Rabu, 20 September 2017

PENDEKAR PEDANG PELANGI 2




JILID II

SEKALI lagi lelaki beruban itu tersenyum.

“Nah… inilah salah satu jebakan yang dibuat oleh panitia perlombaan. Barang itu memang  cuma sebuah patung. Tapi kenapa mesti berbentuk Kaisar Han Kou Cou yang kita hormati? Mengapa bukan bentuk patung yang lainnya? Nah… peserta yang cerdik tentu bisa menebak maksudnya. Dan… inilah memang yang dicari oleh panitia perlombaan, yaitu kecerdikan! Jadi selain berbakat, bertulang baik, cerdik, juga sikap pengabdiannya kepada raja. Kalau semua persyaratan itu dapat terpenuhi, tentu saja peserta itu akan lulus….”

Pemuda berotot kekar itu mengangguk-anggukkan kepalanya. “Ya… ya, benar…!” ucapnya lirih penuh penyesalan.

“Yah, sudahlah. Kau tak perlu menyesal lagi.Tahun depan kau bisa mencobanya kembali.

Pemuda itu tak menjawab. Wajahnya tertunduk lesu, dan untuk beberapa saat ia terdiam seperti orang kehilangan akal. Ia baru tersadar kembali ketika para penonton di sekelilingnya bertepuk tangan menyambut keberhasilan peserta berikutnya.

“Oh…!?!” Tiba-tiba pemuda itu berseru kaget.

Kepalanya melongok ke sana ke mari.

“Hohooho-hehe…! Kau mencari siapa, heh?”seorang kakek berwajah menakutkan yang tahu-tahu berdiri di dekatnya bertanya dengan suara serak.

“Di-di manakah orang tua yang berada di sini tadi?” pemuda itu bertanya pula dengan suara gemetar.

Kakek itu tertawa. Suaranya terdengar mengerikan, karena bibirnya yang lebar dengan mulut melompong tak bergigi itu cuma bisa menciptakan suara desah napas yang tersengal-sengal.

“Apakah orang itu yang kau cari…?” sekonyong-konyong seorang pemuda menyela di antara mereka, seorang pemuda berperawakan jangkung kurus, tangannya menunjuk ke pohon siong besar yang tumbuh di samping pendapa.

Pemuda itu menjadi heran, karena orang yang baru saja berbicara dengan dia tadi memang sudah berdiri di bawah pohon siong bersama orang lain. Rasanya memang aneh. Pohon itu ada sepuluh tombak lebih jaraknya, dan untuk pergi ke sana harus melewati kerumunan penonton yang memadati tempat itu.

Namun demikian hanya dalam sekejap orang itu telah berada di sana, dan bahkan tanpa sepengetahuannya pula.

“Ya-ya… memang dia yang… eh?!?” Sekali lagi pemuda itu terkejut. Pemuda jangkung dan kakek mengerikan tadi ternyata sudah tidak ada pula di sampingnya. Rasanya seperti hantu yang dapat menghilang begitu saja.

“Ah…!” desahnya pucat dan tiba-tiba ingatannya seperti terbuka kembali. “Pemuda itu! Bukankah dia yang membuat keributan tadi?”

Sementara itu di bawah pohon siong lelaki beruban itu masih berbicara dengan temannya. Lelaki itu tampak sangat penasaran, sedangkan kawannya kelihatan lesu dan kehilangan semangat.

“Jadi… kau tak bisa menangkapnya? Lalu di mana dia sekarang?”

“Suheng, apa yang dikatakan Tong Tai-su memang benar. Mulai sekarang kita harus berhati-hati. Pemuda itu sedang berusaha menyelidiki “Perlombaan Mengangkat Arca”. Kepandaiannya hebat sekali dan aku sama sekali bukan tandingannya. Apalagi dia tidak sendirian….”

“Dia tidak sendirian? Eh, Su Hiat Hong… tolong kauceritakan saja semuanya agar jelas!”

Orang yang bernama Su Hiat Hong itu memandang ke sekelilingnya. Dilihatnya semua orang melihat ke arah panggung dan tak seorang pun memperhatikan mereka.

“Baiklah, Lim Suheng, akan kuceritakan….”

Ketika berusaha mengejar pemuda pengganggu panggung lui-tai tadi, ternyata Su Hiat Hong telah kehilangan jejak. Pemuda kurus kerempeng itu lenyap berbaur dengan penonton yang berjubel. Walaupun Su Hiat Hong berusaha mencari, namun pemuda itu tetap tak bisa diketemukan. Akhirnya Su Hiat Hong melangkah ke jalan, menuju warung A Liong tadi.

Tiba-tiba mata Su Hiat Hong terbelalak. Dari jauh dilihatnya pemuda itu keluar dari warung A Liong dan berjalan cepat ke utara. Langkahnya tampak amat tergesa-gesa, menyelinap ke sana ke mari di antara para pejalan kaki yang lalu lalang di jalan.Su Hiat Hong cepat mengikuti dari belakang.

Dengan berlari-lari kecil ia berusaha mendekatinya.Tapi pemuda itu seperti merasa kalau sedang diikuti. Satu kali kepalanya menoleh ke belakang, lalu berjalan lebih cepat lagi, sehingga lagi-lagi Su Hiat Hong kehilangan jejak. Pemuda itu hilang di antara kerumunan orang.

Su Hiat Hong melangkah perlahan-lahan sambil berusaha menemukan kembali buruannya. Kakinya melangkah sampai ke Pintu Gerbang kota sebelah utara, tapi pemuda itu tetap tidak kelihattan batang hidungnya. Tak terasa kakinya melangkah ke luar Pintu Gerbang, berjalan di atas jembatan gantung yang melintang di atas parit besar yang mengelilingi tembok kota. Beberapa orang prajurit pengawal pintu gerbang tampak berjaga-jaga di kanan kiri jembatan tersebut. Mereka juga kelihatan santai dan bergembira meskipun harus tetap bertugas di hari bahagia itu.

Sekali lagi Su Hiat Hong terkejut. Tak terduga matanya yang mengawasi jalan lurus di luar tembok kota itu melihat bayangan pemuda yang diburunya. Meskipun amat jauh, tapi mata Su Hiat Hong segera dapat mengenalnya.Tanpa membuang waktu lagi Su Hiat Hong melompat mengejarnya. Ia tak mempedulikan pandangan orang yang berpapasan dengannya. Tapi pemuda yang diburunya itu sekonyong-konyong juga berlari pula. Semakin lama menjadi semakin cepat, sehingga akhirnya mereka berdua saling berkejaran di jalanan itu.Su Hiat Hong merasa dongkol dan penasaran.

Pemuda itu seperti mempermainkannya. Larinya kadang-kadang cepat, kadang-kadang lambat. Apabila jaraknya terlalu jauh pemuda itu mengendorkan langkahnya. Tetapi bila sudah dekat, tiba-tiba kakinya melompat dengan langkah yang panjang-panjang.

Semakin jauh jalan itu semakin sepi dan jelek keadaannya. Di kanan-kiri jalan mulai terlihat semak belukar dan pohon-pohon besar. Bahkan agak jauh dari jalan sudah terlihat hutan rimba. Tiba-tiba pemuda itu membelokkan langkahnya ke dalam hutan, dan sedetik saja bayangannya telah lenyap.

Su Hiat Hong berbelok dan menerobos hutan itu pula. Namun beberapa saat kemudian ia menjadi sadar, bahwa sangat berbahaya memburu musuh di dalam hutan. Salah-salah dirinya bisa terjebak atau dibokong lawan dari belakang.

“Kurang ajar…!” geramnya perlahan sambil menghentikan langkah.

Dengan penuh kewaspadaan Su Hiat Hong mengawasi lebatnya semak belukar di depannya. Hatinya benar-benar menjadi geram. Perasaannya mengatakan bahwa pemuda itu telah tahu kalau sedang diikuti dan kini sedang berusaha mempermainkannya.

“Ah, sudahlah. Lebih baik aku kembali saja. Tak baik aku menurutkan perasaan. Salah-salah malah bisa celaka kalau aku nekad menerobos hutan ini. Hemm, siapa tahu anak itu sudah menunggu dan memasang jebakan di balik rimbunnya dedaunan? Yaaah, sudahlah….”

Su Hiat Hong membalikkan tubuhnya dan melangkah keluar dari hutan itu. Tapi baru beberapa tindak ia berjalan, mendadak telinganya mendengar suara orang bernyanyi. Suaranya tidak terlalu keras, namun sangat jelas ucapan maupun kata-katanya.

