapa saat kedua tokoh Pek-hok-bio itu menjadi bingung melihat Cia Wan-gwe yang telah mereka kenal itu bisa melompat ke atas genting me¬ngejar mereka. Tetapi setelah Liu Wan tertawa dan mengejek tingkah laku me¬reka, So Gu Tai segera mengenalnya.
"Bun-bu Siu-cai (Pelajar Serba Bisa), mengapa kau selalu saja mengejar-ngejar aku? Apa salahku kepadamu?11 peranakan suku bangsa Monggol dan Hun itu berta¬nya jeri.
"Saudara So, siapakah yang menya¬mar seperti Cia Wan-gwe ini?" Ketua Pek-hok-bio bertanya kepada So Gu Tai.
"Dialah pemuda yang kuceritakan du¬lu. Namanya Liu Wan, digelari orang Si Pelajar Serba Bisa karena dia pandai ilmu silat, ilmu sastra, ilmu-ilmu peng¬obatan, melukis dan menyaman"
"Oooh!" Ketua Kuil Pek-hok-bio yang ku¬rus kering itu terkejut.
"Benar, hahaha...! Kalian tak menyang ka, bukan? Aku pun tak menyangka pula bahwa tokoh-tokoh terhormat seperti ka¬lian berdua ini bisa berubah menjadi pe¬ngecut yang meninggalkan anak buahnya untuk menyelamatkan dirinya sendiri!" Liu Wan tertawa mengejek sambil mele¬paskan alat-alat penyamarannya.
"Bangsat! Kau benar-benar sombong! Kaukira aku takut mendengar namamu, hah?" Ketua Kuil Pek-hok-bio itu ter¬singgung dan menjerit berang.
Selesai mencopoti semua alat yang ia pakai untuk menyamar, Liu Wan ber-,. tolak pinggang. "Hehehe, kalau kau me¬mang tidak takut... mengapa kau harus melarikan diri?"
"Kurang ajar! Bocah bermulut lancangi Lihat kebutanku...!" sambil berteriak ma¬rah Ketua Kuil Pek-hok-bio itu menge¬luarkan kebutan dan menyerang Liu Wan.
Bulu kebutan yang lemas itu menda¬dak menjadi kaku seperti sikat baja dan menusuk ke uluhati. Tapi dengan lincah Liu Wan menggeliat' ke samping, kemu¬dian balas menyerang dengan tusukan ja¬ri tangannya. Cuuuus! Jari itu melesat ke arah ketiak lawannya.
Ketua Pek-hok-bio semakin gusar. Kebutan yang gagal mengenai lawannya itu ia tarik ke atas, kemudian ia sabet¬kan mendatar mengarah ke kepala Liu Wan. Dan kali ini bulu kebutan itu telah berubah menjadi lemas kembali seperti cambuk.
Taaaaar! Bulu kebutan itu melecut udara kosong, karena Liu Wan telah le¬bih dulu menundukkan tubuhnya. Bahkan sambil menundukkan tubuhnya pemuda itu masih sempat membalas pula. Siku kanannya terayun menghajar lutut lawan¬nya.
Dengan tergesa-gesa Ketua Kuil Pek-hok-bio itu membuang tubuhnya ke bela¬kang! Praaak! Dua buah genting hancur terijak kakinya. Dan tubuh yang kurus kering itu terguling ke kiri hampir jatuh. Untunglah So Gu Tai cepat menyambar ujung jubahnya.
"Bedebah! Kau memang harus dibunuh!" untuk menutupi perasaan malunya Ketua Kuil Pek-hok-bio itu mengumpat-umpat.
"Sudahlah! Mari kita lawan bersama-sama!" akhirnya So Gu Tai yang lihai itu menawarkan diri.
"Baik! Marilah...!" ternyata Ketua Kuil Pek-hok-bio itu menyahut tanpa malu-malu lagi.
Namun sebelum pertempuran itu di¬lanjutkan kembali, tiba-tiba di halaman depan terdengar suara ribut-ribut pula. So Gu Tai dan Ketua Kuil Pek-hok-bio saling pandang dengan wajah kaget, lalu menatap Liu Wan dengan curiga.
"Kau membawa teman?" So Gu Tai menggeram.
Liu Wan tercengang. Tapi di lain sa¬at bibirnya kembali tersenyum. "Kau ja¬ngan mengada-ada! Bukankah itu suara para tamu yang lari ketakutan? Kau jangan mencari-cari atasan untuk melari¬kan diri!" ejeknya pedas.
"Bangsat sombong...!" Ketua Kuil Pek-hok-bio mengumpat.
Tapi sebelum orang kurus kering itu melompat menerjang Liu Wan, menda-
dak dari bawah genting meloncat tiga orang berjubah kuning.
"Suhu! Kuil... kuil kita diserbu gerom¬bolan pengemis! Mereka telah masuk ke halaman!" dengan suara gugup mereka bertiga melapor kepada Ketua Kuil Pek hok-bio.
"Hah...? Gerombolan pengemis? Pe¬ngemis dari mana?" So Gu Tai menyahut dengan suara geram.
"Tampaknya mereka dari perkumpul¬an Tiat-tung Kai-pang!"
"Tiat-tung Kai-pang?" Ketua Kuil Pek-hok-bio berdesah cemas." Hmmh, ka¬lau begitu.... cepat kalian siapkan sauda¬ra-saudara kalian untuk menghadapi me¬reka! Sebentar lagi aku datang!"
Tak heran kalau Ketua Kuil Pek-hok-bio itu merasa cemas. Perkumpulan Tiat-tung Kai-pang (Perkumpulan Penge¬mis Bertongkat Besi) memang sebuah perkumpulan yang amat disegani di da-erah selatan. Belasan tahun yang lalu ketika masih dipimpin oleh Tiat-tung Lo-kai, perkumpulan pengemis tersebut be¬nar-benar mengalami kejayaannya. Sedemikian kuat dan besar anggota mereka waktu itu sehingga perkumpulan mere¬ka terpaksa dibagi menjadi dua daerah, yaitu daerah selatan dan utara aliran Sungai Yang-tse. Daerah di sebelah sela¬tan Sungai Yang-tse dipimpin oleh Tiat-tung Lo-kai, sedangkan di sebelah utara Sungai Yang-tse dipimpim oleh Tiat-tung Hong-kai (Pengemis Gila Bertongkat Be¬si). Mereka berdua adalah saudara seper¬guruan. Dan sekarang, meskipun perkum¬pulan itu tidak sebesar dan sekuat dulu lagi, namun sisa-sisa kebesarannya ma¬sih tetap melekat di hati kaum persilat¬an.
Begitu pendeta-pendeta berjubah ku¬ning itu pergi, Ketua Kuil Pek-hok-bio kembali menghadapi Liu Wan.
"Huh! Ternyata kau bersekongkol de¬ngan pengemis-pengemis busuk dari Tiat-tung Kai-pang!"
Liu Wan menjadi marah juga akhir¬nya. "Kau jangan mencampur - adukkan urusanku dengan urusan Tiat-tung Kai-pang! Aku tidak mengenal mereka, dan mereka juga tidak mengenal aku! Kalau
kebetulan sekarang mereka datang ke sini bersamaan dengan kedatanganku, hal itu berarti bahwa kuilmu ini memang mempunyai banyak musuh!"