Diam-diam Su Hiat Hong menjadi tegang. Suara itu justru berasal dari jalan yang dia lalui tadi.
Burung kecil terbang sendiri.Tiada kawan tiada saudara.Menentang badai di medan laga. Dengan cucuran darah dan air mata!

Su Hiat Hong berhenti beberapa tombak dari pinggir jalan. Matanya tertuju ke sebatang pohon pek besar yang rindang di tepi jalan. Di bawah pohon itu kelihatan seorang pemuda yang duduk melenggut sambil bernyanyi. Dan Su Hiat Hong segera mengenalnya, karena orang itu tiada lain adalah pemuda yang diburunya.

“Gila!” Su Hiat Hong mengumpat di dalam hati.

“Bocah itu benar-benar sedang mempermainkan aku. Aku harus hati-hati. Ia seperti memiliki kepandaian yang tinggi.”

Selangkah demi selangkah Su Hiat Hong datang menghampiri, kemudian berhenti beberapa langkah dari pemuda itu. Pemuda itu mengangkat wajahnya dan menghentikan nyanyiannya. Su Hiat Hong terkejut. Setelah melihat dari jarak dekat barulah ia ketahui betapa masih mudanya orang itu. Muda dan tampan, walaupun caranya berpakaian kurang rapi dan berkesan seenaknya sendiri.

“Hemm, apakah Tuan mencari aku?” dengan suara berat pemuda itu bertanya.

Pertanyaan itu membuat Su Hiat Hong menjadi gugup dan bingung, karena sebenarnya ia juga tak tahu untuk apa mengejar pemuda tersebut. Ia cuma melaksanakan perintah kawannya, sehingga tidak siap kalau mendadak harus berhadapan seperti itu.

“Ya-ya, benar… eh-eh, aku ingin tahu… siapa sebenarnya kau ini?”

Tak terduga pemuda itu tertawa nyaring. “Hahaha, sungguh aneh! Akulah sebenarnya yang harus bertanya kepada Tuan, bukan sebaliknya. Tuanlah yang mengejar-ngejar aku. Ingin bertemu atau ingin…

menangkap aku, padahal aku tidak merasa kenal dan tidak merasa mempunyai urusan dengan tuan.”

Pemuda itu perlahan-lahan berdiri. Wajahnya yang agak pucat dengan pandang mata dingin itu sungguh terasa mencekam dan menggiriskan hati. Tak terasa kaki Su Hiat Hong melangkah setindak ke belakang.

“Tuan, aku bertanya kepadamu. Siapakah…engkau? Mengapa engkau mengejar ngejar aku? Jawablah!” pemuda itu mendesak dengan suara berubah kaku.

Wajah Su Hiat Hong menjadi merah. Bagaimanapun juga ia tak ingin ditekan orang. Apalagi ia merasa memiliki kedudukan tinggi dan mendapatkan tugas khusus dari kota raja

“Ketahuilah, Anak muda. Aku seorang utusan dari kota raja, yang menangani urusan “Perlombaan Mengangkat Arca” di kota Hang-ciu ini. Nah, engkau tadi telah membuat ribut di atas panggung. Itulah sebanya aku mengejarmu. Pahamkah kau sekarang?”

Su Hiat Hong balas menggertak.

Pemuda itu tertegun. “Oh, jadi Tuan adalah petugas khusus dari kota raja? Wah-wah, maafkanlah aku Ciang-kun. Mataku benar-benar buta, tak bisa melihat gajah di depan hidung….” katanya kemudian sambil membungkukkan tubuh.

Su Hiat Hong mendengus dan tak mempedulikan sikap lawannya, la tahu pemuda itu cuma berbasa-basi saja. la melihat senyum tipis di bibir pemuda itu.
“Engkau tak perlu berbasa-basi, apalagi menyebut Ciang-kun kepadaku. Aku hanya seorang utusan, jadi belum tentu aku ini seorang perwira. Bukankah aku tidak mengatakannya kepadamu?”

Mata yang dingin tajam seperti mata burung hantu itu mendadak berubah menjadi liar, seperti layaknya burung hantu kalau lagi marah. Otomatis kaki Su Hiat Hong melangkah lagi setindak ke belakang. Namun sekejap kemudian mata itu menjadi tenang kembali. Bahkan dari hidung pemuda itu terdengar suara tarikan napas yang panjang sekali.

“Ah, Ciang-kun… kau tak perlu berbohong kepadaku. Rasanya semua orang juga bisa menebaknya, karena seorang yang mendapatkan kepercayaan dari kota raja untuk mengatasi jalannya perlombaan penting itu tentulah bukan petugas berpangkat rendah. Dan khusus untuk “Perlombaan Mengangkat Arca”, yang konon diselenggarakan untuk mencari bibit bibit Pasukan Pengawal Istana, tentunya utusan yang dikirim juga dari kalangan pasukan istana, bukan?”

Su Hiat Hong menghela napas panjang melihat kecerdikan lawannya. Ia semakin berhati-hati menghadapi pemuda itu.

“Terserah kepadamu. Aku tak ingin berbantah tentang hal ini. Sekarang katakan saja kepadaku, siapakah namamu? Darimana asalmu? Dan apa maksudmu membuat ribut di panggung tadi?”

Pemuda itu menengadahkan kepalanya, lalu tersenyum, sehingga seorang perwira kerajaan yang memiliki banyak pengalaman seperti Su Hiat Hong pun tidak bisa menebak apa yang sedang berkecamuk di dalam hati pemuda aneh itu.

“Baiklah, Ciang-kun, akan kujawab pertanyaanmu, walaupun sebenarnya aku tak menyukainya. Aku hanya berharap bahwa Ciang-kun nanti juga akan mau. menjawab pertanyaanku pula.”

“Asalkan aku bisa menjawab dan tidak bertentangan dengan rahasia negara, aku tentu akan menjawabnya….”

Sekali lagi pemuda itu menentang mata Su Hiat Hong dengan tajam.

“Ci-angkun, namaku Tong Sia…Chin Tong Sia. Aku adalah anggota Aliran Beng-kau yang berpusat di kota Sin-yang!”

Jawaban itu benar-benar mengejutkan Su Hiat Hong. Banyak sekali aliran keagamaan yang tumbuh dan berkembang pesat pada saat itu, tapi hanya beberapa aliran saja yang benar-benar besar, terkenal dan disegani orang, yaitu Aliran Mo-kau, Im-yang-kau dan Beng-kau! Selain mempunyai anggota yang amat banyak dan tersebar di seluruh pelosok negeri, ketiga aliran agama itu memiliki banyak tokoh-tokoh sakti di dalamnya. Namun demikian dari ketiga a-liran itu Beng-kau – lah yang paling banyak dipergunjingkan orang. Selain para penganutnya sangat tertutup, aliran itu juga memiliki adat kebiasaan dan aturan-aturan yang aneh, yang tidak lazim dilakukan oleh masyarakat umum.

“Tapi aku mendengar bahwa setiap anggota Aliran Beng-kau menggunakan nama dengan huruf ‘PUT’ di depannya.”

“Benar. Setiap anggota Aliran Beng-kau yang sudah menyelesaikan pengabdian wajibnya selama sepuluh tahun, dan kemudian dianggap telah mampu menyebarkan pengaruh serta mendapatkan kepercayaan dari para sesepuh kami, maka akan memperoleh sebutan ‘PUT’ di depan namanya.”

“Apakah kau juga sudah mendapatkan sebutan itu?”

Pemuda itu mengangguk. “Nama lengkapku sekarang adalah Put-tong-sia!”
“Baiklah….” Su Hiat Hong mendesah. “Sekarang katakan yang sebenarnya, apa maksud dan tujuanmu membuat keributan di atas panggung tadi?”

Wajah pemuda itu tampak tegang kembali. Matanya kelihatan menyala, sementara giginya terkatup rapat.

“Aku tak menyukai “Perlombaan Mengangkat Arca” itu! Aku merasa ada sesuatu yang kotor di balik penyelenggaraannya. Aku tak percaya kalau perlombaan itu dikatakan untuk memperoleh bibit-bibit unggul bagi Pasukan Pengawal Istana!Semuanya bohong!” Put-tong-sia berkata dengan suara berapi-api.

Su Hiat Hong tersentak kaget. “Apa maksudmu…?”

Sekali lagi pemuda itu menggertakkan giginya.

“Maksudku? Hmh, maksudku … perlombaan itu cuma kedok belaka! Ada maksud tertentu di balik semuanya itu! Maksud-maksud  kotor yang dibuat dan direncanakan oleh oleh orang-orang atau pihak-pihak tertentu di istana kerajaan! Memang, sampai saat ini aku belum dapat membuktikannya….”

“Pu-tong-sia! Kau jangan omong sembarangan! Kau berhadapan dengan petugas kerajaan di sini, bahkan seorang petugas khusus dari istana di kota raja! Kau bisa dianggap sebagai pemberontak dan dapat ditangkap! Tahu…?” Su Hiat Hong membentak.

Akan tetapi pemuda itu sama sekali tidak takut.Kakinya justru melangkah dua tindak ke depan.
Sikapnya pun berubah menjadi dingin dan kaku.

“Persetan dengan ancaman itu! Aku tidak takut!” ucapnya tegas.

“Gila…!” Su Hiat Hong menggeram melihat kekerasan lawannya. “Apa sebenarnya alasanmu?
Mengapa kau mempunyai dugaan seperti itu?”

Put-tong-sia tidak segera menjawab. Matanya yang mencorong liar itu menatap Su Hiat Hong dengan tajamnya.

“Ciang-kun, kau tak perlu bersandiwara di depanku. Sebagai utusan langsung dari kota raja, kau tentu mengetahui rahasia di balik penyelenggaraan Perlombaan Mengangkat Arca ini. Nah, sekarang katakanlah…!”

Su Hiat Hong terkesiap. Hatinya tiba-tiba berdesir keras. Sejak semula ia memang curiga akan keanehan dan keganjilan cara pelaksanaan Perlombaan Mengangkat Arca itu. Tidak sewajarnya kalau perlombaan seperti itu sampai harus melibatkan petugas-petugas khusus dari kota raja, bahkan dengan cara rahasia pula, sementara para pejabat daerah yang seharusnya lebih tahu dan lebih bertanggung jawab tidak diikut-sertakan. Tapi sebagai petugas dia memang tak bisa berbuat apa-apa. Ia dan kawan-kawannya, seperti Lim Kok Liang dan Tong Tai-su, hanya melaksanakan tugas saja.

“Ciang-kun, mengapa kau tak menjawab?”

Su Hiat Hong menghela napas berat “Ah, kukira kau telah salah menduga Put-tong-sia. Tak ada rahasia apa pun di balik Perlombaan Mengangkat Arca itu. Percayalah!” katanya meyakinkan seperti diucapkan kepada dirinya sendiri.

Tiba-tiba Put-tong-sia tersenyum dingin.

“Benarkah, Ciang-kun? Kau berani bersumpah? Hemmm… Ciang-kun, kau memang keras kepala. Aku tahu bahwa kau tidak berkata sejujurnya. Dari caramu berbicara saja aku dapat menduga bahwa kau berbohong. Nah, Ciang-kun… jangan salahkan aku kalau aku terpaksa menggunakan kekerasan untuk memaksamu berbicara!”

Bagaimanapun Su Hiat Hong adalah seorang perwira. Hatinya menjadi panas juga didesak orang sedemikian rupa. Apa lagi orang itu cuma seorang bocah yang belum ia ketahui kemampuannya. Jelek-jelek ia bukan tokoh sembarangan di kota raja. Di kalangan para perwira Pasukan Rahasia, ilmu pedangnya Sin-ho-kiam hoat (Ilmu Pedang Bangau Sakti) belum pernah ada yang mengunggulinya.

“Huh, bagus… kau benar-benar ingin memberontak?” Su Hiat Hong menggeram seraya menghunus pedangnya.

Put-tong-sia meringis seperti mau mencemooh ancaman itu. Tanpa berkata-kata lagi tangan kanannya menyambar ke depan untuk merebut pedang lawannya. Gerakannya cepat bukan main sehingga Su Hiat Hong tersentak kaget dan buru-buru bergeser selangkah ke belakang Kemudian dengan terburu-buru pula pedang itu diputarnya di depan dada untuk menahan serangan selanjutnya.

Ternyata pemuda itu tidak melanjutkan serangannya. “Ayoh, Ciang-kun, balaslah…! Kenapa diam saja?”

“Gila! Mengapa kau tak mengeluarkan senjata? Apa kau merasa lebih hebat daripada aku?”

“Hoho-haha-hihihi…!” Tiba-tiba Su Hiat Hong dikejutkan oleh suara tawa yang menggema di antara pepohonan di tempat itu.

“Suheng…! Mengapa kau ikut kemari?” Put-tong-sia berseru.

“Apa tak boleh, heh? Kau tinggalkan aku di halaman kabupaten itu sendirian! Huh, sementara kau di sini bersenang-senang main kejar dan sembunyi! Nah, sekarang aku ikut! Carilah tempat persembunyianku, hoho-haha-hihihi…!”

Diam-diam bergetar juga hati Su Hiat Hong. Dari getaran suaranya yang kuat dan mantap, serta sulit dicari arah sumbernya itu, ia bisa menduga bahwa pemilik suara tersebut tentu telah mencapai kesempurnaan di dalam ilmunya. Celakanya, orang itu tampaknya berada di pihak lawan.

“Ah, aku sedang tidak ada waktu. Lebih baik Suheng bermain sendiri.”

“Kurang ajar, enak saja kau bicara! Masakan orang bermain sembunyi dan kejar-kejaran hanya sendirian saja? Kau-kira aku sudah gila, ya? Ayoh, cari aku! Kalau tidak mau, hmmh… kubunuh kau!” suara itu mengancam.

“Edan!” Su Hiat Hong menggerutu sambil mencari-cari di mana sumber suara itu berasal.

“Orang-orang Beng-kau memang tidak waras semuanya….”

“Tapi aku akan berkelahi dulu dengan orang ini….” sungut Put-tong-sia dengan nada kesal.

“Aku tak peduli! Pokoknya kau harus menemukan tempat persembunyianku! Kalau tidak, kubunuh kau! Habis perkara!” suheng Pu-tong-sia yang tidak mau menampakkan diri itu berteriak marah.

“Baik… baiklah, Suheng, aku akan mencarimu. Tapi… apa hadiahnya kalau kau bisa kutemukan, hei?”

Put-tong-sia buru-buru mengalah begitu suhengnya marah.

“Kau akan kugendong sampai ke kota apabila bisa menemukan aku.”

“Ah, tidak mau! Masakan cuma digendong hadiahnya?”

“Lho…? Apalagi? Bukankah enak sekali digendong orang?”

“Huh… apa enaknya digendong? Aku sudah kenyang dan bosan kau gendong.”

“Lalu kau minta hadiah apa, anak tolol?”

“Ajari aku jurus “Menerobos Lobang Pintu Jala” kebanggaanmu itu! Bagaimana?”

“Bocah Goblok! Pemalas! Tolol! Bukankah setiap hari aku dan Susiok sudah mengajarimu? Otakmulah yang tumpul sehingga jurus itu tidak bisa kau kuasai dengan baik!”

Put-tong-sia tidak menjadi marah oleh maki-makian itu. Mulutnya justru tertawa, sementara matanya memandang berkeliling, mengawasi pucuk-pucuk pepohonan yang bergoyang-goyang. Tiba-tiba pandangannya tertuju pada kawanan lebah yang beterbangan di sekeliling pohon si-ong tua di pinggir jalan. Dan di lain saat suara tertawanya menjadi semakin keras dan nyaring.

Begitu tawanya berhenti Put-tong-sia menatap Su Hiat Hong kembali. “Maaf, Ciang-kun, ternyata Suhengku datang mengganggu permainan kita. Tapi Ciang-kun tak perlu khawatir, dia takkan mencampuri urusan ini. Percayalah….!”

“Aku tidak perduli! Kalau perlu dia boleh manju sekalian mengeroyokku!”

“Ah, kukira tidak perlu, Ciangkun. Kau bisa repot melayaninya nanti. Bahkan tidak cuma kau, seluruh pasukanmu di kota raja akan menjadi repot bila berhadapan dengannya. Kau sudah mengenal Suhengku, Ciangkun?”

“Buat apa aku mengenal Suhengmu? Apakah namanya begitu hebat dan terkenal di dunia persilatan?” Su Hiat Hong mendengus.