"Tutup mulutmu!" orang tua itu men¬jadi marah.
Demikianlah pertempuran tak bisa di¬elakkan lagi, Liu Wan dikeroyok Ketua Kuil Pek-hok-bio dan So* Gu Tai. Mereka bertempur di atas genting dengan gin-kang mereka yang tinggi. Di dalam ca-haya bulan yang gilang gemilang tubuh mereka berkelebatan ke sana ke mari bagaikan burung malam yang sedang be¬rebut mangsa.
Ketua Kuil Pek-hok-bio tetap meme¬gang kebutannya, sementara So Gu Tai telah mengeluarkan ruyungnya pula, tapi Liu Wan 'tetap mempergunakan tangan kosong untuk melayani mereka. Meski¬pun demikian pemuda itu tidak tampak di bawah angin. Malahan sering- kali pe¬muda itu bisa menindih permainan senja¬ta lawannya.
"Anak Setan! Anak Gila! Siapakah se¬benarnya kau ini? Siapakah Gurumu?"
karena kesalnya Ketua Kuil Pek-hok-bio itu mengumpat-umpat tiada habisnya.
Liu Wan tertawa lepas. "Kau ingin mengetahui siapa aku dan siapa Guruku? Hahahaha, mudah sekali! Desaklah aku! Paksalah aku untuk mengeluarkan ilmu silatku yang sejati! Nanti kau akan me¬ngenalnya...!"
"Baik! Hati-hatilah...!"
Ketua Kuil Pek-hok-bio itu lalu mem¬beri tanda kepada So Gu Tai. Bersama-sama mereka menerjang Liu Wan. Sambil mengibaskan kebutannya Ketua Kuil Pek-hok-bio itu menebarkan tepung kuning berbau wangi ke tubuh Liu Wan. Dan se¬rangan tersebut segera dibantu pula oleh So Gu Tai. Raksasa Monggol itu menya¬betkan ruyungnya ke bawah, sementara tangannya yang lain mengayunkan belas¬an batang paku kecil ke arah kepala, da¬da dan perut Liu Wan. Tampaknya mere¬ka berdua memang benar-benar ingin mendesak pemuda itu.
Serangan yang bertubi-tubi itu me¬mang membuat Liu Wan kewalahan, ta¬pi pemuda itu masih tetap bertahan untuk tidak mengeluarkan ilmu andalannya. Dengan berjungkir balik sambil berkali-kali mengibaskan lengan bajunya, pemu¬da itu berusaha mengelak dan menying¬kirkan paku-paku serta tepung beracun yang mengurung dirinya.
Tapi So Gu Tai dan Ketua Kuil Pek-hok-bio sudah bertekad untuk memaksa Liu Wan mengeluarkan ilmu andalannya. Belum juga pemuda itu mampu membebas kan dirinya, mereka telah menyusulkan pula serangan yang lain. Bulu kebutan Ketua Kuil Pek-hok-bio itu tiba-tiba me¬ledak ketika disabetkan, dan sejumput bulu pada ujungnya mendadak putus, la¬lu menebar ke arah Liu Wan. Sedangkan So Gu Tai dengan tenaga dalamnya yang kuat memutar-mutar ruyungnya sekuat tenaga.
Kini Liu Wan memang tidak memiliki kesempatan untuk mengelak lagi. Dalam keadaan sibuk menghindari serangan paku dan taburan tepung wangi itu, dia tidak mungkin bisa mengelakkan dua serangan tersebut. Apalagi putaran ruyung So Gu Tai itu benar-benar ganas luar biasa.
Dalam keadaan seperti itu Liu Wan memang dipaksa untuk mengeluarkan ke¬saktiannya. Tanpa mempergunakan jurus-jurus silat tingkat tinggi tak mungkin seseorang dapat melepaskan diri dari hu¬jan serangan seperti itu. Dan hal itu memang dilakukan oleh Liu Wan!
Ketika akhirnya pemuda itu merasa tidak dapat menghindar lagi, tiba-tiba ia memutar tubuhnya seperti gasing. Dan pada saat itu pula sekonyong-konyong dari telapak tangan Liu Wan meniup angin pusaran yang amat kuat, berputar seperti puting beliung, yang melanda dan melontarkan kembali semua benda yang kembali mendekati dirinya. Begitu dahsyatnya hembusan angin yang keluar dari tela¬pak tangan pemuda itu, sehingga tidak cuma paku, tepung wangi, dan bulu ke¬butan saja yang terpental balik, tapi tu¬buh Ketua Pek-hok-bio dan So Gu Tai pun ikut terdorong mundur pula dengan kuatnya. Bahkan tumpukan genting yang terinjak oleh . pemuda itu turut tersibak dan terlempar ke mana-mana. Dan seba¬gian di antaranya jatuh ke bawah menimpa panggung upacara!
Semuanya terkejut. Tidak terkecuali Gu Lam palsu yang masih bertempur se¬ru melawan dua pendeta berjubah merah itu. Pecahan-pecahan genting yang ber¬jatuhan dari atas itu memaksa dia ber¬jumpalitan ke arah altar untuk menyela¬matkan gadis korban yang masih terbu¬jur diam di tempat tersebut. Sekali sam¬bar pemuda itu berhasil menyingkirkan tubuh telanjang itu dari malapetaka.
Bergegas pemuda itu melepaskan ba¬ju luarnya dan mengenakannya pada tu¬buh gadis itu. Kemudian dengan geram pemuda itu menatap ke atas panggung kembali. Tapi kedua lawannya tadi telah menghilang. Demikianlah pula halnya de¬ngan anggota-anggota Pek-hok-bio lain¬nya. Ruangan itu telah kosong. Tinggal gadis yang menyamar sebagai Cia Hujin bersama lawan-lawannya saja yang masih berada di sana.
Pemuda yang menyamar sebagai Gu Lam itu menatap ke atas genting. Ia ti¬dak tahu siapa yang sedang berlaga di sana. Namun mendengar deru angin dahyat yang menggetarkan bangunan gedung itu ia percaya tentu ada orang sakti di atas genting. Tak terasa matanya mena¬tap ke arah Tio Ciu In kembali.
"Tampaknya gadis itu juga membawa teman pula. Mungkin gurunya. Dia juga bermaksud menolong Li Cu. Eeem, siapa¬kah dia...?" pemuda itu berkata di dalam hatinya.
Pemuda itu lalu melangkah ke jendela dan melongok ke halaman. Di dalam ce¬rahnya sinar rembulan ia melihat pertem puran yang kacau balau di sana.
"Ah, teman-teman dari Tiat-tunig kai pang benar-benar telah datang aku tinggal merawat dan mengurusi Li Cu saja sekarang." desisnya gembira.
Pemuda itu lalu kembali lagi ke da¬lam. Sambil bersila di dekat gadis yang ditolongnya, pemuda itu memusatkan se¬luruh pikiran dan perasaannya. Jari-jari nya yang telah terisi tenaga sakti itu lalu menotok dan mengurut beberapa jalan darah di tubuh gadis yang baru sa-. ja ditolongnya tersebut. Peluh mengalir membasahi dahi dan lehernya, tapi pemuda itu tak mempedulikannya. Tangan¬nya terus sibuk mengurut di sana-sini.
Tubuh yang terpaku diam seperti pa¬tung itu tiba-tiba bergerak. Mula-mula bola matanya melirik ke kanan dan ke kiri, lalu kepalanya menoleh pula ke ka¬nan dan ke kiri. Demikian melihat pemu¬da yang duduk di dekatnya, gadis itu tiba-tiba bangkit dengan kaget. Tak ter¬duga tangannya melayang menampar pi¬pi Gu Lam palsu beberapa kali.
Plaak! Plaaak! Plaaak!
Lalu dengan isak tertahan gadis itu melompat berdiri terus berlari meninggalkan tempat itu, namun begitu sadar bagian bawah tubuhnya ak mengenakan apa-apa gadis itu segera mendekam kembali dengan tergesa-gesa. Dan tangisnya pun segera meledak pula dengan hebatnya.
"Kau jelek...! Kau jahat...! Kau apa-kan aku tadi? Uhu-huuuuu...!"
Pemuda yang menyamar sebagai Gu-Lam palsu itu beringsut, namun tidak be¬rani terlalu dekat. Dengan sedih ia me¬mandang gadis yang sedang menangis itu. Tangannya mengusap-usap pipinya yang bengkak.
"Li Cu Sumoi...! Aku tidak berbuat apa-apa kepadamu. Percayalah. Aku tahu kau membenciku. Tapi apa daya, Suheng te¬lah mengutus aku untuk membawamu pu¬lang. Maafkan aku...."
Tak terduga tangis perempuan itu malahan semakin menjadi-jadi.
"Bohong! Kau bohong! Kau tentu te¬lah menculik aku! Kau tidak bisa menda¬patkan aku secara wajar, maka kau la¬lu menculik aku! Memperkosa aku! Huuuuu...!"
"Tidak, Su-moi... aku tidak serendah itu! Aku justru yang menolongmu dari cengkeraman pendeta-pendeta Pek-hok-bio ini! Lihatlah...! Pertempuran antara kawan-kawan kita kaum Kai-pang mela-wan penculikmu masih berlangsung!"
Gadis yang bernama Li Cu itu ter¬sentak kaget. "Kai-pang...? Kaumaksud¬kan perkumpulan Tiat-tung Kai-pang? Ada apa mereka itu di sini?" serunya tak percaya. Otomatis tangisnya berhenti, dan tinggal sedu-sedan saja.
Pemuda yang baru saja menyamar se¬bagai Gu Lam palsu itu menghela napas panjang.
"Sumoi, ketahuilah...! Kau telah dicu¬lik oleh pendeta Kuil Pek-hok-bio ini un¬tuk dikorbankan kepada Dewi Bulan. Un¬tunglah aku dapat melacak jejakmu, se¬hingga dengan pertolongan kawan-kawan kita dari Tiat-tung Kai-pang aku bisa membebaskanmu. Lihatlah di luar, ka¬wan-kawan kita masih bertempur mela¬wan orang-orang Pek-hok-bio ini!"
Gadis itu memandang ke jendela se¬bentar, lalu menunduk kembali. Wajah¬nya yang cantik manis itu masih tam¬pak marah dan kesal.
"Kau jangan melihat aku saja! Cari¬kan kembali pakaianku!" bentaknya kaku.
"Eh... ba-baik, Su-moi!" dengan gugup pemuda itu menjawab, lalu berlari ke atas panggung untuk mencari pakaian su-moinya tadi.
Sekilas pemuda itu menoleh ke pertem¬puran yang masih berlangsung antara Tio Ciu In dan empat orang pengeroyoknya.
Dengan sepasang pedang pendeknya gadis itu menghadapi lawan-lawannya yang ga¬rang. Pedangnya berkelebatan mengeli¬lingi tubuhnya, seakan-akan sedang me¬rangkai sebuah pagar besi yang menutup dan melindungi seluruh bagian tubuhnya. Dan dalam waktu dan kesempatan yang tepat, pagar besi itu tiba-tiba terbuka untuk balas menyerang lawan-lawannya. Permainan pedang gadis itu sangat rapi dan kuat, baik pada saat menyerang maupun bertahan.
"Ilmu pedang gadis itu agak aneh. Bi¬asanya orang selalu mengandalkan kelin¬cahan dan kecepatannya dalam bermain pedang, tapi gadis ini ternyata tidak de¬mikian. Dia justru selalu bertumpu pada kuda-kudanya yang kuat dan gerak pergelangan tangannya yang luwes. Rasanya seperti tidak bermain pedang, tapi se¬dang menulis atau menggambar saja."
Gerakan-gerakan pedang Tio Ciu In memang sangat berlainan dengan gerak¬an ilmu pedang pada umumnya. Selain tidak mengandalkan kecepatan maupun kelincahan gerak, permainan pedang Tio Ciu In juga tidak mengandalkan ketajam¬an mata pedang pula seperti halnya il¬mu-ilmu pedang umumnya. Ilmu pedang Hok-hong Kiam-hiat milik. Tio Ciu In justru bertumpu pada kelihaian memain¬kan ujung pedangnya. Dengan keluwesan serta ketrampilan pergelangan tangannya, ujung pedang pendek itu mampu menu¬suk, menoreh, mengungkit, mencongkel dan mengukir tubuh lawan, tanpa mem¬butuhkan ancang-ancang.
Maka tidak mengherankan bila ke empat pendeta berjubah kuning itu men¬jadi kebingungan melayani Tio Ciu In. Semula mereka berempat sangat berbesar hati karena merasa dengan kebutan me¬reka itu mereka akan segera bisa me¬nundukkah ilmu pedang gadis tersebut. Senjata kebutan yang bergagang pendek dengan juntai rambut panjang itu benar-benar sebuah senjata yang cocok untuk menundukkan pedang. Ketajaman mata pedang takkan berguna menghadapi jun¬tai rambut yang lemas. Sebaliknya jun¬tai rambut panjang itu akan dengan mu¬dah membelit batang pedang dan merampasnya.
Akan tetapi permainan pedang Tio Ciu In yang aneh dan tidak umum itu ternyata sangat sulit untuk ditundukkan. Bahkan sebaliknya mereka berempat sen¬dirilah yang menjadi kelabakan melayani ilmu pedang gadis itu. Padahal kalau di¬ukur, kepandaian gadis itu terpaut banyak dengan mereka. Gadis itu hanya menang sedikit bila dibandingkan dengan masing-masing dari mereka. Tapi ilmu pedang aneh itulah yang membuat gadis itu sulit dihadapi.
Demikianlah, pertempuran antara Tio Ciu In dan empat orang pengeroyoknya semakin tampak seru dan menegangkan. Untuk beberapa saat sulit untuk menentu¬kan siapa yang lebih unggul. Tio CiU In sendiri sangat sukar memecahkan kepung¬an lawan-lawannya, tapi sebaliknya ke empat pendeta tersebut juga sulit menun¬dukkan gadis yang masih muda belia itu. Mungkin cuma daya tahan mereka berli-malah yang akan menentukan akhir dari pertempuran tersebut.