Put-tong-sia tersenyum dan sama sekali tidak merasa tersinggung atas sikap lawannya. “Ah, Suhengku memang tidak punya nama besar di dunia kang-ouw. Nama Put-pai-siu Hong-jin (Si Gila Yang Tak Tahu Malu) memang cuma dikenal oleh jago-jago silat kampungan….”

“Put-pai-siu Hong-jin…?” Su Hiat Hong berdesah kaget.

Aliran Beng-kau memang sangat tertutup sehingga tokoh-tokohnya tidak banyak dikenal orang, kecuali nama Put-pai-siu Hong-jin tersebut. Nama itu dikenal oleh hampir setiap tokoh persilatan, meskipun banyak di antara mereka yang cuma mendengar nama itu tanpa pernah melihat wajah pemiliknya. Mereka hanya mendengar sepak terjang tokoh itu yang angin-anginan, suka membawa adatnya sendiri, namun memiliki kesaktian yang amat tinggi, sehingga orang menjadi segan berurusan dengannya.

“Ah, tampaknya Ciangkun pernah mendengar nama itu?”

“Ya-ya, aku… aku pernah mendengarnya.” Su Hiat Hong menjawab gugup.

“Hei, Sute! Bagaimana…? Kau mau tidak?” suara teriakan Put-pai-siu Hong-jin kembali terdengar.

Keras sekali, tapi Su Hiat Hong tetap tidak bisa mencari sumber suara itu.

“Pokoknya… Suheng mau mengajari jurus “Menerobos Lobang Pintu Jala” tidak?” Put-tong-sia balas berteriak.

“Baik! Baik Cepatlah! Tapi kalau sampai tiga kali kuajari kau tetap tidak bisa, kuketok kepalamu sampai benjol! Ayoh, sekarang cari aku!”

Put-tong-sia memandang Su Hiat Hong. “Ciangkun, apakah kau sudah tahu tempat persembunyian Suhengku?”

“Huh!” Perwira itu mendengus tanpa menjawab.

Put-tong-sia tertawa kecil. Tiba-tiba ia berpaling ke pohon siong tua yang tumbuh di dekat jalan.

“Nah, Suheng, kau turunlah dari pohon siong itu! Hati-hati, di dekatmu ada sarang lebah! Kau bisa dikeroyok bila menyentuhnya!”

Su Hiat Hong terkejut. Ia sama sekali tak melihat bayangan manusia di balik rimbunnya daun pohon siong tersebut. Namun rasa kaget segera berubah menjadi rasa penasaran, karena orang itu benar-benar bersembunyi di sana.

“Kurang ajar…! Bagaimana kau bisa tahu aku bersembunyi di sini?”

Pohon itu bergoyang-goyang, tapi Put-pai-siu Hong-jin tetap tidak mau menampilkan dirinya.
Hanya kawanan lebah saja yang semakin banyak beterbangan di sekeliling pohon itu.

“Ah, tololnya aku!” Su Hiat Hong berdesah di dalam hati mengumpati kebodohannya. Ternyata Put-tong-sia lebih cerdik daripada dia. Pemuda itu bisa menebak persembunyian suhengnya karena melihat gerakan kawanan lebah tersebut.

“Nah kau telah kalah bertaruh lagi, Suheng!” Put-tong-sia berseru.

“Anak Iblis! Belut Licin! Bocah Cerdik! Kawanan lebah ini memang menjengkelkan!” akhirnya Put-pai-siu Hong-jin mengumpat-umpat pula setelah mengetahui penyebab kekalahannya.

“Suheng tak perlu marah-marah, hehe he! Sekarang tunggu saja di situ, aku akan melayani Ciangkun ini dahulu!”

Su Hiat Hong cepat melintangkan pedangnya di depan dada. Sambil merendahkan tubuh ia bersiap siaga menghadapi lawannya. “Ayoh, keluarkan saja senjatamu…!” geramnya.

Tapi dengan sikap yang masih tetap santai Put-tong-sia mengelengkan kepalanya.

“Ciangkun, tampaknya kau belum mengenal Aliran Beng-kau, sehingga tak tahu kalau anggota Beng-kau tak pernah membawa senjata. Senjata mereka adalah tubuhnya.Tangannya, kakinya, dan… pakaian yang dikenakannya.”

Wajah Su Hiat Hong menjadi merah. “Terserah kepadamu! Tapi jangan salahkan aku bila pedangku ini tak bisa kau elakkan!”

“Hahahah, kita lihat saja nanti! Nah, mari kita mulai…!”

Begitu selesai berbicara Put-tong-sia segera meloncat ke depan. Tangan kanannya menyambar ke atas, seolah-olah mau meraih ubun-ubun Su Hiat Hong, hingga perwira dari istana itu buru-buru menyongsongnya dengan sabetan pedang.

Wuuut!

Terpaksa Put-tong-sia menarik kembali tangannya.Dan Su Hiat Hong tidak mau kalah cepat. Sementara lawannya menarik tangan, pedangnya segera memburu dengan tusukan ke arah badan bagian atas. Ujungnya bergetar, seakan-akan ingin memilih sasaran yang dipilihnya, yaitu mata, leher, atau jantung! Jurus ini disebut Burung Bangau Mematuk Ikan, jurus ke tujuh dari Sin-ho Kiam-hoat.

“Oh, ternyata bagus juga ilmu pedangmu…”

Sambil memuji Put-tong-sia menggeliatkan tubuhnya ke kanan untuk menghindar, sekaligus balik menyerang dengan totokan ujung jarinya.

Cussssss!

Hembusan angin panas menyertai serangan tersebut, tertuju ke arah pergelangan tangan Su Hiat Hong yang memegang pedang!Terkesiap juga Su Hiat Hong menyaksikan kesigapan lawannya, apalagi hembusan hawa panas itu. Bergegas ia menarik tubuhnya ke belakang, lalu memutar pedangnya untuk melindungi pergelangan tangan. Cring…! Ujung jari Pu-tong-sia yang berubah seperti tongkat baja itu membentur badan pedang Su Hiat Hong.

Demikian keras dan kuatnya sehingga pedang itu hampir terlepas dari genggaman. Untunglah perwira itu cepat mengerahkan tenaga untuk mempertahankannya.

Pengalaman itu membuat Su Hiat Hong semakin berhati-hati. Dia sadar bahwa lawannya memiliki kepandaian sangat tinggi. Oleh karena itu Su Hiat Hong tidak ingin mengulur-ulur waktu lagi, ia segera mengerahkan seluruh kemampuannya.

Dikeluarkannya jurus-jurus Sin-ho Kiam-hoat yang paling dia andalkan. Pedang itu berputar dengan cepat membentuk lingkaran, semakin lama semakin membesar.Berbareng dengan itu Su Hiat Hong menerjang ke depan, seolah-olah mau mencincang tubuh Put-tong-sia. Terdengar gaung suara pedang itu menembus angin.

Karena tidak memegang senjata, Put-tong-sia terpaksa melompat ke belakang.Tapi pedang itu terus mengejarnya, sehingga Put-tong-sia harus menghindarinya dengan melenting tinggi ke udara untuk mematahkannya. Huuup! Seperti yang dilakukan di atas panggung tadi, Put-tong-sia berjungkir balik di udara beberapa kali.

Lagi-lagi serangan Su Hiat Hong gagal menyentuh lawan. Bahkan kedudukannya justru berbalik menjadi berbahaya sekarang. Dari atas Put-tong-sia menjejakkan kakinya ke bawah untuk menggempur kepalanya.

“Bagus…!” Su Hiat Hong berdecak kagum seraya membanting tubuhnya ke tanah dan menggelinding pergi menjauhi lawan.

Put-tong-sia mendarat kembali di atas tanah, sedangkan Su Hiat Hong cepat berdiri pula di atas kakinya. Mereka kembali berhadapan dalam jarak lima langkah. Masing-masing mempersiapkan dirinya.

“Bagus! Lihat pedang…!” Su Hiat Hong berseru keras dan mendahului menyerang.

Put-tong-sia atau nama sebenarnya adalah Chin Tong Sia itu cepat mengelak kemudian balas menerjang dengan jari-jarinya yang ampuh. Sekejap saja mereka segera terlibat dalam pertarungan seru. Su Hiat Hong dengan pedangnya yang panjang, sementara Put-tong-sia bergerak lincah dengan ginkangnya yang tinggi.