Sementara itu pecahan kayu dan genting yang berjatuhan dari atas semakin lama semakin banyak pula, sehingga atap ruangan itu lambat-laun tinggal kerang¬kanya saja. Akibatnya orang yang se¬dang berlaga di atas genting itu lalu menjadi kelihatan dari bawah.
Tapi pertempuran mereka memang tinggal menunggu saat-saat akhir saja. Setelah Liu Wan mengeluarkan kesaktian¬nya. So Gu Tai dan Ketua Kuil Pek-hok-bio itu sama sekali tak mampu melawan lagi. Dengan ilmunya yang dahsyat, yang mampu menimbulkan gejolak angin pusar¬an yang amat kuat, pemuda itu sama sekali tak bisa didekati lagi. Bahkan de¬ngan pukulan-pukulan jarak jauhnya (pek-kong-ciang) yang ampuh, pemuda itu da¬pat membunuh lawan-lawannya setiap sa¬at.
So Gu Tai menyadari bahaya terse¬but. Oleh karena itu pula, meskipun ke¬adaannya sangat sulit, otaknya selalu mencari kesempatan untuk meloloskan diri dari tempat itu. Dan kesempatan itu akhirnya memang ia dapatkan!
Suatu saat ketika rekannya, Si Ketua Kuil itu, tak mampu mengelak lagi dari sambaran pukulan Liu Wan, So Gu Tai pura-pura memberi pertolongan. Tubuh kurus kering itu dipeluknya agar tidak terbanting ke bawah tapi bersamaan dengan saat itu tangan kirinya menghajar genting dibawahnya hingga ambrol seperti tidak disengaja tubuhnya yang besar itu terjeblos ke bawah. Na-mun ketika Liu Wan mencoba menge¬jar dirinya, So Gu Tai cepat melem¬parkan tubuh Ketua Kuil Pek-hok-bio yang ada di dalam pelukannya itu ke arah Liu Wan.
'Terpaksa Liu Wan menghantam seka¬li lagi tubuh Ketua Kuil Pek-hok-bio itu dengan Pek-khong-ciangnya. Bhuuk! Tubuh kurus kering itu terhempas ke samping, membentur dinding dan terkulai di atas genting. Darah segar tampak mengalir dari mulut orang tua itu.
Liu Wan cepat melongok ke lobang genting di mana So Gu Tai tadi melon¬cat turun, tapi buruannya itu sudah hi¬lang. Di bawah hanya terlihat pertempur¬an antara Tio Ciu In melawan empat orang pengeroyoknya. Ketika pemuda itu bermaksud membantu gadis tersebut, se¬konyong-konyong terdengar suara mena¬hannya.
"Liu Wan, tunggu...!"
Pemuda itu mengurungkan niatnya. Dilihatnya Ketua Kuil Pek-hok-bio itu masih bisa bergerak. Mata yang sudah hampir kehilangan cahayanya itu mena¬tap ke arah dirinya.
"Kau benar, Anak Muda.... Aku seka¬rang tahu siapa dirimu. Kau... kauuu... huk-huk! Kau... huk... ooough....!"
Ternyata orang tua itu tak kuasa me¬neruskan perkataannya. Kepalanya terku¬lai, nyawanya melayang. Liu Wan menghela napas, kemudian melompat turun melalui lobang tadi.
Belum juga kakinya menyentuh lantai seseorang telah membentaknya.
"Kau... siapa?"
Liu Wan cepat membalikkan tubuhnya. Di depannya berdiri sepasang muda mudi dalam sikap siap sedia untuk ber¬kelahi. Mereka adalah Gu Lam palsu dan Li Cu, yang kini sudah mengenakan pakaiannya kembali.
"Ooooh, Nona adalah gadis yang hen¬dak dikorbankan tadi...." begitu meman¬dang Li Cu, Liu Wan segera menyapa ramah.
Pemuda yang menyaru sebagai Gu Lam itu mengerutkan keningnya. Hati¬nya sedikit cemburu mendengar pemuda tampan itu menyapa sumoinya.
"Kau siapa...?" tanyanya kemudian dengan suara kaku.
Liu Wan tersenyum. Dan pemuda itu memang ganteng sekali kalau tersenyum, hingga Gu Lam palsu itu semakin cem¬buru dibuatnya.
"Saudara tidak perlu khawatir kepada saya. Saya adalah teman gadis yang se¬dang bertempur itu. Kami berdua ber¬maksud menolong Nona ini dari kebia¬daban orang-orang Pek-hok-bio." Liu Wan menerangkan maksudnya berada di tem¬pat itu.
Pemuda yang menyaru sebagai Gu Lam itu menyeringai malu. "Maaf, kalau begitu kami berdua sangat berhutang bu¬di kepada Tuan. Ehm, kami berdua ada-
lah kakak beradik seperguruan. Namaku Ku Jihg San, sedangkan Sumoiku ini ber¬nama Song Li Cu. Bolehkah kami menge¬tahui nama Tuan?" katanya kemudian de¬ngan suara lantang dan tegas.
Liu Wan membalas penghormatan Ku Jing San dan Song Li Cu.
"Ah, jangan sungkan-sungkan. Aku, Liu Wan, memang telah' lama bermusuh¬an dengan pimpinan Kuil Pek-hok-bio ini. Kebetulan saudara perempuanku juga hi¬lang, sehingga aku yang curiga kepada pendeta jahat itu lalu mencarinya ke si¬ni. Tapi ternyata Nona Li Cu yang dicu¬lik oleh mereka, bukan adikku...."
Ku Jing San dan Song Li Cu terke¬jut. "Jadi adik Tuan juga diculik orang?" Ku Jing San bertanya kaget.
Liu Wan mengangguk, lalu memandang keluar jendela. "Apakah Saudara Ku yang membawa kaum Kai-pang itu?" katanya mengalihkan pembicaraan.
"Benar aAntara kami dan perkumpul¬an Tiat-tung Kai-pang memang bersaha¬bat erat. Guru kami sangat dekat dengan pimpinan mereka." Ku Jing San menerangkan.
"Baiklah. Kalau begitu saya akan mem bantu temanku itu dahulu. Silakan Sauda¬ra Ku dan Nona Song melihat di luar, mungkin orang-orang Kai-pang itu ingin bertemu dengan kalian!"
Setelah merangkapkan kedua tangan¬nya di depan dada Liu Wan lalu melang¬kah menghampiri arena pertempuran Tio Ciu In. Dan gadis ayu itu segera me¬nyambutnya dengan dampratan.
"Twako, ke mana saja kau tadi? Aku sampai kewalahan memecahkan kepung¬an pendeta-pendeta jahat ini!"
Liu Wan berhenti di luar arena dan tidak segera terjun membantu Tio Ciu In. Dengan tenang pemuda itu menonton pertempuran sambil bersilang tangan di atas dada. Akan tetapi sikap itu justru menggetarkan hati empat orang pendeta berjubah kuning tersebut. Apalagi ketika pemuda itu bercerita kepada Tio Ciu In tentang kedatangan orang-orang Kai-pang dan kematian Ketua Kuil Pek-hok-bio, empat orang pendeta tak bisa lagi me¬nguasai hatinya. Mereka menjadi ketakutan dan putus asa.
"Kau... bohong! Kau berusaha. mempe¬ngaruhi kami!" salah seorang dari pende¬ta itu berteriak.
Liu Wan tertawa. "Kau tak percaya? Lihatlah di atas genting! Kau akan me¬lihat mayat ketuamu! Nah... itu lihat! Tangan dan kaki yang terjulur keluar da¬ri lobang genting itu, bukankah tangan dan kaki ketuamu? Atau... kalian ingin menyaksikan dulu mayat-mayat kawan kalian yang dibantai oleh orang-orang Kai-pang di luar sana?"
Ucapan yang bernada ejekan dan an¬caman itu ternyata besar sekali penga¬ruhnya. Suasana ruangan yang sepi, keri¬butan di luar gedung, dan hancurnya se¬bagian besar atap dan genting ruangan itu, benar-benar membuat empat pendeta itu percaya akan ucapan Liu Wan terse¬but. Otomatis semangat dan keberanian mereka menghilang. Tak ada keinginan mereka untuk melawan lagi.
"Aku menyerah...!" orang yang paling tua di antara mereka kemudian berseru sambil melompat mundur. Senjatanya di¬buang.
Ternyata yang lain pun mengikuti pu¬la langkah pendeta tertua tersebut. Me¬reka meloncat mundur dan membuang kebutan mereka. Tio Ciu In juga tidak mengejar mereka lagi. Dan gadis itu se¬makin kagum pada kecerdikan Liu Wan. Tanpa turun tangan pemuda itu ternya¬ta bisa menundukkan perlawanan mereka.
Liu Wan lalu mengumpulkan senjata-senjata mereka, lalu menaruhnya di atas meja. "Coba dua orang di antara kalian pergi ke atas genting untuk mengambil mayat ketua Pek-hok-bio!" perintahnya kepada pendeta yang tertua tadi.
"Baik...!"
Demikianlah pertempuran di dalam ge¬dung itu sudah selesai. Kini tinggal per¬tempuran seru di halaman, antara anak buah Kuil Pek-hok-bio melawan orang-orang dari Kai-pang. Ku Jing San dan Song Li Cu yang telah turun di halaman depan tampak mengamuk dengan hebat¬nya. Tak seorang pun anak buah Kuil Pek-hok-bio yang mampu menahan pukul¬an dan tendangan mereka. Mayat-mayat dari kedua belah pihak telah bergelimpangan, terutama orang-orang dari Pek-hok-bio.
"Berhenti semua...!!!"
Seperti seorang panglima perang, Liu Wan berseru sambil berkacak pinggang di atas tangga pendapa. Di belakangnya tampak empat pendeta berjubah kuning, di mana salah seorang di antaranya tam¬pak membawa mayat Ketua Kuil Pek-hok-bio. Tio Ciu In mengawasi mereka dari samping dengan pedangnya.
Suara bentakan Liu Wan itu disertai oleh lwe-kahgnya yang tinggi, maka tidak lah mengherankan bila suaranya dapat mengatasi gaduhnya suasana di tempat tersebut. Bahkan demikian kuat getaran suaranya sehingga mampu mengguncang jantung setiap orang yang berada di ha¬laman itu. Tak terkecuali Ku Jing San dan Song Li Cu sendiri.
Pertempuran pun berhenti dengan ti¬ba-tiba. Semuanya memandang ke atas tangga pendapa seperti terkesima. De¬ngan takjub mereka menatap Liu W an yang sangat berwibawa itu.
"Saya harap semuanya menghentikan pertumpahan darah ini! Lihat...! Orang yang menjadi biang keladi pertumpahan darah malam ini telah mati! Oleh kare¬na itu semua anggota Kuil Pek-hok-bio harap meletakkan senjata masing-ma¬sing- Liu Wan berteriak sekali lagi.
Melihat tokoh-tokoh mereka telah me nyerah, bahkan ketua mereka juga sudah meninggal, maka seluruh anggota Kuil Pek-hok-bio yan^ masih hidup lalu mem¬buang senjata mereka pula. Mereka diam dan menurut saja ketika digiring lawan-lawan mereka ke pendapa.
Beberapa saat kemudian terjadi kesi¬bukan di ruang pendapa yang luas itu. Ku Jing San dan beberapa tokoh Kai-pang tampak mengatur tawanan dan ka¬wan-kawan mereka sendiri. Beberapa orang ditugaskan untuk mengumpulkan orang-orang yang terluka dan yang men¬jadi korban di dalam kemelut tadi. De¬mikian sibuknya mereka sehingga mere¬ka seolah-olah melupakan Liu Wan dan Tio Ciu In yang secara diam-diam me¬ninggalkan tempat itu.
Dari kejauhan terdengar dentang suara lonceng dua kali, pertanda waktu te¬lah menunjukkan pukul dua malam. La¬ngit terang benderang, sehingga rembu¬lan penuh yang telah jauh bergulir ke arah barat itu bebas menebarkan sinar¬nya ke seluruh permukaan bumi.
Semua jalan-jalan yang membelah ko¬ta Hang-ciu tampak sepi, sama sekali tidak mencerminkan bahwa seharian tadi orang baru saja bersuku ria menyambut kedatangan Tahun Baru: Malam ini semua orang tampaknya benar-benar ingin. me¬ngaso setelah seharian penuh mereka tak beristirahat.
Yang masih kelihatan hidup dan ber¬gerak di jalan-jalan itu hanyalah hewan-hewan piaraan seperti anjing, kucing dan lain sebagainya. Mereka masih berkeliar¬an di jalan-jalan untuk mengais sisa-sisa makanan yang dibuang orang di pinggir jalan.
Tampaknya penduduk kota itu benar-benar telah dicekam oleh mimpi mereka masing-masing, sehingga kedatangan ke¬reta Liu Wan itu sama sekali tak meng¬goyahkan tidur mereka. Lo Kang dan Lo Hai yang amat setia itu membawa kere¬ta tersebut ke penginapan. Suara roda besinya yang geludak-geluduk itu terde¬ngar amat nyaring dan berkumandang memenuhi jalanan. Dari jauh suaranya seperti genderang perang yang ditabuh di malam hari, nikmat namun juga meng getarkan hati.
Kereta itu berhenti di depan pengi¬napan. Lo Hai turun membukakan pintu dan mempersilakan Liu Wan dan Tio Ciu In untuk menemui pemilik penginapan itu sendiri.
"Ciu-moi, malam ini kita beristirahat dulu di penginapan ini. Besok pagi kita lanjutkan usaha kita untuk mencari Adik¬mu. Marilah... kau tidak usah curiga atau ragu-ragu. Aku telah mengenal de¬ngan baik pemilik penginapan ini. Lo Kang dan Lo Hai telah memesan dua ka¬mar untuk kita berdua. Ayo...!
Sesaat Tio Ciu In masih merasa ragu. Tapi di lain saat melihat kesungguhan hati Liu Wan, hatinya menjadi tenteram pula.
"Baiklah, Twako...." desahnya pelan tanpa berani memandang Liu Wan.
"Bagus. Nah, Lo Kang dan Lo Hai, ka¬lian kembalilah ke pondok kita di tengah empang itu! Tunggulah aku di sana!" pe¬muda itu memberi perintah kepada pem¬bantunya.