Sin-ho-kiam-hoat memang memiliki jurus-jurus yang kuat dan berbahaya. Meskipun inti gerakannya lebih banyak bertumpu pada pertahanan, namun sekali waktu juga dapat menyerang dengan ganas. Gerakan kakinya tidak begitu banyak bahkan tampak sangat sederhana.

Demikian pula dengan gerakan-gerakan tangannya.Pedang itu lebih banyak dipergunakan untuk
Melindungi tubuh daripada untuk menyerang. Hanya sekali-kali saja ujung pedang itu mematuk lawan.

“Wah… ilmu pedangnya lumayan juga! Sayang gerakannya terlalu lamban!” tiba-tiba Put-pai-siu Hong-jin memuji dari tempat persembunyiannya.

“Benar, Suheng! Kuda-kudanya juga kurang kokoh…!”

Dapat dibayangkan betapa murkanya hati Su Hiat Hong. Lawannya yang masih muda dan bertangan kosong itu tampaknya amat memandang rendah ilmu pedangnya.

“Bangsat sombong! Buktikan dulu, baru bicara!

Jangan banyak omong!”

“Haha-haha-haha,..! Suheng, kau membuatnya marah!” Put-tong-sia tertawa sambil menghindar sabetan pedang lawan.

Put-pai-sui Hong-jin tertawa terkekeh-kekeh, namun tidak meneruskan ejekannya. Dari sela-sela tawanya justru terlontar sebuah pantun acak-acakan yang disuarakan dengan nada sumbang.

Tikus kecil mandi di sungai.
Bulunya jelek, merah tak merata.
Aduhh Mak…...!
Gadis manis mandi di pantai.
Tubuhnya molek, indah dipandang mata.

Tubuh Chin Tong Sia atau Put-tong-sia berkelebatan ke sana ke mari untuk menghindari pedang Su Hiat Hong, meskipun demikian ia masih sempat mendengarkan pantun suhengnya.

“Jorok…! Suheng jorok! Pantun yang jelek!”  serunya kurang senang, lalu ikut-ikutan berdendang dengan sajaknya sendiri.

Tikus kecil mandi di sungai.
Bulunya jelek, merah tidak merata.
Bujang kecil berurai air mata.
Wajahnya jelek, orang tua tiada.
Ooooh, nasib…... !

“Wah, bosan! Benar-benar membosankan! Sejak zaman purbakala pantunmu melulu yang sedih-sedih saja! Apakah kau tidak punya hapalan yang lain lagi, heh, .,.?” tiba-tiba Put-pai-siu Hong-jin marah-marah.

“Biar! Memangnya kenapa? Yang penting aku sendiri senang!” Chin Tong Sia membantah. Lalu menyanyikan lagunya lagi. Bahkan lebih keras.

Tikus kecil mandi di sungai.

Bulunya jelek merah tak merata.Aduuuh Mak…...

“Berhenti! Berhentiiiiii…! Mau berhenti tidak? Kubunuh kau nanti!” Put-pai-siu menjerit berang.

Tangannya meraup daun pek di dekatnya.Tapi Chin Tong Sia tetap tak peduli. Sambil melayani serangan Su Hiat Hong ia tetap menyanyikan pantunnya yang sedih. Tentu saja Putpai-siu Hong-jin benar-benar menjadi jengkel. Daun yang tergenggam di tangannya disambitkan ke bawah, ke arah Chin Tong Sia.

Siiuuut! Siuuut! Siuuut!

Meski daun itu hanya benda yang tipis dan ringan, tapi begitu terlempar dari tangan Put-pai-siu Hong-jin, bisa meluncur deras bagai pisau terbang, menebas ke arah bagian-hagian berbahaya di tubuh sutenya.

Tentu saja Chin Tong Sia terkejut sekali. Pukulan-pukulan tangannya yang sebenarnya sedang mendesak Su Hiat Hong, terpaksa ditariknya kembali. Tubuhnya yang kurus itu terpaksa melenting ke sana ke mari untuk menghindarkan diri dari keganasan daun-daun pek yang berbahaya.

Dan kesempatan ini tak disia-siakan oleh Su Hiat Hong. Perwira pasukan rahasia kerajaan itu cepat melompat meninggalkan pertempuran. Dengan tangkas kakinya berlari menyusuri jalan yang menuju ke kota Hang-ciu.

“Berhenti…!” Chin Tong Sia berteriak. Kakinya menjejak tanah, dan tubuhnya meluncur ke depan dengan cepatnya.

Tapi lagi-lagi Puit-pai-siu Hong-jin menaburkan daunnya. Kali ini bahkan lebih banyak lagi. Semuanya menerjang ke tempat-tempat yang mematikan di badan sutenya.

“Suheng, kau…! Apa maumu sebenarnya?” pemuda itu menjerit marah. Otomatis langkahnya tertunda, sehingga sekejap kemudian buruannya telah hilang di balik tikungan.

“Habis, kau telah membajak laguku! Kau ubah pula! Mana aku mau mengerti, heh? Minta maaf dulu kepadaku, baru aku mau berhenti menyerangmu!”

Chin Tong Sia mati-matian mengelakkan serangan suhengnya. Setelah itu ia berdiri tertegun mengawasi Put pai-siu Hong-jin yang sudah turun pula dari pohon pek. Perlahan-lahan kejengkelan pemuda itu mereda.Suhengnya telah kumat gendengnya., Kalau dilayani tentu tidak akan ada henti-hentinya.

“Baiklah, Suheng. Aku mengaku salah. Aku tak akan membajak pantunmu lagi. Hah, sekarang marilah kita mengejar perwira itu tadi!”

“Ho-ho-ho-ho, enak saja. Kau tentu tidak bersungguh-sungguh meminta maaf kepadaku. Di dalam hatimu kau tentu mentertawakan aku. Heh-heh, kau belut kecil ini memang sangat cerdik dan lincah sekali. Jangan harap kau bisa mengakali aku. Aku sudah hapal watakmu luar- dalam, heh-heh. Aku yang mengasuh dan mendidikmu sejak bayi….”

Chin Tong Sia tersenyum sambil menghela napas panjang. Perasaan jengkelnya sudah hilang. Sebenarnya ia sangat hormat dan sangat sayang kepada suhengnya itu. Suhengnya itulah yang merawat, mengasuh dan mendidiknya sejak kecil.

Bahkan ilmu silatnya pun sebenarnya sebagian besar adalah hasil didikan suheng-nya itu. Memang tampangnya amat menyeramkan, dan tindak-tanduk atau perilakunya seperti orang gila, tapi sebenarnya dia benar-benar waras dan cerdik luar biasa. Ilmu silatnya pun paling tinggi di .antara tokoh-tokoh Beng-kau sekarang. Gurunya sendiri, yang kini sudah mengasingkan diri di ruang semedi, mengakui kehebatan ilmu suhengnya itu. Dialah satu-satunya tokoh Beng-kau yang mampu mendalami serta menghayati betul ilmu rahasia Aliran Beng-kau, yaitu Chou-mo-ciang (Tangan Menangkap Setan).

“Lalu… apa yang harus kulakukan agar kau percaya kepadaku, Suheng?”

Put-pai-siu Hong-jin menghampiri Chin Tong Sia, lalu merangkul pundaknya. Sambil tertawaterkekeh-kekeh ia berkata lucu, “Tentu saja kau harus menyanyikannya dulu dengan betul, heh-heh-heh…”

Demikianlah, sambil menyanyikan pantun ciptaan Put-pai-siu Hong-jin tadi, Chin Tong Sia dan suhengnya berjalan bersama-sama ke kota Hang-ciu kembali. Mereka sama sekali tidak gentar menghadapi para pengawal yang tentu akan menangkap mereka di kota nanti.

— o0d-w0o —

“Jadi… pemuda itu dari aliran Beng-kau?” Lelaki beruban atau Lim Kok Liang itu menegaskan.

“Ia memang berkata demikian. Mengapa…?” Su Hiat Hong bertanya pula.

Lim Kok Liang mengerutkan dahinya yang lebar.

“Gawat! Kalau orang-orang kang-ouw (rimba persilatan), apalagi aliran-aliran ternama seperti Bengkau, sudah ikut campur tangan dalam masalah ini, keadaannya akan menjadi gawat!”

“Tapi mereka cuma seorang anak muda yang masih ingusan dan seorang lelaki tua gila yang tak perlu ditakutkan, Suheng.”