*
**
Demikianlah, sepera yang telah dice¬ritakan di bagian depan, malam itu Tio Ciu In sama sekali tak bisa memejam¬kan matanya. Bayangan wajah Siau In yang lincah dan bandel itu selalu melin¬tas dan menggoda hatinya. Adiknya itu memang nakal dan usil sehingga sering¬kah sangat menjengkelkan hatinya. Tapi bagaimanapun juga gadis itu adalah satu-satunya keluarga yang dimilikinya di du¬nia ini.
Untuk kesekian kalinya Tio Ciu In menarik napas panjang. Panjang sekali, la mengenang nasibnya. Nasib perja¬lanan hidupnya dengan Siau In, adiknya. Sejak kecil mereka diasuh oleh gurunya, Giam Pit Seng, seorang tokoh aliran Im-yang-kau.
Menurut cerita gurunya, dia dan adik¬nya dulu diambil dari dekapan seorang nelayan tua yang mati akibat kebiadaban bajak laut yang menjarah rayah kam¬pungnya. Nelayan she Tio itu menitipkan dia dan adiknya kepada Giam Pit Seng agar dirawat seperti anaknya sendiri.
Kebetulan Giam Pit Seng juga tidak memiliki anak isteri pula, sehingga keda¬tangan dia dan adiknya itu benar-benar sangat membahagiakan hati pendekar pit (pena) tersebut. Dia dan Siau In be¬nar-benar dianggap sebagai anak sendiri, diasuh dan diberi pelajaran ilmu silat tinggi. Waktu itu dia sudah berusia enam tahun, sementara Siau In berumur tiga tahun.
Menurut Giam Pit Seng, dia dan Siau In. adalah anak-anak yang cerdas dan cerdik, sehingga semua pelajaran ilmu si¬lat dan ilmu sastra yang diberikan oleh gurunya itu cepat sekali diserap dan di-terima. Namun demikian sesekali guru¬nya itu masih mengeluh karena mereka berdua adalah wanita. Gurunya juga menginginkan seorang murid lelaki, yang akan diwarisi ilmunya Hok-hong Pit-hoat.
Dan keinginan Giam Pit Seng itu akhirnya terkabul juga. Setelah mengasuh dia dan Siau In selama empat tahun, suatu hari Giam Pit Seng membawa se¬orang anak lelaki berusia dua belas tahun ke rumah. Anak yang lebih tua dua ta¬hun dari dia itu bernama Tan Sin Lun, putera seorang kepala desa, sahabat Giam Pit Seng.
Meskipun lebih dulu berguru kepada Giam Pit Seng, tetapi dia dan Siau In memanggil suheng kepada Tan Sin Lun. Hubungan mereka bertiga sangat baik dan rukun seperti saudara sekandung sa¬ja. Hal itu berlangsung hingga mereka menjadi dewasa.
Setelah menjadi dewasa itulah lambat laun tali hubungan mereka semakin beru¬bah. Kata orang, dia dan adiknya memili ki wajah yang sangat cantik sehingga orang orang selalu memandang kagum kepada mereka. Dan anggapan seperti itu akhir¬nya menular pula kepada Tan Sin itu jatuh cinta kepadanya. Dan rasa cin¬ta itu selalu diperlihatkan oleh suhengnya apabila tiada seorang pun di dekat mereka.
Selama ini dia memang belum paham akan perasaannya sendiri. Ia memang menyukai Tan Sin Lun, karena sejak kecil mereka selalu bersama-sama. Tapi ia tidak tahu, rasa sukanya itu berdasarkan rasa cinta atau cuma rasa sayang saja. Ia memang senang selalu berdekatan dengan suhengnya itu, tapi selama ini ia tak pernah berpikir atau membayangkan bah¬wa ia akan menjadi jsuami isteri dengan Tan Sin Lun. Selama ini ia hanya berpi¬kir bahwa Tan Sin Lun adalah pemuda yang baik hati dan berjiwa ksatria. Itu saja. Lain tidak. Itulah sebabnya ketika kemarin siang Tan Sin Lun mencium pipinya, ia menjadi tersinggung dan marah.
Sekali lagi Tio Ciu In menghela napas panjang. Tiba-tiba saja bayangan Liu Wan berkelebat di depan matanya. Pe¬muda yang baru dijumpainya kemarin si¬ang itu seperti telah dikenalnya berta¬hun-tahun. Wajahnya, kepandaiannya, sikapnya serta semua tindakannya, rasa¬nya selalu mengundang kagum di hati¬nya.
Tiba-tiba Tio Ciu In menjadi jengah sendiri. Belum-belum ia telah memper¬bandingkan Liu Wan dengan Tan Sin Lun.
Tok! Tok! Tok!
Tio Ciu In terkejut. Pintu kamarnya diketuk orang. Bergegas turun dari pem¬baringan dan mengenakan . baju luarnya. Sebelum membuka pintu ia merapikan dulu rambutnya.
"Selamat pagi, gadis ayu...!" Liu Wan memberi salam.
"Eh-oh... pukul berapa sekarang?" Tio Ciu In menjawab gugup.
Tiba-tiba berhadapan dengan orang yang baru saja dilamunkan membuat ga¬dis itu gugup tidak keruan. Untunglah Liu Wan seorang pemuda yang pandai bicara, sehingga rasa kikuk dan malu yang mengharu biru di hati Tio Ciu In segera menghilang pula.
"Hei, kau jadi mencari adikmu tidak? Hari sudah siang. Lihatlah, matahari te¬lah berada di atas atap! Mengapa kau belum bangun juga? Apakah mimpimu indah sekali? Ahaa, tahulah aku! Kau tentu bermimpi jadi pengantin, sehingga kau menjadi segan untuk bangun. Peng¬antin lelakinya tentu... tentu...."
"Apaaa...? Coba, siapa...? Siapa Se¬butkan! Sekali kau kesalahan omong, aku akan pergi dan tak mau kenal kau lagi!" seru Tio Ciu In gemas. Matanya membe¬lalak, pipinya merah.
Liu Wan meringis dan tak berani menggoda lagi. "Maaf, Ciu-moi.... Jangan marah. Aku cuma ingin bercanda dengan¬mu. Entah mengapa, pagi ini hatiku me¬rasa gembira bukan main, sehingga rasa-nya aku jadi ingin menggoda siapa saja yang kutemui."
Tio Ciu In mencibirkan mulutnya. "Huh! Dasar...! Kalau mau bercanda li¬hat-lihat dulu orangnya! Jangan asal sambar saja! Huh, coba katakan terus terang! Siapa yang hendak kausebutkan sebagai... pengantin lelaki? Suhengku, bu¬kan?" sergahnya kemudian dengan nada tetap marah-marah.
"Haaah...?" Liu Wan berdesah kaget.
Mulutnya ternganga, matanya melotot. "Sungguh mati aku tak bermaksud me¬ngatakan seperti itu! Sumpah!"
Kini giliran Tio Ciu In yang terce¬ngang keheranan. "Kau tidak* bermaksud mengatakan seperti itu? Lalu... lalu apa yang hendak kaukatakan?" suara Tio Ciu In merendah. Wajahnya menjadi pucat.