“Huh, kau sungguh bodoh! Kalau benar apa yang kaulihat dan kaudengar tadi, orang berwajah menyeramkan dan bernama Put-pai-siu Hong-jin adalah tokoh ternama dari aliran Beng-kau. Dia adalah kakak seperguruan Put-sim-sian (Dewa Tak Berperasaan), pejabat ketua aliran Beng-kau sekarang.”

“Oh! Dan… pemuda itu, kalau begitu dia juga adik seperguruan Ketua Aliran Beng-kau itu!” Su Hiat Hong berdesah gagap.

“Mungkin juga. Sudahlah, mari kita pergi ke panggung lui-tai lagi. Masalah ini nanti kita laporkan kepada Au-yang Goanswe. Goanswe harus mengetahui masalah ini.”

“Tapi… Suheng?”

Lim Kok Liang menghentikan langkahnya.

Matanya mengawasi Su Hiat Hong dengan heran.

“Ada apa…?”

“Anu… apakah Suheng tahu tentang masalah yang membuat curiga orang-orang Beng-kau itu? Maksudku… maksudku, apakah memang benar ada sesuatu yang tidak beres pada acara perlombaan yang diselenggarakan oleh kerajaan ini?”

Lim Kok Liang tertegun. Matanya semakin tajam mengawasi Su Hiat Hong. Tapi beberapa saat kemudian mata itu perlahan-lahan menunduk, bahkan perwira itu lalu menghela napas panjang sekali. Kakinya kembali melangkah perlahan-lahan. Su Hiat Hong segera mengejarnya.

“Bagaimana, Suheng?”

“Mengapa kautanyakan hal itu? Kita cuma seorang perwira dari pasukan rahasia, yang diperbantukan kepada Au-yang Goan-swe. Tugas kita hanyalah melaksakan perintah yang diberikan oleh beliau. Perlu apa kita mencari tahu tentang latar belakang dari perintah itu?”

“Jadi… Suheng juga tidak tahu?”

Lim Kok Liang menggelengkan kepalanya. “Aku memang juga merasakan adanya sesuatu di balik pengadaan lomba “Mengangkat Arca” ini. Tapi…sudahlah, sebagai seorang perwira kita tinggal melaksanakan perintah saja. Habis perkara.”

Su Hiat Hong tidak mendesak lagi. Mereka segera ikut berdesakan di antara penonton yang memadati arena panggung lui-tai itu. Ternyata perlombaan “Mengangkat Arca” telah selesai. Peserta yang dianggap berhasil dan memenuhi syarat pun telah dipanggil kembali ke atas panggung. Mereka hanya berjumlah sepuluh orang. Dan A Liong, pelayan warung itu ternyata berada di antara mereka!

“Lim Suheng, lihat! Jagomu ternyata ikut terpilih juga!” Su Hiat Hong berseru gembira.

“Anak itu memang hebat! Sejak semula aku telah melihat sesuatu yang mengagumkan pada diri anak itu. Ternyata firasatku itu memang benar.”

Dan pada saat itu pula A Liong melihat mereka. Memang sejak tadi anak itu mencari-cari mereka di antara penonton. Kedua tangan itu melambai-lambai ke arah mereka. Su Hiat Hong membalas pula lambaiannya.

“Mulai besok pagi kita harus berjalan jauh lagi.Kita bertiga dengan Tong Tai-su harus mengawal sepuluh anak ini ke kota raja. Dan paling lambat bulan depan harus sampai di sana.” Lim Kok Liang berkata dengan suara berat.

“Yah, kita memang kurang beruntung. Sementara perwira-perwira yang lain hanya  mendapatkan tempat tugas yang dekat, kita berdua mendapatkan bagian yang jauh.”

“Ah… kita ini masih lebih beruntung daripada mereka yang dikirim ke kota-kota di propinsi selatan sana. Dalam waktu sebulan mereka juga harus sudah tiba di Lok Yang (kota raja). Kasihan sekali, bukan?”

“Lalu dengan apa kita membawa anak itu?”

“Kita tidak perlu memikirkannya. Panitia yang dibentuk dan ditempatkan di sini tentu sudah mempersiapkan segalanya. Kita tinggal mengawal saja. Masing-masing sudah ditentukan tugasnya.”

“Nah, hal-hal seperti inilah yang mengundang kecurigaan itu, Suheng. Tampaknya seluruh rencana, aturan-aturannya, syarat-syaratnya, sampai pada pelaksanaannya, semua diatur dan dikerjakan oleh petugas-petugas dari kota raja. Itu pun dilakukan oleh kesatuan-kesatuan dan kalangan tertentu saja, seperti kita ini. Pihak penguasa daerah, seperti kepala daerah, bupati dan lain-lainnya, sama sekali tak diajak atau diberi wewenang untuk melaksanakannya. Bukankah hal itu menimbulkan berbagai macam pertanyaan? Tentu saja tak mengherankan apabila tokoh-tokoh Beng-kau itu sampai mencurigai kita.”

“Ah, kau berbicara tentang itu lagi. Bukankah sudah kukatakan bahwa kita ini cuma pelaksana saja? Lalu kau mau apa? Apa kau mau memberontak dan melawan tugas?”

Su Hiat Hong tersipu-sipu. Ia tak bisa menjawab pertanyaan temannya itu.

“Suheng, kau ini ada-ada saja. Aku tidak bermaksud apa-apa. Aku hanya merasa penasaran. Rasanya aku ini seperti melangkah di jalan yang tidak ada ujung-pangkalnya….”

“Sudahlah, jangan kaupikirkan lagi masalah ini. Pokoknya kita melaksanakan tugas kita sebaik-baiknya.”

Mereka tak berbicara lagi. Mereka memusatkan pandangan mereka ke panggung, menyaksikan piala dan hadiah-hadiah yang diberikan oleh Bupati kota Hang-ciu kepada para pemenang. Para penonton bertepuk tangan menyambut kemenangan para peserta itu.

Sementara itu di panggung barongsai juga sudah sampai pada babak yang terakhir pula. Keenam grup barongsai itu sudah dipertarungkan semuanya, dan sudah ada tiga pemenangnya. Mereka itu adalah grup barongsai dari kampung Ui-thian cung, grup barongsai dari Pek-hok-bio (Kuil Kelelawar Putih), dan grup barongsai dari Hek-to-pai (Perguruan Golok Hitam). Dan babak selanjutnya adalah menentukan urut-urutan juaranya. Mereka bertiga akan dipersilakan tampil ke atas panggung semuanya untuk memperebutkan bungkusan mutiara yang  digantungkan tinggi-tinggi di tengah arena.

“Wah, kali ini benar-benar akan mengasyikkan. Ketiga barongsai itu akan berlaga bersama-sama. Masing-masing barongsai seperti mendapatkan dua lawan yang harus dihadapi.” A Tung yang telah bergeser pula ke panggung barongsai itu berseru gembira.

“Kau menjagoi yang mana, heh?” Lok Ma bertanya sambil menyodokkan sikunya ke pinggang A Tung.

“Hehehe… tentu saja aku pilih yang hitam, sesuai dengan kulitku. Apalagi pemain-pemainnya kelihatan serem-serem. Mereka tentu pendekar-pendekar tulen.

“Hah, kau ini ada-ada saja. Masakan ada pendekar tulen segala. Lalu… yang pendekar tipuan mana?” Lok Ma tertawa.

“Tentu saja ada. Kau mau tahu? Lha … kau ini? Bukankah kalau di desa lagakmu seperti jagoan saja? Tapi…? Dengan binimu saja kau selalu dibantai, hehehe…!” A Tung yang pintar bicara itu mulai meledek lagi.

“Babi kau…!” Lok Ma mengumpat jengkel.

Para penonton yang berdiri di sekitar mereka ikut terpingkal-pingkal mendengar kelakar dua sahabat itu. Bahkan Siau In bertiga, yang telah bergeser pula ke tempat itu, ikut tertawa juga sampai mengeluarkan air mata. Gadis centil itu, yang pada dasarnya memang suka benar bergurau, segera melemparkan umpan lagi agar kelakar mereka menjadi semakin ramai.

“Masakan Paman ini kalah dengan isterinya…?” pancingnya sambil masih tetap tertawa.

“Benar, Kou-nio (Nona). Kawanku ini tak pernah menang melawan isterinya. Asal dia dan isterinya ribut, kami tetangganya, mesti punya pekerjaan sambilan, yaitu… menggotong dia ke rumah tabib.Heh-heh-heh-heh…!” A Tung menjawab cepat pancingan Siau In itu.