Mendadak air muka Liu Wan menjadi merah padam. Sikapnya menjadi kikuk dan kemalu-maluan, persis seperti pe¬ngantin yang sedang dipertemukan di de¬pan tamu.
"Apa...? Apa yang hendak kaukatakan tadi?" Tio Ciu In mendesak penasaran.
Sambil cengar-cengir Liu Wan me¬mandang Tio Ciu In. Masih kelihatan ra¬sa takutnya kalau-kalau gadis itu akan menjadi marah lagi.
"Aku tadi ingin mengatakan bahwa... pengantin prianya adalah aku sendiri!" akhirnya pemuda itu berani juga menga¬takannya.
Wajah yang putih mulus itu tiba-tiba berubah menjadi merah seperti udang di¬rebus. Tanpa mengatakan apa-apa lagi pintu kamarnya dibanting.
"Ciu-moi... Ciu-moi! Maafkanlah aku!" Liu Wan berseru sambil berusaha membuka pintu itu dari luar, tapi tidak bisa. Tio Ciu In menguncinya dari dalam.
"Wah, gawat...! Dia benar-benar ma¬rah sekarang! Huh... inilah akibatnya kalau orang suka bergurau!" Liu Wan meng¬gerutu sambil menggaruk-garuk kepa¬lanya yang tidak gatal.
Dengan lesu pemuda itu melangkah meninggalkan kamar Tio Ciu ln. Wajah¬nya yang semula cerah dan gembira itu kini kelihatan susah dan sedih. Hatinya sungguh-sungguh amat menyesal telah menggoda Tio Ciu In tadi. Seharusnya dia tidak omong sembarangan di depan Tio Ciu In yang sedang bersusah hati ka¬rena kehilangan adiknya itu.
"Tapi apa hendak dikata, nasi telah menjadi bubur. Mulutku ini kadang-ka¬dang memang terlalu ceriwis, sehingga sering membuat gara-gara."
Liu Wan lalu melangkah ke ruang makan. Di ruangan yang luas itu sudah banyak orang, sebagian besar adalah tamu-tamu yang menginap di rumah pe¬nginapan itu sendiri. Rata-rata mereka telah bersiap-siap untuk meninggalkan penginapan itu. Ada yang hendak mene¬ruskan perjalanannya, ada pula yang akan pulang ke kampung setelah menyaksikan perayaan Tahun Baru yang sangat meriah kemarin.
"Tuan Liu...! Ah, hampir saja kami kehilangan jejak Tuan tadi malam. Un¬tunglah ada seorang teman kami yang melihat Tuan masuk ke penginapan ini." tiba-tiba terdengar suara orang menegur.
Liu Wan menoleh. Seorang pemuda gagah bangkit dari kursinya dan berge¬gas menghampiri dirinya. Liu Wan sege¬ra mengenalnya sebagai Ku Jing San, pe¬muda yang ditemuinya tadi malam di Ku¬il Pek-hok-bio.
"Oh, Saudara Ku Jing San rupanya. Bagaimana Saudara Ku tahu aku mengi¬nap di sini?" Liu Wan menyambut tegur¬an pemuda itu dengan ramah pula.
"Ah, mudah saja. Bukankah di kota ini banyak anggota Kai-pang yang berke¬liaran? Tuan Liu marilah kita duduk semeja saja di sana. Nanti kuperkenalkan dengan suhengku. Dia baru saja datang di kota ini beberapa saat yang lalu. Dia ingin sekali berkenalan dengan Tuan Liu, sekalian mengucapkan rasa terima kasih atas bantuan Tuan membebaskan Sumoi kami."
Liu Wan memandang ke meja yang ditunjuk oleh Ku Jing San. Di sana telah berdiri seorang pemuda tampan bertubuh tinggi tegap bersama Song Li Cu. Mere¬ka berdua tampak tersenyum menanti¬kan kedatangannya. Liu Wan menjadi ki¬kuk dan tidak enak hati.
"Wah, Saudara Ku terlalu membesar-besarkan masalah sepele seperti itu. Aku malah menjadi malu...." Liu Wan meng¬gerutu, tapi terpaksa menurut saja keti¬ka lengannya ditarik Ku Jing San ke me¬janya.
Pemuda bertubuh tinggi tegap itu memberi hormat kepada Liu Wan dan mempersilakan Liu Wan untuk duduk di depannya. Dengan berat hati Liu Wan terpaksa mengikuti saja kemauan mereka.
"Maaf, kami telah mengganggu Saudara Liu Wan pagi ini." Pemuda tinggi te¬gap itu membuka pembicaraan. "Perke¬nalkan, aku yang rendah adalah saudara seperguruan tertua dari Ku. Jing San dan Song Li Cu ini. Namaku Kwe Tek Hun. Atas nama adik-adikku ini aku mengu¬capkan banyak terima kasih atas bantu¬an Saudara Liu Wan tadi malam."
Liu Wan tersenyum dan melirik ke arah Song Li Cu, tapi yang dilirik sedang asyik mengawasi toa-suhengnya yang ga¬gah ganteng itu.
"Ah, Saudara Kwe... kau keliru! Aku sama sekali tidak merasa telah memban¬tu Saudara Ku Jing San dalam membe¬baskan Nona Song Li Cu. Dia sendirilah yang sebenarnya telah membebaskan su-moinya. Aku hanya kebetulan saja di sa¬na, karena aku juga sedang mencari adik ku yang hilang." Liu Wan cepat menyang gah perkataan Kwe Tek Hun.
Sambil berkata Liu Wan menepuk pundak Ku Jing San, seakan-akan hen¬dak mengatakan bahwa yang sebenarnya sangat berjasa di dalam pembebasan Song Li Cu itu adalah Ku Jing San sendiri Bukan dirinya.
Ku Jing San tampak tersipu, namun kilatan matanya menunjukkan bahwa ia sangat senang dan bangga mendengar perkataan tersebut. Berkali-kali matanya yang polos jujur itu menatap ke arah su-moinya, walaupun Song Li Cu sendiri tampak acuh tak acuh terhadapnya. Ga¬dis cantik itu masih tetap memandangi Kwe Tek Hun yang tampan dan gagah.
Diam-diam Liu Wan menghela napas. Ia melihat sesuatu yang kurang serasi di antara mereka. Tampaknya ada jalin¬an cinta segitiga yang ruwet di antara tiga saudara seperguruan itu.
"Cinta... cinta. Kau memang aneh. Kadang-kadang kau bisa membuat orang merasa sangat berbahagia. Namun sering kali pula kau membikin orang menjadi sangat menderita. Hemmmmmmmmm...!" Liu Wan mengeluh di dalam hati.
Melihat tamunya termenung diam se¬perti sedang memikirkan sesuatu, Kwe Tek Hun cepat menghibur. "Saudara Liu, bagaimanapun juga kami tetap mengang¬gap bahwa kau telah membantu kami membebaskan Song Li Cu. Dan untuk membalas kebaikan Saudara Liu itu ka¬mi telah berjanji pula akan membantu mencari adik Saudara Liu yang hilang. Bahkan kami juga akan meminta perto¬longan orang-orang Tiat-tung Kai-pang untuk mencarinya."