“Siapa bilang aku tak pernah menang? Bukankah sepekan yang lalu… aku tidak kalian gotong? Dua hari sebelumnya aku juga tetap sehat-sehat saja! Justru biniku yang melolong-lolong minta ampun kepadaku!” Si Pendek Lok Ma itu menyahut dengan kata-kata konyol, sehingga para penonton menjadi semakin geli dan tertawa bergelak. Tak terduga A Tung justru semakin tak bisa menahan gelaknya, sampai-sampai ia terbungkuk-bungkuk memegangi perutnya  Siau In tak kuasa menahan rasa ingin tahunya.

“Kenapa, Paman? Kenapa kau tertawa begitu?”

A Tung melepaskan perutnya, lalu mengusap air matanya. “Tentu saja… tentu saja dia menang… ha-ha-ha… karena… karena isterinya sedang bunting tua! Ha-ha-ha…! Jangankan harus melawan suaminya, sedangkan untuk berjalan sendiri saja… sudah, ha-ha-ha!”

Tawa penonton di sekitar tempat itu pun semakin meledak, sehingga Lok Ma yang konyol itu menjadi merah sekali mukanya. Dari malu ia menjadi marah.

Tangannya segera diangkat untuk memukul A Tung, tapi A Tung cepat-cepat menghindar dan lari menjauhinya. Dan keduanya lalu berkejaran di antara rimbunnya penonton.

“Hahaha… ada-ada saja!” Sin Lun tertawa.

“Mereka memang sangat menggelikan.” Ciu In menyahut pula. Wajahnya yang biasa berkesan dingin itu kini kelihatan merah berseri-seri, sehingga Sin Lun yang ada di sampingnya menjadi kagum dan terpesona melihatnya.

“Ciu Sumoi memang cantik sekali.” puji Sin Lun di dalam hatinya.

“Eh, kau… kau kenapa, Suheng? Mengapa kaupandang aku seperti itu? Apakah ada kotoran yang menempel di mukaku?” gadis itu bertanya gugup sambil mengusapusap wajahnya.

Sin Lun terperanjat kaget. “Ah, tidak… tidak apa-apa, Sumoi. Tidak ada kotoran apa-apa di… di wajahmu.” jawabnya kikuk dan malu. “Hmmh!

Hmmh!”

Tiba-tiba Siau In pura-pura terbatuk. Bahkan matanya yang genit itu tampak berputar-putar dengan lucu, sementara lidahnya yang kecil itu dileletkannya ke kanan dan ke kiri. Jelas ia hendak menggoda kakaknya lagi.

Tapi niat itu menjadi urung karena tiba-tiba pula di panggung lui-tai terdengar tambur dan gendang ditabuh bertalu-talu, sebagai tanda acara pertandingan bebas yang telah dinanti-nantikan penonton akan segera dimulai.

Dan kesempatan itu digunakan sepenuhnya oleh Cui In. “Suheng! Pertandingan bebas sudah akan dimulai. Marilah ‘kita ke sana!” katanya bersemangat.

“Ayoh,..!” Sin Lun yang merasa terbebas dari suasana yang kurang menyenangkan itu mengiyakan dengan bersemangat puia.

Karena masing-masing seperti ingin membebaskan diri dari godaan Siu In, maka keduanya segera berlari menuju ke panggung lui-tai. Tak seorang pun dari keduanya yang berani melontarkan suara ajakan kepada tukang olok-olok itu. Mereka berdua baru kaget ketika ternyata gadis genit itu tidak ada bersama mereka.

“Hei…? Ke mana anak badung itu? Kenapa tidak mengikuti kita?” Ciu In berseru kaget. Seketika hatinya menjadi khawatir.

“Benar. Kemana dia? Mari kita kembali untuk mencarinya!” Sin Lun menjadi gugup juga.

Mereka kembali lagi ke panggung barongsai. Tapi sampai lelah mereka berputar-putar, Siau In tetap  tidak mereka ketemukan. Gadis lincah itu seperti hilang begitu saja dari tempat tersebut.

“Kemana dia…?” Ciu In berdesah bingung.

“Jangan bingung, Sumoi! Dia tentu sedang menggoda kita lagi. Dia tentu berada di antara penonton-penonton ini. Marilah kita cari sekali lagi!”

Tapi bagaimanapun juga mereka tetap takkan dapat menemukan Siau In, karena sebetulnya gadis itu telah sejak tadi meninggalkan tempat keramaian. Gadis lincah yang merasa tidak diperhatikan oleh saudara-saudaranya lagi itu merasa dongkol dan marah, sehingga ia memutuskan untuk pergi ke mana ia suka.

Mula-mula Siau In berniat kembali ke warung dan makan minum sendirian di sana. Tapi niat itu lalu dibatalkannya pula. Ia kemudian keluar ke jalan raya dan berjalan tak tentu tujuan.

Di dekat pasar Siau In berhenti. Matahari telah berada di atas kepala, namun karena langit mendung dan berawan tebal maka suasana tetap sejuk dan dingin. Bahkan beberapa saat lagi mungkin hujan akan turun.

“Ke manakah aku akan pergi? Kota ini sedemikian besarnya. Di segala tempat orang pada bersukaria. Hmm, baiklah… aku akan pergi ke pinggir laut saja. Di sana tentu sepi.”

Siau In lalu melangkah lagi perlahan-lahan. Karena wajahnya memang cantik, berjalan sendirian pula, maka banyak lelaki hidung belang yang mencoba menggoda atau sekedar menyapa dengan ucapan “Tahun Baru”. Tapi Siau In tak pernah menanggapinya. Gadis itu tetap berjalan terus ke arah pantai.

Jalan semakin lama semakin sepi. Meskipun banyak rumah dan perkampungan di kanan kiri jalan, namun tampaknya semua penghuninya telah pergi ke tengah kota. Sebaliknya suara debur ombak semakin lama semakin terdengar nyaring ke telinga. Udara pun seolah-olah mulai berubah pula. Angin yang semula bertiup pelan dan terasa hangat, kini sedikit demi sedikit berubah keras dan dingin. Bahkan baunya pun terasa semakin amis.

Begitu asyiknya Siau In melamun sehingga ia tidak menyadari kalau beberapa orang dari lelaki hidung belang tadi telah mengikutinya. Mereka berjumlah enam orang, berusia antara dua puluh lima sampai tiga puluh tahun. Yang terasa aneh namun juga menggelikan ialah kesemuanya berkulit dan berwajah hitam. Dan dilihat sepintas lalu saja sudah bisa diduga bahwa semuanya menyembunyikan senjata di balik pakaian mereka yang longgar.

Jalan yang dilalui Siau In mulai menginjak daerah pertanian dan perkebunan. Dan tempat itu benar-benar sepi sekali. Tak seorang petani pun yang kelihatan berada di sawah atau di kebunnya. Enam orang hidung belang itu mulai merencanakan niat buruk mereka. Tapi sebelum mereka bertindak, Siau In telah keburu mempergunakan ginkangnya untuk mempersingkat waktu. Gadis lincah itu berlari cepat sekali.

“Hei… burung cantik itu ternyata pandai terbang!” salah seorang dari lelaki hidung belang itu, yang agaknya adalah pemimpin mereka, berdesah gembira dan bersemangat,

“Benar, Toa-ko. Tapi… justru lebih mengasyikkan buat kita! Heh-heh-heh!” yang lain menyahut pula dengan nada bergairah.

“Tapi… tapi Toako, aku… aku seperti melihat berkelebatnya orang di belakang kita. Ketika secara kebetulan aku menengok ke belakang tadi, aku seperti melihat berkelebatnya sesosok bayangan di balik tumpukan jerami itu!” pengikut termuda dari rombongan itu tiba-tiba menyela.

“Mana, hah…? Mana? Boneka-boneka sawah itu? Kau ini penakut benar! Di belakang kita kosong, tidak ada siapa-siapa! Matamu saja yang mungkin sudah juling, boneka sawah kaukira manusia sungguhan!” Si Pemimpin itu bersungut-sungut.

“Benar, Toako. Mana ada orang berani bertingkah di depan kita? Ini daerah kita. Tak seorang pun berani mengganggu anggota Hek-to-pai di tempat ini! Ayoh, kita kejar burung cantik itu! Nanti ia keburu tiba di daerah perkampungan nelayan Ui-thian-cung.”