Wajah Liu Wan menjadi cerah dengan tiba-tiba. Usul Kwe Tek. Hun itu benar-benar amat bagus dan menggembirakan hatinya. Dengan pertolongan orang-orang Kai-pang, jejak Tio Siau In tentu akan mudah diketahui. Bukankah ratusan ang¬gota Tiat-tung Kai-pang yang ada di da¬erah itu .setiap harinya selalu tersebar di segala tempat? Bukan mustahil salah seorang di antaranya pernah melihat ke-pergian Tio Siau In.
"Terima kasih, Saudara Kwee... teri¬ma kasih. Aku sungguh-sungguh sangat gembira dan berterima kasih sekali bila Saudara Kwe dan kawan-kawan dari Tiat-tung Kai-pang mau' membantu aku men-cari adikku."
Kwe Tek Hun tersenyum puas. "Ba¬gus. Kalau begitu mau tunggu apa. Lagi?
Marilah kita sekarang menemui Jeng-bin Lo-kai (Pengemis Tua Bermuka Seribu) yang kebetulan berada di kota ini. Nanti aku yang akan berbicara kepadanya."
"Jeng-bin Lo-kai...? Siapakah dia?" Liu Wan bertanya pelan.
"Dia adalah Hu-pangcu (Wakil Ketua) Tiat-tung Kai-pang. Kepandaiannya amat tinggi, terutama di bidang berdandan dan menyamar, sehingga ia dijuluki orang Jeng-bin Lo-kai. Dia pulalah yang telah mendandani Ku Jing San tadi malam."
"Apakah dia juga ikut datang di kuil Pek-hok-bio tadi malam?"
"Benar. Dia memang ikut memimpin anak buahnya di halaman kuil itu. Bah¬kan dia sempat mengutarakan kekaguman nya ketika Tuan Liu dengan amat berwi¬bawa menghentikan pertempuran dari atas pendapa. Namun ketika dia ingin bersua dan berkenalan, ternyata Tuan Liu sudah pergi." Ku Jing San yang se¬jak duduk di kursi tadi hanya berdiam diri saja, tiba-tiba menjawab pertanyaan Liu Wan.
"Ah, maaf... aku memang segera me-
tidak ingin mengganggu...."
Suara Liu Wan sekonyong-konyong me rendah. Begitu pula halnya dengan tamu-tamu yang lain. Suara percakapan dan o-brolan yang ramai di dalam ruangan itu mendadak menurun, bahkan hampir terhen ti sama sekali. Semua mata memandang keluar, ke pintu yang menghubungkan ru-ang makan tersebut dengan pendapa depan.
Seorang gadis remaja yang cantik se¬kali, berusia antara enam belas atau tu¬juh belas tahun, dengan pakaian dan per¬hiasan mahal, tampak melangkah lincah ke dalam ruangan itu. Tubuhnya yang kecil namun berbentuk indah itu meleng¬gang sedikit genit ke arah meja yang kosong. Sikapnya sangat tenang dan be¬rani, bahkan terasa agak dingin dan pe¬nuh percaya diri, sehingga orang-orang yang ada di dalam ruangan itu tak ada yang berani bersikap kurang ajar. Apala¬gi ketika gadis cantik itu meletakkan kipasnya di atas meja. Sebuah kipas yang sangat aneh karena kipas tersebut terbuat dari lembaran baja tipis bermata tajam. lima orang lelaki dan seorang wanita, lalu hidangkan di atas meja ini! Nih, kau bawa sekalian uang pembayarannya!" ga¬dis itu berkata nyaring seraya memberi-kan uang dua tail perak. Suaranya terde¬ngar bening dan merdu sehingga pelayan itu menjadi bengong seperti orang yang kesengsem mendengarkan suara buluh pe¬rindu.
Pelayan itu menjadi gugup dan salah tingkah melihat uang sebanyak itu.
"Ini...ini, eh... ini terlalu banyak, Sio-cia. Satu tail pun sudah lebih dari cu¬kup untuk memenuhi meja ini...."
"Sudahlah! Kaubawa saja uang ini! Aku memang sengaja membayar dua kali li¬pat. .Tapi ingat...! Kalau masakanmu ti¬dak bisa memenuhi seleraku, nasibmu dan nasib rumah makanmu, ini benar-benar akan menjadi jelek sekali! Nah, pergi¬lah...!"
Mata yang bulat indah itu menatap dingin seperti mengandung ancaman, membuat pelayan itu meremang bulu ku¬duknya. Entah mengapa sikap gadis can¬tik itu benar-benar amat berwibawa dan menggiriskan hati.
"Ba-baik, Sio-cia...."
Hampir serentak para pengunjung restoran itu menghela napas panjang. Dalam waktu yang cuma sesaat tadi me¬reka seperti disuguhi sebuah pemandang¬an yang menegangkan. Demikian pula halnya dengan Liu Wan dan Kwe Tek Hun bersaudara. Tak terasa sikap dan tingkah laku gadis cantik itu telah mama. pu merampas dan mempengaruhi perha¬tian mereka berempat.
"Saudara Kwe mengenal dia?" Liu Wan bertanya perlahan kepada Kwe Tek Hun.
Pemuda tinggi tegap itu menggeleng¬kan kepalanya. "Tidak. Aku belum pernah melihat dia. Tapi kipasnya itu...?" tiba-tiba pemuda itu menghentikan kata-kata¬nya. Matanya memandang ke arah pintu yang menghubungkan ruangan itu dengan ruang dalam.
Semua pengunjung yang sudah mulai mengobrol lagi itu sekonyong-konyong menghentikan pula obrolan mereka se¬perti halnya Kwe Tek Hun. Pandangan mereka juga tertuju pula ke pintu da¬lam, ke arah Tio Ciu In yang mendadak keluar menuju ruang makan tersebut.
Tidak seperti biasanya, kali ini Tip Ciu In memang berdandan sedikit luar biasa. Tubuhnya yang tinggi lentur itu dibalut pakaian berwarna hijau muda, se¬hingga kulitnya yang putih halus itu tampak semakin cerah dan segar dipan¬dang mata. Rambutnya yang biasanya cuma dikepang dan dibiarkan terurai di belakang punggungnya itu sekarang di¬sanggul ke atas seperti layaknya gadis-gadis pingitan. Maka tidaklah menghe¬rankan bila wajahnya yang sudah ayu itu menjadi semakin cantik seperti bidadari.
"Gila! Rasanya seperti bermimpi sa¬ja... melihat dua bidadari di pagi hari!" seorang tamu yang duduk di sebelah me¬ja Liu Wan berdesah tak terasa.
Ternyata kali ini Kwe Tek Hun juga tak bisa menyembunyikan kekagumannya.
Matanya menatap tak berkedip ke arah Tio Ciu In yang melenggang lembut men¬dekati mereka berempat. Dan matanya mungkin akan terus melotot kalau Song Li Cu tidak segera menggamit lengan¬nya dengan perasaan tak senang.
"Huh...!" Song Li Cu yang mendadak merasa seperti kehilangan kecantikannya di depan gadis-gadis ayu yang baru saja datang itu bersungut-sungut kesal.

Jilid 6                                                                                                          Jilid 8