“Ayoh…!” yang lain dengan serempak mengiyakan.

Semuanya segera mengerahkan ilmu meringankan tubuh mereka dan berlari secepat-cepatnya mengejar Siau In. Dan karena gadis itu memang tidak menduga kalau sedang dikejar orang, maka langkahnya juga hanya seadanya saja. Gadis itu hanya mengerahkan separuh dari kemampuannya berlari. Oleh karena itu tidaklah mengherankan apabila sebentar saja keenam hidung belang itu telah bisa mengejarnya. Mereka berlari di belakang Siau In.

Siau In terkejut dan menoleh. Dan dahinya yang halus mulus itu segera berkerut ketika melihat enam orang lelaki berlari sambil pringas-pringis di belakangnya. Otomatis langkahnya dipercepat. Tapi orang-orang itu juga mempercepat langkah kaki mereka pula. Siau In menjadi penasaran, ia lalu meningkatkan kemampuannya berlari lagi. Tapi keenam orang itu ternyata juga menambah kecepatan mereka.

Terjadilah kejar mengejar yang mengasyikkan di siang hari bolong itu. Mereka mulai menginjak daerah pertambakan garam. Di sana-sini, di kanan kiri jalan, yang terlihat cuma genangan air garam melulu.

Barulah beberapa saat kemudian tampak sebuah perkampungan petani tambak di depan mereka. Siau In lalu mengeluarkan seluruh kemampuan ginkangnya. Tubuhnya yang mungil itu melesat ke depan bagai anak panah yang terlepas dari busurnya.

Dan para pengejarnya segera tertinggal jauh di belakang. Namun demikian ketika sampai di mulut perkampungan petani tambak itu, Siau In menghentikan langkahnya. Gadis yang amat berani itu hendak men coba, apakah para lelaki hidung belang  itu masih berani mengganggunya di perkampungan penduduk.

Tapi perkiraan Siau In itu ternyata salah. Ketika satu persatu para pengejarnya tadi datang dengan napas memburu, semuanya justru menampilkan wajah yang amat lega.

“Bagus-bagus! Ternyata Nona juga berhenti kelelahan di sini. Sungguh kebetulan sekali, hoh-hoh-hoh! Inilah kampung tempat tinggal kami! Selamat datang.hoh-hoh-hoh…! Marilah singgah sebentar …!”

Si Pemimpin itu berkata gembira. Tentu saja kenyataan itu amat mengejutkan hati Siau In. Ternyata perkiraannya meleset.

Perkampungan itu justru merupakan tempat tinggal para lelaki hidung belang tersebut. Bahkan ketika menengok ke sebuah pintu rumah yang paling megah di pinggir jalan itu, ia melihat papan nama yang dipasang secara menyolok sekali. Papan nama itu bertuliskan huruf : HEK TO PAI!

“Celaka…! Ternyata aku berada di sarang buaya!” gadis itu berkata di dalam hatinya.

Tapi sedikit pun Siau In tidak gentar! Gadis periang dan pemberani itu malah tersenyum menghadapi para pengganggunya.

“Cu-wi (Tuan semua) ingin agar aku singgah sebentar di kampung ini? Ah, maaf… lain kali saja. Siau-te (Aku yang rendah) sedang tak pernah enak badan. Siaute hendak pergi ke pantai untuk membuang rasa sebal dan dongkol dulu. Nah, maaf…”

Siau In cepat berbalik dan hendak pergi meninggalkan tempat itu, tapi orang-orang Hek-to-pai itu dengan cepat mengepungnya. Malahan salah seorang di antara mereka segera berlari ke perkampungan memanggil teman-temannya.

“Nanti dulu, Nona. Kau tidak boleh menolak undangan kami. Sekali kami mengundang orang, orang itu harus datang. Menolak undangan kami berarti menghina Hek-to-pai! Dan… siapapun juga yang berani menghina Hek-to-pai tentu tidak akan berumur panjang!” si pemimpin itu mengancam.

Bukan main marahnya hati Siau In. Orang-orang berkulit hitam itu benar-benar telah meremehkan dirinya. Karena ia cuma seorang perempuan muda, apalagi hanya seorang diri, mereka lalu main paksa seenak mereka sendiri, seolah-olah dia itu cuma seorang perempuan desa murahan. Apalagi cara mereka memaksa itu dengan kedok dan selubung Hek-to-pai. Siau In benar-benar muak sekali.

“Anjing-anjing keparat! Kau kira aku gentar melihat tampang-tampang hitammu yang menjijikkan itu, hah? Meskipun kau berlindung di balik perkumpulan orang-orang yang berjalan di jalan hitam (hek-to), aku tidak takut! Suruh semua orang-orangmu ke sini! Suruh ketuamu sekalian ke mari! Akan kucuci habis-habisan muka kalian yang hitam legam itu agar kalian bisa melihat hal-hal yang terang dari wajah kalian itu!” Siau In berteriak lantang.

Betapa hebatnya penghinaan itu! Tak heran bila orang-orang Hek-to-pai itu tak dapat menahan amarahnya. Apalagi gadis itu dengan seenaknya mengubah arti dari nama perkumpulan mereka, dari Hek-to yang bermakna Golok Hitam menjadi Hek-to yang bermakna Jalan Hitam. Kedua buah ucapan itu memang hampir sama.

“Babi betina yang tak tahu diri! Kau memang pantas mati dengan mengenaskan! Akan kubelejeti pakaianmu, lalu akan kunista dirimu beramai-ramai di air tambak itu, sehingga kau akan mengalami penderitaan yang tak mungkin bisa kaulupakan seumur hayatmu! Ayoh, kawan-kawan… bekuk dia!” si pemimpin itu mengumpat dan mengancam.

Si pemimpin itu sendiri lalu minggir untuk memberi kesempatan empat orang temannya untuk membekuk gadis sombong itu. Ia masih beranggapan bahwa Siau In tidak berbahaya dan hanya pandai berlari saja. Ia menganggap empat orang temannya itu sudah lebih dari cukup untuk menangkap betina galak tersebut.

Dan kesombongan orang itu benar-benar harus dibayar mahal oleh teman-temannya. Dalam waktu singkat, hanya dengan empat kali gerakan tangan, ke empat orang itu telah menjerit kesakitan dan kemudian terlempar bergelimpangan terkena ujung sepatu Siau In! Begitu singkatnya, sehingga orang-orang yang sangat memandang rendah Siau In itu tidak sempat mempergunakan golok hitam  kebanggaan mereka! Masing-masing tergeletak pingsan dengan pisau kecil menancap di keh-jin-hiat mereka.

Si pemimpin itu melongo sambil mengucak-ucak matanya. Ia sama sekali belum sadar apa yang telah terjadi, dan sama sekali juga belum bisa percaya bahwa semuanya itu bisa terjadi. Semuanya berlangsung dengan begitu cepat. Cepat sekali, sehingga rasa-rasanya suara perintahnya tadi masih terngiang-ngiang di telinganya sendiri.

“Hayo! Mengapa kau berdiri bengong saja di tempat itu? Majulah! Akan kulemparkan bangkaimu nanti ke tengah-tengah air tambak itu, agar rohmu menderita pula di alam baka!” Siau In yang sudah menjadi buas itu menjerit marah. Di telapak tangannya masih tersisa sebilah pisau.

“Kau… lukai mer-mereka… semua? Kau benar-benar setan betina!!” dengan suara hampir tidak jelas si pemimpin itu mengumpat dan menerjang.

Tangannya telah menggenggam golok hitam yang berkilauan saking tajamnya.

“Heeiitt!”

Siau In meloncat ke kiri dengan sigapnya. Tangannya terayun, tapi bukan untuk melemparkan pisaunya. Tangan yang kecil itu dipakai untuk menghantam pergelangan tangan lawannya yang mencekal golok. Sementara kaki kanannya yang bersepatu tipis itu menerjang tinggi ke arah ulu hati.

Gerakan bertahan dan menyerang ini adalah sebagian  dari jurus Naik Tangga Memandang Bulan, di mana tangan kiri yang memukul pergelangan tangan lawan itu diibaratkan sedang menguak rintangan penutup rembulan, dan kaki kanan yang melayang naik ke ulu hati itu diibaratkan sebagai kaki sedang menaiki tangga.

— o0d-w0o —

  Pendekar Pedang Pelangi 1